Gema Baiturrahman

Gema Baiturrahman Tabloid Gema Baiturrahman
Terbit Sejak 3 September 1983

Pendiri: H. Ameer Hamzah, H. Basri A. Bakar, dan HM. Jakfar Puteh dkk

Redaksi: Sayed Muhammad Husen.

Opini:Sejarah Lahirnya Pancasila: 1 Juni, 22 Juni, dan 18 Agustus 1945 dalam Perspektif IslamPancasila tidak lahir  tiba...
31/05/2026

Opini:

Sejarah Lahirnya Pancasila: 1 Juni, 22 Juni, dan 18 Agustus 1945 dalam Perspektif Islam

Pancasila tidak lahir tiba-tiba. Ia melalui proses panjang, penuh dialog, perbedaan pandangan, dan kebesaran jiwa para pendiri bangsa. Tiga momentum penting menandai perjalanan sejarah itu, yakni 1 Juni 1945, 22 Juni 1945, dan 18 Agustus 1945. Dari sini lahir dasar negara yang tidak hanya mempersatukan, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai Islam.

1 Juni 1945: Gagasan Awal Pancasila

Dalam sidang BPUPKI, Soekarno menyampaikan pidato yang melahirkan konsep Pancasila. Lima prinsip yang ia ajukan mencerminkan nilai universal: kebangsaan, kemanusiaan, musyawarah, kesejahteraan sosial, serta ketuhanan.

Nilai-nilai ini sejalan dengan ajaran Islam. Konsep tauhid menjadi landasan kehidupan seorang muslim. Prinsip kemanusiaan selaras dengan ajaran rahmatan lil ‘alamin. Musyawarah menjadi bagian dari ajaran syura. Keadilan sosial sejalan dengan perintah menegakkan keadilan dalam Al-Qur’an.

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa nilai Islam tidak bertentangan dengan Pancasila, bahkan menjadi ruh yang menguatkan.

22 Juni 1945: Piagam Jakarta

Panitia Sembilan kemudian merumuskan Piagam Jakarta. Tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta dan Muhammad Yamin terlibat aktif dalam perumusan tersebut.

Dalam naskah ini, sila pertama berbunyi: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Rumusan ini mencerminkan aspirasi umat Islam yang ingin menjadikan syariat sebagai pedoman hidup.

Dalam perspektif Islam, hal ini wajar. Syariat tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga kehidupan sosial, ekonomi, dan keadilan. Namun para ulama dan tokoh bangsa memahami kondisi masyarakat Indonesia yang majemuk.

Di sini tampak kedewasaan berpikir. Islam mengajarkan maslahat dan menghindari mudarat. Prinsip ini menjadi dasar dalam mempertimbangkan keutuhan bangsa.

18 Agustus 1945: Penetapan dan Penyempurnaan

Sidang PPKI menetapkan UUD 1945 beserta Pembukaannya. Pada saat itu, rumusan sila pertama disempurnakan menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Perubahan ini bukan penghilangan nilai Islam, melainkan bentuk ijtihad kebangsaan. Para tokoh muslim menunjukkan keluasan pandangan demi menjaga persatuan.

Dalam Islam, persatuan (ukhuwah) memiliki kedudukan tinggi. Al-Qur’an memerintahkan agar umat berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Nilai ini tercermin dalam sikap para pendiri bangsa yang mendahulukan keutuhan Indonesia.

Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” tetap mengandung makna tauhid. Ia membuka ruang bagi umat Islam menjalankan ajaran agamanya secara utuh, sekaligus memberikan jaminan bagi pemeluk agama lain.

Pancasila dalam Perspektif Islam

Dilihat dari sudut pandang Islam, Pancasila tidak bertentangan dengan syariat. Bahkan, setiap sila memiliki padanan nilai dalam ajaran Islam:

Sila Ketuhanan mencerminkan tauhid. Sila Kemanusiaan sejalan dengan prinsip keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia. Sila Persatuan selaras dengan ukhuwah dan larangan perpecahan. Sila Kerakyatan mencerminkan musyawarah (syura). Sila Keadilan Sosial sejalan dengan perintah menegakkan keadilan dan distribusi kesejahteraan.

