30/12/2025
Liburan ke luar negeri kini tak selalu identik dengan biaya mahal. Dari Pontianak ke Kuching, Sarawak, jaraknya hanya sepelemparan batu. Tiket pesawat pun kerap lebih murah dibanding penerbangan ke kota-kota dalam negeri. Di kisaran Rp270 ribu, warga Kalimantan Barat sudah bisa menjejakkan kaki di negeri jiran. Maka wajar, menjelang akhir tahun seperti sekarang, arus wisata ke Kuching meningkat tajam.
Judulnya memang “luar negeri”. Meski harus diakui, dari sisi objek wisata, Kuching tak bisa dibilang istimewa. Ia kalah megah dibandingkan bentang alam Indonesia. Pantainya biasa saja, wisata alamnya pun tak terlalu spektakuler. Namun bagi warga Kalbar, khususnya yang hidup di wilayah perbatasan, Kuching menjadi pilihan rasional: dekat, murah, dan relatif nyaman.
Sehari menjelang pergantian tahun 2025, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong mencatat peningkatan arus pelintas. Sekitar 1.500 orang menyeberang dalam sepekan terakhir. Mayoritas hendak berlibur ke Kuching, memanfaatkan libur panjang akhir tahun. Angka ini diperkirakan masih akan bertambah hingga awal Januari. Fenomena ini bukan sekadar soal jalan-jalan, tapi cermin besar bagi wajah pariwisata kita sendiri.
Padahal, Kalimantan Barat menyimpan potensi wisata yang jauh lebih kaya. Singkawang dengan pesona pantainya, Bengkayang dengan wisata alamnya yang masih perawan, hingga ragam budaya Dayak, Melayu, dan Tionghoa yang unik. Semua ada. Masalahnya bukan pada kekurangan destinasi, melainkan pada minimnya sentuhan dan pengelolaan.
Wisata budaya, misalnya, sering kali dibiarkan berjalan apa adanya. Padahal, jika dikemas dengan narasi yang kuat, kalender acara yang jelas, dan promosi yang konsisten, ia bisa menjadi daya tarik utama. Yang tak kalah penting adalah soal kenyamanan. Di sinilah keluhan klasik wisatawan kerap muncul: pedagang yang memaksa, harga makanan yang melonjak tanpa aturan, hingga praktik-praktik kecil yang meninggalkan rasa tidak aman dan tidak dihargai.
Kuching mungkin tak menawarkan keajaiban alam luar biasa. Namun ia menjual keteraturan, kepastian harga, dan rasa nyaman. Tiga hal sederhana, tapi menentukan. Inilah pelajaran mahal yang seharusnya kita petik tanpa perlu menyeberang batas negara.
Jika pariwisata Indonesia khususnya di daerah ingin berdaya saing, maka pembenahan harus dimulai dari hal paling dasar: tata kelola, etika layanan, dan keberpihakan pada pengalaman wisatawan. Destinasi boleh indah, tapi tanpa rasa aman dan nyaman, wisata hanya akan menjadi kunjungan sekali lalu. Liburan murah ke seberang seharusnya menjadi alarm, sekaligus inspirasi, agar kita lebih serius merawat rumah sendiri.