Bangsa Aceh

Bangsa Aceh menyajikan berita terbaru, Aceh, Nasional hingga mancanegara Melalui Sumber-Sumber Media terpercaya
(1)

— Situasi demonstrasi penolakan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) di depan Kantor Gubernur ...
13/05/2026

— Situasi demonstrasi penolakan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) di depan Kantor Gubernur Aceh semakin memanas setelah Koordinator Lapangan Aliansi Rakyat Aceh, Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry, serta sejumlah demonstran lainnya diduga diamankan pihak kepolisian, Rabu malam (13/5/2026).

Informasi penahanan tersebut memicu kemarahan baru di tengah massa aksi yang sejak siang hingga malam terus bertahan menuntut pencabutan Pergub JKA.

Pantauan di lapangan, kabar dugaan penahanan sejumlah tokoh aksi membuat demonstran semakin agresif melakukan perlawanan terhadap aparat keamanan.

Massa menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pembungkaman terhadap gerakan rakyat yang sedang memperjuangkan hak masyarakat Aceh.

Orasi-orasi perlawanan kembali menggema di sekitar lokasi, sementara demonstran terus menyerukan pembebasan rekan-rekan mereka yang diduga ditahan.

Ketegangan antara massa dan aparat pun kembali meningkat, dengan demonstran bertahan di berbagai titik sekitar Kantor Gubernur Aceh meski tekanan aparat terus berlangsung.

Aksi penolakan Pergub JKA kini tidak hanya berfokus pada tuntutan pencabutan regulasi, tetapi juga berkembang menjadi perlawanan terhadap tindakan represif yang dianggap dilakukan aparat.

Hingga malam hari, situasi di kawasan kantor gubernur masih berlangsung panas, massa terus dipukul mundur hingga ke arah simpang BPKP.

13/05/2026

— Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Aceh kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, Rabu (13/5/2026).

Aksi demonstrasi jilid III tersebut dilakukan untuk menuntut pencabutan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).

Aksi diikuti berbagai elemen masyarakat, mahasiswa, organisasi mahasiswa, hingga organisasi kepemudaan. Demonstrasi ini merupakan lanjutan dari aksi sebelumnya yang mulai digelar pada 4 Mei 2026 lalu dan sempat berakhir ricuh setelah massa mengaku tidak puas terhadap penjelasan Pemerintah Aceh terkait kebijakan JKA.

Berdasarkan pantauan Komparatif.ID di lokasi sekitar pukul 18.20 WIB, massa aksi dipaksa mundur dari depan Kantor Gubernur Aceh menggunakan water cannon dan gas air mata.

Beberapa kali massa mencoba kembali bertahan di depan kantor gubernur, namun aparat kembali melakukan pembubaran dengan cara yang sama.

Situasi di sekitar lokasi aksi turut berdampak terhadap arus lalu lintas. Jalan dari arah Simpang 4 Masjid Oman ditutup di dua jalur. Sementara itu, kemacetan terjadi di arah Stadion Dimurthala Lampineung karena jalur tersebut menjadi satu-satunya akses menuju Simpang Mesra (Simpang Pena).

Sekitar pukul 18.30 WIB, sejumlah warga sempat hendak melintas di depan kantor gubernur. Namun mahasiswa yang berada di lokasi melarang kendaraan maupun warga melintas karena masih terdapat sisa gas air mata di kawasan tersebut.

Dalam aksi tersebut, beberapa peserta dilaporkan harus dilarikan ke rumah sakit akibat terdampak gas air mata. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi terkait jumlah korban yang mendapat perawatan.

Pada pukul 18.30 WIB, mahasiswa dan massa aksi terlihat berkumpul di titik kumpul di atas jembatan Simpang 4 Masjid Oman. Berdasarkan pengakuan massa aksi, aparat sempat menembakkan gas air mata sebanyak tiga kali ke sisi kiri Kantor Gubernur Aceh dan dua kali ke sisi kanan untuk membubarkan massa.

Artikel. Komparatif.id

Selengkapnya dikomentar👇

- Aksi hari ketiga demonstrasi penolakan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) di Kantor Gubern...
13/05/2026

- Aksi hari ketiga demonstrasi penolakan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) di Kantor Gubernur Aceh berlangsung memanas, Rabu (13/5/2026), saat ratusan massa Aliansi Rakyat Aceh memaksa masuk pekarangan kantor Gubernur Aceh, meski hujan mengguyur dan akhirnya mendorong barikade aparat keamanan.