Banyak ulama Nusantara memandang Pancasila sebagai titik temu (kalimatun sawa’) dalam kehidupan berbangsa. Ia menjadi kesepakatan yang memungkinkan umat Islam menjalankan agamanya sekaligus hidup berdampingan secara damai.

Sejarah Pancasila menunjukkan proses yang sarat hikmah. Para pendiri bangsa tidak sekadar merumuskan dasar negara, tetapi juga mencontohkan sikap bijak, toleran, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Dalam perspektif Islam, nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari ajaran yang luhur. Menjaga Pancasila berarti menjaga persatuan, menegakkan keadilan, dan menghidupkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan berbangsa. (Smh/berbagai sumber)

Tadabbur:Antara Tidur dan Kematian"Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang bel...
31/05/2026

Tadabbur:

Antara Tidur dan Kematian

"Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir." (QS Az Zumar::42)

Al-Quran menyingkap satu kenyataan: hidup dan mati berada dalam genggaman Allah. Tidak satu pun makhluk mampu menahan ajal saat tiba, dan tidak ada jaminan seseorang akan terbangun dari tidurnya selain karena izin-Nya.

Tidur memberi gambaran kematian dalam skala kecil. Saat tidur, kesadaran terputus, tubuh melemah, dan manusia kehilangan kendali atas dirinya. Ruh berpisah sementara dari jasad, lalu kembali saat bangun. Peristiwa ini berulang setiap hari, namun sering lupa kita renungankan.

Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an memandang ayat ini sebagai sentuhan yang menggugah jiwa. Tidur dan kematian berdiri dalam satu garis makna, meski berbeda pada ketetapan akhir. Tidur menjadi latihan harian agar manusia menyadari kelemahan diri dan ketergantungan penuh kepada Allah. Setiap kali bangun, lahir rasa syukur, seakan menerima kehidupan baru.

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengingatkan kelalaian manusia dalam memaknai tidur. Setiap malam nyawa “diambil”, lalu dikembalikan ketika pagi datang. Jika Allah tidak mengembalikannya, itulah kematian. Ini sebagai muhasabah sebelum tidur, sebab tidak ada kepastian terbangun kembali.

Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menegaskan kekuasaan mutlak Allah dalam mengatur ruh. Ruh orang yang wafat tertahan permanen, sedangkan ruh orang tidur dikembalikan hingga tiba ajal. Penjelasan ini menuntun akal melihat kehidupan bukan sekadar proses biologis, melainkan kehendak ilahi.

Al-Quran mengajak manusia berpikir melalui peristiwa yang terus berulang. Setiap tidur mendatangkan pesan tentang kematian, dan setiap bangun membuka peluang memperbaiki diri. Kesadaran semacam ini melahirkan sikap tunduk, memperbanyak dzikir sebelum tidur, dan menata hati dengan muhasabah. Rasa syukur pun tumbuh setiap pagi, karena kesempatan hidup kembali terbuka.

Demikianlah kehidupan berlangsung di antara dua “penarikan nyawa”: tidur dan kematian. Yang satu sementara, yang lain pasti. Siapa yang mampu menangkap isyarat ini akan menjalani hidup dengan lebih hati-hati, penuh kesadaran, dan siap berjumpa dengan Allah Swt. (Abu Lampanah/berbagai sumber)

News:Santri PMDG Kampus 8 Aceh Semarakkan Idul Adha 1447 H dengan Qurban dan KebersamaanAceh Besar -- Pondok Modern Daru...
30/05/2026

News:

Santri PMDG Kampus 8 Aceh Semarakkan Idul Adha 1447 H dengan Qurban dan Kebersamaan

Aceh Besar -- Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Kampus 8 Aceh menyelenggarakan rangkaian kegiatan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5/2026), yang diikuti seluruh santri dan guru di lingkungan pondok.

Bagian media PMDG, Ustaz Muhammad Kaffah Najmu Kirom menyampaikan, seluruh santri tetap berada di pondok dan tidak p**ang ke rumah masing-masing sebagai bagian dari sistem pendidikan dan pembinaan yang menekankan kemandirian dan kebersamaan.

