24/06/2025
PERTAHANAN TERAKHIR?
Pada hari Jumat, 13 Juni 2025, setelah bertahun-tahun ancaman dan manuver politik, Entitas Zionis (EZ) meluncurkan serangan skala penuh terhadap Iran. Fasilitas nuklir dibombardir, dan sejumlah ilmuwan serta pemimpin Iran dibunuh dalam serangkaian serangan terencana yang tidak diprovokasi. Ini menjadi momen bersejarah—bukan karena tidak terduga, tetapi karena begitu mudahnya momen ini seharusnya bisa dicegah.
Iran merespons dengan serangan rudal ke Tel Aviv, Haifa, dan wilayah lain di dalam Palestina yang diduduki. Namun, serangan balasan ini justru menyoroti kegagalan strategis mendalam yang telah lama mewarnai pendekatan Iran. Fakta sebenarnya adalah: Iran lengah. Ketidakmampuannya membaca agresi ini dan melindungi aset-aset vital mencerminkan kesalahan perhitungan besar—sebuah kegagalan yang justru semakin memberanikan Entitas Zionis.
Alih-alih menyelaraskan seluruh kemampuannya demi perjuangan di jalan Allah (swt) dan pembebasan negeri-negeri Muslim, Iran memilih untuk bermain dalam kerangka kepentingan kekuatan global yang justru ingin mengeksploitasi dan memecah belah Umat. Iran pernah memiliki peluang—peluang nyata—untuk mengambil tindakan tegas demi membebaskan Palestina. Namun, daripada menggunakan sumber daya dan pengaruhnya untuk menghantam jantung penjajahan, Iran membiarkan dirinya dimanfaatkan dan terseret ke dalam konflik regional yang justru menguntungkan pihak lain.
Iran seharusnya bisa menjadi pemersatu umat dalam perjuangan untuk Al-Masjid Al-Aqsa. Iran bisa saja menolak menjadi bidak dalam konflik sektarian. Ia bisa saja menyerang ketika Entitas Zionis berada dalam posisi lemah. Namun, sebaliknya, Iran ragu. Iran berhitung. Dan karena itulah, Iran kehilangan kesempatan untuk memimpin. Kini, setiap kali Iran bergerak, itu bukan karena kekuatan, melainkan karena keterpaksaan. Iran berperang bukan untuk Al-Aqsa, bukan untuk Gaza, bukan untuk umat, melainkan demi menyelamatkan dirinya sendiri. Dan meski Iran mungkin mencari kehormatan dari aksi balasan tersebut, kehormatan sejati tidak diperoleh lewat diplomasi berhati-hati, serangan defensif, atau retorika kosong.
Kehormatan hanya diberikan kepada mereka yang berjuang menegakkan hukum Allah (swt), yang berjihad bukan demi kepentingan nasional, melainkan demi pembebasan umat, yang berperang bukan karena reaksi, tetapi karena keyakinan. Kehormatan hanya akan diraih melalui tegaknya Khilafah Rasyidah, Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Melalui inilah, tanah-tanah Islam akan benar-benar dibebaskan. Melalui inilah, penjajahan atas Palestina akan berakhir, Al-Aqsa akan kembali, dan musuh-musuh Islam akan diusir, bukan dengan kompromi, tetapi dengan ketaatan tulus kepada Allah (swt).
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai."
(Surah Al-Isra’ : 7)
Semoga Allah (swt) menganugerahkan kepada kita Nussrah (pertolongan) melalui orang-orang yang tidak ragu, tidak berkompromi dengan kezaliman, dan tidak takut terhadap celaan para pencela. Pembebasan tidak akan datang dari mereka yang bersikap menahan diri di hadapan tirani, atau yang hanya meneriakkan slogan kosong. Pembebasan hanya akan datang melalui mereka yang menunaikan perintah Allah (swt) dengan keteguhan, ketulusan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
---
Sumber : HT Info (https://hizb-ut-tahrir.info/en/index.php/radio-broadcast/radio-broadcast/27842.html)