Farhan fadhali update

Farhan fadhali update 👉🧕konten random
👉🎥Ai drama 🎭
👉🇨🇦kanada🇮🇩indonesia

09/27/2026

Ikut trend nangis lalu pergi tapi versi beda dari yang lain..

AKU KONTEN KREATOR YANG BERJUANG TANPA MENGELUHNamaku Aisyah. Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Rumahku seder...
09/26/2026

AKU KONTEN KREATOR YANG BERJUANG TANPA MENGELUH

Namaku Aisyah. Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Rumahku sederhana, suamiku bekerja sebagai pengemudi Gojek, sementara setiap hari aku sibuk mengurus anak-anak dan rumah.

Penghasilan suamiku pas-pasan. Kadang cukup untuk makan dan kebutuhan sekolah anak, kadang kami harus benar-benar menghemat.

Suatu hari, aku mulai membuat video sederhana menggunakan ponsel. Awalnya hanya merekam kegiatan sehari-hari—memasak, membersihkan rumah, membuat bekal anak, dan berbagi cerita sebagai seorang ibu.

“Memangnya bisa menghasilkan uang dari bikin video?” tanya suamiku sambil tersenyum.

“Aku juga nggak tahu. Tapi aku mau mencoba,” jawabku.

Hari demi hari aku terus membuat konten. Tidak semua video ditonton banyak orang. Ada yang hanya mendapat sedikit tayangan. Bahkan pernah aku merasa malu ketika melihat orang lain berhasil sementara videoku sepi.

Namun aku memilih tidak mengeluh.

Saat anak-anak tidur, aku mengedit video. Saat suami p**ang bekerja, aku tetap menyempatkan diri membuat konten. Kadang sambil memasak, pikiranku sudah memikirkan ide video berikutnya.

Suamiku pun selalu mendukung.

“Jangan menyerah. Kamu sudah mulai, lanjutkan saja,” katanya setiap kali melihatku hampir putus asa.

Bulan demi bulan berlalu. Sampai suatu pagi, aku melihat sesuatu yang membuat tanganku gemetar.

Monetisasi Facebook Pro-ku akhirnya aktif.

Air mataku langsung jatuh.

Bukan karena aku merasa sudah sukses, tetapi karena aku teringat semua malam ketika aku membuat konten dalam keadaan lelah, semua komentar yang pernah menyakitkan, dan semua video yang pernah sepi penonton.

Perlahan, penghasilan dari konten mulai membantu keluarga kami.

Aku bisa membantu membayar kebutuhan anak-anak, memperbaiki beberapa bagian rumah, dan sesekali membelikan sesuatu untuk suamiku.

“Ini untuk kamu,” kataku sambil memberikan sebagian hasil pertamaku.

Suamiku terdiam, lalu tersenyum.

“Aku bangga sama kamu.”

Saat itu aku sadar, perjuanganku bukan sekadar mengejar angka dan penghasilan.

Aku sedang berjuang menciptakan kehidupan yang sedikit lebih baik untuk keluargaku.

Aku bukan perempuan hebat yang hidupnya selalu mudah.

Aku hanya seorang ibu rumah tangga yang memilih untuk mencoba, jatuh, bangkit, dan terus berjalan.

Karena ternyata, dari rumah sederhana pun sebuah mimpi bisa tumbuh.

Dan aku akan terus berjuang…

tanpa mengeluh.

Story by: Farhan Fadhali Update

DULU BESTIE, SEKARANG BEDA PROFESIDulu, mereka selalu bersama.Alya, Rani, Siska, dan Nisa adalah empat sahabat yang hamp...
09/25/2026

DULU BESTIE, SEKARANG BEDA PROFESI

Dulu, mereka selalu bersama.

Alya, Rani, Siska, dan Nisa adalah empat sahabat yang hampir tak pernah terpisahkan sejak SMA. Mereka belajar bersama, makan di kantin bersama, bahkan sering membicarakan masa depan sambil duduk di bawah pohon halaman sekolah.

“Kalau aku nanti jadi dokter, kalian jangan takut berobat gratis sama aku!” canda Alya.

“Aku jadi guru. Kalian boleh titip anak kalian di sekolahku,” sahut Rani.

Siska tertawa. “Kalau aku? Aku mau jadi istri yang baik. Punya rumah sederhana, suami baik, dan anak-anak.”

Nisa tersenyum. “Kalau aku ingin tinggal di luar negeri. Siapa tahu nanti menikah dengan orang yang membawaku keliling dunia.”

Mereka tertawa bersama.

Saat itu, mereka yakin masa depan akan berjalan seperti yang mereka rencanakan.

Namun hidup ternyata punya jalan sendiri.

Beberapa tahun kemudian…

Alya berhasil menjadi dokter. Hari-harinya dipenuhi kesibukan rumah sakit, pasien, dan tanggung jawab yang besar.

Rani menjadi guru seperti cita-citanya. Ia menikmati melihat murid-muridnya tumbuh dan berhasil.

Sementara itu, kehidupan Siska jauh berbeda.

Ia menikah dengan laki-laki sederhana. Mereka tinggal di rumah kecil dan hidup pas-pasan. Siska menjadi ibu rumah tangga. Hari-harinya dipenuhi pekerjaan rumah, mengurus anak, dan mengatur uang belanja yang sering kali tidak cukup.

