Aceh Sultanate History

Aceh Sultanate History Sejarah Ulama Ulama Dan Raja Raja Aceh Serta Sejarah Aceh Dulu serta Seni Budaya Tradisional Aceh

19/12/2025

Aparat keamanan TNI ambil bendera bulan bintang dari mobil rombongan yang antar bantuan banjir di pidie Aceh

19/12/2025

Terjadi keributan antara masyarakat Aceh dan TNI

Ini adalah foto Alm Tgk Abdullah Syafi'i  Panglima Tertinggi Gerakan Aceh Merdeka - GAM. Alm Tgk Abdullah Syafi'i mening...
13/10/2025

Ini adalah foto Alm Tgk Abdullah Syafi'i Panglima Tertinggi Gerakan Aceh Merdeka - GAM.
Alm Tgk Abdullah Syafi'i meningg4l dunia ( sy4hid) pada 22 Januari 2002 dalam sebuah pengepungan yang dilakukan oleh aparat TNI.
Berikut jejak sejarah kronologi kejadian pengepungan terhadap Panglima Gerakan Aceh Merdeka Alm tgk Abdullah Syafi'i selengkapnya :

Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tgk Abdullah Syafii tewas dalam sebuah pertempuran di Bukit Alue Mon, daerah pegunungan Cubo, pada 22 Januari 2002. Lebih 1.000 TNI mengepung kawasan tersebut selama seminggu.

Perang besar pecah pada 21 Januari 2002 dari pagi hingga sore. Untuk menghadapi serangan TNI, pasukan GAM yang kalah jumlah dan senjata berpencar. TNI yang sudah mengepung pengunungan Jim-Jiem dan Cubo terus merayap sampai ke Krueng Bla. Di sinilah awal pecah perang sengit. Panglima GAM Tgk Abdullah Syafii dan pasukannya terus begeser sambil membalas tembakan. Ketika perang reda, Abdullah Syafii dan pasukannya bermalam di pegunungan Alue Mon.

Pada 22 Januari 2002, Panglima GAM Tgk Abdullah Syafii syahid dalam pertempuran dengan TNI yang sudah mengepungnya di perbukitan Alue Mon. Perang yang dimulai sejak pagi dari pukul 08.00 WIB baru reda sore hari sekitar pukul 18.00 WIB. Perang itu membuat pasukan GAM terpencar. Sebagai panglima, Abdullah Syafii tidak mundur dari kecamuk perang. Ia memilih syahid, ia gugur setelah peluru TNI menembus dadanya.

Bersama Abdullah Syafii juga gugur istrinya, ummi Fatimah Binti Abdurrahman, pengawalnya Muhammad bin Ishak, dan penasehatnya Muhammad Daud bin Hasyim. Sembilan orang TNI juga tewas dalam pertempuran itu. Jasad Abdullah Syafii dan pengikutnya diambil warga dibawa ke RSUD Sigli. Keempatnya dikuburkan bersisian di belakang rumah Tgk Lah di Cubo, Pidie Jaya pada 24 Januari 2002

Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa'afihi Wa'fuanhu

Efek gertakan cumi-cumi gubernur sumatera Utara Bobby Nasution, pemerintah provinsi Aceh melayaninya dengan himbauan ser...
03/10/2025

Efek gertakan cumi-cumi gubernur sumatera Utara Bobby Nasution, pemerintah provinsi Aceh melayaninya dengan himbauan serius.
Pemerintah Aceh mengeluarkan imbauan kepada seluruh masyarakatnya yang masih menggunakan pelat nopol luar untuk kendaraan pribadi agar segera melakukan mutasi pelatnya menjadi pelat Aceh atau BL. Hal tersebut penting agar pajak kendaraan bermotor (PKB) tidak mengalir ke daerah lain.

Hebatnya wanita AcehKisah Pilu Cut Nyak Dien - Ratu Aceh yang Makamnya Baru Ditemukan 50 Tahun Setelah GugurCut Nyak Die...
03/10/2025

Hebatnya wanita Aceh

Kisah Pilu Cut Nyak Dien - Ratu Aceh yang Makamnya Baru Ditemukan 50 Tahun Setelah Gugur

Cut Nyak Dien lahir pada tahun 1848 di Aceh dari keluarga bangsawan yang taat beragama. Ayahnya, Teuku Nanta Seutia, adalah seorang uleebalang VI Mukim dan masih memiliki garis keturunan dari Sultan Aceh. Pada tahun 1862, Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Ibrahim Lamnga dan dikaruniai seorang putra. Namun, kehidupan bahagia itu terusik ketika Perang Aceh meletus pada tahun 1873. Ia bersama suaminya turun langsung ke medan perang melawan Belanda yang bersenjata lengkap.
Setelah suaminya, Teuku Ibrahim, gugur dalam pertempuran di Sela Glee Tarun, Cut Nyak Dien tidak mundur. Ia justru semakin bersemangat meneruskan perjuangan. Dalam upacara pemakaman suaminya, ia bertemu Teuku Umar, yang kemudian menjadi suami sekaligus rekan seperjuangan.
Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dien membangun kekuatan baru dan berhasil menghancurkan beberapa markas Belanda. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang putri, Cut Gambang, yang kelak menikah dengan putra pejuang Teuku Cik Di Tiro.
Namun, perjuangan penuh pengorbanan ini diwarnai duka. Anak dan menantu Cut Nyak Dien gugur di medan perang. Pada 11 Februari 1899, Teuku Umar juga gugur. Meski kembali kehilangan, Cut Nyak Dien tetap meneruskan perlawanan, meski kondisi fisik dan pasukannya semakin lemah.
Tekanan Belanda semakin keras. Cut Nyak Dien yang mulai tua dan sakit-sakitan tetap menolak menyerah. Panglima Laot Ali, yang kasihan melihat keadaannya, sempat mengusulkan menyerah, namun Cut Nyak Dien dengan tegas menolaknya.
Akhirnya, Cut Nyak Dien berhasil ditangkap oleh pasukan Belanda di bawah komando Letnan van Vurren. Untuk menghindari pengaruhnya di Aceh, ia diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Di pengasingan, meski mengalami gangguan penglihatan dan usia yang renta, ia tetap aktif mengajar agama, tanpa pernah mengungkapkan identitasnya.
Cut Nyak Dien wafat pada 6 November 1908 dan dimakamkan di Sumedang. Makamnya baru ditemukan pada tahun 1960, setelah Pemerintah Daerah Aceh melakukan penelusuran.
Perjuangan dan keteguhan Cut Nyak Dien bahkan membuat seorang penulis dan sejarawan Belanda, Ny. Szekly Lulof, menjulukinya sebagai "Ratu Aceh."

