02/01/2026
Di Ujung P1s4u dan Kasih yang Tak Usai
Nak, Lihatlah sekelilingmu. Ruangan ini kini sunyi, hanya ada detak jam yang sisa dan napasmu yang memburu hebat. Kamu pasti ketakutan, bukan. Tenanglah... Ibu tidak pergi ke mana-mana. Meski raga yang kau beri luk4 ini perlahan mendingin, cintaku baru saja berubah bentuk menjadi udara yang kau hirup.
Mungkin kau merasa telah menang atas amarahmu, atau mungkin kau merasa telah menghancurkan satu-satunya penghalangmu. Tapi tahukah kamu.Saat kamu menvsvkkan bel4ti atau mencek1k nap4sku, yang Ibu rasakan bukanlah benci, melainkan pilu yang luar biasa. Bukan karena ny4w4ku hilang, tapi karena aku tahu betapa beratnya beban yang harus kau panggul setelah ini. Aku sedih membayangkan betapa kesepiannya kamu di dunia ini tanpa doa-doaku yang biasanya mengetuk pintu langit setiap malam.
Dulu, aku bertaruh ny4w4 untuk membawamu ke dunia. Hari ini, aku menyerahkan ny4w4 untuk menuruti kegelapanmu. Anggaplah ini pengorb4nan terakhirku sebagai ibu. Jika m4t1ku adalah caramu untuk merasa bebas, maka aku akan m4t1 dengan ikhlas. Namun, Ibu tahu, bebasmu akan terasa seperti penjara yang kau bangun sendiri.
Jangan biarkan d4r4h ini menjadi noda yang permanen di jiwamu. Basuhlah dengan air mata taubatmu nanti. Ibu tidak akan menuntutmu di pengadilan Tuhan; justru aku akan berdiri di depan pintu-Nya, memohon agar Dia tidak menghukummu terlalu berat karena kau adalah 4n4kkuβbagian dari jantungku yang hanya sedang salah jalan.
Sekarang, hapus air matamu. Ibu sudah tidak merasakan pedih lagi. Semua lelahku sudah hilang. Aku pergi dulu, Nak... tapi ingatlah satu hal: di setiap embusan angin yang menyentuh pipimu, itu adalah caraku mengelap peluhmu. Di setiap sunyi yang mencekammu, itu adalah caraku mendekapmu dari dimensi yang berbeda.
Selamat melanjutkan hidup, meski tanpa aku. Ibu tetap mencintaimu, lebih dari ny4w4 yang baru saja kau ambil itu.