Sedangkan Nisa benar-benar pergi ke luar negeri setelah menikah. Ia mengikuti suaminya dan memulai kehidupan baru jauh dari Indonesia.

Waktu membuat mereka semakin jarang berkomunikasi.

Awalnya masih saling berkirim pesan.

Lama-lama hanya ucapan ulang tahun.

Kemudian… bahkan itu pun mulai terlupakan.

Sampai suatu hari…

Rani mendapatkan ide.

“Bagaimana kalau kita reuni?”

Ia membuat grup lama mereka aktif kembali.

Rani: Kalian masih ingat janji kita waktu SMA?

Tak lama kemudian muncul balasan.

Alya: Ingat d**g.

Nisa: Aku p**ang ke Indonesia bulan depan.

Siska membaca pesan itu lama sekali.

Ia melihat rumah kecilnya, pakaian yang sedang dijemur, anak-anak yang sedang bermain, lalu tersenyum kecil.

Siska: Aku juga datang.

Hari reuni pun tiba.

Mereka bertemu kembali di halaman sekolah lama.

Alya datang dengan pakaian dokter.

Rani membawa tas kerja sebagai seorang guru.

Nisa datang bersama suaminya dari luar negeri.

Dan Siska datang dengan pakaian sederhana.

Untuk beberapa detik mereka hanya saling memandang.

Lalu…

“AAAAA!”

Mereka berpelukan dan tertawa seperti kembali menjadi anak SMA.

Namun setelah tawa mereda, masing-masing mulai menceritakan kehidupan mereka.

Alya ternyata sering merasa kesepian karena terlalu sibuk.

Rani mengaku pekerjaannya sebagai guru tidak selalu mudah.

Nisa bercerita bahwa tinggal di luar negeri tidak selalu seindah foto-foto yang ia unggah. Ia pernah merasa sangat kesepian jauh dari keluarga.

Sementara Siska menunduk.

“Aku kayaknya paling jauh dari cita-cita kita dulu,” katanya pelan.

Ketiga sahabatnya terdiam.

Alya kemudian menggenggam tangannya.

“Siapa bilang?”

Rani tersenyum.

“Dulu kita memang punya cita-cita berbeda. Tapi bukan berarti kehidupanmu lebih rendah dari kami.”

Nisa memeluk Siska.

“Setiap orang punya perjuangannya sendiri.”

Siska menahan air mata.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak merasa gagal.

Mereka kembali duduk di bawah pohon yang dulu menjadi tempat mereka bermimpi.

Alya tertawa.

“Lucu ya… dulu kita pikir masa depan itu tentang siapa yang paling sukses.”

Rani mengangguk.

“Sekarang aku sadar, sukses itu bukan soal siapa yang paling tinggi.”

Nisa menambahkan, “Tapi tentang bagaimana kita menjalani hidup yang diberikan kepada kita.”

Siska tersenyum.

“Dan yang paling penting… kita masih punya satu sama lain.”

Mereka kembali tertawa.

Empat perempuan.

Empat profesi.

Empat jalan kehidupan.

Namun satu persahabatan yang ternyata tidak pernah benar-benar berakhir.

Di depan sekolah tempat semuanya bermula, mereka akhirnya memahami satu hal:

Masa depan boleh membuat mereka berbeda, tetapi kenangan tidak pernah benar-benar membuat mereka berpisah.

Dan hari itu, mereka berjanji satu hal lagi—

kali ini, jangan menunggu bertahun-tahun untuk bertemu kembali.

Story by: Farhan Fadhali Update

BILQISDari Panti Asuhan Menuju Pelaminan.Sejak kecil, Bilqis sudah akrab dengan kesepian.Ia tidak pernah mengenal wajah ...
09/24/2026

BILQIS
Dari Panti Asuhan Menuju Pelaminan.

Sejak kecil, Bilqis sudah akrab dengan kesepian.

Ia tidak pernah mengenal wajah ayah dan ibunya. Yang ia tahu, dirinya ditemukan ketika masih bayi dan kemudian dibesarkan di sebuah panti asuhan sederhana.

Di antara anak-anak lain, Bilqis tumbuh menjadi gadis yang pendiam, tetapi memiliki satu impian besar: suatu hari nanti ia ingin menjadi seorang fashion designer.

Setiap kali mendapat kain sisa dari donatur, Bilqis akan menyimpannya. Dengan jarum dan benang sederhana, ia membuat pakaian untuk boneka-boneka kecilnya.

“Suatu hari nanti aku akan punya butik sendiri,” bisiknya setiap malam.

Impian itu mulai menemukan jalan ketika pasangan suami istri, Pak Arman dan Bu Rania, datang ke panti asuhan. Mereka telah lama menginginkan seorang anak.

Pertemuan mereka dengan Bilqis terasa berbeda.

“Kamu ingin jadi apa kalau sudah besar?” tanya Bu Rania.

Bilqis tersenyum malu.

“Fashion designer, Bu.”

