Uyang Bagan

Uyang Bagan Halaman informasi, hiburan, dan kenangan untuk orang-orang Bagansiapiapi

Permanently closed.
Analisis Berdasarkan Konferensi Pers KPK terkait Kasus OTT di RiauBerdasarkan keterangan resmi yang disampaikan KPK mela...
07/11/2025

Analisis Berdasarkan Konferensi Pers KPK terkait Kasus OTT di Riau

Berdasarkan keterangan resmi yang disampaikan KPK melalui konferensi pers terbaru, terdapat beberapa poin penting yang perlu dicermati secara objektif dan proporsional:

1. Tidak Ada Bukti Langsung Penerimaan Uang oleh Gubernur Riau (Gubri)

Dari hasil penyelidikan sementara, KPK belum menemukan bukti konkret bahwa Gubernur Riau secara langsung menerima uang dari pihak manapun.

Yang disebut menerima uang adalah Dani, tenaga ahli Gubernur, yang disebut menerima sekitar Rp 1 miliar pada bulan Juni.

Namun, aliran uang tersebut ke Gubernur tidak terbukti secara langsung dan hal ini juga diakui oleh KPK dalam keterangan resmi.

➡️ Implikasi hukum: sampai ada bukti kuat mengenai aliran dana dan keterlibatan langsung, maka posisi hukum Gubernur masih sebatas pada proses klarifikasi dan belum dapat dikategorikan sebagai pihak penerima atau pelaku tindak pidana korupsi.

2. Tidak Ada Penyerahan Uang pada Bulan Agustus

Pada bulan Agustus, KPK menyebutkan tidak ada aktivitas penyerahan uang kepada Gubernur maupun tenaga ahli (Dani).

Hal ini memperlihatkan bahwa rangkaian peristiwa yang dijadikan dasar OTT tidak menunjukkan kontinuitas atau pola pemberian suap secara konsisten.

➡️ Artinya: pola transaksi yang tidak berlanjut dan tidak terhubung secara langsung ke kepala daerah menimbulkan keraguan terhadap konstruksi unsur “gratifikasi atau suap berkelanjutan”

3. Tidak Ada OTT pada Bulan November Hanya Penggeledahan

KPK dalam keterangannya menyebutkan bahwa tidak ada kegiatan tangkap tangan (OTT) terhadap pejabat Pemprov Riau maupun pihak lain di bulan November ini.

Yang dilakukan adalah penggeledahan di Dinas PUPR dan ditemukan uang sekitar Rp 800 juta.

➡️ Ini berarti peristiwa hukum yang terjadi bukan OTT, melainkan pengumpulan alat bukti melalui penggeledahan (Pasal 33 KUHAP).
Kegiatan ini bersifat proses penyidikan lanjutan, bukan penangkapan tangan.

4. Asal Uang Asing (Dolar dan Poundsterling) Tidak Jelas

Dalam penggeledahan di rumah salah satu pihak di Jakarta, ditemukan uang dalam bentuk dolar AS dan poundsterling senilai sekitar Rp 800 juta.

Namun, KPK belum dapat memastikan asal usul uang tersebut, dan tidak ada bukti bahwa uang itu berasal dari kontraktor atau pihak KUPT.

➡️ Ini menandakan bahwa barang bukti yang ditemukan belum dapat langsung dikaitkan dengan tindak pidana yang disangkakan, sehingga masih memerlukan verifikasi lebih lanjut oleh penyidik.

5. Indikasi Kasus Masih Lemah dan Potensi Kesimpulan Prematur

Jika seluruh rangkaian kejadian di atas dianalisis, maka terlihat bahwa:

1. Bukti penerimaan uang oleh pejabat utama (Gubri) belum ada.

2. Keterkaitan antara penerimaan Dani dan kebijakan pemerintah daerah belum terbukti.

3. Tidak ditemukan kegiatan tangkap tangan langsung.

Dengan demikian, kesimpulan bahwa telah terjadi korupsi oleh Gubernur terkesan prematur, dan perlu pembuktian lebih lanjut secara yuridis dan forensik keuangan.

