RUANG Islami

RUANG Islami Manhaj Salaf

30/12/2025

Kenapa Allah Membiarkan Kita Terluka…

Pernahkah kita diam…
lalu bertanya dalam hati,
“Ya Allah…
kenapa harus aku?”
Doa sudah terucap,
air mata sudah jatuh,
tapi luka…
masih juga tinggal.

Padahal Allah Maha Pengasih,
Maha Penyayang.
Namun ketahuilah…
tidak semua luka
adalah tanda murka.

Terkadang…
luka adalah cara Allah
menghentikan langkah kita
yang terlalu jauh dari-Nya
Allah berfirman:
“Sungguh Kami akan menguji kalian
dengan sedikit rasa takut,
lapar,
dan kehilangan…”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Luka membuat kita pelan…
menunduk…
dan akhirnya berdoa
dengan hati yang benar-benar rapuh.

Saat hati terluka,
kita belajar satu hal:
manusia bisa pergi,
dunia bisa mengecewakan…
tapi Allah
tidak pernah meninggalkan.
Bisa jadi…
Allah sedang membersihkan hatimu,
menguatkan imanmu,
dan mengarahkan hidupmu
kembali pada-Nya.
Karena tidak semua orang
dipanggil dengan kenikmatan…
sebagian dipanggil
dengan ujian.
Dan percayalah…
tak ada luka
yang Allah biarkan
tanpa kasih sayang di dalamnya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal itu baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Tenanglah…
Allah Maha Mengetahui isi hatimu.
Dan Dia selalu dekat…
lebih dekat
dari yang kita kira


🤍

26/12/2025

Perjalanan p**ang

Kita semua sebenarnya sedang dalam perjalanan p**ang.
Bukan p**ang ke rumah yang dindingnya dari bata,
bukan p**ang ke kampung halaman tempat kita dilahirkan,
tetapi p**ang ke kampung halaman yang sesungguhnya…
tempat kita akan menetap selamanya.

Allah mengingatkan kita:
“Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”
(QS. Al-Insyiqaq: 6)

Setiap langkah hidup ini adalah jarak.
Setiap detik umur yang berkurang adalah tanda,
bahwa kita semakin dekat dengan kep**angan itu.
Dunia hanyalah tempat singgah.
Bukan untuk selamanya,
bukan untuk dibanggakan berlebihan.

Allah berfirman:
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Al-Hadid: 20)

Sayangnya, banyak dari kita sibuk memperindah tempat singgah,
namun lupa menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang setelahnya.

Padahal Allah sudah mengingatkan dengan sangat jelas:

“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
(QS. Al-Baqarah: 197)

Bekal itu bukan harta yang kita kumpulkan,
karena semua akan kita tinggalkan.
Bukan jabatan yang kita banggakan,
karena semua akan ditanggalkan.
Yang ikut p**ang hanyalah amal.
Shalat yang kita jaga atau kita lalaikan.
Doa yang kita panjatkan atau kita tinggalkan.
Kejujuran, kesabaran, sedekah,
dan air mata taubat yang pernah jatuh diam-diam.

Allah berfirman:
“Pada hari itu manusia melihat apa yang telah dikerjakannya.”
(QS. An-Naba’: 40)

Maka sebelum panggilan p**ang itu datang,
sementara napas masih Allah titipkan,
sementara pintu taubat masih terbuka,
mari kita persiapkan yang terbaik.
Karena kampung halaman yang sesungguhnya
bukan di dunia ini.
Allah mengingatkan kita dengan lembut:

“Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.”
(QS. Al-‘Ankabut: 64)

Semoga kita termasuk orang-orang
yang p**angnya tidak membawa penyesalan,
tetapi membawa bekal yang cukup,
dan disambut dengan kasih sayang Allah Aamiin🤲🤲

17/12/2025

Khusyuklah dalam sholat

Khusyuklah dalam sholat…
karena di sanalah hati seorang hamba benar-benar p**ang kepada Rabb-nya.

Allah ﷻ berfirman:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,
yaitu mereka yang khusyuk dalam sholatnya.”
(QS. Al-Mu’minun: 1–2)

Bukan banyaknya gerakan yang Allah lihat,
tetapi hati yang hadir saat kita berdiri di hadapan-Nya.
Hati yang tunduk…
hati yang merasa butuh…
hati yang sadar, bahwa tanpa Allah kita bukan apa-apa.

Namun Allah juga memperingatkan,
tentang sholat yang kehilangan ruhnya.