Pasangan itu saling berpandangan. Mereka kemudian memutuskan mengadopsi Bilqis.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bilqis memiliki rumah, kamar sendiri, dan orang tua yang memanggilnya dengan penuh kasih.

Mereka tidak pernah membuat Bilqis merasa sebagai anak angkat.

Mereka mendukung pendidikannya, mengirimnya mengikuti kursus desain, hingga akhirnya Bilqis berhasil masuk sekolah mode ternama.

Bertahun-tahun kemudian, impian masa kecilnya menjadi kenyataan.

Bilqis memiliki butik sendiri.

Desainnya mulai dikenal. Koleksinya dipakai banyak perempuan dan beberapa kali tampil dalam acara fashion bergengsi.

Namun keberhasilan itu tidak membuat Bilqis lupa pada masa lalunya.

Ia justru semakin sering memberikan bantuan kepada panti asuhan tempat ia dibesarkan.

Di tengah kesuksesannya, Bilqis bertemu dengan seorang pengusaha muda bernama Farhan.

Farhan bukan hanya tertarik pada kecantikan Bilqis, tetapi juga pada perjuangannya.

“Aku kagum padamu,” katanya suatu hari. “Kamu membangun semuanya dari nol.”

Hubungan mereka semakin dekat.

Dengan restu orang tua Bilqis, keduanya akhirnya menikah.

Hari itu menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidup Bilqis.

Gadis kecil yang dahulu tidur di kamar sederhana panti asuhan akhirnya berdiri sebagai seorang pengantin di samping pria yang dicintainya.

Beberapa tahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak.

Namun kebahagiaan itu perlahan berubah.

Di butik Bilqis, ada seorang rekan kerja bernama Selma.

Awalnya Bilqis menganggap Selma sebagai sahabat sekaligus rekan yang dapat dipercaya. Ia bahkan memberikan Selma tanggung jawab besar dalam mengelola bisnis.

Tetapi diam-diam, Selma menyimpan rasa iri.

Ia melihat kehidupan Bilqis sebagai sesuatu yang sempurna: karier sukses, keluarga bahagia, dan suami yang mapan.

Rasa iri itu berubah menjadi ambisi.

Selma mulai mendekati Farhan.

Awalnya hanya percakapan biasa. Lama-kelamaan batas itu semakin kabur.

Bilqis akhirnya mengetahui hubungan mereka.

Dunia Bilqis seakan runtuh.

Ia tidak hanya dikhianati oleh suaminya, tetapi juga oleh seseorang yang selama ini ia percaya.

Farhan meminta kesempatan kedua.

Namun bagi Bilqis, kepercayaan yang hancur tidak mudah dibangun kembali.

“Aku mungkin bisa memaafkanmu suatu hari nanti,” ucap Bilqis dengan mata berkaca-kaca, “tetapi aku tidak bisa terus hidup dalam pernikahan yang sudah kehilangan kejujuran.”

Bilqis memilih bercerai.

Bukan karena ia tidak pernah mencintai Farhan.

Justru karena ia akhirnya belajar mencintai dirinya sendiri dan melindungi masa depan anaknya.

Ia membawa anaknya p**ang ke rumah orang tua angkatnya.

Hari-hari setelah perceraian tidak mudah.

Bilqis harus membagi waktu antara mengurus anak dan mengembangkan bisnis.

Ada malam-malam ketika ia menangis sendirian.

Tetapi setiap kali melihat wajah anaknya, ia kembali bangkit.

“Aku tidak boleh menyerah. Kamu adalah alasan Ibu harus kuat.”

Bisnis Bilqis pun kembali berkembang.

Ia membangun merek fashion yang semakin besar dan membuka kesempatan kerja bagi banyak perempuan.

Sementara itu, kehidupan Farhan justru berubah drastis.

Setelah menikahi Selma, berbagai masalah bisnis mulai bermunculan. Investasi yang salah, utang, dan keputusan-keputusan buruk membuat perusahaannya mengalami kebangkrutan.

Rumah mewahnya harus dijual.

Kehidupan yang dahulu begitu nyaman berubah menjadi penuh kesulitan.

Hubungan Farhan dan Selma pun tidak seperti yang ia bayangkan.

Dalam kesendiriannya, Farhan mulai mengingat Bilqis.

Ia teringat perempuan yang selalu mendukungnya.

Perempuan yang pernah berdiri di sampingnya ketika ia belum sesukses sekarang.

Perempuan yang tidak pernah meninggalkannya ketika keadaan sulit.

Kini ia sadar bahwa sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya telah ia hancurkan sendiri.

Suatu hari Farhan datang menemui Bilqis.

“Aku menyesal,” katanya.

Bilqis terdiam.

“Aku kehilangan semuanya.”

Bilqis menatapnya dengan tenang.

“Farhan, kehilangan harta bukan yang paling menyakitkan. Yang lebih menyakitkan adalah ketika seseorang kehilangan orang yang tulus mencintainya karena kesalahannya sendiri.”

Farhan menundukkan kepala.

Bilqis tidak membalas dengan kemarahan.

Ia sudah terlalu jauh berjalan untuk kembali menjadi perempuan yang sama.

“Aku sudah memaafkanmu,” katanya. “Tapi hidupku sudah berjalan ke arah yang berbeda.”