Ia menjelaskan, kegiatan diawali dengan pelaksanaan Shalat Idul Adha berjamaah di lingkungan pondok. Shalat dipimpin oleh Al-Ustadz Ahmad Nursidi, S.Pd, sementara khutbah disampaikan oleh Al-Ustadz Zaidani Raziq Al-Arsy, S.Ag.

Ustaz Muhammad Kaffah menambahkan, usai pelaksanaan shalat, Pimpinan PMDG Kampus 8 Aceh, Al-Ustadz Fauzul Halim, M.Pd, menyampaikan amanat kepada seluruh santri dan guru. Ia menegaskan bahwa ibadah qurban merupakan bagian penting dari pendidikan di pondok, karena mengajarkan nilai keikhlasan, pengorbanan, kebersamaan, dan kepedulian sosial.

"Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan salam-salaman dan foto bersama, diikuti makan bersama sebelum memasuki prosesi penyembelihan hewan qurban," ungkapnya.

Pada Idul Adha tahun ini, kata Muhammad Kaffah, PMDG menerima dan menyembelih 4 ekor sapi, 3 ekor kambing, dan 1 ekor domba. Proses qurban, mulai dari penyembelihan hingga distribusi daging, dilaksanakan oleh para guru bersama panitia santri kelas 5. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari dengan tertib dan penuh semangat kebersamaan.

"Selain qurban, para santri juga mengikuti berbagai perlombaan antar kelas yang dipanitiai oleh santri kelas 4. Kegiatan lomba digelar setiap pagi dan sore, meliputi balap karung, lomba kerapian berpakaian, kursi panas, futsal, dan berbagai permainan lainnya yang bertujuan mempererat ukhuwah dan menumbuhkan sportivitas," ujarnya.

Ditambahkan, pada malam hari, kegiatan diisi dengan agenda kebersamaan. Malam pertama diisi dengan nonton bersama, malam kedua lomba cerdas cermat antar kelas, dan malam ketiga kegiatan bakar-bakar (nyate) yang dirangkaikan dengan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba.

Dalam sambutan penutupan, Al-Ustadz Fauzul Halim kembali mengingatkan bahwa setiap amal kebaikan pada hakikatnya akan kembali kepada pelakunya. Ia mengajak seluruh santri untuk terus menanamkan nilai keikhlasan, pengorbanan, dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

"Kegiatan penutup berupa bakar-bakar bersama dilaksanakan di sepanjang jalan pondok dan diikuti oleh santri, guru, serta wali santri yang turut hadir. Suasana semakin meriah dengan kebersamaan menikmati hidangan sate hasil olahan masing-masing, yang ditutup dengan pemutaran film sebagai hiburan," ungkap Muhammad Kaffah.

Dengan berakhirnya kegiatan tersebut, seluruh rangkaian peringatan Idul Adha 1447 H di PMDG Kampus 8 Aceh resmi ditutup. "Kegiatan ini kita harapkan menjadi pengalaman berharga bagi santri dalam menumbuhkan nilai keikhlasan, tanggung jawab, dan kebersamaan," pungkasnya. (Sayed M. Husen)

Halaqah Maghrib:Catatan Amal Oleh: Dr. Tgk. H. A. Mufakhir Muhammad, M.AAllah Swt menegaskan, seluruh amal manusia tidak...
30/05/2026

Halaqah Maghrib:

Catatan Amal

Oleh: Dr. Tgk. H. A. Mufakhir Muhammad, M.A

Allah Swt menegaskan, seluruh amal manusia tidak ada yang luput dari pencatatan. Setiap perbuatan, sekecil apa pun, telah dihimpun dan ditulis dalam sebuah kitab. Semua usaha manusia selama hidup di dunia akan ditampilkan kembali tanpa ada yang tersembunyi.

Bila seseorang berbuat kebaikan, maka balasannya kebaikan p**a. Sebaliknya, jika ia melakukan kejahatan, maka kejahatan itu akan kembali kepadanya sebagai balasan yang setimpal. Inilah keadilan Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun amal yang terabaikan.

Bagi orang-orang yang durhaka dan bergelimang maksiat, ketika catatan amal itu diperlihatkan, mereka akan menghadapi azab yang pedih. Bahkan Allah menegaskan, azab tersebut akan terus bertambah sebagai konsekuensi dari keingkaran dan dosa yang mereka lakukan.