Sekitar pukul 15.30 WIB, massa mulai memadati gerbang utama Kantor Gubernur Aceh sambil melakukan orasi di tengah hujan.

Dalam seruannya, demonstran menegaskan perjuangan mereka untuk mempertahankan hak masyarakat Aceh atas layanan kesehatan dan mendesak pemerintah segera mencabut Pergub JKA.

Lima menit berselang, tepat pukul 15.35 WIB, tekanan massa meningkat ketika ratusan demonstran bergerak maju dan memaksa masuk dengan mendorong barikade kepolisian serta Satpol PP yang berjaga di gerbang utama.

Situasi sempat memanas ketika aparat berupaya menahan laju massa yang terus mendesak masuk ke kawasan kantor gubernur.

“Hari ini kita duduki Kantor Gubernur Aceh, hidup rakyat Aceh!” teriak orator di tengah sorakan peserta aksi.

Akibat membludaknya jumlah demonstran, arus lalu lintas di jalan depan Kantor Gubernur Aceh terpaksa ditutup sementara.

Meski cuaca buruk dan hujan terus turun, massa tetap bertahan dengan membawa spanduk, poster tuntutan, serta meneriakkan slogan perlawanan.

Aparat keamanan terus berupaya menjaga situasi tetap terkendali sambil meminta demonstran tetap tertib.

Hari ketiga aksi ini menandai meningkatnya eskalasi protes rakyat terhadap Pemerintah Aceh, di tengah belum adanya keputusan konkret terkait tuntutan pencabutan Pergub JKA.

– Keluarga pasien asal Darussalam, Aceh Besar, Darwina seorang janda yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga m...
13/05/2026

– Keluarga pasien asal Darussalam, Aceh Besar, Darwina seorang janda yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga mengeluhkan rumitnya proses pengurusan status desil ekonomi yang dinilai menghambat akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan pengobatan cepat. Pasalnya verifikasi perubahan desil baru dapat diaktifkan dalam waktu sekitar tiga bulan mendatang.

Sementara anak Darwina yang mengalami cedera pergelangan tangan masih membutuhkan pengobatan dan kontrol lanjutan dalam waktu dekat, sehingga keluarga terpaksa tetap menjalani pengobatan secara berbayar sambil menunggu perubahan status desil tersebut berlaku.

Meski sebelumnya penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUDZA sempat digratiskan, tetapi untuk rawat jalan dan kontrol lanjutan mereka tetap diwajibkan mengikuti proses administrasi karena status keluarga tercatat dalam kategori desil 8+.

Menurutnya, keluarga sudah mendatangi kantor desa untuk mengubah data desil, kemudian ke Puskesmas Darussalam mengambil surat rujukan, hingga mengurus BPJS di kawasan Lamteumen. Namun, seluruh proses itu tetap belum membuat pasien bisa mendapatkan layanan gratis.

"Saya sudah ke desa ubah desil, lanjut ke puskesmas ambil rujukan, antre di puskesmas tunggu rujukan dibuat, tapi ujungnya juga harus berbayar karena rujukan tidak keluar. Saya ke BPJS Lamteumen dari Puskesmas Darussalam dan di sini disuruh aktifkan yang berbayar karena desil 8 +," ucapnya.

Keluarga juga kecewa karena perubahan data desil yang sudah diajukan ternyata baru akan aktif dalam waktu sekitar tiga bulan mendatang.

“Desil sudah diubah, tapi verifikasi baru aktif tiga bulan lagi. Sementara kami butuh berobat sekarang,” katanya.

Menurut Wina, kondisi tersebut membuat keluarga pasien harus menunggu lama hingga tiga bulan hanya untuk perubahan desil, padahal sedang membutuhkan pengobatan saat ini. Pasien juga kelelahan karena harus terus berpindah tempat hanya untuk mengurus administrasi di tengah kondisi anak yang masih membutuhkan penanganan medis.

"Selengkapnya dikomentar👇

— Dampak diberlakukannya Peraturan Gubernur Aceh Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) mulai dirasakan...
13/05/2026

— Dampak diberlakukannya Peraturan Gubernur Aceh Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) mulai dirasakan sejumlah warga miskin di Kabupaten Bireuen.

Salah satunya dialami Muhammad Fahreza , balita baru berusia dua tahun bersama ibunya, Fitriani (37), usai mengalami kecelakaan tunggal di depan kantor Samsat Blang Bladeh, Kecamatan Jeumpa, di Jalan Nasional Banda Aceh–Medan, Minggu, 10 Mei 2026.