Farhan pergi dengan membawa penyesalannya.

Bilqis kembali kepada anaknya.

Di sebuah acara fashion beberapa bulan kemudian, ia berdiri di atas panggung menerima penghargaan atas karya dan kontribusinya.

Di antara tepuk tangan para tamu, Bilqis melihat kedua orang tua angkatnya tersenyum bangga.

Ia teringat seorang gadis kecil yang dulu hanya memiliki mimpi dan sepotong kain bekas.

Kini gadis itu telah menjadi perempuan yang mampu menentukan jalan hidupnya sendiri.

Bilqis tersenyum.

Ia akhirnya memahami satu hal:

Tidak semua kehilangan adalah akhir dari kebahagiaan. Kadang, kehilangan seseorang justru menjadi awal dari kehidupan yang lebih kuat.

Dan bagi Bilqis, pelaminan yang pernah menjadi awal sebuah rumah tangga bukanlah akhir dari kisahnya.

Kebahagiaan sejatinya dimulai ketika ia belajar berdiri sendiri, membesarkan anaknya dengan penuh kasih, dan tidak lagi menggantungkan harga dirinya kepada siapa pun.

TAMAT
Story by: Farhan Fadhali Update

AKU YANG HILANG SETELAH MENIKAHDulu, aku sering berdiri di depan cermin hanya untuk tersenyum pada diriku sendiri.Wajahk...
09/22/2026

AKU YANG HILANG SETELAH MENIKAH

Dulu, aku sering berdiri di depan cermin hanya untuk tersenyum pada diriku sendiri.

Wajahku masih segar. Mataku berbinar. Aku punya banyak mimpi yang ingin kukejar. Ada begitu banyak hal yang ingin kulakukan dalam hidup.

Aku ingin bekerja. Ingin bepergian. Ingin memiliki rumah kecil yang nyaman. Ingin menjadi seorang istri dan ibu yang bahagia.

Lalu aku menikah.

Kupikir pernikahan akan menjadi tempat di mana aku menemukan rumah.

Ternyata, tanpa kusadari, perlahan-lahan aku justru kehilangan diriku sendiri.

⸻

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun.

Menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menyiapkan kebutuhan anak-anak, mengurus suami, kemudian kembali membereskan rumah yang berantakan.

Belum selesai satu pekerjaan, pekerjaan lain sudah menunggu.

Kadang aku bahkan lupa kapan terakhir kali duduk tanpa merasa bersalah.

Ketika tubuhku mulai sakit, aku hanya berkata kepada diriku sendiri,

“Nanti juga sembuh.”

Ketika kepalaku terasa berat, aku tetap bangun.

Ketika hatiku ingin menangis, aku menahannya.

Sebab selalu ada seseorang yang membutuhkan aku.

Suamiku sendiri sedang menghadapi masalah kesehatan. Kondisinya membuatku sering khawatir. Aku ingin mengeluh, tetapi melihat wajahnya yang juga sedang berjuang membuat kata-kata itu kembali kutelan.

Anak-anak pun bukan selalu anak-anak yang mudah diatur.

Ada hari ketika mereka bertengkar.

Ada hari ketika mereka tidak mau mendengarkan.

Ada hari ketika aku merasa ingin duduk sebentar saja dan menangis karena semuanya terasa terlalu berat.

Namun setelah itu aku kembali bangkit.

Karena aku seorang ibu.

⸻

Masalah ekonomi membuat semuanya terasa semakin berat.

Harga kebutuhan terus bertambah.

Tagihan datang silih berganti.

Pendapatan terasa tidak pernah cukup.

Aku mulai menghitung uang bahkan untuk membeli sesuatu yang sederhana untuk diriku sendiri.

Baju baru?

“Nanti saja.”

Pergi ke salon?

“Tidak penting.”

Makan sesuatu yang kusukai?

“Lebih baik untuk anak-anak.”

Lama-lama aku terbiasa meletakkan diriku di urutan paling terakhir.

Sampai suatu hari aku berdiri di depan cermin.

Aku hampir tidak mengenali perempuan yang ada di sana.

Wajah yang dulu ceria kini terlihat lelah.

Mata yang dulu penuh mimpi kini menyimpan banyak kekhawatiran.

Kulitku tak lagi terlihat seperti dulu.

Bukan karena aku tidak ingin merawat diri.

Aku hanya terlalu sibuk merawat semua orang.

Aku menatap pantulan diriku cukup lama.

Kemudian tanpa sadar aku bertanya,

“Ke mana perginya aku yang dulu?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara anak-anak dari ruang sebelah.

“Mama!”

Aku mengusap wajahku.

Lalu tersenyum.

“Ya, sayang…”

Aku kembali menghampiri mereka.

Seperti biasa.

⸻

Malam adalah waktu yang paling sunyi.

Ketika semua orang sudah tidur, aku sering duduk sendirian di tepi tempat tidur.

Rumah yang seharian penuh suara akhirnya diam.

Di situlah aku merasakan semua lelah yang selama ini kusembunyikan.

Aku ingin bercerita.

Aku ingin seseorang bertanya,

“Kamu capek, kan?”

Aku ingin sekali mendengar,

“Tidak apa-apa kalau hari ini kamu tidak kuat.”