Sebaliknya, orang-orang yang semasa hidupnya taat beribadah, selalu ingat kepada Allah, dan menjaga ketaatan, akan memperoleh keselamatan. Mereka akan dijauhkan dari azab dan berbagai keburukan. Inilah pentingnya ibadah dalam kehidupan, karena ia menjadi pelindung sekaligus jalan menuju keselamatan.

Allah kemudian menjelaskan balasan bagi orang-orang bertakwa. Mereka golongan yang akan mendapatkan keberuntungan, kebahagiaan, dan kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat. Kehidupan mereka tidak hanya diberkahi di dunia, tetapi juga berujung pada kebahagiaan di akhirat.

Orang yang bertakwa adalah pemilik kebahagiaan. Mereka hidup dalam ketenangan, mendapatkan bimbingan, dan tidak terombang-ambing dalam kesesatan. Hidayah Allah selalu menyertai langkah mereka. Meraka senantiasa menjaga shalat dan ibadah lainnya.

Berbeda dengan orang yang jauh dari hidayah, hidupnya cenderung tidak terarah dan mudah terjerumus dalam kelalaian. Bahkan ada yang meninggalkan kewajiban seperti shalat, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak mendapatkan hidayah. Hal ini menunjukkan betapa berharganya petunjuk Allah Swt.*

Kuliah Shubuh: Cahaya Ruh dan Gelapnya MateriOleh: Tgk. H. Rusli Daud, S.H.I., M.AgRuh manusia membutuhkan cahaya agar t...
30/05/2026

Kuliah Shubuh:

Cahaya Ruh dan Gelapnya Materi

Oleh: Tgk. H. Rusli Daud, S.H.I., M.Ag

Ruh manusia membutuhkan cahaya agar tetap hidup. Cahaya itu adalah iman, ilmu, dan amal saleh. Tanpa cahaya tersebut, ruh akan redup bahkan mati. Sementara itu, materi atau jasad sesuatu yang fana. Ia akan rusak, hancur, dan kembali ke tanah. Karena itu, yang paling penting diperbaiki bukan penampilan lahiriah, melainkan kondisi batin dan jiwa.

Namun realitas yang kita hadapi sering kali terbalik. Banyak orang lebih sibuk memperindah penampilan luar: merawat tubuh, mempercantik wajah, bahkan menghabiskan waktu dan biaya untuk hal-hal yang bersifat fisik. Semua itu tidak salah, tetapi menjadi keliru ketika perhatian terhadap ruh dan hati justru diabaikan.

Dalam kehidupan berbangsa kita diajarkan: bangunlah jiwanya, baru kemudian bangunlah badannya. Ini selaras dengan ajaran Islam yang menempatkan pembangunan ruh sebagai prioritas. Sebab jasad hanya sementara, sedangkan ruh akan terus hidup dan mempertanggungjawabkan segala amal.

Kematian sejatinya hanya perpisahan antara ruh dan jasad. Jasad akan hancur di dalam kubur, sementara ruh tetap hidup menuju alam berikutnya. Karena itu, perhatian seorang mukmin seharusnya bagaimana menyiapkan ruhnya agar selamat di hadapan Allah Swt.

Dalam ajaran Islam, amal lahiriah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji tidak akan bernilai tanpa kehadiran amal hati. Keikhlasan, ketakwaan, dan kesungguhan batin penentu diterima atau tidaknya amal tersebut. Maka memperbaiki hati landasan dalam perjalanan menuju Allah.

Karena itu, seorang muslim perlu mengenal diri sendiri. Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Sebaliknya, jika seseorang tidak mengenal dirinya, ia akan mudah menyalahkan orang lain dan lupa memperbaiki dirinya sendiri. Selain itu, salah satu penghalang terbesar dalam perjalanan spiritual adalah hawa nafsu.*

Tadabbur:Takdir, Ikhtiar, dan Orientasi HidupFirman Allah Swt: “Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan ...
30/05/2026

Tadabbur:

Takdir, Ikhtiar, dan Orientasi Hidup

Firman Allah Swt: “Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (p**a) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran: 145)

Ayat di atas menegaskan prinsip kehidupan manusia: tentang kematian, pilihan orientasi hidup, dan nilai syukur.

