10/04/2020
*CORONA, ‘USAMAH SYNDROME’, DAN LIGATUR BANGSA*
Oleh: Helmi Hidayat
Kurang dari tiga bulan menjelang Rasulullah Muhammad SAW wafat, Madinah sesungguhnya tengah dikepung ‘’epidemi’’ yang juga menimbulkan kecemasan. Bukan wabah penyakit atau virus Ababil yang tengah berkembang di sana, melainkan kegalauan yang menusuk ulu hati setiap warga Madinah, terutama Rasulullah. Sumber kegalauan adalah masih bercokolnya 100.000 tentara Romawi di benteng-benteng mereka di kawasan Syam. Setiap saat, mereka bisa saja menggempur Madinah rata dengan tanah.
Rasulullah sangat waspada terhadap 100.000 tentara Romawi itu. Berpuluh-puluh batalion tentara negara adidaya ini pernah diajak berduel dengan 30.000 tentara Islam di Tabuk pada tahun kesembilan hijriyyah, tapi mereka mundur teratur ke benteng-benteng mereka di pinggir kota Syam. Saat itu mereka gentar mendengar legenda bala tentara Islam yang sangat berani mati tanpa Muhammad, apalagi jika Muhammad tampil memimpin mereka di medan laga.
Tapi ingat, mereka hanya mundur, belum dikalahkan. Rasulullah juga mewaspadai orang-orang Arab musyrik yang dulu kabur dari jazirah Arab ke Palestina ketika mereka kabilah ditaklukkan pasukan Islam bakal masuk lagi ke jazirah Arab, lalu menghasut orang-orang di kawasan Utara untuk menggempur kaum Muslimin. Sungguh, demi cintanya pada sahabat-sahabatnya di Madinah, sang Nabi menyimpulkan kota suci dan umat Islam di dalamnya ini masih rentan dari gempuran dan karena itu harus dibentengi.
Berangkat dari kewaspadaan tingkat tinggi ini, Muhammad sebagai panglima tertinggi Negeri Madinah, yang terkenal jago dalam strategi perang, berpendapat tak ada cara lain kecuali memperkuat kedudukan kaum Muslimin di perbatasan Syam. Untuk itu, Nabi memerintahkan agar sebuah angkatan perang yang sangat besar diberangkatkan ke perbatasan Syam. Baik kaum Muhajirin maupun Anshar harus terlibat, termasuk kaum Muhajirin yang mula-mula masuk Islam seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Nabi tampaknya tidak mau main-main dengan angkatan militernya kali ini, demi keamanan Madinah, demi keselamatan umatnya di masa depan. Epidemi kegalauan harus disingkirkan!
Setelah alat-alat tempur dipersiapkan, tentara menjalani latihan perang, sebuah angkatan militer yang besar siap diberangkatkan ke perbatasan Syam, sebuah persoalan krusial muncul di tubuh kaum Muslimin. Mereka seperti kehilangan gairah dan menderita sindrom. Pangkalnya adalah ditunjuknya Usamah bin Zaid bin Haritsah oleh Rasulullah menjadi panglima padahal masih banyak jenderal berderet bintang yang lebih pantas semisal Khalid bin Walid, Amr bin ‘Ash, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain. Alasan mereka cuma satu: Usamah saat itu baru berusia 20 tahun!
Mengapa Rasulullah menunjuk ‘’anak bau kencur’’ ini sebagai panglima perang hingga akhirnya menimbulkan ‘’Usamah Syndrome’’?
Pertama, Nabi ingin memberi penghargaan tertinggi kepada Zaid bin Haritsah, ayah Usamah, yang gugur di medan tempur Mu’ta pada Jumadilawal 8 H (629 M). Saat itu 3.000 tentara Islam melawan 100.000 tentara Romawi. Sebelum tentara diberangkatkan, Rasululullah menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perang. Jika ia gugur, posisinya harus digantikan Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far tewas, posisinya harus digantikan Abdullah bin Rawaha.
Ketiga panglima ini kemudian tewas secara sangat mengenaskan, terutama Ja’far bin Abi Thalib. Saat Zaid bin Haritsah tewas, Ja’far memimpin perang sambal memegang bendera perang. Saat itu tangan kanannya putus, tapi dengan gagah berani ia tetap memegang bendera dengan tangan kirinya. Saat tangan kirinya juga putus, bendera tetap ia genggam dengan kedua pangkal lengannya yang berdarah-darah. Bendera direbut oleh Abdullah bin Rawaha ketika Ja’far pada akhirnya tersungkur dari kuda, dengan tubuh terbelah dua dari ujung kepala sampai dubur. Seorang algojo tempur Romawi dengan kejam membelah tubuh Ja’far yang sudah tak bersenjata.
Rasulullah sangat berduka setiap kali teringat kisah heroik para panglimanya ini. Untuk inilah ia menunjuk Usamah anak Zaid sebagai panglima perang menghadapi Romawi, sebagai penghormatan buat Zaid bin Haritsah yang gugur di tangan tentara Romawi saat itu.
Kedua, Rasulullah ingin memulai tradisi regenerasi kepemimpinan di tubuh umat Islam Madinah, sekaligus mewariskan keteladanan pada generasi muda Muslimin bahwa kaum muda juga bisa jadi pemimpin.