Tetapi tidak ada siapa-siapa.

Jadi aku hanya memeluk lutut dan menarik napas panjang.

Aku bahkan sudah tidak tahu bagaimana cara mengeluh.

Karena terlalu lama menjadi orang yang harus kuat, aku lupa bagaimana caranya meminta pertolongan.

⸻

Suatu malam, aku membuka kembali foto lamaku.

Di sana ada seorang gadis berhijab dengan senyum lebar.

Matanya penuh harapan.

Aku tersenyum kecil melihatnya.

“Kamu dulu bahagia sekali…”

Entah kenapa, air mataku jatuh.

Bukan karena aku membenci kehidupan yang kupunya sekarang.

Aku mencintai anak-anakku.

Aku masih menyayangi suamiku.

Aku tidak menyesal menjadi seorang ibu.

Hanya saja…

Aku merindukan diriku sendiri.

Aku rindu tertawa tanpa memikirkan masalah.

Aku rindu mempunyai mimpi.

Aku rindu merasa bahwa aku juga seseorang yang pantas diperhatikan.

⸻

Hari berikutnya, aku kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Mencuci.

Memasak.

Membersihkan.

Mengurus anak.

Menemani suami.

Menghitung pengeluaran.

Dan kembali menjadi perempuan yang semua orang cari ketika mereka membutuhkan sesuatu.

Tetapi pagi itu, sebelum memulai semuanya, aku berdiri di depan cermin sekali lagi.

Aku melihat wajahku yang lelah.

Kali ini aku tidak memarahinya.

Aku tersenyum.

“Maaf ya…”

“Selama ini aku terlalu sibuk menjaga semua orang sampai lupa menjaga kamu.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku mengusap wajahku dengan lembut.

Aku tahu aku belum bisa mengubah semuanya.

Masalah ekonomi belum selesai.

Suamiku masih membutuhkan perhatian.

Anak-anak masih membutuhkan ibunya.

Pekerjaan rumah masih menunggu.

Tetapi mungkin…

Aku tidak harus menghilang sepenuhnya hanya karena aku menikah.

Mungkin aku masih boleh punya mimpi.

Masih boleh beristirahat.

Masih boleh mengatakan bahwa aku lelah.

Masih boleh meminta bantuan.

Dan masih boleh mencintai diriku sendiri.

Aku menatap foto perempuan muda di tanganku.

“Kamu tidak benar-benar hilang,” bisikku.

“Kamu hanya terlalu lama bersembunyi di balik peran sebagai istri dan ibu.”

Aku menyimpan kembali foto itu.

Lalu membuka pintu kamar.

Anak-anak memanggilku.

Untuk pertama kalinya, aku menjawab sambil tersenyum bukan hanya untuk mereka…

Tetapi juga untuk diriku sendiri.

Karena ternyata, menjadi seorang ibu bukan berarti harus berhenti menjadi seorang perempuan.

Dan mencintai keluarga bukan berarti harus kehilangan diri sendiri.

Aku masih ada.

Hanya saja, kali ini aku ingin belajar menemukanku kembali.

Story by: Farhan Fadhali Update

JANGAN CARI AKU LAGI, KAMU TAK LAYAK!Kisah sella seorang gadis cantik yang tinggal di sebuah kota metropolitan. Dia anak...
09/21/2026

JANGAN CARI AKU LAGI, KAMU TAK LAYAK!

Kisah sella seorang gadis cantik yang tinggal di sebuah kota metropolitan. Dia anak kampung yang karena kepintaran nya berpeluang mendapatkan beasiswa dan bekerja di perusahaan bergengsi setelah kelulusan nya. Awal rasa itu tumbuh saat sella tak sengaja terjebak di elevator bersama seorang pria yang bernama agus.

Agus punya pangkat yang bagus di perusahaan itu, dia juga ramah dan terlihat baik di mata sella dan langsung merasa nyaman walaupun hanya sharing beberapa kata dengan nya.

Setelah itu mereka sering terlihat bersama jalan bareng makan siang bareng dan kompak dalam bekerja.

Cinta itu hadir dan tumbuh kuat di antara mereka seolah akan berpuncak di pelaminan.

Pada suatu hari seorang wanita yang terlihat sederhana datang ke kantor sambil membawa anak balita nya
“ saya mau ketemu pak agus, tolong kasih tau
Mbak putri ingin bertemu !”

Resepsionis nya pun bertanya
“Mbak siapa nya ya?”

“Saya istri nya dan ini anak nya,dia sudah setahun terakhir gak p**ang gak pernah kasih nafkah untuk kami. Saya ingin bertemu dan menyelesaikan semua nya”

Sella yang kebetulan berdiri tidak jauh dari situ langsung kaku tak percaya dengan apa yang baru saja di lihat dan di dengar kan nya. Hati nya hancur berkeping airmata nya berlinang tapi di tahan demi menjaga image di depan yang lain.

“Biar saya antar ke atas!”
Tawar sella dengan senyum yang terasa berat di bibir nya

“Iya mbak, makasih dah membantu kami”
Mereka pun berlalu dari lobby menuju elevator untuk ke lantai 4 tempat agus bekarja.

