10/06/2026
𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝗦𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮? 𝗗𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶𝗸 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗯𝗮𝘁𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗠𝗼𝗱𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗦𝗼𝘀𝗶𝗮𝗹, 𝗣𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗹𝘂 𝗠𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗟𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗹 𝗜𝗻𝗶
Kelompok perempuan rentan yang terdiri dari para ibu kepala keluarga, penyintas kekerasan, perempuan dengan disabilitas, hingga mereka yang tinggal di pelosok dengan akses terbatas terhadap pendidikan dan ekonomi, masih harus berjuang keras di tengah laju pembangunan. Perjuangan mereka di lapangan sering kali menghadapi berbagai hambatan nyata seperti keterbatasan modal usaha, minimnya akses terhadap informasi, serta tekanan sosial yang membuat mereka sulit berkembang. Pendampingan yang humanis dan inklusif dinilai sangat berarti bagi mereka, bukan sekadar memberikan bantuan materi, melainkan untuk membuka jalan agar mereka dapat membangun kemandirian, menemukan kekuatan sendiri, serta percaya pada kemampuan yang dimiliki.
Pemberdayaan terhadap perempuan rentan memiliki esensi mendasar untuk membangun kemandirian dan keyakinan diri, bukan hanya sebatas memberikan pelatihan usaha. Kelompok perempuan rentan ini sejatinya bukanlah kelompok yang lemah, melainkan sebuah sumber daya potensial yang mampu bertindak sebagai penggerak perubahan di dalam komunitasnya. Ketika seorang perempuan berhasil mendapatkan kendali penuh atas kehidupannya sendiri, dampaknya akan memberikan perubahan positif yang menjalar secara luas, mulai dari dirinya sendiri, pihak keluarga, hingga ke lingkungan sekitarnya.
Sebuah langkah nyata program pendampingan telah berhasil dilaksanakan di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Program pendampingan ini dijalankan oleh Krealogi oleh Du Anyam yang berkolaborasi bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Dalam pelaksanaannya, program tersebut berhasil merangkul dan mendampingi sebanyak 160 orang perempuan rentan, yang latar belakangnya mencakup ibu kepala keluarga, penyintas kekerasan, hingga perempuan yang selama ini berada jauh dari akses pendidikan dan ekonomi.
Program pendampingan di Kabupaten Belu tersebut menjadi ruang aman bagi para peserta untuk belajar serta berani memulai usaha, dan berhasil mencatatkan pencapaian angka yang menginspirasi. Berdasarkan data evaluasi, tingkat pengetahuan para peserta program tercatat mengalami peningkatan yang signifikan hingga mencapai angka 52%. Selain itu, sebanyak 35,1% dari total peserta kini telah memiliki kemampuan mandiri untuk membuat anggaran usahanya sendiri, dengan tingkat kepuasan peserta terhadap program yang sangat tinggi, yaitu mencapai nilai 9,2 dari skala 10.
Demi menciptakan ekosistem berkelanjutan yang mendukung kemandirian perempuan, Krealogi secara konsisten membuka ruang kolaborasi dengan berbagai mitra dari unsur pemerintah, lembaga sosial, hingga sektor swasta. Melalui kemitraan strategis ini, dikembangkan berbagai program nyata seperti pengembangan ekonomi lokal yang membuka akses pasar dan rantai pasok berkelanjutan, serta pemberian dukungan digitalisasi dan pemasaran produk usaha mikro milik perempuan. Kolaborasi ini juga diarahkan untuk mendorong model bisnis inklusif yang mengintegrasikan produk lokal ke pasar yang lebih luas, sekaligus membangun kampanye sosial guna menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya kemandirian perempuan di seluruh Indonesia.