De Houtman

De Houtman Influencer

01/02/2026

Saya mendapat lebih dari 20 tanggapan pada salah satu postingan saya minggu lalu! Terima kasih semuanya atas dukungan Anda! 🎉

Hari ini saya lihat media penuh dengan berita soal pengkhianatan Jenderal Zhang Youxia di Tiongkok. Mungkin kalian sudah...
26/01/2026

Hari ini saya lihat media penuh dengan berita soal pengkhianatan Jenderal Zhang Youxia di Tiongkok. Mungkin kalian sudah baca sekilas, tapi izinkan saya bedah ini lebih dalam. Menurut saya, ceritanya jauh lebih gelap dari sekadar kasus korupsi atau bocornya rahasia negara ke Amerika.

Kita bicara soal negara dengan GDP USD 20 triliun, 14 kali lipat dari ekonomi kita. Kalau di sana terjadi gempa politik, getarannya bakal meruntuhkan pasar saham global dalam sekejap.

𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐉𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐚𝐥 𝐙𝐡𝐚𝐧𝐠 𝐒𝐞𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚?
Banyak yang belum tahu kalau Zhang Youxia itu bukan jenderal sembarangan. Dia adalah Godfather militer Tiongkok. Di saat jenderal lain lebih banyak main di balik meja, Zhang adalah veteran perang asli yang punya loyalitas kuat di akar rumput.

Dulu, dia dan Xi Jinping itu teman dekat, bahkan ayahnya Zhang adalah teman seperjuangan ayahnya Xi. Tapi di politik tingkat tinggi, pertemanan masa kecil itu tidak ada harganya kalau sudah bicara soal kekuasaan absolut.

𝐃𝐞𝐧𝐝𝐚𝐦 𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐓𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐓𝐮𝐚 & 𝐌𝐢𝐬𝐭𝐞𝐫𝐢 𝐊𝐞𝐦𝐚𝐭𝐢𝐚𝐧 𝐋𝐢 𝐊𝐞𝐪𝐢𝐚𝐧𝐠
Kalian ingat insiden memalukan saat mantan presiden Hu Jintao diusir keluar di tengah rapat akbar PKC? Di depan kamera dunia, dia digiring keluar seolah-olah dia bukan siapa-siapa. Itu luka besar buat para faksi tua. Belum lagi kematian mantan PM Li Keqiang yang dianggap banyak pihak sangat misterius banyak yang yakin beliau diracun.

Para tokoh tua ini merasa Xi Jinping sudah keterlaluan karena melanggar konsensus presiden maksimal 10 tahun. Xi mau selamanya, dan dia menghancurkan sistem dialog yang menjaga stabilitas Tiongkok. Nah, Jenderal Zhang inilah yang kabarnya menjadi pedang bagi kemarahan para dedengkot PKC ini.

Semua ini meledak dalam hitungan hari. Sekitar tanggal 15-19 Januari 2026, rumor soal penangkapan Zhang mulai bocor di media sosial lokal Tiongkok. Lalu puncaknya dua hari lalu, tanggal 24 Januari 2026, pemerintah Tiongkok secara resmi mengumumkan penyelidikan terhadapnya.

Berita resmi dari Beijing menyebut Zhang dipecat karena membocorkan rahasia nuklir ke AS. Tapi menurut logika saya, ini cuma alasan kamuflase. Di Tiongkok, kalau mau menghabisi karakter seseorang tanpa ada yang berani membela, caranya cuma satu: cap dia sebagai "Mata-mata Barat".

𝐊𝐨𝐧𝐝𝐢𝐬𝐢 "𝐃𝐞𝐚𝐝𝐥𝐨𝐜𝐤"
Masalahnya, meskipun Xi sudah bilang Zhang dipecat, kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu. Kenapa? Karena hampir semua rantai komando militer ada di tangan Zhang. Pasukan loyalisnya tidak akan mau menyerah begitu saja.