“Bukan maksud mau ikut campur, tapi kenapa pak agus tidak p**ang selama ini bun apa dia pernah bercerita?”

“Tidak mbak, dia hanya tiba-tiba tidak p**ang tapi masih menelpon beberapa hari sekali dengan alasan sibuk dan banyak job di luar kota. Tapi akhirnya tidak ada kabar sama sekali dan saya juga bingung apa salah saya” sambil menyeka air mata yang tak sengaja keluar menutupi ceritanya.

“Nah kita sudah sampai, ini ruangan pak agus”
Sella mengetuk pintu dan kemudian membuka nya seperti yang dia lalukan setiap hari saat membawa berkas kerjanya.

Betapa kaget nya pak agus saat mendapati calon istri dan calon mantan istri nya berdampingan masuk menemui nya.

“Pak agus, ini mbak putri dan gadis kecil ini mau bertemu bapak ada hal penting yang mau di sampaikan, katanya”

“ bicara lah dulu soal tugas kerja kita(masalah cinta kita) nanti di selesaikan lain waktu”

Begitu lah kode sella pada agus demi menjaga hati istri nya, dalam hal ini sella tak salah sama sekali karena yang dia tau agus single seperti pengakuan nya sendiri. Betapa merasa tertipu nya dia dalam setahun ini menjalani hubungan dengan suami orang dan ayah dari seorang anak yang terabaikan selama setahun terakhir.

Sella menangis di toilet sampai mata nya bengkak, betapa rugi waktunya selama ini menemani penipu yang membuat nya menjadi pelakor bahkan tanpa di sadari nya.

Semua persiapan pernikahan sudah di tahap akhir selang 2 minggu acara akan di laksanakan tapi semua harus di ikhlas kan nya dengan hati terluka.

Besok nya agus menemui sella dan menjelaskan semua nya sembari meminta maaf.

“Sella, aku tak bermaksud menipu mu tapi hubungan di antara kami memang sudah tak harmonis sebelum kita bertemu. Aku hanya belum punya waktu untuk menyelesaikan nya”

“Bohooong” sella menampar agus sambil menangis
“Kamu punya waktu untuk berselingkuh dengan ku, tapi tak punya waktu untuk p**ang dan menyelesaikan masalah mu. Kamu punya waktu untuk hal-hal sepele dengan ku tapi tak punya waktu menelpon anak mu untuk tau kabar nya.”

Agus terdiam karena memang dia bersalah.
“Aku janji akan selesaikan segera dan kemudian melanjutkan rencana pernikahan kita”

“Jangan bermimpi! Hubungan kita berakhir di detik ini juga, aku tak akan pernah mau mengenal mu lagi. Mustahil bagi ku menerima seorang pria yang lepas tanggung jawab terhadap anak dan istri nya dan berselingkuh. Aku gak mau karma menimpa anak ku kelak”

Sella pergi dengan air mata, agus masih berusaha meraih tangan nya tapi di tepis dengan keras.

“Sudah! Anggap saja kita tak pernah kenal jangan membuat ku membenci diri ku sendiri!”

Agus kehabisan kata-kata dia berlutut di samping sella
“Maafkan aku!” Air mata nya berlinang merasa semua impian nya rusak oleh kebohongan nya sendiri.

“Sampai disini, JANGAN CARI AKU LAGI, KAMU TAK LAYAK!”

Sebulan kemudian sella resign dan cari kerja yang baru.
Menata kembali hati nya dan lebih berhati-hati dalam bergaul terutama laki-laki yang terlihat ramah pengertian dan loyal takut bertemu buaya lagi, seperti sebelum nya..

-TAMAT- story by: Farhan Fadhali Update ゚viralシ

09/19/2026

Cinta tak seharusnya punya alasan, tapi ketika kamu mencintai seseorang karena alasan maka ketika suatu alasan itu hilang/memudar maka cinta pun akan menghilang..

DI ANTARA CINTA KEYAKINAN DAN DUNIA YANG BEDANamanya Alya.Sejak kecil, Alya sudah terbiasa hidup di antara dua dunia. Di...
09/18/2026

DI ANTARA CINTA KEYAKINAN DAN DUNIA YANG BEDA

Namanya Alya.

Sejak kecil, Alya sudah terbiasa hidup di antara dua dunia. Di rumah, ia dibesarkan dengan nilai-nilai Islam yang kuat. Namun di luar rumah, ia hidup di sebuah kota besar di Amerika, tempat orang-orang memiliki keyakinan, budaya, dan cara hidup yang sangat beragam.

Alya adalah gadis berhijab yang sederhana. Ia bekerja, mandiri, dan memiliki banyak impian. Ia tidak pernah merasa malu dengan hijabnya. Justru, hijab itu menjadi bagian dari dirinya yang selalu ia jaga.

Namun ada satu hal yang diam-diam membuatnya sering gelisah.

Pernikahan.

Teman-temannya satu per satu mulai menikah. Ada yang menemukan pasangan melalui kampus, tempat kerja, bahkan aplikasi perkenalan.

“Kenapa kamu belum menikah, Alya?” tanya sahabatnya suatu hari.

Alya tersenyum kecil.

