Jejak langkah

Jejak langkah Informations de contact, plan et itinéraire, formulaire de contact, heures d'ouverture, services, évaluations, photos, vidéos et annonces de Jejak langkah, Société de médias/d’actualités, Jl Juang Km 2, Democratic Republic of the.

Jalan Depan Kantor Bupati Melawi dalam sket
02/01/2026

Jalan Depan Kantor Bupati Melawi dalam sket

Sudah tidak banjir lagi cantik ya jalan depan SDN ini
02/01/2026

Sudah tidak banjir lagi cantik ya jalan depan SDN ini

Selamat datang di Kota Sintang
01/01/2026

Selamat datang di Kota Sintang

Gerbang Kota Kabupaten Melawi di masa yg akan datang. Biar keren sikit bah hehehe
01/01/2026

Gerbang Kota Kabupaten Melawi di masa yg akan datang. Biar keren sikit bah hehehe

01/01/2026

BM 6 KKLK Diawal Tahun Baru 2026

01/01/2026

Kebun Cabai

Melawi dalam Mimpi
31/12/2025

Melawi dalam Mimpi

Andai saja???
31/12/2025

Andai saja???

Catatan Akhir Tahun 2025 Yg KelamDi ujung tahun, sebagian orang sudah sibuk memilih destinasi. Ada yang cari pantai, ada...
31/12/2025

Catatan Akhir Tahun 2025 Yg Kelam

Di ujung tahun, sebagian orang sudah sibuk memilih destinasi. Ada yang cari pantai, ada yang buru gunung, ada p**a yang sekadar ingin foto dengan kembang api biar feeds kelihatan hidup. Sementara itu, di sudut lain negeri ini, sebagian saudara kita masih sibuk bertahan hidup. Menahan dingin, menahan lapar. Jangankan bakar jagung buat penghangat suasana, nyalain api saja mereka mikir panjang takut salah, takut kena pasal.

Padahal kayu gelondongan menumpuk di depan mata. Tapi jangan salah. Itu kayu negara. Haram disentuh rakyat. Katanya melanggar hukum. Biarlah aparat yang mengamankan, menyita, dan mengurusnya dengan penuh cinta pada aturan. Rakyat cukup menggigil saja. Api unggun? Jangan mimpi. Negara sedang bekerja.

Kayu-kayu itu nanti akan dilelang. Tenang saja. Uangnya tentu akan dipakai untuk kesejahteraan rakyat. Bukan untuk kesejahteraan koruptor. Sebab di negeri ini, koruptor sudah langka. Hampir punah. Lihat saja, para menteri bersih kinclong. Gubernur pun suci bak embun pagi. Bupati apalagi kerja tulus tanpa cela. Kekuasaan tidak pernah salah, yang salah cuma rakyat kurang sabar.

Para pejabat juga terkenal setia. Mereka tak akan meninggalkan rakyat saat musibah datang. Kalau pun sedang umrah, pasti siap putar balik demi rakyat. Sebab tanggung jawab adalah mahkota mereka. Jabatan hanyalah alat pengabdian, bukan fasilitas liburan berkepanjangan.

Jadi kalau malam ini masih ada rakyat kedinginan karena rumahnya hanyut, atau kelaparan karena dapur kosong, harap tenang. Pemerintah sedang berpikir. Dan kita tahu, berpikir itu butuh waktu. Solusi sedang dalam proses, entah di rapat, entah di konsep, entah di slide presentasi.

Tenang saja. Jangan panik. Yang sedang berwisata silakan lanjutkan. Jangan lupa upload story. Tapi ingat, jangan bakar jagung pakai kayu gelondongan bekas banjir. Itu ilegal. Jangan juga bakar ayam hanyut. Ayam itu statusnya tidak jelas. Bisa jadi ayam liar, bisa jadi ayam tanpa izin edar. Bertahanlah dengan cara yang sah.

Kalau BBM langka di SPBU, jangan panik juga. Pemerintah pasti tanggap. Kalian boleh isi sepuasnya asal jangan buat mandi. Isi saja buat konvoi, buat keliling kota sambil klakson, menyambut tahun baru. Rayakan kemenangan setahun penuh. Sebab katanya, rakyat sangat menikmati semua ini.

Selamat tahun baru, dari jalanan yang dingin, dari perut yang kosong, dari harapan yang selalu diminta untuk sabar.

Seruput Kopi Dulu, Ges…Mari awali pagi cerah ini dengan ngopi. Kopi panas, pikiran pelan-pelan dipanaskan. Jangan langsu...
30/12/2025

Seruput Kopi Dulu, Ges…

Mari awali pagi cerah ini dengan ngopi. Kopi panas, pikiran pelan-pelan dipanaskan. Jangan langsung panas duluan kayak wajan belum dikasih minyak. Hehe.
Hidup ini, kata orang bijak di warung kopi, semua selalu ada solusi. Yang sering buntu itu bukan masalahnya, tapi keluhannya karena cuma dikeluhkan, tapi tak pernah diambil tindakan.

Nah, harusnya begitu. Jangan nunggu viral dulu baru bergerak. Ini berlaku buat semua persoalan dan keluhan masyarakat. Kadang keluhannya sunyi, silent mode. Cuma lewat story WA, japri ke WhatsApp anggota, atau sekadar postingan Facebook yang dibaca sambil lalu. Tapi tetap saja itu suara masyarakat.

