04/05/2012
kawan-kawanku, struktur penindasan itu telah ada, secara massif, ketika struktur kekuasaan ekonomi-politik kapitalis terbentuk. Apakah dulu, di jaman pra kapitalis, tidak ada penindasan?
Jawabannya, “Tentu ada!” Karena sejarah masyarakat – sebagaimana kata Marx – adalah sejarah perjuangan kelas. Tetapi penindasan di jaman pra kapitalis, seperti di jaman feodal, misalnya, struktur penindasannya masih bercorak sederhana; hanya untuk memenuhi kebutuhan eksistensi kaum feodal saja. Di jaman kapitalis, borjuasi telah meluruhkan nilai2 kehidupan menjadi sekedar hubungan-uang belaka. Sehingga watak negara yg dikendalikan oleh borjuasi nasional kita, juga berwatak kapitalis. Negara seharusnya menempatkan diri sebagai pelindung dan “bapak” bagi rakyatnya. Tetapi watak itu kini sudah luruh menjadi debu. Nilai “sakral-spiritual” yg seharusnya melekat di dlm diri negara kini sudah dihancurkan oleh kapitalisme hingga berkeping2, menjadi serpihan2 tak bernilai. Akhirnya, negara memandang relasi antara rakyat dg negara hanya interaksi yg bermakna “saling menguntungkan”. Negara akan berkata, “Jika kalian (rakyat) menguntungkan, maka kami akan berbuat sesuatu, tetapi jika tidak dan malah merepotkan, urus sendiri dirimu!”
Begitulah. Dan kasus2 memilukan yg menimpa BMI di manapun, adalah bukti ketidakbecusan negara. Parahnya lagi, personil2 di KJRI adalah orang yag tak mengerti apapun mengenai peran negara terhadap rakyatnya yg ada di luar negeri, terutama para buruh. Mereka dg bodohnya membuat logika terbalik ketika menghadapi kritik. “Jangan berdemo,” katanya, “itu memalukan Indonesia!” Jika mereka pintar, pernyataannya akan berbeda. Pasti mereka akan berkata, “Terimakasih telah mengingatkan kami, kawan2 BMI. Kami akan segera membenahi pelayanan kami!” Dan dalam hati mereka pasti akan berkata, “Pasti ada yg tak beres dg pelayanan dan perhatian kami, sehingga BMI melakukan aksi!”
Tindakan KJRI lebih keterlaluan lagi ketika mereka mencoba mempengaruhi gerakan2 untuk tunduk dan manut serta percaya pada omongan ttg “nasionalisme” murahan itu. “Atas nama baik Indonesia, jangan melakukan aksi dan protes!” katanya. Dan gerakan2 BMI non-politik percaya begitu saja. Mereka akhirnya kembali bekerja meski merasa tertindas, dan mencari penghiburan dg kegiatan2 spiritual alienatif.
Kawan-kawanku, tetaplah bergerak. Bangunkan kesadaran BMI. Konsolidasikan kekuatan buruh di luar negeri. Organisir mereka yg tertindas di sini. Beri pendidikan dan pengetahuan ttg “makna melawan”. Kemenanganmu di sini akan menjadi menjadi referensi, ikon, dan contoh bagi perjuangan2 BMI di tempat lain. Juga, akan menjadi kebanggan bagi perjuangan buruh di negeri kita.