6. Catatan Etik dan Politik

KPK harus tetap bekerja independen, transparan, dan profesional tanpa dipengaruhi tekanan politik atau opini publik yang dibangun secara sepihak.

Penting untuk diingat bahwa proses penegakan hukum tidak boleh dijadikan alat politik untuk menjatuhkan atau membentuk persepsi publik tertentu, terutama terhadap pejabat aktif yang sedang memimpin daerah.

➡️ Dalam konteks ini, publik perlu mendorong agar proses hukum berjalan adil, transparan, dan berbasis bukti, bukan asumsi.

Kesimpulan Analisis

1. Belum ada bukti kuat penerimaan uang oleh Gubernur.

2. Transaksi keuangan tidak berkelanjutan dan tidak terhubung langsung dengan pejabat utama.

3. Peristiwa di bulan November bukan OTT, tetapi penggeledahan.

4. Asal uang asing tidak jelas dan perlu pendalaman.

5. Kasus berpotensi dipaksakan jika tanpa pembuktian objektif.

6. KPK harus menjaga independensi dan profesionalisme agar tidak terkesan digunakan untuk kepentingan politik.


19/01/2022

Tentang Bagansiapapi...

https://youtu.be/YMwS0AV96Y4
13/11/2021

https://youtu.be/YMwS0AV96Y4

Do you like to eat blood clams? if you like to eat blood clams, most people will peel or open the blood clam shells with both hands.But look at the habits of...

24/09/2021

Anak Bagan ado ndak yang nak ikuik program iko? Cubolah, mudah-mudahan berhasil.

Dalam rangka membahas c***r Bagan Heritage tepatnya di Kota Bagan Siapi-api, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau. Gubern...
19/09/2021

Dalam rangka membahas c***r Bagan Heritage tepatnya di Kota Bagan Siapi-api, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau. Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar menggelar rapat bersama Tim Ahli C***r Budaya (TACB) Nasional, di Rumah Dinas Gubri, Sabtu (18/9/2021).

"Pertemuan ini tentunya dalam rangka untuk mempersiapkan sedikit hal - hal yang berkenaan atau informasi mengenai apa saja (warisan budaya) yang ada di Rokan Hilir khususnya Kota Bagan Siapi-api," kata Gubri.

Gubernur Riau menuturkan bahwa Kota Bagan Siapi-api yang merupakan tempat kelahirannya ini, masih memiliki potensi budaya yang sangat besar dan juga masih terdapat peninggalan - peninggalan sejarah dan c***r budaya yang belum dimanfaatkan secara maksimal dalam pengembangan pariwisatanya.

"Saat ini kita mengandalkan bakar tongkang dan itu dilaksanakan hanya satu kali dalam setahun makanya saya sampaikan kepada Pak Bupati Rohil sangat sayang kalau kita hanya mengandalkan bakar tongkang (karena banyak potensi di Rohil yang bisa dikembangkan)," ujarnya.

Kemudian, ia mengatakan bahwa pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Kepala Daerah Kabupaten dan Kota se Riau untuk melakukan inovasi dan berkreativitas hal ini bertujuan agar bisa menimbulkan income didaerahnya.

"Saya sampaikan kepada para bupati bisa untuk berinovasi bisa menimbulkan income untuk rakyatnya terutama untuk mengembangkan usaha - usaha kreatif," lanjutnya.

Selanjutnya, ia menyebutkan bahwa Kota Bagan Siapi-api ini juga pernah terkenal dengan kota ikan, yaitu kota penghasil Ikan terbesar kedua di dunia 1928, namun saat ini telah menurun. Untuk itu, Gubernur Syamsuar ini mengatakan bahwa pihaknya telah bertemu dengan Menteri Kelautan dan Perikanan di daerah Bagan Siapi-api ini untuk menjadi perhatian.

"Insyaallah akan dibangun kembali pelabuhan ikan di Bagan," sebutnya.

