05/04/2026
Ibu kan sudah menopause kenapa ada banyak bekas p3mb4lut di kamarnya? Bahkan masih ada yang b3rd4r4h seperti baru. Saat mencari tahu aku menemukan ternyata ibu....
1
Aku tidak pernah benar-benar menyukai kamar ibu.
Bukan karena kamarnya berantakan, justru sebaliknya, terlalu rapi untuk ukuran seseorang yang tinggal sendiri hampir sepanjang hari.
Sprei selalu tertarik lurus tanpa kerutan, lemari terkunci rapat, dan tidak pernah ada pakaian berserakan. Semua terasa dikendalikan.
Seolah setiap benda di dalam ruangan itu punya aturan sendiri untuk tetap diam dan tidak mengganggu.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa disembunyikan.
Bau itu.
Aku pertama kali menyadarinya dua minggu lalu. Saat itu aku hanya masuk untuk mengambil charger.
Bau logam yang samar, seperti besi berkarat atau darah yang terlalu lama mengering. Waktu itu aku mengabaikannya, mengira mungkin hanya perasaanku saja. Atau mungkin karena ibu baru saja memasak hati ayam meskipun aneh juga kalau baunya sampai ke kamar.
Namun hari ini, bau itu lebih kuat tajam dan menusuk. Seolah-olah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan tapi mulai membusuk dan menolak untuk tetap diam.
Sejak pagi hatiku gelisah karena bau itu, fokusku bahkan teralihkan. Tapi saat melihat ibu, aku merasa aneh. Dia tampak biasa saja seolah tak mencium bau yang bahkan berasal dari kamarnya sendiri.
Aku berniat untuk memeriksa di kamar ibu, tapi menunggu ibu keluar agar lebih leluasa.
Syukurnya beberapa saat kemudian ibu berkata akan pergi. Berarti aku punya kesempatan.
“Ibu keluar dulu ya, Lia. Jangan lupa makan,” suara ibu terdengar biasa saja sebelum ia pergi. Tidak ada yang aneh dari wajahnya. Tidak ada yang mencurigakan.
Atau mungkin aku yang terlalu lama tidak benar-benar memperhatikannya.
Setelah ibu pergi aku segera berjalan ke kamarnya.
Aku berdiri di ambang pintu kamar itu, ada rasa ragu untuk masuk, tapi juga tidak bisa menahan rasa penasaran yang semakin menggerogoti pikiran.
Langkah kakiku pelan saat memasuki ruangan.
Keadaan sunyi terlalu sunyi.
Aku menarik napas, dan bau itu langsung memenuhi paru-paruku. Lebih tajam dari sebelumnya bahkan lebih nyata.
Aku mengendus sekeliling mencari sumber baunya. Dan itu jelas tercium dari tempat tidur.
Dengan perlahan aku berjalan ke arah tempat tidur.
Entah kenapa, hatiku berdebar lebih cepat, ada sesuatu di sana.
Sesuatu yang mungkin tidak seharusnya aku lihat.
Baunya tercium jelas seperti dari bawah ranjang. Dengan sigap ku berlutut pelan di samping ranjang, menunduk, dan mengintip ke bawah kolong.
Gelap, hanya bayangan.
Aku menghela napas, lalu meraba ke bagian bawah, hingga ujung jariku menyentuh sesuatu seperti kantong.
Namun karena tanganku tak mampu meraih benda yang kuyakini kantong plastik itu, aku akhirnya bangun lalu mengambil sapu lidi yang bersandar di dinding.
Dengan ujungnya, aku mencoba menggeser
sesuatu yang ada di bawah sana.
Seret, ada suara halus.
sejenak aku membeku.
Perlahan, sesuatu muncul dari bayangan dan sesuai dugaan, sebuah plastik hitam.
Kantong kresek ukuran sedang, diikat longgar di bagian atas.
Jantungku berdetak lebih cepat.
Tanganku gemetar saat menarik kantong itu keluar sepenuhnya.
Aku menatapnya beberapa detik seolah ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Aku membuka ikatannya dengan pelan.
Dan saat itu juga, dunia seakan berhenti.
Di dalamnya ada p3mb4lvt b3kas penuh d4r4h.
Bukan satu atau dua tapi puluhan dan bahkan mungkin lebih.
Beberapa ada yang sudah mengering, dan warnanya berubah menjadi cokelat gelap hampir hitam. Tapi beberapa lainnya masih m3r4h, masih b4s4h dan masih s3gar.
Tanganku refleks terlepas, kantong itu jatuh ke lantai dengan bunyi pelan.
Aku mundur, napasku tercekat.
“Tidak mungkin…” bisikku, hampir tidak terdengar.
Ibuku seharusnya sudah menopause.
Aku ingat jelas saat ia mengeluh beberapa tahun lalu, mengatakan bahwa siklusnya sudah berhenti. Bahkan ia pernah tertawa kecil, mengatakan akhirnya ia tidak perlu repot lagi setiap bulan.
Jadi ini apa? Untuk apa? Dan sejak kapan?
Aku menelan ludah, mencoba berpikir logis.
Mungkin ibu hanya menyimpannya karena entah alasan apa?
Tapi semua terasa tidak masuk akal.
Tidak ada orang waras yang menyimpan p3mb4lvt b3k4s sebanyak ini. Apalagi yang masih baru.
Pikiranku mendadak terasa sesak.
Perlahan, dengan tangan gemetar, aku meraih salah satu p3mb4lvt yang terlihat paling “s3gar”.
Terasa hangat.
Aku langsung melepaskannya seolah tersengat..
lalu menatap tanganku, kemudian kembali ke kantong itu.
Pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan.
untuk apa p3mb4lut b3k4s ini? Dan punya siapa?
Penulis : New-era
Aplikasi : KBM
Judul : Misteri Bekas P3mbalut di kamar ibu.
L1nk ada di kolom komentar.