Inilah yang saya sebut sebagai Deadlock. Xi tidak bisa sembarangan menghilangkan Zhang karena risikonya adalah pembangkangan militer massal atau bahkan perang saudara. Jika militer mereka terpecah, stabilitas Tiongkok runtuh. Dan kalau Tiongkok runtuh, ekonomi dunia termasuk saham yang kalian pegang bakal terseret ke lubang hitam.

𝐌𝐚𝐤𝐬𝐮𝐝 𝐝𝐢 𝐁𝐚𝐥𝐢𝐤 𝐒𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐈𝐧𝐢
Maksud Xi jelas: Dia mau membersihkan semua orang yang tidak loyal sebelum target 2027 (soal Taiwan). Tapi bagi saya, langkah ini sangat berisiko. Menyingkirkan Zhang Youxia itu ibarat mencoba mencabut pilar utama di bangunan yang sudah retak.

Sekarang, kita semua sedang menunggu: Apakah akan ada kompromi di balik layar, atau justru kita akan melihat pembersihan yang lebih berdarah dalam beberapa hari ke depan?

Saran saya, untuk kalian yang punya aset di pasar modal, perhatikan terus berita dari Beijing. Apa yang terjadi di sana bukan cuma soal politik, tapi soal nasib ekonomi dunia yang sedang dipertaruhkan di tangan dua orang yang sedang saling todong pistol di bawah meja.

TNI & Polri sekarang lagi sibuk membentuk komando untuk mengambilalih pekerjaan-pekerjaan sipil seperti bertani, olahrag...
25/01/2026

TNI & Polri sekarang lagi sibuk membentuk komando untuk mengambilalih pekerjaan-pekerjaan sipil seperti bertani, olahraga, & ruang birokrasi.

Tapi belum melihat TNI & Polri berminat menjadi pemulung. :')

Pelan tapi pasti, ruang hidup sipil dipersempit oleh seragam.Petani? Diambil TNI & Polri.Gudang pangan? Diambil TNI & Po...
25/01/2026

Pelan tapi pasti, ruang hidup sipil dipersempit oleh seragam.

Petani? Diambil TNI & Polri.

Gudang pangan? Diambil TNI & Polri.

Sekarang olahraga? TNI & Polri lagi.

Kalau semua sektor sipil bisa "diselamatkan" oleh TNI & Polri, maka pesan negara jelas: rakyat sipil dianggap gagal, tidak kompeten, dan tidak layak dipercaya.

Atlet sipil berlatih puluhan tahun, hidup dari sponsor & keringat sendiri. Tiba-tiba atlet berseragam datang, menang medali lalu naik pangkat, dapat gaji negara, fasilitas, dan jalur cepat karier.

Ini bukan prestasi, tapi kompetisi yang dicurangi oleh negara sendiri.

Negara seharusnya membangun.

Petani sipil mandiri, atlet sipil profesional, birokrasi sipil yang kuat.

Tapi yang dipilih justru jalan malas: militerisasi semua bermasalah.

Setiap kegagalan sipil ditambal dgn TNI & Polri, seolah senjata & komando bisa menggantikan sistem, pasar, dan merit.

Kalau begini terus jangan tanya "sipil mau jadi apa"?

Rakyat sipil hanya jadi penonton di negaranya sendiri. Sementara semua panggung, fasilitas, dan kehormatan disapu bersih oleh institusi berseragam.

Ini bukan ciri negara kuat, tapi negara gagal yang tidak percaya pada rakyat sipilnya.

Ini bukan jurnalisme, tapi pabrik sensasi.Ketika media besar seperti Kompas.com mengangkat gambar CGI sebagai "senjata s...
25/01/2026

Ini bukan jurnalisme, tapi pabrik sensasi.

Ketika media besar seperti Kompas.com mengangkat gambar CGI sebagai "senjata super luar angkasa", yang dijual bukan fakta, tapi ketakutan & kekaguman palsu. Publik dipancing takjub, logika ditinggalkan.