Syamsuar menyampaikan rapat ini mempersiapkan Bagan Siapi-api sebagai kota c***r budaya. Ia juga berharap melalui rapat ini bisa berdiskusi kepala daerah untuk membentuk tim c***r budaya sehingga nantinya mudah untuk mengembangkan c***r budaya di daerah masing-masing.



📸|© Diskominfotikriau
"informasi selengkapnya silahkan cek www.mediacenter.riau.go.id"

Semoga kita semua tangguh ya Pak dalam menghadapi krisis ini...
27/08/2020

Semoga kita semua tangguh ya Pak dalam menghadapi krisis ini...

18/04/2020

Iman Emansipasi
Yudi Latif

Saudaraku, pandanglah pendar cahaya sang surya. Terang keemasan mengeluarkan hari dari gelap.

Datang tak diundang, pergi tanpa pamit; menghidupkan seluruh makhluk, melayani tanpa kecuali, mengajak semua rayakan sang kala; bangunkan daya-karya segala nan hayat.

Bila mentari yang mati rasa bisa bangunkan yang hidup. Manusia yang punya rasa mesti lebih bisa bangkitkan yang mati.

Entah seberapa karatan daya pikir kita mati. Otak manusia bak superkomputer kapasitas jutaan megabit, disiasiakan tanpa pemanfaatan.

Entah seberapa limpah karunia kekayaan alam kita mati. Gelimang sumberdaya negeri, memadai makmurkan negeri, terkikis habis tanpa nilai tambah.

Entah seberapa parah sensitivitas hati kita mati. Berkah ragam agama-budaya pengasah bela rasa berbelok salah ajar, mengeras jadi fosil ritual tanpa roh kasih.

Ketika yang hidup hanya mengandalkan yang mati, seterang apapun sinar mentari tak bisa menyalakan nurani.

Di langit jiwa yang mati, manusia berjalan bagai zombie. Tumpul rasa, asing diri. Tak kenal asal, tak tahu tujuan. Mega mendung menyelimuti langit hati.

Di tengah kehidupan yang kelam, penduduk negeri menanti kedatangan bintang penuntun. Bagaimana bisa terlahir juru selamat tanpa terang jiwa?

Orang-orang harus menyalakan sumbu kalbu. Sesungguhnya setiap pancaran jiwa itu sanggup menerangi alam batin kehidupan. Cahaya hati manusia agung bisa bangkitkan matahati jutaan manusia dari dekapan kegelapan.

Sayang, banyak manusia cuma mengutuk kegelapan. Menanti cahaya ibarat pungguk rindukan bulan. Terlanjur menikmati jalan sesat, tak kuasa menempuh jalan tobat. Tak bisa melihat betapa setiap pendosa memiliki masa depan, seperti setiap pensuci memiliki masa lalu.

Orang-orang percaya mestinya punya sukma bercahaya. Pancaran kalbunya bergerak meninggi mendekati mentari di titik zenit.

Dengan penglihatan jiwa di kerendahan permukaan tanah, yang tampak hanyalah perbedaan pepohonan. Dengan penglihatan jiwa dari ketinggian terbang elang garuda, segala perbedaan pohon tampak menyatu dalam hutan yang sama.

Setiap amal shalat dan ibadah mestinya gerak mikraj satu derajat lebih tinggi dalam pancaran jiwa. Jika cahaya iman pemeluk semua agama serempak meninggi setingkat kunang-kunang saja, jutaan manusia bisa dituntun keluar dari kegelapan. Dari kesadaran penglihatan cahaya iman yang menjulang, semua warna menyatu, rasa bersambung, rezeki berbagi. Itulah jalan emansipasi sejati!

(Makrifat Pagi, Yudi Latif)

10/04/2020

*CORONA, ‘USAMAH SYNDROME’, DAN LIGATUR BANGSA*

Oleh: Helmi Hidayat

Kurang dari tiga bulan menjelang Rasulullah Muhammad SAW wafat, Madinah sesungguhnya tengah dikepung ‘’epidemi’’ yang juga menimbulkan kecemasan. Bukan wabah penyakit atau virus Ababil yang tengah berkembang di sana, melainkan kegalauan yang menusuk ulu hati setiap warga Madinah, terutama Rasulullah. Sumber kegalauan adalah masih bercokolnya 100.000 tentara Romawi di benteng-benteng mereka di kawasan Syam. Setiap saat, mereka bisa saja menggempur Madinah rata dengan tanah.