“Maka celakalah orang-orang yang sholat,
yaitu mereka yang lalai dari sholatnya,
yang berbuat riya’.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)

Sholat yang hanya mengejar penilaian manusia,
namun lupa kepada Allah,
itulah sholat yang kosong dari keikhlasan.

Allah ﷻ berfirman tentang orang-orang munafik:

“Dan apabila mereka berdiri untuk sholat,
mereka berdiri dengan malas,
mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia,
dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.”
(QS. An-Nisa: 142)

Na’udzubillahi min dzalik…

Maka mari kita jaga sholat kita,
bukan sekadar rutinitas,
bukan p**a beban yang ingin segera ditunaikan.

Hadirkan hati sebelum takbir,
tenangkan jiwa dalam rukuk,
dan larutkan segala kesombongan dalam sujud.

Karena sholat yang khusyuk,
akan menenangkan hati yang gelisah,
menguatkan iman yang rapuh,
dan menyelamatkan kita dari sifat kemunafikan.

Semoga Allah menjadikan kita
termasuk hamba-hamba-Nya
yang khusyuk dalam sholat…
dan istiqamah hingga akhir hayat.

Aamiin.

16/12/2025

Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 11:

> “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’”

Ayat ini bukan sekadar kisah masa lalu.
Ia adalah cermin untuk setiap zaman… termasuk hari ini.

Di saat alam menangis karena banjir bandang yang melanda sebagian wilayah Sumatra,
kita patut bertanya dengan jujur pada diri sendiri.

Berapa banyak kerusakan yang dilakukan atas nama pembangunan?
Berapa banyak hutan ditebang, sungai disempitkan, dan alam dieksploitasi
dengan alasan demi kemajuan dan demi kesejahteraan?

Namun ketika bencana datang,
kita berkata: “Ini hanya musibah alam.”

Al-Qur’an mengingatkan,
kerusakan sering kali dibungkus dengan narasi perbaikan.
Padahal Allah Maha Mengetahui apa yang tampak dan yang tersembunyi.

Banjir bukan sekadar air yang meluap.
Ia bisa menjadi teguran lembut,
agar manusia kembali rendah hati,
kembali amanah menjaga bumi,
dan berhenti merusak sambil merasa paling benar.

Semoga musibah ini menjadi penghapus dosa bagi para korban,
dan menjadi pelajaran bagi kita yang masih diberi waktu.

Karena orang beriman bukan hanya pandai berkata “kami ingin memperbaiki”,
tetapi benar-benar menjaga bumi
sebagaimana amanah dari Allah ﷻ.

09/12/2025
09/12/2025

Mereka yang Pergi dalam Musibah, Pergi sebagai Syahid

Dalam sekejap, bumi berguncang. Air bah datang tanpa memberi waktu untuk bersiap. Tanah yang biasanya kokoh tiba-tiba meluruh, membawa rumah, harapan, dan kehidupan yang selama ini dijaga.

Di tengah kepanikan dan jeritan, ada hamba-hamba Allah yang dipanggil p**ang. Bukan dalam keadaan bermewah-mewahan… tetapi dalam keadaan diuji — dalam banjir yang melanda, dalam tanah longsor yang menimbun tanpa ampun.

Namun, apa yang tampak sebagai akhir yang menyedihkan di mata manusia… tidak demikian di sisi Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di antara orang-orang yang mati syahid adalah “orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati tenggelam.” Mereka bukan pergi dengan sia-sia. Mereka wafat dalam keadaan teruji, dalam keadaan sabar, dan dalam keadaan Allah lebih sayang kepada mereka daripada manusia mana pun.

Betapa mulianya derajat itu — syahid akhirat. Derajat yang Allah berikan sebagai penghormatan atas penderitaan yang mereka alami. Allah tidak menutup mata atas takut mereka, tangis keluarga mereka, dan beratnya detik-detik terakhir mereka.

Di balik musibah besar di Sumatra pada akhir November ini, mungkin kita melihat kehilangan…
Namun di sisi Allah, mungkin Dia sedang mengangkat sebagian hamba-Nya ke tempat yang lebih tinggi, lebih indah, lebih damai — tempat yang tak lagi mengenal banjir, longsor, atau air mata.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, bersabarlah. Allah tidak menzalimi satu pun hamba-Nya. Mereka yang pergi dalam musibah bukan hilang… tetapi p**ang dengan kemuliaan.

Semoga Allah merahmati semua korban, mengganti kesedihan menjadi pahala, dan menjadikan setiap luka sebagai jalan menuju syurga-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

08/12/2025
04/12/2025

Address


Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when RUANG Islami posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

  • Want your business to be the top-listed Media Company?

Share