Dalam kecelakaan tersebut, balita itu mengalami pecah bibir setelah terbentur body stang sepeda motor Honda Vario Techno. Sementara ibunya mengalami sakit di sekujur tubuh setelah terperosok ke dalam saluran di pinggir jalan.

Keduanya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Malahayati untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, menurut Fitriani, petugas rumah sakit menjelaskan bahwa mereka masuk dalam kelompok desil delapan sehingga harus mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah untuk tindakan operasi.

Karena tidak sanggup membayar biaya pengobatan, Fitriani memilih membawa anaknya berobat ke Bidan Suni di Polindes Gampong Cot Tarom Tunong, Kecamatan Jeumpa. Di tempat itu, anaknya hanya diberikan obat karena tidak tersedia alat jahit untuk menangani luka di bibir korban.

Sejak Minggu hingga Senin, Fahreza disebut tidak mampu mengonsumsi makanan akibat luka yang dialaminya. Pada malam Selasa, balita tersebut baru sanggup makan nasi putih setelah pembengkakan di bibirnya mulai berkurang.

“Anak saya tidak disentuh pun oleh petugas rumah sakit, padahal darah sudah keluar di mulutnya. Alasan desil tinggi kami tidak sanggup membayarnya,” ujar Fitriani sambil menangis, Selasa (12/5/2026).

Fitriani juga mengaku hingga kini masih merasakan sakit di bagian tubuhnya setelah kecelakaan tersebut. Ia bahkan harus mendatangi dukun patah di kampungnya untuk mengurut punggungnya.

Meski sempat disarankan melakukan rontgen guna memastikan kondisi tulangnya, ia menolak karena tidak memiliki biaya untuk pemeriksaan tersebut.

Suaminya, Fakhrurazi (40), bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan yang tidak menentu. Dalam sehari bekerja memotong rumput, ia kadang hanya memperoleh upah Rp30 ribu hingga Rp100 ribu.

Selengkapnya dikomentar👇

— Gelombang penolakan tambang di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, kembali memanas, Rabu (13/5/2...
13/05/2026

— Gelombang penolakan tambang di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, kembali memanas, Rabu (13/5/2026), setelah warga melakukan pemblokiran jalan menyusul isu adanya kelompok yang disebut akan menggelar aksi penerimaan tambang di wilayah tersebut.

Massa yang didominasi barisan perempuan dan ibu-ibu Beutong turun ke jalan untuk menutup akses sebagai bentuk penolakan terhadap segala bentuk aktivitas pertambangan.

Situasi memanas ketika seorang keuchik dari salah satu gampong di Beutong diduga menerobos barikade massa menggunakan mobil hingga menabrak sejumlah perempuan yang tengah melakukan aksi.

Akibat insiden tersebut, seorang perempuan dilaporkan mengalami luka dan sakit pada bagian kaki setelah terjatuh saat mobil melaju menembus kerumunan.

Saudah, salah seorang perempuan peserta aksi, mengatakan tindakan keuchik tersebut sangat arogan dan membahayakan keselamatan warga.

“Keuchik itu dengan mobil langsung menerobos massa yang blokir jalan, tanpa aba-aba langsung tancap gas, padahal jelas kami berdiri di jalan. Apa salahnya dia minta baik-baik untuk lewat atau menggunakan motor. Cara dia sangat arogan sehingga salah satu di antara kami mengalami luka,” kata Saudah kepada Bithe.co.

Menurut Saudah, tindakan tersebut mencerminkan sikap yang tidak berpihak pada aspirasi masyarakat yang sedang memperjuangkan tanah mereka dari ancaman tambang.

“Harusnya dia sebagai keuchik mendengar aspirasi masyarakat, bukan malah menabrak kami yang meminta hak kami di atas tanah Beutong ini,” ujarnya.

Aksi warga Beutong Ateuh menolak tambang telah berlangsung sejak kemarin, dengan tuntutan utama pencabutan izin tiga perusahaan tambang serta penolakan terhadap seluruh bentuk pertambangan di kawasan yang dinilai rawan bencana tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi dilaporkan masih tegang dengan warga tetap bertahan melakukan penjagaan dan pemblokiran jalan sebagai bentuk perlawanan terhadap masuknya tambang ke Beutong Ateuh.