Rasulullah sangat waspada terhadap 100.000 tentara Romawi itu. Berpuluh-puluh batalion tentara negara adidaya ini pernah diajak berduel dengan 30.000 tentara Islam di Tabuk pada tahun kesembilan hijriyyah, tapi mereka mundur teratur ke benteng-benteng mereka di pinggir kota Syam. Saat itu mereka gentar mendengar legenda bala tentara Islam yang sangat berani mati tanpa Muhammad, apalagi jika Muhammad tampil memimpin mereka di medan laga.

Tapi ingat, mereka hanya mundur, belum dikalahkan. Rasulullah juga mewaspadai orang-orang Arab musyrik yang dulu kabur dari jazirah Arab ke Palestina ketika mereka kabilah ditaklukkan pasukan Islam bakal masuk lagi ke jazirah Arab, lalu menghasut orang-orang di kawasan Utara untuk menggempur kaum Muslimin. Sungguh, demi cintanya pada sahabat-sahabatnya di Madinah, sang Nabi menyimpulkan kota suci dan umat Islam di dalamnya ini masih rentan dari gempuran dan karena itu harus dibentengi.

Berangkat dari kewaspadaan tingkat tinggi ini, Muhammad sebagai panglima tertinggi Negeri Madinah, yang terkenal jago dalam strategi perang, berpendapat tak ada cara lain kecuali memperkuat kedudukan kaum Muslimin di perbatasan Syam. Untuk itu, Nabi memerintahkan agar sebuah angkatan perang yang sangat besar diberangkatkan ke perbatasan Syam. Baik kaum Muhajirin maupun Anshar harus terlibat, termasuk kaum Muhajirin yang mula-mula masuk Islam seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Nabi tampaknya tidak mau main-main dengan angkatan militernya kali ini, demi keamanan Madinah, demi keselamatan umatnya di masa depan. Epidemi kegalauan harus disingkirkan!

Setelah alat-alat tempur dipersiapkan, tentara menjalani latihan perang, sebuah angkatan militer yang besar siap diberangkatkan ke perbatasan Syam, sebuah persoalan krusial muncul di tubuh kaum Muslimin. Mereka seperti kehilangan gairah dan menderita sindrom. Pangkalnya adalah ditunjuknya Usamah bin Zaid bin Haritsah oleh Rasulullah menjadi panglima padahal masih banyak jenderal berderet bintang yang lebih pantas semisal Khalid bin Walid, Amr bin ‘Ash, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain. Alasan mereka cuma satu: Usamah saat itu baru berusia 20 tahun!

Mengapa Rasulullah menunjuk ‘’anak bau kencur’’ ini sebagai panglima perang hingga akhirnya menimbulkan ‘’Usamah Syndrome’’?

Pertama, Nabi ingin memberi penghargaan tertinggi kepada Zaid bin Haritsah, ayah Usamah, yang gugur di medan tempur Mu’ta pada Jumadilawal 8 H (629 M). Saat itu 3.000 tentara Islam melawan 100.000 tentara Romawi. Sebelum tentara diberangkatkan, Rasululullah menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang. Jika ia gugur, posisinya harus digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far tewas, posisinya harus digantikan Abdullah bin Rawaha.

Ketiga panglima ini kemudian tewas secara sangat mengenaskan, terutama Ja’far bin Abi Thalib. Saat Zaid bin Haritsah tewas, Ja’far memimpin perang sambal memegang bendera perang. Saat itu tangan kanannya putus, tapi dengan gagah berani ia tetap memegang bendera dengan tangan kirinya. Saat tangan kirinya juga putus, bendera tetap ia genggam dengan kedua pangkal lengannya yang berdarah-darah. Bendera direbut oleh Abdullah bin Rawaha ketika Ja’far pada akhirnya tersungkur dari kuda, dengan tubuh terbelah dua dari ujung kepala sampai dubur. Seorang algojo tempur Romawi dengan kejam membelah tubuh Ja’far yang sudah tak bersenjata.