Dgn satu kata "diklaim", media cuci tangan. Judul dibuat seperti terobosan militer dunia: isinya cuma animasi propaganda negara asing, ini bukan edukasi, tapi manipulasi persepsi.

Media tak lagi bertanya benar atau tidak, ramai atau tidak. Kebenaran jadi korban, klik jadi tujuan. Publik dijadikan konsumen ilusi, bukan warga yang tercerahkan.

Yang lebih berbahaya: ini membentuk mental inferior, seolah teknologi bangsa lain sudah dewa. Sementara pembaca hanya penonton kagum. Ketakutan dijual, kedunguan dipelihara.

Jika media besar terus begini, jangan heran publik makin sinis. Karena yang runtuh bukan cuma kepercayaan, melainkan martabat jurnalisme itu sendiri.

Ketika urusan kesehatan nasional diserahkan kepada menteri tanpa latar kedokteran, negara sedang berjudi dgn nyawa rakya...
24/01/2026

Ketika urusan kesehatan nasional diserahkan kepada menteri tanpa latar kedokteran, negara sedang berjudi dgn nyawa rakyatnya sendiri. Prediksi "28 juta warga mengalami gangguan jiwa" terdengar bukan seperti alarm berbasis ilmu medis, tapi angka politis yang dilempar empati klinis.

Kesehatan jiwa bukan grafik presentasi, bukan jargon kebijakan. Dia adlh urusan diagnosis, terapi, dan tanggungjawab ilmiah.

Inilah bahaya mandat politik tanpa kompetensi substansial. Presiden memberi kuasa, tapi lupa memberi syarat keahlian.

Akibatnya, kementerian berubah jadi ruang administrasi, bukan pusat pengetahuan medis. Kebijakan lahir dari sudut pandang birokrasi, bukan dari pemahaman tubuh & jiwa manusia.

Lebih berbahaya lagi, angka besar seperti itu bisa menormalisasi krisis. Seolah gangguan jiwa adlh takdir massal, bukan kegagalan sistem kesehatan, ekonomi & sosial. Tanpa pemahaman medis yang kuat. Pernyataan Menteri kesehatan justru berpotensi men-stigma rakyat, bukan melindungi.

Ini bukan soal gelar semata, tapi kapasitas memahami batas kata-kata. Di sektor kesehatan, satu kalimat keliru bisa jadi kebijakan sesat. Dan ketika menteri kesehatan tak paham medan keilmuan yang ia pimpin. Maka yang sakit bukan hanya rakyat, tapi akal sehat negara ikut tumbang.

India memberi makan ratusan juta anak dengan anggaran kecil. Brasil menghidupkan petani lokal sambil menyehatkan siswa. ...
24/01/2026

India memberi makan ratusan juta anak dengan anggaran kecil. Brasil menghidupkan petani lokal sambil menyehatkan siswa. Jepang & Finlandia menjadikan makan sekolah sebagai layanan, bukan proyek. Dunia membuktikan: gizi tidak harus mahal.

Sementara Prabowo Subianto membuat Indonesia berbeda. Standarnya tinggi, tapi desainnya boros. Telur & tempe berubah mahal karena vendor, tender, dan distribusi berlapis. Gizinya sama, anggarannya melonjak.

Kesimpulannya jelas: yang mahal bukan makanannya, tapi cara negara mengelolanya.

Trump tidak lagi bermain di wilayah diplomasi. Ia mengubah politik luar negeri menjadi operasi perburuan kepala negara. ...
24/01/2026

Trump tidak lagi bermain di wilayah diplomasi. Ia mengubah politik luar negeri menjadi operasi perburuan kepala negara. Maduro, Presiden Venezuela sudah dijadikan contoh: ditangkap hidup-hidup, dipermalukan, dan dijadikan pesan global "siapa melawan Amerika", bisa diseret seperti buronan.

Kini nama Khamenei masuk dalam bayangan yang sama.

