25/03/2023
💡🚰 TERUS-MENERUS MELUDAH SETELAH BERKUMUR-KUMUR
Perbuatan seperti ini sebenarnya tidak perlu dilakukan. Karena air yang tersisa di mulut setelah berkumur-kumur ialah kadar yang dimaafkan oleh syariat.
Al-Faqih as-Sarkhasi rahimahullah berkata,
أنّ الصائم إذا تمضمض فإنّه يبقى في فمه بَلَّة، ثم تدخل بعد ذلك حلقه مع ريقه، وأحد لا يقول بأنّ ذلك يُفطره.
“Jika orang yang berpuasa berkumur-kumur, maka tentu di mulutnya tersisa basahan bekas air. Jika itu masuk ke tenggorokan bersama dengan liurnya, maka tidak ada seorang pun ulama yang mengatakan hal itu membatalkan puasanya.”
Al-Mabshuth, 2/157.
Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan,
وأما ما يفعله بعض الناس من أنه إذا تمضمض بقي يتفل لمدة، ويقول: أخشى أن يبقى طعم الماء في فمي، وينزل إلى بطني، فهذا من التنطع والتعمق في الدين.
“Perbuatan segelintir orang ketika selesai berkumur-kumur ia kemudian terus meludah selama beberapa waktu; dengan alasan, ‘Saya takut masih ada air di mulut yang bisa tertelanʼ, sungguh, ini adalah bentuk berlebihan dalam beragama.”
At-Taʼliq ‘ala Kitab ash-Shiyam min al-Furuʼ, hlm. 204.
Beliau juga menjelaskan,
أن الرجل لو تمضمض فإنه لا يلزمه أن يتفل ريقه كما يفعله بعض الموسوسين بل نقول إذا توضأت ومججت الماء فلا تكلف نفسك بعدها حتى لو أحسست بطعم الماء في فمك فإنه لا يضرك وهذا هو ظاهر هدي الصحابة رضي الله عنهم والسلف الصالح أنهم لا يتكلفون ولا يتنطعون في دين الله.
“Seandainya berkumur-kumur, maka dia tidak harus meludahkan air liurnya seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang was-was.
Bahkan kami katakan: apabila Anda berwudhu dan sudah membuang air dari mulut, maka jangan membebani diri lagi setelah itu.
Bahkan meskipun Anda merasa ada air di mulut, maka itu tidak merusak puasa. Hal ini nampak dalam bimbingan para sahabat dan salafus shalih, mereka tidak membebani diri mereka berlebihan ketika menjalankan agama Allah.”
Taʼliqat ‘ala al-Kafi melalui al-Ghayah wa at-Tamkin, hlm. 131.
✍ -- Hari Ahadi @ Kota Raja
Draf buku “Panduan Ramadhan A-Z”.
—————————————————