Allah Swt menegaskan, tidak ada satu jiwa pun yang akan mati kecuali dengan izin-Nya, dalam ketetapan waktu yang telah ditentukan. Pada saat yang sama, manusia diberi kebebasan untuk menentukan arah hidupnya—apakah mengejar dunia atau akhirat—dan setiap pilihan memiliki konsekuensi balasan.

Ayat ini turun dalam konteks Perang Uhud, ketika sebagian kaum Muslimin mengalami kegoncangan mental akibat kekalahan. Ada yang menyangka kematian di medan perang terjadi karena kelalaian strategi, bahkan ada yang merasa bahwa mundur dari medan laga dapat menyelamatkan nyawa.

Al-Qur’an meluruskan cara pandang ini: kematian bukan ditentukan oleh sebab-sebab lahiriah semata, tetapi oleh izin Allah yang telah menetapkan ajal setiap manusia.

Ketetapan yang Pasti

Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an menegaskan, ayat ini membangun keberanian dan ketenangan jiwa. Kematian tidak dapat dipercepat atau diperlambat oleh sikap manusia, baik maju ke medan jihad maupun mundur darinya.

Kesadaran ini melahirkan keteguhan, karena seorang mukmin memahami bahwa hidup dan mati berada dalam genggaman Allah. Dengan demikian, rasa takut yang berlebihan terhadap kematian seharusnya sirna, digantikan oleh keberanian dalam menegakkan kebenaran.

Senada dengan itu, M. Quraish Shihab menjelaskan kata kitaban mu’ajjalan menunjukkan adanya ketetapan waktu yang pasti dan tidak berubah. Kematian bukan sesuatu yang acak, tetapi sudah tertulis dalam sistem Ilahi yang rapi.

Pemahaman ini mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar: manusia tetap berusaha menjaga kehidupan, namun tidak terjebak dalam ilusi bahwa ia mampu menghindari takdir.

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menambahkan dimensi spiritual. Menurutnya, keyakinan terhadap ajal yang telah ditentukan membebaskan manusia dari ketakutan yang melemahkan jiwa.

Orang yang memahami ayat ini akan hidup lebih berani, tidak pengecut, dan tidak p**a terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat.

Orientasi Hidup

Bagian kedua ayat di atas menyoroti pilihan manusia: siapa yang menghendaki pahala dunia akan diberi bagian darinya, dan siapa yang menghendaki pahala akhirat akan memperoleh balasan akhirat.

Ini bukan sekadar pernyataan, tetapi hukum kehidupan.

Sayyid Qutb melihatnya sebagai penegasan tentang arah niat. Dunia dan akhirat bukan hanya dua tempat, tetapi dua orientasi. Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama akan mendapatkan hasil duniawi, namun terbatas dan sementara.

Sebaliknya, mereka yang mengarahkan hidup kepada akhirat akan memperoleh hasil yang lebih kekal dan bernilai.

Quraish Shihab menulis, Allah tetap memberi kepada siapa pun sesuai pilihannya, sebagai bentuk keadilan dan kasih sayang-Nya. Namun, beliau mengingatkan bahwa orientasi akhirat tidak berarti meninggalkan dunia, melainkan menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat. Dunia bukan tujuan akhir, tetapi jembatan.

Hamka memandang ayat di atas sebagai kritik terhadap mentalitas materialistik. Ia mengingatkan bahwa jika manusia hanya mengejar dunia, maka ia akan terjebak dalam kesempitan makna hidup. Jika akhirat menjadi tujuan, maka dunia akan mengikuti sebagai bonus, bukan sebagai beban.

Syukur

Allah Swt menegaskan janji banwa Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Syukur di sini bukan sekadar ucapan, tetapi sikap hidup yang mengakui nikmat Allah dan menggunakannya sesuai kehendak-Nya.

Menurut Sayyid Qutb, syukur merupakan bentuk kesadaran tertinggi seorang mukmin. Ia menyadari bahwa hidup, mati, rezeki, dan segala yang dimiliki adalah karunia Allah. Kesadaran ini melahirkan ketaatan dan ketundukan.