Ketiga, kaum Muslimin saat itu sangat mungkin lupa, apa yang dilakukan Rasulullah terhadap Usamah berikut pesan-pesan strategi perangnya saat itu pasti tidak berangkat dari hawa nafsunya pribadi, melainkan Allah juga yang memberinya petunjuk. Firman Allah: ‘’Tidaklah apa yang diucapkannya menurut kemauan hawa nafsunya, kecuali bahwa ucapannya itu adalah wahyu yang diturunkan kepadanya.’’ [QS An-Najm (53): 3 – 4]
Ketika ‘Usamah Syndrome’ meluas di kalangan Muslimin, Rasulullah sebenarnya sedang mengalami demam tinggi. Kondisi fisiknya memburuk. Nabi hanya mampu berjalan dipapah menuju masjid untuk memimpin shalat, setelah itu kembali ke rumah tanpa mampu duduk-duduk lalu bercakap-cakap dengan para sahabat seperti biasanya. Kendati demikian, sampai juga desas-desus ’Usamah Syndrome’ ini ke telinganya dan ia jadi gundah. Setelah memerintahkan dirinya disiram dengan air dari tujuh sumur berbeda, Rasulullah masuk ke masjid menemui sahabat-sahabatnya lalu berpidato singkat:
‘’Wahai semua yang hadir, laksanakanlah keberangkatan Usamah itu. Demi umurku, kalau kalian telah membahas kepemimpinannya, kalian sebenarnya juga telah membahas kepemimpinan ayahnya sebelum ini. Dia sudah pantas memimpin pasukan, sebagaimana ayahnya dulu juga pantas memimpin pasukan.’’
Rasulullah kemudian terdiam, menatap sayu tapi tajam kepada setiap sahabat di hadapannya. Ia seolah ingin berkata: ‘’Masihkah kalian sangsi bahwa setiap tindakan dan ucapanku pasti di bawah kendali Allah SWT? Jika sekarang aku masih hidup saja sudah berkurang kepercayaan kalian kepadaku, bagaimana jika aku sudah tiada nanti?’’
Benar saja, penunjukan Usamah sebagai panglima perang kala itu sesungguhnya tak lebih dari sekadar ujian dari Allah kepada umat Islam saat itu, demi memunculkan sebuah ‘’ligatur baru’’ yang mengikat mereka sebagai sebuah bangsa yang baru lahir. Ligatur, diadopsi dari bahasa Latin ‘’ligatura’’, berarti sesuatu yang mengikat. Ia lebih merupakan ‘’cultural bond’’ atau ikatan budaya yang mengikat semua perbedaan di antara sebuah bangsa. Dalam konteks bangsa Madinah saat itu, ruh Islam telah menjadi ligatur yang mengikat perbedaan Aus dan Khazraj, perbedaan Muhajirin dan Anshar, juga perbedaan Arab dan bukan Arab (a’jami).
Betapa penunjukan Usamah sebagai jenderal perang sesungguhnya hanyalah ujian terbukti dari catatan sejarah bahwa pasukan pimpinan Usamah itu ternyata batal berperang melawan tentara Romawi. Mereka segera pulang begitu mendengar Rasulullah sakit dan tak kembali ke medan tempur hingga Nabi wafat.
Ketika pada akhirnya Rasulullah wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama dalam Islam langsung melaksanakan amanat Nabi. Dia tetap menunjuk Usamah ‘’si anak muda bau kencur’’ sebagai panglima perang, kendati Umar bin Khattab menentang pendapat Abu Bakar. Usamah kemudian berangkat ke medan tempur dengan bertekad menjalankan empat strategi perang yang dipesankan Nabi kepadanya semasa hidup.
Pertama Nabi mengharuskannya membangun markas perang di perbatasan antara Balqa’ dan Darum di Palestina, tidak jauh dari Mu’ta tempatnya ayahnya gugur. Kedua, dia harus menyerang musuh di pagi buta. Ketiga, serangannya harus gencar, tak boleh berhenti, seraya menghujani mereka dengan api. Keempat, jika telah memenangkan pertempuran, Usamah harus segera menarik pulang pasukannya ke Madinah.
Benar saja, begitu Usamah menaati semua pesan strategi perang yang diajarkan Rasulullah kepadanya, pasukan Romawi lari tunggang langgang. Usamah pulang membawa kemenangan. Saat itu, tiba-tiba Abu Bakar dan Umar begitu rindu kepada sang utusan Tuhan yang telah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya seraya meninggalkan sebuah warisan termahal: ligatur bangsa.
Jika umat Islam di masa Rasulullah 14 abad lalu dikepung wabah kecemasan akibat 100.000 tantara Romawi yang terlihat, bangsa Indonesia kini dikepung wabah kecemasan akibat kepungan satu triliun virus Corona yang tak terlihat. Jika bangsa yang baru lahir di bawah bendera baru bernama Madinah itu justru menemukan sebuah ligatur kebangsaan yang lebih kuat di balik kepungan 100.000 tantara Romawi itu, mestinya bangsa besar bernama bangsa Indonesia ini bisa belajar dari sejarah Madinah.
Kepungan satu triliun virus Corona tak boleh menimbulkan ‘’Usamah syndrome’’ dalam bentuk lain di negeri ini demi keselamatan bangsa secara keseluruhan. Mereka yang merasa lebih hebat ketimbang Khalid bin Walid, merasa lebih cerdik dibanding Amr bin ‘Ash, merasa lebih jantan ketimbang Umar bin Khattab, atau merasa lebih jago dibanding Ali bin Abi Thalib, sebaiknya menurunkan ego masing-masing demi bangsa dan tanah air.
Kita punya ligatur bangsa yang tak pernah lekang oleh panas, tak pernah lentur oleh dingin. Bangsa-bangsa di dunia menyebutnya gotong-royong. Selamat menjadi bangsa hebat, Indonesiaku …
Jakarta, 10 April 2020
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157530396592599&id=762577598