30/08/2026
News:
Ust Afrizal Sofyan:
Cinta kepada Allah dan Rasulullah Harus Mengalahkan Cinta kepada Diri Sendiri
Aceh Besar -- Cinta kepada Allah dan Rasulullah SAW bukan sekadar ungkapan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui pengorbanan, ketaatan, ibadah, dan kesediaan memberikan sesuatu yang paling dicintai di jalan Allah.
Pesan tersebut disampaikan Ust Afrizal Sofyan, S.Pd.I., M.Ag., dalam tausiyah Subuh Safari BBC di Masjid Jamik Baitul Jannah, Kemukiman Tungkop, Darussalam, Aceh Besar, Ahad, 30 Agustus 2026, bertepatan dengan 17 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Dalam tausiyahnya, Ust Afrizal mengajak jamaah memperdalam kembali makna cinta kepada Nabi Muhammad SAW, terutama dalam momentum bulan Rabiul Awal.
Ia menjelaskan, salah satu bukti luar biasa cinta Rasulullah SAW kepada umatnya adalah perhatian dan doa beliau untuk keselamatan serta ampunan umat.
Ust Afrizal mengutip sebuah riwayat dari Aisyah RA. Ketika Aisyah meminta Rasulullah SAW mendoakannya, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَائِشَةَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهَا وَمَا تَأَخَّرَ، مَا أَسَرَّتْ وَمَا أَعْلَنَتْ
“Ya Allah, ampunilah Aisyah atas dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, yang ia sembunyikan maupun yang ia tampakkan.”
Ketika Aisyah bergembira dengan doa tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa doa itu pada hakikatnya merupakan doa beliau untuk umatnya dalam setiap shalat. Riwayat ini disebutkan dalam sejumlah kitab hadis, di antaranya Shahih Ibnu Hibban.
“Ini menunjukkan betapa besar cinta Rasulullah kepada umatnya. Beliau tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi selalu memikirkan keselamatan umat,” ujar Ust Afrizal.
Tiga Golongan yang Merasakan Manisnya Iman
Ust Afrizal kemudian menjelaskan hadis Rasulullah SAW tentang tiga perkara yang membuat seseorang merasakan manisnya iman.
Pertama, orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya.
Menurutnya, ukuran cinta kepada Allah dan Rasulullah bukan hanya pada ucapan, tetapi terlihat dari apa yang bersedia kita korbankan.
Ia mengingatkan jamaah dengan firman Allah SWT dalam QS Ali Imran ayat 92:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.”
Menurut Ust Afrizal, ketika ayat ini turun, para sahabat Rasulullah SAW tidak sekadar mendengarnya. Mereka berlomba-lomba membuktikan cinta kepada Allah dengan memberikan sesuatu yang paling mereka cintai.
Salah satunya adalah Abu Thalhah RA. Ia memiliki kebun kurma Bairuha yang merupakan harta yang sangat dicintainya. Setelah mendengar ayat tersebut, Abu Thalhah datang kepada Rasulullah SAW dan menyerahkan kebun kesayangannya untuk kepentingan di jalan Allah.
Rasulullah SAW kemudian memuji tindakan tersebut dan menyarankan agar kebun itu diberikan kepada kerabatnya.
“Abu Thalhah tidak memberikan sesuatu yang sudah tidak disukainya. Ia memberikan sesuatu yang paling ia cintai. Inilah cinta yang memiliki bukti,” jelasnya.
Ust Afrizal juga mengisahkan pengorbanan para sahabat lainnya yang menunjukkan bagaimana mereka memandang harta sebagai amanah Allah. Di antaranya kisah pengorbanan Zaid bin Haritsah RA dan para sahabat yang rela memberikan harta serta kendaraan terbaik mereka untuk kepentingan agama.