“Bukan nggak mau. Aku cuma ingin menemukan seseorang yang bisa berjalan bersamaku, bukan seseorang yang memintaku meninggalkan jalan yang kupilih.”

Sahabatnya terdiam.

Ia tahu, mencari pasangan di negeri yang mayoritas penduduknya bukan Muslim bukanlah hal yang mudah bagi Alya.

Beberapa pria pernah mendekatinya. Mereka menyukai Alya karena sifatnya yang ramah dan cara berpikirnya yang dewasa. Tetapi ketika pembicaraan mulai menyentuh agama, keluarga, dan masa depan, semuanya menjadi berbeda.

Ada yang berkata,

“Kamu cantik, tapi kenapa harus selalu memakai hijab?”

Ada p**a yang mengatakan,

“Aku menghormati agamamu, tapi aku tidak yakin bisa menjalani kehidupan seperti itu.”

Alya tidak marah.

Ia hanya tersenyum dan berkata,

“Aku juga menghormati pilihanmu. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk berjalan bersama.”

Suatu malam, setelah p**ang kerja, Alya duduk sendirian di dekat jendela apartemennya. Salju turun perlahan di luar.

Ia memandangi lampu-lampu kota.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya kepada dirinya sendiri,

“Apakah aku terlalu banyak berharap?”

Ia ingin memiliki keluarga. Ingin mempunyai seseorang yang bisa diajak berbicara setelah hari yang melelahkan. Seseorang yang memahami mengapa ia memilih halal daripada sekadar nyaman.

Tetapi Alya juga tidak ingin menikah hanya karena takut kesepian.

Beberapa bulan kemudian, ia menghadiri sebuah acara komunitas Muslim di kota tersebut. Di sana ia bertemu dengan Rafi, seorang pria Muslim yang telah lama tinggal di Amerika.

Rafi tidak langsung membicarakan pernikahan.

Mereka hanya berbicara tentang pekerjaan, keluarga, kehidupan sebagai Muslim di Amerika, dan pengalaman mereka menjaga identitas di tengah lingkungan yang berbeda.

Alya merasa nyaman.

Bukan karena Rafi sempurna.

Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia bertemu seseorang yang tidak menganggap agamanya sebagai hambatan.

Suatu hari Rafi berkata,

“Aku tahu hidup sebagai Muslim di sini tidak selalu mudah. Tapi menurutku, pasangan bukan seseorang yang membuat kita memilih antara cinta dan keyakinan. Pasangan seharusnya membantu kita menjaga keduanya dengan cara yang baik.”

Alya terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat berarti baginya.

Perjalanan mereka tetap tidak mudah. Mereka memiliki perbedaan pendapat, harus melibatkan keluarga, dan harus memikirkan bagaimana membangun rumah tangga di negeri yang budaya dan lingkungannya berbeda dari tempat mereka dibesarkan.

Namun kali ini Alya tidak merasa sendirian.

Ia akhirnya memahami bahwa mencari jodoh bukan sekadar mencari seseorang yang menyukainya.

Melainkan mencari seseorang yang menghargai siapa dirinya, menghormati keyakinannya, dan bersedia membangun masa depan dengan nilai yang mereka sepakati bersama.

Beberapa waktu kemudian, Alya kembali berdiri di dekat jendela apartemennya.

Salju kembali turun.

Bedanya, kali ini ia tersenyum.

Bukan karena ia sudah mendapatkan semua jawaban.

Tetapi karena ia percaya, hidup tidak selalu harus berjalan sesuai waktu yang ditentukan manusia.

Kadang, yang kita kira adalah keterlambatan…

ternyata adalah cara Tuhan menjaga kita dari pilihan yang salah.

Dan di negeri yang jauh dari tanah kelahirannya, Alya akhirnya belajar satu hal:

Jodoh bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna.
Jodoh adalah tentang menemukan seseorang yang mau berjalan bersama, berkomitmen dan saling menghormati.. story by: Farhan Fadhali Update

ANDAI AKU DIHARGAISetiap pagi, sebelum matahari benar-benar muncul, Aisyah sudah terbangun.Ia menyiapkan sarapan, mencuc...
09/18/2026

ANDAI AKU DIHARGAI

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar muncul, Aisyah sudah terbangun.

Ia menyiapkan sarapan, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menyiapkan keperluan suami dan anak-anak. Semua dilakukan tanpa banyak mengeluh.

Dulu, Aisyah tidak pernah merasa semua itu sebagai beban.

Ia bahagia ketika melihat suaminya berangkat bekerja dengan pakaian rapi. Ia tersenyum ketika anak-anaknya pergi sekolah dengan bekal yang sudah disiapkan.

Baginya, keluarga adalah dunianya.

Namun belakangan, ada satu hal yang semakin sering memenuhi pikirannya.

“Apakah mereka masih menganggap semua yang kulakukan berarti?”

Suaminya, Rizal, semakin sibuk bekerja. Pulang ke rumah hanya untuk makan, bermain dengan ponsel, lalu beristirahat.

Sementara anak-anaknya mulai sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Tidak ada yang bertanya apakah Aisyah lelah.

Tidak ada yang berkata terima kasih.

