25/07/2026
“Nak Bali nongos di Bali, sing menjamin hidupne sejahtera.” Kalimat ini mungkin terdengar pahit, bahkan bisa dianggap berlebihan. Namun, semakin sering kita mendengar kisah anak muda Bali yang memilih merantau ke luar negeri, semakin sulit untuk mengabaikan kenyataan tersebut. Mereka bukan pergi karena tidak mencintai Bali.
Mereka pergi karena ingin mencari kesempatan yang lebih besar untuk memperbaiki masa depan.
Setiap tahun, ribuan anak muda Bali mengikuti pelatihan bahasa asing, sekolah perhotelan, hingga pendidikan kapal pesiar. Tujuannya bukan sekadar ingin melihat dunia, melainkan memperoleh penghasilan yang lebih layak dibandingkan peluang yang mereka rasakan di kampung halaman. Mereka rela meninggalkan keluarga, desa adat, dan rutinitas budaya yang telah menjadi bagian dari hidup mereka sejak kecil.
Pilihan itu sering kali lahir dari kebutuhan, bukan keinginan.
Di balik foto-foto indah bekerja di kapal pesiar atau di hotel luar negeri, ada cerita yang jarang terlihat. Ada orang tua yang menua tanpa ditemani anaknya. Ada upacara adat yang dilewatkan karena kontrak kerja. Ada momen kelahiran, pernikahan, hingga kematian anggota keluarga yang hanya bisa disaksikan melalui layar telepon.
Harga yang dibayar untuk memperbaiki ekonomi ternyata tidak hanya berupa tenaga, tetapi juga waktu bersama orang-orang tercinta.