Rasulullah sangat berduka setiap kali teringat kisah heroik para panglimanya ini. Untuk inilah ia menunjuk Usamah anak Zaid sebagai panglima perang menghadapi Romawi, sebagai penghormatan buat Zaid bin Haritsah yang gugur di tangan tentara Romawi saat itu.

Kedua, Rasulullah ingin memulai tradisi regenerasi kepemimpinan di tubuh umat Islam Madinah, sekaligus mewariskan keteladanan pada generasi muda Muslimin bahwa kaum muda juga bisa jadi pemimpin.

Ketiga, kaum Muslimin saat itu sangat mungkin lupa, apa yang dilakukan Rasulullah terhadap Usamah berikut pesan-pesan strategi perangnya saat itu pasti tidak berangkat dari hawa nafsunya pribadi, melainkan Allah juga yang memberinya petunjuk. Firman Allah: ‘’Tidaklah apa yang diucapkannya menurut kemauan hawa nafsunya, kecuali bahwa ucapannya itu adalah wahyu yang diturunkan kepadanya.’’ [QS An-Najm (53): 3 – 4]

Ketika ‘Usamah Syndrome’ meluas di kalangan Muslimin, Rasulullah sebenarnya sedang mengalami demam tinggi. Kondisi fisiknya memburuk. Nabi hanya mampu berjalan dipapah menuju masjid untuk memimpin shalat, setelah itu kembali ke rumah tanpa mampu duduk-duduk lalu bercakap-cakap dengan para sahabat seperti biasanya. Kendati demikian, sampai juga desas-desus ’Usamah Syndrome’ ini ke telinganya dan ia jadi gundah. Setelah memerintahkan dirinya disiram dengan air dari tujuh sumur berbeda, Rasulullah masuk ke masjid menemui sahabat-sahabatnya lalu berpidato singkat:

‘’Wahai semua yang hadir, laksanakanlah keberangkatan Usamah itu. Demi umurku, kalau kalian telah membahas kepemimpinannya, kalian sebenarnya juga telah membahas kepemimpinan ayahnya sebelum ini. Dia sudah pantas memimpin pasukan, sebagaimana ayahnya dulu juga pantas memimpin pasukan.’’

Rasulullah kemudian terdiam, menatap sayu tapi tajam kepada setiap sahabat di hadapannya. Ia seolah ingin berkata: ‘’Masihkah kalian sangsi bahwa setiap tindakan dan ucapanku pasti di bawah kendali Allah SWT? Jika sekarang aku masih hidup saja sudah berkurang kepercayaan kalian kepadaku, bagaimana jika aku sudah tiada nanti?’’

Benar saja, penunjukan Usamah sebagai panglima perang kala itu sesungguhnya tak lebih dari sekadar ujian dari Allah kepada umat Islam saat itu, demi memunculkan sebuah ‘’ligatur baru’’ yang mengikat mereka sebagai sebuah bangsa yang baru lahir. Ligatur, diadopsi dari bahasa Latin ‘’ligatura’’, berarti sesuatu yang mengikat. Ia lebih merupakan ‘’cultural bond’’ atau ikatan budaya yang mengikat semua perbedaan di antara sebuah bangsa. Dalam konteks bangsa Madinah saat itu, ruh Islam telah menjadi ligatur yang mengikat perbedaan Aus dan Khazraj, perbedaan Muhajirin dan Anshar, juga perbedaan Arab dan bukan Arab (a’jami).

Betapa penunjukan Usamah sebagai jenderal perang sesungguhnya hanyalah ujian terbukti dari catatan sejarah bahwa pasukan pimpinan Usamah itu ternyata batal berperang melawan tentara Romawi. Mereka segera pulang begitu mendengar Rasulullah sakit dan tak kembali ke medan tempur hingga Nabi wafat.