Misalnya ada yang menulis soal susahnya dapat BBM di SPBU karena sudah dipenuhi “orang-orang itu saja”. Itu pun seharusnya ditanggapi. Jangan nunggu rame dulu. Karena makin viral, urusannya makin berat. Ibarat kompor, kalau apinya keburu besar, air satu gelas tak akan cukup.

Atau keluhan soal gas elpiji yang mendadak langka. Ya boleh juga ditindaklanjuti. Sekali-sekali main ke agen gas, siapa tahu ada yang ditimbun. Tak apa-apa. Namanya juga menanggapi keluhan masyarakat. Bukan curiga berlebihan, tapi berjaga sebelum gaduh.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pun sudah mengingatkan hal ini. Dalam rilis akhir tahun 2025 Polri di Mabes Polri, beliau meminta agar seluruh aduan masyarakat direspons cepat. Jangan sampai muncul lagi istilah yang kini akrab di telinga netizen: “No Viral No Justice.”

Pesannya jelas: polisi harus tetap menjadi pengayom dan pelindung masyarakat, viral atau tidak viral. Dan satu lagi yang menarik polisi diminta jangan baper. Karena memang begitulah zaman sekarang. Netizen cerewet bukan karena hobi marah-marah, tapi karena berharap didengar.

Kepercayaan publik yang sudah dibangun pelan-pelan itu ibarat kopi tubruk: rasanya mantap karena prosesnya. Jangan sampai karena lambat merespons, semua yang sudah baik jadi pahit lagi.

Fenomena No Viral No Justice sejatinya adalah alarm. Tanda bahwa publik ingin kehadiran negara terasa sejak keluhan pertama, bukan setelah trending topic.
Jadi, ges… sebelum kopi dingin dan masalah keburu panas, mungkin memang lebih baik bergerak lebih cepat.

30/12/2025

Pengendara harus bertaruh nyawa saat melintasi Sebuah Jembatan di Tembawang Kembar Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang yg Ambruk, perlu perhatian dari pemerintah

30/12/2025

Liburan ke luar negeri kini tak selalu identik dengan biaya mahal. Dari Pontianak ke Kuching, Sarawak, jaraknya hanya sepelemparan batu. Tiket pesawat pun kerap lebih murah dibanding penerbangan ke kota-kota dalam negeri. Di kisaran Rp270 ribu, warga Kalimantan Barat sudah bisa menjejakkan kaki di negeri jiran. Maka wajar, menjelang akhir tahun seperti sekarang, arus wisata ke Kuching meningkat tajam.

Judulnya memang “luar negeri”. Meski harus diakui, dari sisi objek wisata, Kuching tak bisa dibilang istimewa. Ia kalah megah dibandingkan bentang alam Indonesia. Pantainya biasa saja, wisata alamnya pun tak terlalu spektakuler. Namun bagi warga Kalbar, khususnya yang hidup di wilayah perbatasan, Kuching menjadi pilihan rasional: dekat, murah, dan relatif nyaman.

Sehari menjelang pergantian tahun 2025, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong mencatat peningkatan arus pelintas. Sekitar 1.500 orang menyeberang dalam sepekan terakhir. Mayoritas hendak berlibur ke Kuching, memanfaatkan libur panjang akhir tahun. Angka ini diperkirakan masih akan bertambah hingga awal Januari. Fenomena ini bukan sekadar soal jalan-jalan, tapi cermin besar bagi wajah pariwisata kita sendiri.

Padahal, Kalimantan Barat menyimpan potensi wisata yang jauh lebih kaya. Singkawang dengan pesona pantainya, Bengkayang dengan wisata alamnya yang masih perawan, hingga ragam budaya Dayak, Melayu, dan Tionghoa yang unik. Semua ada. Masalahnya bukan pada kekurangan destinasi, melainkan pada minimnya sentuhan dan pengelolaan.

Wisata budaya, misalnya, sering kali dibiarkan berjalan apa adanya. Padahal, jika dikemas dengan narasi yang kuat, kalender acara yang jelas, dan promosi yang konsisten, ia bisa menjadi daya tarik utama. Yang tak kalah penting adalah soal kenyamanan. Di sinilah keluhan klasik wisatawan kerap muncul: pedagang yang memaksa, harga makanan yang melonjak tanpa aturan, hingga praktik-praktik kecil yang meninggalkan rasa tidak aman dan tidak dihargai.

Kuching mungkin tak menawarkan keajaiban alam luar biasa. Namun ia menjual keteraturan, kepastian harga, dan rasa nyaman. Tiga hal sederhana, tapi menentukan. Inilah pelajaran mahal yang seharusnya kita petik tanpa perlu menyeberang batas negara.

Jika pariwisata Indonesia khususnya di daerah ingin berdaya saing, maka pembenahan harus dimulai dari hal paling dasar: tata kelola, etika layanan, dan keberpihakan pada pengalaman wisatawan. Destinasi boleh indah, tapi tanpa rasa aman dan nyaman, wisata hanya akan menjadi kunjungan sekali lalu. Liburan murah ke seberang seharusnya menjadi alarm, sekaligus inspirasi, agar kita lebih serius merawat rumah sendiri.

Adresse

Jl Juang Km 2
Democratic Republic Of The
79672

Téléphone

+85654402705

Site Web

Notifications

Soyez le premier à savoir et laissez-nous vous envoyer un courriel lorsque Jejak langkah publie des nouvelles et des promotions. Votre adresse e-mail ne sera pas utilisée à d'autres fins, et vous pouvez vous désabonner à tout moment.

Contacter L'entreprise

Envoyer un message à Jejak langkah:

Partager