08/08/2026
😭 “Tolong Kami, Pak Prabowo!” Guru di Lampung Menangis, 29 Orang Dirumahkan dan Data Dapodik Dinonaktifkan
Seputar Lampung – Bestie, bayangin ya… udah bertahun-tahun ngajar, udah punya sertifikat pendidik, udah punya NUPTK, data Dapodik juga udah kecatet dari 2019. Tapi tiba-tiba harus menerima kenyataan pahit: dirumahkan. 😢
Kisah inilah yang lagi rame dibicarain di Kota Metro, Lampung.
Seorang guru bernama Anna Zelvia bahkan sampe nangis pas nyampein curhat sekaligus permohonan bantuan ke Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Dirjen Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Nunuk Suryani, serta Komisi X DPR RI.
Dalam video yang beredar hari Jumat (7/8/2026), suara Anna kedengeran bergetar pas nyeritain nasib dirinya bareng puluhan guru non-ASN lainnya.
“Tolong kami, Bapak, Ibu…”
Anna bilang kalo dirinya dan guru-guru lainnya bukan orang baru di dunia pendidikan. Mereka udah bertahun-tahun mengabdi.
Menurutnya, mereka juga udah punya sertifikat pendidik, NUPTK, serta data Dapodik yang tercatat sejak 2019.
Tapi sejak awal 2026, semuanya berubah.
Mereka mulai dirumahkan.
Dan yang bikin makin bikin hati nggak tenang, data Dapodik mereka kemudian disebut ikut dinonaktifin. 😔
😢 Udah Mengabdi Bertahun-tahun, Kok Malah Dirumahkan?
Anna ngungkapin, persoalan tersebut bermula setelah adanya rapat internal antara kepala sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Metro pada Januari 2026.
Dalam pertemuan tersebut disampein kalo pemerintah mau nerapin aturan soal status kepegawaian yang cuman terdiri dari ASN, yaitu PNS dan PPPK.
Sejak saat itu, guru non-ASN yang belum masuk skema PPPK mulai dirumahin secara bertahap.
Kemudian pada Februari 2026, data Dapodik mereka juga disebut dinonaktifin.
“Puncaknya pada Maret kami mulai berkumpul karena semakin banyak guru mengalami nasib serupa,” ungkap Anna.
Dari situlah para guru mulai bergerak. Mereka minta pendampingan PGRI, nemuin DPRD Kota Metro, sampe ngedatangin Dinas Pendidikan.
Tapi menurut Anna, sampe sekarang mereka masih belum dapat kejelasan soal masa depan mereka.
😭 Bukan Cuma Kehilangan Kerjaan, Data Dapodik Juga Jadi Masalah
Nah bestie, ini bagian yang cukup bikin mereka khawatir.
Menurut Anna, persoalannya bukan cuma soal kehilangan pekerjaan.
Mereka juga takut penonaktifan data Dapodik bikin kesempatan buat ngikutin kebijakan penataan guru non-ASN dari pemerintah pusat ikut hilang.
Sederhananya, kalau datanya nggak aktif, mereka khawatir kesempatan buat masuk dalam skema penataan guru non-ASN jadi makin sulit.
“Kalau data Dapodik kami tidak aktif, maka kesempatan yang telah diberikan oleh Bapak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah akan hilang,” kata Anna.
Makanya mereka berharap pemerintah bisa turun tangan dan ngasih solusi.
👩🏫 Ada 29 Guru yang Disebut Terdampak
Forum Komunikasi Guru Non-ASN Kota Metro mencatat sedikitnya 29 guru dan tenaga kependidikan terdampak kebijakan tersebut.
Anna sendiri ngaku udah berusaha nyari sekolah lain biar tetap bisa ngajar.
Dia bahkan keliling nyari sekolah yang masih ngebutuhin tenaga pendidik.
Tapi ternyata nggak segampang itu.
“Saya keliling mencari sekolah lain, tetapi sekolah-sekolah swasta sudah penuh.”
Bahkan sekolah tempatnya ngajar sebelumnya disebut nggak bisa narik kembali data dirinya setelah data tersebut dinonaktifin.
Kondisi ini tentu bikin para guru semakin bingung.
Udah pengen tetap ngajar, tapi pintunya terasa makin sempit. 😢
🧐 Guru Curiga Ada Dugaan Maladministrasi
Nggak berhenti sampai di situ.
Anna juga menyebut adanya dugaan maladministrasi dalam proses penonaktifan data guru non-ASN tersebut.
Menurutnya, terdapat persoalan dalam mekanisme administrasi pemindahan atau penonaktifan data.
Karena itu, Forum Komunikasi Guru Non-ASN Kota Metro berencana ngebawa persoalan tersebut ke Ombudsman supaya bisa diperiksa sesuai kewenangannya.
“Kami menemukan dugaan maladministrasi karena proses pemindahan data tidak melalui mekanisme administrasi yang semestinya,” ujar Anna.
🤔 Bestie, Menurut Kamu Gimana?
Di satu sisi, pemerintah emang lagi ngelakuin penataan status tenaga pendidik non-ASN.
Tapi di sisi lain, ada guru yang ngaku udah bertahun-tahun mengabdi dan kini merasa kehilangan kepastian soal pekerjaan maupun masa depannya.
Mereka bukan cuma minta pekerjaan.
Mereka juga minta kejelasan, kepastian, dan kesempatan buat tetap mengabdi.
Dan mungkin pertanyaan paling besarnya adalah:
Kalo guru yang udah bertahun-tahun mengajar aja masih bingung sama masa depannya, lalu siapa yang mau mastiin nasib mereka? 😔
Semoga persoalan ini segera dapetin titik terang, bestie. Karena di balik angka “29 guru”, ada 29 keluarga yang juga ikut nunggu kepastian. 🙏
---
Disadur dari Liputan6