—Ketua Fraksi PA (Partai Aceh) di DPRA Teungku Anwar Ramli, dan putranya yang berusia empat tahun, Muhammad Wafiq, masih...
13/05/2026

—Ketua Fraksi PA (Partai Aceh) di DPRA Teungku Anwar Ramli, dan putranya yang berusia empat tahun, Muhammad Wafiq, masih dirawat di High Care Unit Surgical (ruang perawatan pasien ICU) di RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Pada Selasa malam, 12 Mei 2026, istri Gubernur Aceh, Marlina Usman, menjenguk Ketua Fraksi Partai Aceh tersebut yang sedang dirawat secara intensif.

Sedangkan istri Teungku Anwar Ramli, Maryam Ulfa binti Ramli (40), telah dikebumikan di Desa Lambaro, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie, pada Selasa pagi.

Menurut keterangan Kasatlantas Aceh Besar AKP Ferianto, kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh Ketua Fraksi PA tersebut terjadi pada Senin malam, pukul 23.30 WIB, di ruas tol Sibanceh kilometer 30+200 jalur A.

Saat itu Toyota Hilux berkelir putih BL 8053 AC yang dikemudikan oleh sopir sang politisi, melaju kencang dari arah Padang Tiji. Tiba di kawasan Lamtamot, Aceh Besar, kendaraan roda empat tersebut menyerempet bagian belakang sebelah kanan truck C**t Mitsubishi BL 8726 PL yang dikemudikan Nadar (58) warga Peukan Baro, Pidie.

Karena melaju sangat kencang, ketika serempetan terjadi, mobil yang ditumpangi Anwar Ramli langsung terseret ke lajur kanan dan kemudian terguling di atas badan tol di bawah langit gelap bulan Mei 2026.

kecelakaan tersebut menyebabkan Mariam Ulfa meninggal dunia. Sementara sopir Toyota Hilux, Khaidir (32) luka ringan. Kendaraan roda empat itu ringsek berat.

– Aksi penolakan terhadap Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) masih terus berlangsung hingga ...
12/05/2026

– Aksi penolakan terhadap Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) masih terus berlangsung hingga Selasa (12/5/2026). Sejumlah massa aksi terlihat tetap bertahan di depan Kantor Gubernur Aceh sebagai bentuk komitmen melanjutkan perjuangan mereka.

Pantauan di lokasi menunjukkan beberapa demonstran masih berjaga di area aksi sambil memasang spanduk bernada protes di pagar kantor gubernur.

Koordinator lapangan aksi, Misbah, mengatakan massa akan tetap bertahan hingga tengah malam dan memastikan aksi lanjutan kembali digelar pada Rabu besok dengan jumlah peserta yang diperkirakan lebih besar.

“Kami masih bertahan di sini sampai malam ini. Besok aksi akan dilanjutkan lagi sampai Pergub Nomor 2 tentang JKA benar-benar dicabut,” kata Misbah.

Menurutnya, dukungan terhadap gerakan tersebut terus mengalir. Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Jabal Ghafur dan beberapa kampus di luar Banda Aceh, disebut siap turun langsung dalam aksi susulan.

“Besok akan lebih ramai. Ada massa dari Universitas Jabal Ghafur dan beberapa kampus lain di luar Banda Aceh yang akan ikut bergabung,” ujarnya.

Ia menilai keterlibatan mahasiswa dari berbagai daerah menjadi tanda bahwa penolakan terhadap aturan JKA semakin meluas di kalangan masyarakat dan akademisi.

Meski aksi berlangsung hingga malam hari, situasi di depan Kantor Gubernur Aceh terpantau aman dan kondusif. Tidak terlihat adanya kerusakan fasilitas di area kantor gubernur selama demonstrasi berlangsung.

Di sekitar lokasi, warga juga tampak memberikan dukungan berupa makanan ringan dan minuman melalui posko donasi yang didirikan di depan area aksi. Bantuan tersebut menjadi bentuk solidaritas masyarakat kepada massa yang masih bertahan menyuarakan tuntutan mereka.

Hingga berita ini ditulis, para demonstran menegaskan akan terus melakukan aksi sampai Pemerintah Aceh memberikan tanggapan terkait tuntutan pencabutan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh.

- Aliansi Rakyat Aceh (ARA) mendirikan posko donasi sekaligus memasang sejumlah spanduk kritik di depan Kantor Gubernur ...
12/05/2026

- Aliansi Rakyat Aceh (ARA) mendirikan posko donasi sekaligus memasang sejumlah spanduk kritik di depan Kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh, pada Selasa, 12 Mei 2026. Aksi ini sebagai bentuk penolakan terhadap Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 2 Tahun 2026 terkait Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).