Berbisnis Langsung dengan Allah
Ust Afrizal kemudian mengajak jamaah melihat sedekah dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, Al-Qur’an bahkan menggunakan istilah “meminjamkan kepada Allah” untuk menggambarkan pengorbanan harta di jalan-Nya.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 245:
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik kepada Allah? Dia akan melipatgandakannya untuknya dengan berlipat ganda yang banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki), dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
“Inilah bisnis yang tidak pernah rugi. Kita berbisnis langsung dengan Allah. Modalnya kita keluarkan karena Allah, dan Allah sendiri yang menjanjikan pelipatgandaan balasannya,” katanya.
Ia juga mengingatkan kisah para sahabat yang rela menyerahkan kebun, harta dan benda yang paling mereka cintai ketika mendapatkan seruan untuk berinfak di jalan Allah.
Cinta Nabi kepada Umat Tak Pernah Berhenti
Ust Afrizal menegaskan, kecintaan kepada Rasulullah SAW harus menjadi jalan bagi seorang mukmin untuk semakin dekat kepada kecintaan kepada Allah.
Rasulullah SAW sangat mencintai umatnya. Beliau menghendaki kemudahan, kebaikan dan keselamatan bagi umat.
Bahkan Al-Qur’an menggambarkan besarnya perhatian Rasulullah terhadap umatnya. Allah SWT berfirman dalam QS At-Taubah ayat 128 bahwa telah datang kepada manusia seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri; terasa berat olehnya penderitaan yang mereka alami, ia sangat menginginkan kebaikan bagi mereka dan sangat penyantun serta penyayang terhadap orang-orang beriman.
“Rasulullah memikirkan kita. Rasulullah mendoakan kita. Rasulullah menginginkan keselamatan kita. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kecintaan kita kepada Rasulullah?” tegas Ust Afrizal.
Ia menjelaskan, Rasulullah SAW juga memiliki doa khusus yang Allah janjikan akan dikabulkan. Doa tersebut disimpan oleh Nabi SAW untuk memberikan syafaat kepada umatnya pada hari kiamat.
Selain itu, umat Nabi Muhammad SAW juga mendapatkan kabar tentang telaga Al-Haudh, tempat Rasulullah SAW menanti umatnya. Telaga tersebut menjadi salah satu bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada Nabi dan umatnya, dan orang-orang yang mendapatkan kesempatan meminumnya tidak akan merasakan dahaga setelah itu.
“Anta Ma’a Man Ahababta”
Ust Afrizal kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Hadis tersebut menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi para sahabat.
Ia mengisahkan bagaimana Anas bin Malik RA sangat mencintai Rasulullah SAW. Ketika mendengar sabda tersebut, Anas berharap dapat dibangkitkan bersama Rasulullah SAW dan orang-orang yang dicintainya.
“Karena itu, jangan sampai cinta kepada Nabi hanya berhenti pada peringatan Maulid, lantunan shalawat dan ungkapan lisan. Cinta kepada Nabi harus masuk ke dalam shalat kita, ibadah kita, akhlak kita, keluarga kita, pekerjaan kita dan seluruh kehidupan kita,” katanya.
Menurut Ust Afrizal, mencintai Rasulullah berarti berusaha mengikuti sunnahnya, menaati ajarannya, memperbanyak shalawat, meneladani akhlaknya serta menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau kita benar-benar mencintai Rasulullah, maka kita harus berusaha hidup sebagaimana yang beliau ajarkan,” ujarnya.
Menutup tausiyahnya, Ust Afrizal mengajak jamaah menjadikan momentum Rabiul Awal sebagai kesempatan memperbarui cinta kepada Allah dan Rasulullah SAW.
“Mari terus mencintai Allah dan Rasul-Nya. Buktikan cinta itu dalam shalat kita, dalam ibadah kita, dalam sedekah kita, dalam akhlak kita dan dalam segenap kehidupan kita. Sebab cinta yang benar bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan dengan pengorbanan dan ketaatan,” pungkasnya.
Laporan: Saifuddin A. Rasyid