Ini bukan soal Iran. Ini demonstrasi kekuasaan absolut. Trump ingin menunjukan bahwa kedaulatan negara hanya berlaku selama tidak menantang Washington. Presiden, pemimpin tertinggi-simbol agama semua bisa direduksi menjadi target jika dianggap mengganggu kepentingan Amerika.

Jika Maduro adlh "latihan", maka Iran adlh panggung utama.

Menangkap Khamenei bukan sekedar tindakan militer, tetapi eksekusi politik terhadap tatanan dunia lama: hukum Inteenasional, PBB, prinsip non-intervensi. Semuanya menjadi dekorasi kosong. Trump sedang berkata kepada dunia:

"Saya tidak perlu perang besar, saya cukup mengambil pemimpinnya".

Inilah yang membuat Rusia diam. Inilah yang membuat China berhitung ulang. Dan inilah yang membuat sekutu Eropa gelisah tapi tak berani menolak terang-terangan.

Karena setelah Maduro, dunia sadar: tidak ada lagi zona aman bagi para pemimpin yang dianggapnya "musuh".

Jika Khamenei benar-benar disentuh, maka itu bukan awal perang dunia ketiga. Tetapi akhir ilusi bahwa dunia masih diatur oleh aturan.

Yang tersisa hanya satu hukum: siapa paling berani, dia yang menentukan nasib negara lain.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membentuk dewan perdamaian dgn tidak mengundang China.Dewan perdamaian dibentuk un...
24/01/2026

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membentuk dewan perdamaian dgn tidak mengundang China.

Dewan perdamaian dibentuk untuk negara yang berani bertindak, bukan untuk China yang pintar bersembunyi dibalik diplomasi kosong.

China tidak diundang karena dunia tidak butuh penonton, dunia butuh pengambil keputusan.

Saat konflik membakar kawasan, baik itu Eropa Timur, Amerika Latin, dan Timur Tengah. China memilih diam, menunggu untung, dan menimbang pengaruh.

Amerika memilih turun tangan, memberi tekanan, dan memaksa solusi.

Perdamaian tidak lahir dari pidato panjang, tapi dari keberanian memaksa pihak yang berkonflik berhenti.

Trump memahami itu, China tidak.

China berbicara damai, sambil memperluas pengaruh. China menyerukan stabilitas, sambil memperkuat posisi sendiri.

Itu bukan perdamaian, tetapi permainan waktu.

Perdamaian membutuhkan kepemimpinan, bukan keseimbangan palsu. Bukan netralitas oportunis.

Jadi Jelas, China adlh aktor oportunis global. Yang bersembunyi dibalik jargon perdamaian.

Di forum dunia, Prabowo Subianto klaim Indonesia sebagai "negara paling bahagia".Namun di dalam negeri, jutaan orang hid...
23/01/2026

Di forum dunia, Prabowo Subianto klaim Indonesia sebagai "negara paling bahagia".

Namun di dalam negeri, jutaan orang hidup dibawah garis kemiskinan, bahkan jumlahnya masuk daftar yang terbesar (peringkat kedua di dunia).

Pertanyaannya sederhana: bahagia yang mana, dan untuk siapa?

Bagaimana mungkin sebuah negara disebut paling bahagia ketika kemiskinan struktural masih diwariskan dari generasi ke generasi? Ketika anak-anak miskin tumbuh tanpa kepastian pendidikan, orang tua bekerja tanpa perlindungan, dan kelas menengah tergerus oleh biaya hidup yang kian melonjak?

Kebahagiaan yang dipamerkan ke dunia tampak lebih seperti narasi elitis, bukan cerminan kehidupan mayoritas rakyat. Rakyat tersenyum & tampak bahagia bukan karena sejahtera. Tetapi karena terbiasa menahan luka. Mereka bertahan, bukan menikmati. Mereka beradaptasi, bukan dimuliakan.

Jika benar Indonesia negara paling bahagia, mengapa bantuan sosial terus membengkak? Jika rakyat sejahtera, mengapa kemiskinan tetap masif? Jika ekonomi kuat, mengapa rasa aman terhadap masa depan justru melemah?