Quraish Shihab melihat syukur sebagai pengikat antara nikmat dan keberkahan. Nikmat yang disyukuri akan bertambah, sementara yang diingkari akan mengundang kehilangan makna. Syukur juga menjadi pembeda antara orang yang sekadar menikmati hidup dan mereka yang memaknai hidup.

Hamka menegaskan, syukur adalah inti kebahagiaan. Orang yang bersyukur tidak akan mudah gelisah, karena ia melihat segala sesuatu sebagai bagian dari rencana Allah yang penuh hikmah.

Dari ayat di atas dapat kita pahami, bahwa Al-Quran mengajarkan tiga hal: kepastian ajal, kebebasan memilih orientasi hidup, dan keutamaan syukur.

Al-Quran melalui ayat di atas membentuk karakter mukmin yang berani, bijak, dan penuh kesadaran spiritual. Ia tidak takut mati, tidak terjebak dalam ambisi dunia, dan selalu bersyukur atas segala ketentuan Allah.

Dalam kehidupan yang penuh ketidakpastian, ayat di atas menjadi kompas yang menuntun manusia untuk tetap teguh. Hidup bukan tentang menghindari kematian, tetapi tentang mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya.

Pilihannya adalah menjadikan akhirat sebagai tujuan, dengan dunia sebagai jalan, dan syukur sebagai bekal utama. (Abu Lampanah/berbagai sumber)

News:Open House Idul Adha, Ribuan Warga Padati Kediaman Bupati Aceh BesarKota Jantho -- Ribuan warga memenuhi kediaman B...
30/05/2026

News:

Open House Idul Adha, Ribuan Warga Padati Kediaman Bupati Aceh Besar

Kota Jantho -- Ribuan warga memenuhi kediaman Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris (Syech Muharram) pada acara open hause Idul Adha 1447 H, berlangsung di Komplek BTN Ajuen Lam Hasan, Kecamatan Peukan Bada, pada Kamis, (28/5/2026).

Kegiatan rutin setiap tahunnya yang digelar saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha merupakan bentuk silaturahmi pimpinan Pemerintah Aceh Besar dengan masyarakatnya.

Sejak pagi hari masyarakat dari berbagai kalangan terus berdatangan. Diantara tamu yang hadir, tampak para tokoh mastarakat Aceh Besar, kalangan ulama, tokoh pemuda dan perempuan, pimpinan OPD dan pimpinan instansi vertikal di Aceh Besar.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris dan istrinya Hj. Rita Mayasari terlihat sibuk menyambut langsung para tamu yang hadir. Warga terlihat sangat antusias memanfaatkan momen ini bersilaturrahmi dan menyalami pimpinan Aceh Besar ini.

Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris menyampakan rasa bahagia atas respon dan antusiasme warga yang berkesempatan hadir dan bersilaturrahmi kekediamannya.

"Kegiatan open house ini selalu kita gelar saat hari besar Idul Fitri atau Idul Adha, walaupun tidak terlalu besar, kegiatan ini dapat menjadi wadah silaturrahmi bagi masyarakat dan para pimpinan dinas instansi dengan Bupati Aceh Besar," ujar Syech Muharram.

Ia juga mengakui melalui moment lebaran ini dirinya dapat langsung berinteraksi dengan warga yang mungkin jarang bertamu dihari-hari biasa, karena kesibukan tugas masing-masing.

"Silaturrahmi dihari pertama juga sudah kita gelar di Mesjid Agung Al-Munawarah Kota Jantho, kemudian hari ini kegiatan serupa juga digelar di kediaman Wakil Bupati Syukri A. Jalil. Tentu, melaui moment seperti ini kami dapat bertemu dan bersilaturrahmi langsung dengan masyarakat Aceh Besar, mungkin ada warga yang jarang bertemu, karena kesibukan tugas kita masing-masing," terangnya.

Sementara itu, Ruslan salah seorang warga yang hadir pada open house di rumah Bupati Aceh Besar menyampaikan, rasa bangga dan bahagia dapat bertemu dan berjabat tangan langsung dengan Bapak Bupati Aceh Besar.