Ditulis oleh: Kebenaran Sejarah

Ilustrasi sumur tua Lubang BuayaPada masa itu,,, 😭😭😭
02/10/2025

Ilustrasi sumur tua Lubang Buaya
Pada masa itu,,, 😭😭😭

Lucu Sekali 🤣😂🤣 Kejadian lucu di Aceh seorang wanita pasien rumah sakit jiwa ( 0DGJ ) kabur dari RSJ keliling kota Banda...
01/10/2025

Lucu Sekali 🤣😂🤣 Kejadian lucu di Aceh seorang wanita pasien rumah sakit jiwa ( 0DGJ ) kabur dari RSJ keliling kota Banda Aceh tanpa bus4n4 😂🤣😂😂🤣

N4sib Alm Teuku Markam yang menyumbang emas untuk Indonesia ( Tugu Monas) tapi balasannya beliau dipenjara dan dimiskink...
01/10/2025

N4sib Alm Teuku Markam yang menyumbang emas untuk Indonesia ( Tugu Monas) tapi balasannya beliau dipenjara dan dimiskinkan bahkan nama baiknya dijatuhkan

Listrik Seluruh Aceh Padam Serentak, Penyebab Masih DiselidikiSeluruh wilayah Provinsi Aceh mengalami pemadaman listrik ...
30/09/2025

Listrik Seluruh Aceh Padam Serentak, Penyebab Masih Diselidiki

Seluruh wilayah Provinsi Aceh mengalami pemadaman listrik serentak pada Senin sore (29/9/2025) sekitar pukul 16.23 WIB.

Pemadaman massal ini melanda hampir semua kabupaten/kota di Aceh, mulai dari kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Kota Langsa, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Jaya, hingga Subulussalam.

PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Aceh mengerahkan ratusan personel yang dilengkapi peralatan teknis lengkap untuk melakukan pemulihan pasokan listrik secara bertahap.

Hingga Senin malam, sebagian besar wilayah sudah kembali normal, meski penyebab pasti gangguan masih dalam penelusuran.

Proses Pemulihan di Berbagai Daerah
UP3 Sigli: Wilayah Pidie dan Pidie Jaya menjadi daerah tercepat dipulihkan. Kurang dari 1 jam, tepatnya pukul 17.05 WIB, 100% pelanggan kembali menikmati listrik normal.

UP3 Langsa: Di Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang, pemulihan dilakukan kurang dari 3 jam. Tepat pukul 19.02 WIB, seluruh pelanggan berhasil dinormalkan kembali.

UP3 Subulussalam: Sebanyak 66.604 pelanggan yang terdampak berhasil kembali mendapat pasokan listrik normal pada pukul 16.28 WIB.

UP3 Lhokseumawe: Di wilayah Bireuen, Bener Meriah, dan Aceh Tengah, PLN berhasil memulihkan listrik untuk 139.574 pelanggan pada pukul 19.05 WIB.

UP3 Meulaboh: Meliputi Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Jaya, sebanyak 115.732 pelanggan sudah kembali normal pada pukul 20.11 WIB.

UP3 Banda Aceh: Di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, sebanyak 128.777 pelanggan berhasil dinormalkan kembali pada pukul 20.14 WIB.

PLN Minta Maaf dan Lakukan Penelusuran
PLN UID Aceh menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami masyarakat akibat pemadaman massal ini.

PLN UID Aceh menyatakan bahwa hingga Senin malam penyebab pasti gangguan masih dalam proses penelusuran.

Kendati demikian, pihak PLN menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang terjadi.

Sumber: infoaceh.net

Potret Kandang XII, Pemakaman Keluarga Sultan Aceh sekitar tahun 1891 di Aceh Besar. Aceh telah lama terabaikan sebagai ...
25/09/2025

Potret Kandang XII, Pemakaman Keluarga Sultan Aceh sekitar tahun 1891 di Aceh Besar.

Aceh telah lama terabaikan sebagai wilayah penghasil seni Islam, sebuah kesunyian yang dapat ditelusuri kembali ke masa penjajahan Belanda di nusantara.

Batu nisan dari Aceh merupakan salah satu dari sedikit objek yang dikaji pada masa kolonial sebagai bagian dari produksi seni Islam. Secara gaya, batu nisan tersebut berasal dari contoh-contoh Gujarat yang dibuat di Cambay (India) dan diimpor ke Aceh sejak abad ke-13.

Pada masa Kesultanan Aceh (abad ke-15-20), batu nisan mulai diproduksi secara lokal, menghasilkan gaya-gaya baru.

Address

Banda Aceh

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Aceh Sultanate History posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Aceh Sultanate History:

Share