Mengklaim kebahagiaan di tengah kemiskinan luas adlh ironi politik. Itu bukan kebanggaan nasional, melainkan pengaburan realitas.

Kebahagiaan sejati tidak diukur dari pujian forum Internasional, tetapi dari berkurangnya orang miskin, menyempitnya kesenjangan, dan hadirnya keadilan sosial.

Selama kemiskinan masih menjadi wajah mayoritas, maka klaim "paling bahagia" hanyalah slogan yang terdengar indah. Tetapi bu****it!

Di Swiss, di panggung elit dunia. Prabowo Subianto pamerkan Indonesia sebagai "negara paling bahagia".Sebuah klaim yang ...
23/01/2026

Di Swiss, di panggung elit dunia. Prabowo Subianto pamerkan Indonesia sebagai "negara paling bahagia".

Sebuah klaim yang terdengar manis, namun terasa pahit bagi mereka yang hidup dibawahnya. Bahagia versi siapa?

Ketika ekonomi rakyat tersendat, harga kebutuhan naik, 19 juta lapangan kerja janji kosong, dan jurang kaya-miskin semakin menganga, kebahagian justru dijadikan etalase diplomatik. Seolah statistik kebahagiaan bisa menutupi realitas dapur yang berasap tipis.

Warga Indonesia memang tampak tersenyum. Tapi itu bukan karena hidup mereka ringan, melainkan karena dipaksa kuat oleh tekanan yang tak pernah berhenti. Bahagia disini seringkali bukan hasil kesejahteraan, melainkan mekanisme bertahan hidup: Tertawa agar tidak runtuh, bersyukur agar tidak marah, pasrah agar tidak stres.

Jika rakyat benar-benar bahagia, mengapa hutang rumah tangga meningkat? Jika ekonomi sehat, mengapa generasi muda takut masa depan? Jika kesenjangan terkendali, mengapa segelintir hidup berlebih sementara mayoritas masyarakat berjuang demi bertahan hidup?

Mengklaim Indonesia paling bahagia, tanpa membenahi akar persoalan adlh penyangkalan. Dan penyangkalan yang dibungkus pidato Internasional hanya membuat jarak antara panggung & rakyat semakin jauh.

Rakyat tidak butuh klaim kebahagiaan. Rakyat butuh keadilan, pekerjaan, dan hidup yang layak.

Karena kebahagiaan sejati tidak lahir dari podium di Swiss. Tapi dari meja makan di rumah-rumah Indonesia.

Non-blok hari ini, adlh non-blok yang tidak dihitung!Dulu, non-blok berarti independen.Sekarang, non-blok bisa dibaca se...
23/01/2026

Non-blok hari ini, adlh non-blok yang tidak dihitung!

Dulu, non-blok berarti independen.

Sekarang, non-blok bisa dibaca sebagai:

Tidak punya posisi, tidak punya daya tekan.

Prabowo Subianto paham satu hal: Kalau Indonesia tidak duduk di meja kekuasaan, Indonesia akan jadi menu.

Presiden Donald Trump membentuk forum ini bukan untuk damai, tapi untuk menentukan siapa yang masih relevan dalam dunia baru pasca tatanan Barat lama.

Ini bukan dewan perdamaian, ini dewan pemilik konflik.

Perhatikan anggotanya.

Israel masih dalam konflik, Rusia masih dalam perang.

Negara-negara bermasalah ikut bergabung.

Sementara negara-negara damai menolak undangan Trump.

Negara damai tidak mengendalikan krisis.

Prabowo masuk bukan sebagai pelaku perang, tetapi sebagai aset geopolitik: negara besar, stabil, muslim, non-Barat, non-Rusia, non-China.

Sebagai negara non-blok. Prabowo tidak netral, dia adlh oportunis strategis.

Address

Barangaroo, NSW

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when De Houtman posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share