"Saya merasa senang, bangga dan bahagia bisa bersilaturrahmi dan bersalaman dengan Syech (sebutan untuk Syech Muharram). Beliau sangat ramah dan bersahaja, tidak ada kesan sombong sedikitpun, saya orang kecil, tapi dapat berjabat tangan dan ngobrol dengan beliau. Menurut saya salah besar kalau ada pihak yang menilai negatif pada sikap pribadi Syech Muharram, beluau baik dan ramah dengan warga," pungkasnya. (Smh/Humas)

Zikir “Allahu akbar” dalam rangkaian ibadah haji dilantunkan secara berulang-ulang. Sebab, haji pada dasarnya merupakan ...
29/05/2026

Zikir “Allahu akbar” dalam rangkaian ibadah haji dilantunkan secara berulang-ulang. Sebab, haji pada dasarnya merupakan ibadah dalam tingkatan universal bagi setiap jamaah haji. (Said Nursi, Al-Kalimat)

Tadabbur:Menjadi Hamba Ar-Rahman Firman Allah Swt: "Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang y...
29/05/2026

Tadabbur:

Menjadi Hamba Ar-Rahman

Firman Allah Swt: "Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam.’ Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri." (QS. Al-Furqaan: 63–64).

Ayat ini merupakan potret ideal kepribadian seorang hamba Allah yang telah mencapai kematangan iman dan akhlak. Sebab di tengah kehidupan yang penuh tekanan, manusia sering kehilangan arah dalam bersikap. Emosi mudah tersulut, ego kian menonjol, dan kehormatan kerap dipertahankan dengan cara keliru.

Rendah Hati

Sifat pertama adalah tawadhu’, berjalan di bumi dengan rendah hati. Ini bukan sikap lemah, melainkan bentuk kekuatan jiwa. Orang yang rendah hati tidak merasa perlu meninggikan diri di hadapan manusia, sebab ia sadar kemuliaan sejati hanya datang dari Allah.

Ibnu Katsir menjelaskan, yang dimaksud dengan berjalan dengan rendah hati bukan berjalan dengan dibuat-buat lemah, melainkan sikap tenang, penuh wibawa, dan tidak sombong. Mereka tidak angkuh dalam ucapan maupun perbuatan, karena hati mereka dipenuhi kesadaran akan kebesaran Allah.

Senada dengan itu, Wahbah az-Zuhaili menegaskan, kerendahan hati mencerminkan akhlak mulia yang lahir dari keimanan. Seorang mukmin tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, bahkan cenderung memuliakan sesama, sekalipun terhadap orang yang mungkin merendahkannya.

Membalas dengan Kedamaian

Karakter berikutnya adalah kemampuan mengendalikan diri saat berhadapan dengan kebodohan. Ketika dihina atau disakiti, mereka tidak membalas dengan keburukan, melainkan dengan ucapan yang menenangkan: “salam.”

Menurut Sayyid Qutb, sikap ini menunjukkan ketinggian jiwa seorang mukmin. Ia tidak turun ke level orang yang berbuat jahil, karena ia memiliki visi hidup. Ucapan “salam” bukan sekadar kata, tetapi simbol ketenangan, kedamaian, dan keengganan terlibat dalam konflik yang tidak produktif.

Ibnu Katsir menambahkan, maksud ucapan tersebut adalah sikap berpaling dengan cara yang baik, bukan membalas atau memperpanjang perdebatan. Ini merupakan bentuk pengendalian diri yang lahir dari kedewasaan iman.

Hidup dengan Ibadah

Setelah menggambarkan akhlak sosial, ayat di atas beralih kepada dimensi ketakwaan: menghidupkan malam dengan ibadah. Mereka bersujud dan berdiri di hadapan Allah ketika kebanyakan manusia terlelap dalam tidur.

Wahbah az-Zuhaili menafsirkan, kebiasaan ini bukti keikhlasan seorang hamba. Ibadah di malam hari jauh dari riya dan pujian manusia. Seorang hamba membangun hubungan dekat dengan Tuhannya, memohon ampun, dan menguatkan jiwanya.

Sayyid Qutb melihat ibadah malam sebagai sumber energi ruhani untuk menjaga keseimbangan hidup seorang mukmin. Pada siang hari ia berinteraksi dengan manusia dengan penuh kesabaran dan di malam hari ia kembali mengisi hatinya dengan cahaya takwa.