Suatu malam, Aisyah menyiapkan makan malam seperti biasa.

“Mas, makanannya sudah siap,” panggilnya.

Rizal datang sambil tetap melihat ponselnya.

“Kenapa cuma ini? Tidak ada lauk lain?”

Aisyah terdiam.

“Tadi uang belanja tinggal sedikit, Mas. Besok aku usahakan beli yang lain.”

Rizal menghela napas.

“Ya sudah.”

Hanya itu.

Aisyah menunduk dan kembali ke dapur.

Di sana, ia berdiri sendirian sambil menatap tangannya yang mulai kasar karena pekerjaan rumah.

Air matanya jatuh perlahan.

Bukan karena lauk yang dikomentari.

Bukan juga karena lelah mencuci dan memasak.

Tetapi karena selama bertahun-tahun, ia merasa seperti seseorang yang keberadaannya dianggap biasa saja.

Malam itu, setelah semua orang tidur, Aisyah duduk sendirian di ruang keluarga.

Ia membuka album foto lama.

Ada foto ketika mereka baru menikah.

Dalam foto itu, Rizal menggenggam tangannya dengan erat.

“Aku akan selalu menjagamu,” kenang Aisyah dalam hati.

Ia tersenyum getir.

“Ke mana perginya kita yang dulu?”

Keesokan harinya, Aisyah jatuh sakit.

Tubuhnya demam dan kepalanya terasa berat. Namun seperti biasa, ia tetap berusaha bangun untuk menyiapkan sarapan.

Ketika Rizal melihat meja makan belum tertata sempurna, ia berkata,

“Sayang, kamu kenapa? Kok rumah berantakan?”

Aisyah menatap suaminya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung meminta maaf.

“Aku sakit, Mas.”

Rizal terdiam.

“Sakit?”

Aisyah mengangguk.

“Sudah beberapa hari sebenarnya.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Aisyah tersenyum kecil.

“Karena selama ini aku pikir… kalau aku tidak mengerjakan semuanya, siapa yang akan mengurus rumah?”

Rizal tidak menjawab.

Aisyah melanjutkan dengan suara bergetar,

“Aku tidak pernah meminta hadiah mahal. Aku tidak meminta hidup mewah.”

“Aku cuma ingin sesekali ditanya, ‘Kamu capek?’”

“Aku ingin ketika aku memasak, ada yang bilang terima kasih.”

“Aku ingin ketika aku menangis, ada yang menyadari.”

Ia mengusap air matanya.

“Aku hanya ingin merasa bahwa aku ini istri dan ibu yang dicintai, bukan seseorang yang hanya dicari ketika kalian membutuhkan sesuatu.”

Ruangan itu menjadi sunyi.

Untuk pertama kalinya, Rizal benar-benar memperhatikan wajah istrinya.

Wajah yang selama ini selalu terlihat di rumah.

Wajah yang selalu tersenyum meski lelah.

Wajah yang ternyata menyimpan begitu banyak kesedihan.

Rizal duduk di sampingnya.

“Maafkan aku.”

Aisyah menunduk.

“Maaf saja tidak cukup kalau besok semuanya kembali seperti dulu.”

Rizal mengangguk perlahan.

“Aku tahu.”

Hari itu, untuk pertama kalinya Rizal mengambil alih pekerjaan rumah.

Ia mencuci piring.

Ia menjemur pakaian.

Ia membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah.

Dan perlahan, anak-anak pun mulai memahami bahwa selama ini rumah mereka bisa berjalan bukan karena semuanya terjadi dengan sendirinya.

Ada seorang ibu yang selalu bekerja dalam diam.

Beberapa minggu kemudian, keadaan di rumah mulai berubah.

Bukan menjadi sempurna.

Tetapi lebih hangat.

Rizal mulai bertanya sebelum berangkat kerja,

“Sayang, hari ini kamu butuh dibantu apa?”

Anak-anak mulai membereskan kamar mereka sendiri.

Dan setiap kali Aisyah memasak, selalu ada suara kecil dari meja makan,

“Terima kasih, Ibu.”

Suatu malam, Aisyah berdiri di depan cermin.

Ia tersenyum melihat keluarganya dari kejauhan.

Tidak ada kehidupan yang sempurna.

Tetapi kini ia tidak lagi merasa sendirian di dalam rumah yang penuh orang.

Ia memejamkan mata dan berbisik,

“Ternyata aku tidak membutuhkan banyak hal.”

“Aku hanya ingin dihargai.”

“Andai sejak dulu mereka tahu bahwa sedikit perhatian bisa membuatku bertahan sejauh ini.”

Aisyah tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa p**ang ke rumah bukan hanya untuk mengurus keluarga.

Tetapi juga menjadi bagian dari keluarga yang mencintai dan menghargainya.

ANDAI AKU DIHARGAI

Karena terkadang, seorang ibu tidak membutuhkan pujian panjang.

Cukup sebuah pelukan.

Sebuah ucapan terima kasih.

Dan seseorang yang berkata,

“Ibu sudah berusaha keras hari ini. Sekarang, biar kami yang membantu.” Story by: farhan fadhali update

Address

Surrey, BC
V3T3V6

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Farhan fadhali update posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share