18/09/2022
SEGEHAN.
Namanya Segehan artinya “Suguh” (menyuguhkan), dalam hal ini segehan di haturkan kepada para Bhutakala agar tidak mengganggu dan juga Ancangan Iringan Para Betara dan Betari, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan insan dalam kala waktu tertentu.
Dari keseluruhan adalah buatanku sendiri. Dari mulai tempatnya (Clemik/ Ithuk-ithuk itu terbuat dari daun kelapa yang sudah tua, dalam Bahasa Bali disebut Selepan, kemudian disatukan mengunakan serpihan bambu yang dikaitkan satu dengan lainnya, atau dalam Bahasa Bali disebut Semat/ Biting) kemudian dipasang porosan (Buntelan daun di tepi wadah, dibuat dari daun Mangga, Daun Sirih dan Kapur) hingga berbagai macam beras dengan warna, semua memiliki makna yang ada di dalamnya. Di Bali, segala hal ada hitungan dan tatanan, termasuk arah (letak) dimana beras berwarna-warni tsb diletakkan didalam wadah, sebelum di haturkan, juga disesuaikan dengan dimana tempat untuk menghaturkan. Ini adalah pola dan arah:
1. Warna Hitam menempati posisi Utara.
2. Warna Putih menempati posisi Timur.
3. Warna Merah menempati posis selatan.
4. Warna Kuning menempati posisi Barat.
Sedangkan warna 'Brumbun' atau kombinasi dari ke empat warna di atas menempati posisi di tengah tengah, yang mampu di katakan brumbun tersebut sebagai 'Pancernya'. Segehan Manca Warna ini biasanya di letakkan pada pintu masuk pekarangan (lebuh pemeda) atau di perempatan jalan.