Koordinator aksi, Syarif Maulana, mengatakan spanduk yang dipasang merupakan bentuk kritik terhadap Pemerintah Aceh yang dinilai membungkam suara masyarakat.

“Spanduk itu dari kami, Aliansi Rakyat Aceh (ARA). Itu kami pasang untuk mengkritik Pemerintah Aceh yang terus membungkam suara masyarakat Aceh. Kami mulai memasang pagi tadi sekitar pukul 09.00 WIB,” kata Syarif Maulana.

Selain memasang spanduk, kata Syarif Maulana, ARA juga membuka posko donasi untuk masyarakat yang ingin memberikan bantuan material maupun bentuk dukungan lainnya.

“Posko yang kami dirikan ini untuk masyarakat yang ingin menyumbang berupa material ataupun lainnya, kita terima. Karena ada beberapa masyarakat meminta kepada Aliansi Rakyat Aceh untuk membuka posko,” ujarnya.

Menurutnya, sejumlah warga juga datang ke posko untuk menyampaikan keluhan terkait Pergub JKA.

Syarif Maulana menyampaikan pihaknya akan terus melakukan aksi hingga pemerintah mencabut regulasi tersebut. Ia juga mengajak masyarakat dan mahasiswa Aceh untuk ikut menggelar aksi lanjutan di Kantor Gubernur Aceh pada 13 Mei 2026.

“Kami tidak akan mundur satu langkah pun sebelum pergub ini dicabut,” kata Koordinator Aksi ARA.

“Kami serukan kepada seluruh masyarakat dan mahasiswa Aceh, mari besok kita sama-sama aksi di Kantor Gubernur Aceh dengan tuntutan yang sama yaitu cabut Pergub Nomor 2 Tahun 2026 terkait JKA,”ujarnya.

Adapun sejumlah tulisan yang terpampang di spanduk di antaranya bertuliskan “Ban Saboh Geurupoh Pemerintah Aceh Saket”, “Yang Poh Bangsa Aceh Nyangkeuh Bangsa Droe”, “Kapike Mat Nanggroe Lage Mat Mom”, dan “Kesehatan Milik Rakyat Aceh”.

Selengkapnya dikomentar👇

– Bus Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Putra Pelangi BL 7547 AA rute Medan–Sigli terjun ke sawah di kawasan Des...
12/05/2026

– Bus Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Putra Pelangi BL 7547 AA rute Medan–Sigli terjun ke sawah di kawasan Desa Meunasah Alue, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Selasa (12/5/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. 

Insiden terjadi saat sopir berusaha menghindari tabrakan dengan truk dari arah berlawanan. 

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun bus mengalami kerusakan di bagian depan, bawah, serta dinding kiri dan kanan.

Bus berbadan lebar itu masuk ke sawah di sisi kanan jalan dari arah Bireuen, sekitar 12 kilometer barat Kota Bireuen, setelah menabrak tembok beton penahan tanah di dekat sebuah warung kopi.

Saat kejadian, bus hanya berisi kru tanpa penumpang.

Bus dikemudikan oleh Nasrizal (36) warga Besitang, Kabupaten Langkat.

Ia didampingi sopir kedua Kadafi (36) dan kernet Ayi (30). Ketiganya selamat tanpa luka serius.

Bus hendak melewati truk
Menurut keterangan sopir di lokasi, bus baru saja selesai diperbaiki di Lhokseumawe dan berangkat menuju Sigli pada Senin (11/5/2026) pukul 22.00 WIB.

Dalam perjalanan, bus sempat tertahan antrean lebih dari dua jam di Jembatan Bailey Kutablang.

Setibanya di lokasi kejadian pada dini hari, bus hendak melewati sebuah truk yang terparkir di tepi kiri jalan.

Namun, secara bersamaan muncul truk lain dari arah berlawanan Banda Aceh–Medan.

Untuk menghindari tabrakan fatal, sopir membanting setir ke kanan hingga bus keluar jalur dan terjun ke sawah.

“Bus hendak melewati truk yang berhenti di pinggir jalan, bersamaan ada truk dari depan. Untuk menghindari tabrakan, saya banting setir ke kanan hingga bus masuk sawah,” ujar Nasrizal.

Sejumlah anggota Satlantas Polres Bireuen yang dipimpin Kasat Lantas Irwansyah Nasution langsung turun ke lokasi untuk melakukan penanganan dan penyelidikan lebih lanjut.(*)

Address

Banda Aceh
24452

Telephone

+6281260669995

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bangsa Aceh posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share