Refleksi

Ayat di atas merupakan cerminan umat Islam. Di tengah derasnya arus informasi dan perdebatan, kita sering terjebak dalam sikap reaktif, mudah tersinggung, dan gemar membalas. Padahal Al-Qur’an mengajarkan sebaliknya: rendah hati, menahan diri, dan menjaga kedamaian.

Menjadi hamba Ar-Rahman adalah identitas seorang muslim dan perjalanan panjang dalam membentuk karakter. Ia menuntut kesabaran dalam menghadapi manusia dan kesungguhan dalam mendekat kepada Allah Swt.

Jika sifat-sifat ini tumbuh dalam diri umat, maka kehidupan sosial akan dipenuhi ketenangan, ukhuwah terjaga, dan ibadah menjadi sumber kekuatan, bukan sekadar rutinitas. Dan dari ayat di atas kita bisa belajar bahwa kemuliaan seorang hamba tidak terletak pada seberapa tinggi derajatnya di hadapan manusia, tetapi seberapa rendah ia bersujud di hadapan Tuhannya. (Sayed M. Husen/berbagai sumber)

Meudrah:Harta, Iman, dan Hilangnya Rasa CukupOleh: Abu Paya Pasi Di zaman ini manusia semakin sibuk mengejar harta, namu...
29/05/2026

Meudrah:

Harta, Iman, dan Hilangnya Rasa Cukup

Oleh: Abu Paya Pasi

Di zaman ini manusia semakin sibuk mengejar harta, namun semakin jauh dari ketenangan. Rumah semakin besar, kendaraan semakin mewah, angka di rekening terus bertambah, tetapi wajah-wajah manusia justru tampak letih dan hati mereka dipenuhi kegelisahan. Inilah yang pernah diingatkan para ulama Aceh: ketika sedikit terasa cukup, hidup menjadi lapang. Namun ketika banyak tidak lagi terasa cukup, hidup berubah menjadi beban.

Harta memang diperlukan, tetapi ia bukan sumber kebahagiaan. Banyak orang mengira kekayaan adalah pintu ketenangan, padahal sering kali justru menjadi pintu kegelisahan. Orang miskin tidur dengan tubuh lelah namun hati tenang, sedangkan sebagian orang kaya tidur di atas kasur empuk dengan pikiran yang tidak pernah berhenti bekerja siang malam dihantui ketakutan rugi, takut kehilangan, takut tersaingi, dan takut jatuh miskin kembali.

Akhirnya hidup habis hanya untuk menjaga angka-angka dunia. Di sinilah letak kritik Islam terhadap manusia yang kehilangan iman. Al-Qur’an dalam Surah Al-Humazah mengecam orang yang sibuk mengumpulkan dan menghitung harta seolah-olah hartanya mampu membuat dirinya kekal. Padahal ketika ajal datang, seluruh kemewahan itu berhenti di pintu kubur. Yang dibawa hanyalah amal, sedangkan harta tinggal menjadi rebutan ahli waris.

Ulama-ulama dahulu sering mengingatkan bahwa yang membuat manusia sengsara bukan semata kurangnya uang, melainkan kosongnya ruh dari zikir dan ibadah. Jiwa yang tidak diberi makan dengan salat, Al-Qur’an, zakat, dan kalimat tauhid akan menjadi kering. Karena itu banyak orang kaya hidup dalam kecemasan, sedangkan orang sederhana justru tampak bahagia. Mereka makan dari yang halal, menyebut nama Allah, lalu tidur dengan hati ringan.

Hari ini kita juga menyaksikan ironi besar. Yang ditangkap karena korupsi bukan orang miskin yang memanjat kelapa atau buruh yang bekerja di sawah. Yang tersandung kejahatan justru mereka yang hartanya sudah ber-limpah.

Mengapa? Karena harta tanpa iman ibarat air laut; semakin diminum semakin haus. Tidak ada rasa cukup di dalam dada. Maka ukuran kaya dalam Islam bukan banyaknya simpanan, tetapi tenangnya hati. Sebab iman yang kuat mampu membuat sedikit menjadi cukup, sedangkan hati yang kosong menjadikan banyak pun terasa kurang.*

Address

Kota Banda
Banda

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Gema Baiturrahman posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share