09/18/2026
ANDAI AKU DIHARGAI
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar muncul, Aisyah sudah terbangun.
Ia menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menyiapkan keperluan suami dan anak-anak. Semua dilakukan tanpa banyak mengeluh.
Dulu, Aisyah tidak pernah merasa semua itu sebagai beban.
Ia bahagia ketika melihat suaminya berangkat bekerja dengan pakaian rapi. Ia tersenyum ketika anak-anaknya pergi sekolah dengan bekal yang sudah disiapkan.
Baginya, keluarga adalah dunianya.
Namun belakangan, ada satu hal yang semakin sering memenuhi pikirannya.
“Apakah mereka masih menganggap semua yang kulakukan berarti?”
Suaminya, Rizal, semakin sibuk bekerja. Pulang ke rumah hanya untuk makan, bermain dengan ponsel, lalu beristirahat.
Sementara anak-anaknya mulai sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Tidak ada yang bertanya apakah Aisyah lelah.
Tidak ada yang berkata terima kasih.
Suatu malam, Aisyah menyiapkan makan malam seperti biasa.
“Mas, makanannya sudah siap,” panggilnya.
Rizal datang sambil tetap melihat ponselnya.
“Kenapa cuma ini? Tidak ada lauk lain?”
Aisyah terdiam.
“Tadi uang belanja tinggal sedikit, Mas. Besok aku usahakan beli yang lain.”
Rizal menghela napas.
“Ya sudah.”
Hanya itu.
Aisyah menunduk dan kembali ke dapur.
Di sana, ia berdiri sendirian sambil menatap tangannya yang mulai kasar karena pekerjaan rumah.
Air matanya jatuh perlahan.
Bukan karena lauk yang dikomentari.
Bukan juga karena lelah mencuci dan memasak.
Tetapi karena selama bertahun-tahun, ia merasa seperti seseorang yang keberadaannya dianggap biasa saja.
Malam itu, setelah semua orang tidur, Aisyah duduk sendirian di ruang keluarga.
Ia membuka album foto lama.
Ada foto ketika mereka baru menikah.
Dalam foto itu, Rizal menggenggam tangannya dengan erat.
“Aku akan selalu menjagamu,” kenang Aisyah dalam hati.
Ia tersenyum getir.
“Ke mana perginya kita yang dulu?”
Keesokan harinya, Aisyah jatuh sakit.
Tubuhnya demam dan kepalanya terasa berat. Namun seperti biasa, ia tetap berusaha bangun untuk menyiapkan sarapan.
Ketika Rizal melihat meja makan belum tertata sempurna, ia berkata,
“Sayang, kamu kenapa? Kok rumah berantakan?”
Aisyah menatap suaminya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung meminta maaf.
“Aku sakit, Mas.”
Rizal terdiam.
“Sakit?”
Aisyah mengangguk.
“Sudah beberapa hari sebenarnya.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Aisyah tersenyum kecil.
“Karena selama ini aku pikir… kalau aku tidak mengerjakan semuanya, siapa yang akan mengurus rumah?”
Rizal tidak menjawab.
Aisyah melanjutkan dengan suara bergetar,
“Aku tidak pernah meminta hadiah mahal. Aku tidak meminta hidup mewah.”
“Aku cuma ingin sesekali ditanya, ‘Kamu capek?’”
“Aku ingin ketika aku memasak, ada yang bilang terima kasih.”
“Aku ingin ketika aku menangis, ada yang menyadari.”
Ia mengusap air matanya.
“Aku hanya ingin merasa bahwa aku ini istri dan ibu yang dicintai, bukan seseorang yang hanya dicari ketika kalian membutuhkan sesuatu.”
Ruangan itu menjadi sunyi.
Untuk pertama kalinya, Rizal benar-benar memperhatikan wajah istrinya.
Wajah yang selama ini selalu terlihat di rumah.
Wajah yang selalu tersenyum meski lelah.
Wajah yang ternyata menyimpan begitu banyak kesedihan.
Rizal duduk di sampingnya.
“Maafkan aku.”
Aisyah menunduk.
“Maaf saja tidak cukup kalau besok semuanya kembali seperti dulu.”
Rizal mengangguk perlahan.
“Aku tahu.”
Hari itu, untuk pertama kalinya Rizal mengambil alih pekerjaan rumah.
Ia mencuci piring.
Ia menjemur pakaian.
Ia membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah.
Dan perlahan, anak-anak pun mulai memahami bahwa selama ini rumah mereka bisa berjalan bukan karena semuanya terjadi dengan sendirinya.
Ada seorang ibu yang selalu bekerja dalam diam.
Beberapa minggu kemudian, keadaan di rumah mulai berubah.
Bukan menjadi sempurna.
Tetapi lebih hangat.
Rizal mulai bertanya sebelum berangkat kerja,
“Sayang, hari ini kamu butuh dibantu apa?”
Anak-anak mulai membereskan kamar mereka sendiri.
Dan setiap kali Aisyah memasak, selalu ada suara kecil dari meja makan,
“Terima kasih, Ibu.”
Suatu malam, Aisyah berdiri di depan cermin.
Ia tersenyum melihat keluarganya dari kejauhan.
Tidak ada kehidupan yang sempurna.
Tetapi kini ia tidak lagi merasa sendirian di dalam rumah yang penuh orang.
Ia memejamkan mata dan berbisik,
“Ternyata aku tidak membutuhkan banyak hal.”
“Aku hanya ingin dihargai.”
“Andai sejak dulu mereka tahu bahwa sedikit perhatian bisa membuatku bertahan sejauh ini.”
Aisyah tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa p**ang ke rumah bukan hanya untuk mengurus keluarga.
Tetapi juga menjadi bagian dari keluarga yang mencintai dan menghargainya.
ANDAI AKU DIHARGAI
Karena terkadang, seorang ibu tidak membutuhkan pujian panjang.
Cukup sebuah pelukan.
Sebuah ucapan terima kasih.
Dan seseorang yang berkata,
“Ibu sudah berusaha keras hari ini. Sekarang, biar kami yang membantu.” Story by: farhan fadhali update