Ketika pada akhirnya Rasulullah wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama dalam Islam langsung melaksanakan amanat Nabi. Dia tetap menunjuk Usamah ‘’si anak muda bau kencur’’ sebagai panglima perang, kendati Umar bin Khattab menentang pendapat Abu Bakar. Usamah kemudian berangkat ke medan tempur dengan bertekad menjalankan empat strategi perang yang dipesankan Nabi kepadanya semasa hidup.

Pertama Nabi mengharuskannya membangun markas perang di perbatasan antara Balqa’ dan Darum di Palestina, tidak jauh dari Mu’ta tempatnya ayahnya gugur. Kedua, dia harus menyerang musuh di pagi buta. Ketiga, serangannya harus gencar, tak boleh berhenti, seraya menghujani mereka dengan api. Keempat, jika telah memenangkan pertempuran, Usamah harus segera menarik pulang pasukannya ke Madinah.

Benar saja, begitu Usamah menaati semua pesan strategi perang yang diajarkan Rasulullah kepadanya, pasukan Romawi lari tunggang langgang. Usamah pulang membawa kemenangan. Saat itu, tiba-tiba Abu Bakar dan Umar begitu rindu kepada sang utusan Tuhan yang telah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya seraya meninggalkan sebuah warisan termahal: ligatur bangsa.

Jika umat Islam di masa Rasulullah 14 abad lalu dikepung wabah kecemasan akibat 100.000 tantara Romawi yang terlihat, bangsa Indonesia kini dikepung wabah kecemasan akibat kepungan satu triliun virus Corona yang tak terlihat. Jika bangsa yang baru lahir di bawah bendera baru bernama Madinah itu justru menemukan sebuah ligatur kebangsaan yang lebih kuat di balik kepungan 100.000 tantara Romawi itu, mestinya bangsa besar bernama bangsa Indonesia ini bisa belajar dari sejarah Madinah.

Kepungan satu triliun virus Corona tak boleh menimbulkan ‘’Usamah syndrome’’ dalam bentuk lain di negeri ini demi keselamatan bangsa secara keseluruhan. Mereka yang merasa lebih hebat ketimbang Khalid bin Walid, merasa lebih cerdik dibanding Amr bin ‘Ash, merasa lebih jantan ketimbang Umar bin Khattab, atau merasa lebih jago dibanding Ali bin Abi Thalib, sebaiknya menurunkan ego masing-masing demi bangsa dan tanah air.

Kita punya ligatur bangsa yang tak pernah lekang oleh panas, tak pernah lentur oleh dingin. Bangsa-bangsa di dunia menyebutnya gotong-royong. Selamat menjadi bangsa hebat, Indonesiaku …

Jakarta, 10 April 2020

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157530396592599&id=762577598

Bantu Share...semoga gambar-gambar sederhana kami ini membantu semua pihak dalam pencegahan penyebaran COVID-19semoga ki...
25/03/2020

Bantu Share...

semoga gambar-gambar sederhana kami ini membantu semua pihak dalam pencegahan penyebaran COVID-19

semoga kita semua sehat selalu
semoga yang sakit segera cepat sembuh

gambar latar diambil dari pixabay
semua gambar ini boleh dishare bebas tanpa ijin

Mari bantu para tenaga medis

Mohon maaf jika ada tersilap kata.

Stay safe

Mari bantu pencegahan penyebaran COVID 19
1.
Bantu Kami...
Tetaplah Jaga Jarak
Tetaplah di Rumah

2.
Sayangi nyawamu dan keluargamu

3.
Jika keluar rumah
< jaga jarak >
1 meter

4.
Tidak mendesak?
Jangan keluar rumah

5.
Mungkin daya tahan tubuhmu kuat...
Tapi daya tahan tubuh keluargamu belum tentu kuat.

6.
Jangan nongki dulu ya gaes

Stay safe at home

Salam Sehat....
Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Riau
Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru





Address

Bagansiapiapi

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Uyang Bagan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Uyang Bagan:

Share

Category