16/12/2025
Saya selalu percaya, sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu momen untuk menegur kita. Kadang dengan bisikan, kadang dengan hantaman.
Dan beberapa minggu terakhir, Aceh dan Sumatera menerima teguran itu dalam bentuk paling kuno yang dikenal manusia: banjir bandang.
Air bah menenggelamkan desa, longsor memutus jalan, ribuan orang mengungsi.
Namun yang paling menyesakkan bukan airnya, tapi pertanyaan lamanya: mengapa respon pusat selalu lambat ketika bencana terjadi di Sumatera?
Konon, hubungan Aceh–Sumatera dan Republik memang tidak pernah benar-benar tuntas. Ada simpul sejarah yang tidak pernah diurai. Ada janji yang tidak pernah selesai.
Dan ada satu kalimat dari seorang ulama besar Aceh 70 tahun lalu yang hari ini terasa seperti sedang kembali berjalan di antara kita.
Gedung Setan dan Kalimat yang Mengguncang
Kita kembali ke satu ruang rapat yang hari ini hanya muncul sebagai catatan kaki buku sejarah: pertemuan panas di “gedung setan”, saat Van Mook menawarkan ide Negara Republik Federasi Sumatera (NRFS).
Seandainya itu terjadi, republik kita mungkin tidak seperti sekarang. Mungkin bahkan tidak ada.
Yang membuat peristiwa ini penting bukan Van Mook. Bukan p**a tawaran federasinya. Tapi sosok yang dimintai pendapat malam itu adalah Abu Krueng Kalee.
Ia bukan pejabat, bukan jenderal, bukan perunding.
Seorang ulama tetapi di Aceh, itu berarti seseorang yang suaranya lebih berat dari pidato tiga menteri.
Ketika Tgk Daud Beureueh, pemimpin militer, bertanya pendapatnya, jawaban Abu Krueng Kalee turun seperti palu godam:
“Kalau mau senang, lepaskan Aceh dari RI. Ambil yang baik meskipun itu keluar dari mulut rimueng.”
Hening panjang.
Hening yang bisa mengubah peta.
Jelang Sidang di Denhag Abu Krueng Kalee bersama Abu Idris Lamnyong kembali merundingkan soal berdirinya Aceh jadi sebuah negara.
Namun Tgk Daud Beureeh yakin janji Soekarno dan takut ditipu oleh Van Mook.
Akhirnya Abu Krueng Kalee mengungkapkan firasatnya;
“Mulai jinoe, bek ka peugah sapeu le bak lon. Kah hana ka teupeu…”
(Mulai hari ini, jangan katakan apa pun lagi padaku. Kamu tidak tahu apa yang aku tahu.)
Kalimat itu bukan kritik. Bukan ancaman. Bahkan bukan saran. Itu firasat. Dan sejarah Aceh seolah berjalan mengikuti firasat itu.
Jalan Panjang: 1953, 1976, dan Luka yang Melebar
Tahun-tahun berikutnya berjalan seperti membuka isi kalimat tadi satu per satu.
1953: pecah DI/TII Aceh.
1976: lahir GAM.
2005: baru berhenti lewat Helsinki.
Hampir 50 tahun konflik.
Hampir dua generasi tumbuh besar dalam suara tembakan.
Hampir seluruh pembangunan Aceh berhenti di tempat.
Apa ini yang “diketahui” Abu?
Tidak ada yang benar-benar tahu.
Yang jelas: Aceh tidak pernah benar-benar “senang” seperti harapan awal saat ikut mendirikan republik.
Kenapa Aceh Begitu Dicari Belanda?
Jawabannya sederhana: karena Aceh tidak pernah bisa ditaklukkan selama perang kemerdekaan.
Provinsi lain jatuh satu per satu.
Aceh tidak.
Aceh justru menjadi daerah modal Republik.
Dari sinilah sejarahnya menjadi unik:
emas rakyat Aceh yang membeli pesawat pertama RI: Seulawah 001, logistik, senjata, dan pasukan dikirim ke berbagai front, tokoh-tokoh Aceh membantu republik berdiri ketika pusatnya sendiri belum tegak.
Belanda tahu: memisahkan Aceh berarti memotong jantung republik.
Dan ironinya, setelah semua itu, Aceh sering merasa hanya menjadi halaman belakang.
Andai Aceh–Sumatera Menerima Tawaran Van Mook
Sejarah tidak berjalan ke sana. Tetapi bukan berarti tidak boleh dibayangkan.
Bayangkan Sumatera:
dari Aceh sampai Lampung.
Pulau kaya minyak, gas, emas, sawit, perikanan, dan hutan.
Pulau dengan pelabuhan internasional.
Pulau dengan kerajaan-kerajaan kuat dan jalur dagang panjang.
Kalau satu p**au itu berdiri sebagai negara?
Banyak ahli meyakini itu akan menjadi kekuatan ekonomi Asia Tenggara.
Tapi Aceh tidak memilih itu.
Ia memilih Republik.
Dengan keikhlasan, bukan kalkulasi.
Dan seperti banyak kisah manusia, keikhlasan sering kali dibayar dengan lupa.
Sumatera Hari Ini: Banyak Memberi, Sedikit Menerima
Ada statistik yang jarang diucapkan keras-keras:
penerimaan negara dari Sumatera jauh lebih besar daripada belanja negara untuk Sumatera.
Minyak dari Riau.
Gas dari Aceh.
Batu bara dari Sumsel.
Hasil perkebunan dari Sumbar, Jambi, Bengkulu, Lampung.
Tetapi apa yang kembali?
Tol? Sedikit.
Rel? Terputus-putus.
Bandara? Banyak yang sepi karena tidak disambungkan dengan ekosistem ekonomi.
Industri? Banyak merantau ke Jawa.
Sementara setiap kali bencana datang, pertanyaan warga selalu sama:
“Di mana pusat?”
Pertanyaan yang terdengar lagi minggu-minggu ini. Lampu, sembako dan jatah hidup seolah harus izin ke malaikat maut
Banjir Besar dan Birokrasi yang Lebih Lambat dari Air
Banjir Aceh dan Sumatera kali ini bukan banjir biasa.
Skalanya lintas provinsi.
Kerusakannya besar.
Korban mengungsi ribuan.
Tetapi statusnya tidak bencana nasional.
Akibatnya, bantuan luar negeri tersendat.
Bantuan pusat datang bertahap.
Koordinasi daerah berjalan sendiri-sendiri.
Hal-hal seperti ini menambah panjang satu perasaan yang tidak pernah hilang dari warga Sumatera:
dianaktirikan.
Bukan karena ingin dimanja.
Bukan karena ingin istimewa.
Hanya ingin dianggap sama pentingnya.
Firasat yang Belum Selesai
Di titik inilah kalimat Abu Krueng Kalee terdengar lagi bukan untuk memisahkan diri, tetapi untuk mengingatkan:
Ketidakadilan melahirkan ketidakstabilan.
abaikan daerah, panen bencana politik.
ingkari janji, lahirkan luka panjang.
Aceh dan Sumatera sudah terlalu sering merasakan itu.
Dan ketika banjir datang, rasanya seperti sejarah sedang mengetuk pintu:
“Sudahkah kalian belajar?”
Saya tidak sedang mengajak Aceh atau Sumatera memisahkan diri.
Tidak.
Saya justru mengajak republik mengingat sejarahnya.
Aceh bukan provinsi biasa.
Sumatera bukan pinggiran.
Mereka adalah fondasi awal Indonesia.
Dan fondasi yang dibiarkan retak tidak akan lama menopang gedung besar bernama republik.
Surah bulit;
Sebenarnya sederhana:
Aceh dan Sumatera tidak meminta banyak.
Tidak minta keistimewaan baru.
Tidak minta kompensasi sejarah.
Yang diminta hanya dua:
keadilan dan perhatian yang setara.
Kalau itu saja masih sulit, mungkin firasat Abu Krueng Kalee akan terus hidup.
Bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai pengingat yang keras:
“Kamu tidak tahu apa yang aku tahu.”
Kah hana ka teupeu peu yang lon teupeu.
Kadang, yang kita tidak tahu itulah yang suatu hari menentukan nasib sebuah bangsa. ([email protected])
PENULIS adalah Pengamat Bumoe Singet dari Woyla