The-Protester

The-Protester Media Alternatif Reflektif Kritis Ketidakpuasan belum tentu berbuah protes. Dibutuhkan keberanian lebih agar ketidakpuasan bertransformasi menjadi bentuk protes.

Faktanya, protes bukan bawaan alamiah yang lahir begitu saja tanpa perlu didorong oleh pewacanaan kolektif. Gerakan protes membutuhkan keyakinan kritis dari masyarakat luas. Ketidakpuasan setiap individu perlu dijewantahkan ke publik melalui aksi kolektif, yaitu Protes! Tanpa itu, ketidakpuasan hanya sebatas bahan gosip semata. The Protester lahir dalam rangka memperjuangkan transformasi ketidakpu

asan individu hingga menuju sebuah gerakan protes. Ketidakpuasan individu terhadap situasi ketimpangan dan ketidakadilan yang ada di sekitarnya selayaknya disampaikan melalui media ini. Dengan harapan tersebut, The Protester berusaha untuk menyajikan berbagai tulisan yang bersifat reflektif kritis. Di tengah arus besar modernitas, dunia tanpa batas (borderless) merupakan salah satu konsekuensi logis yang menjadi tantangan bagi manusia abad 21. Media adalah salah satu tiang penyangga dalam arus pewacanaan modern. Sayangnya, sebagian besar media massa justru seringkali terjebak dalam pewacanaan mainstream. Akibatnya, tanpa sadar wacana yang mereka sajikan lebih condong menyokong status quo. Sedangkan kami berusaha untuk menghindari penyakit mainstream yang seperti itu. The Protester tak hanya menyajikan beragam informasi aktual. Lebih dari itu, kami mencoba menjalankan fungsi untuk menggugah kesadaran kritis setiap pembaca. Kehadiran The Protester diharapkan dapat menjadi ruang pertukaran gagasan, serta meramaikan perdebatan wacana di ruang publik. Sebagai sebuah web informasi, The Protester tidak secara khusus mengambil sebuah isu-isu tertentu, tetapi memberikan kebebasan bagi penulis dalam menuangkan ide-idenya. Tentu saja, tulisan-tulisan The Protester harus dilengkapi dengan sudut pandang yang menarik untuk kami sajikan. The Protester berkomitmen untuk mempublikasikan tulisan dengan beragam sudut pandang. Tulisan yang dipublikasikan oleh The Protester merupakan pandangan penulis (kontributor) dan tidak selalu mewakili pendapat para editornya.

Lima tahun terakhir, kehidupan beragama dan berkeyakinan di Indonesia mulai menegang. Masyarakat agamis yang dulunya ruk...
29/06/2015

Lima tahun terakhir, kehidupan beragama dan berkeyakinan di Indonesia mulai menegang. Masyarakat agamis yang dulunya rukun, damai, dan hidup berdampingan, kini mudah sekali tersulut amarahnya. Setidaknya di tahun 2012, Setara Institute melaporkan kasus kekerasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia yang mencapai 264 peristiwa. Begitu p**a dengan The Wahid Insititute, yang mencatat peningkatan peristiwa intoleransi dibandingkan tahun sebelumnya.

Lima tahun terakhir, kehidupan beragama dan berkeyakinan di Indonesia mulai menegang. Masyarakat agamis yang dulunya rukun, damai, dan hidup berdampingan, kini mudah sekali tersulut amarahnya. Setidaknya di tahun 2012, Setara Institute melaporkan kasus kekerasan beragama dan berkeyakinan di Indonesi…

ArtHouse Cinema Surabaya - Vier Tage im Mai (Empat Hari di Bulan Mei)Sutradara: Achim Von BorriesJerman di bulan Mei 194...
13/05/2015

ArtHouse Cinema Surabaya - Vier Tage im Mai (Empat Hari di Bulan Mei)
Sutradara: Achim Von Borries

Jerman di bulan Mei 1945, empat hari menjelang akhir Perang Dunia II: Satu kelompok pengintai Rusia menduduki rumah yatim piatu di pesisir Laut Baltik dan mencoba membuat kesepakatan dengan para penghuninya. Sementara itu, satu unit tentara Jerman masih berkemah di tepi pantai sambil menanti kesempatan menyeberang ke Denmark. Kedua belah pihak sudah letih berperang. Kategori “kawan” dan “lawan” sudah lama tidak mengikuti aturan propaganda perang. Situasi akhirnya tetap menjadi genting karena kebaikan dan kebejatan tidak memandang kebangsaan. Sebuah film tentang perang dan kisah yang menentang perang; sukar dipercaya, namun berdasarkan kisah nyata.

Film dalam bahasa Jerman dengan teks bahasa Inggris.

Tempat:
Wisma Jerman - Ruang Halle
Taman A.I.S. Nasution 15
Surabaya 60271

Tanggal/Waktu:
Rabu, 20 Mei 2015
19.00 WIB

Ticket:
GRATIS

06/05/2015

"Kemunculan karya-karya bertemakan 1965, yang menolak versi tunggal tafsir resmi Pemerintah ini marak bermunculan sejak lengsernya Soeharto pada 1998. Pada periode p***a Orde Baru inilah, usaha-usaha untuk membaca ulang Peristiwa 1965, melalui berbagai kajian, termasuk juga film, perlahan-lahan dilakukan. Masyarakat sipil, melalui berbagai lembaga, menginisiasi berbagai kegiatan yang berusaha untuk memulihkan kembali hak-hak warga negara yang dirampas oleh Orde Baru, mengikuti pembantaian massal yang berlangsung pada periode 1965-1968."

Tulisan Gede Indra Pramana tentang film Senyap karya Joshua Oppenheimer

http://the-protester.com/senyap-dan-masyarakat-yang-hilang-2/

MENGENAL PEKERJA IMMATERIAL“…our mode of understanding must be fitted to the contemporary social world and thus change a...
05/05/2015

MENGENAL PEKERJA IMMATERIAL

“…our mode of understanding must be fitted to the contemporary social world and thus change along with history…that once history moves on and the social reality changes, then the old theories are no longer adequate. We need theories for the new reality. To follow Marx’s method, then, one must depart from Marx’s theories to extent that the object of his critique, capitalist production and capitalist society as a whole, has changed.”

–Negri & Hardt ‘Multitude’

03/05/2015

"berbeda dengan pekerja material atau manual, konsep kerja itu sendiri berubah di dalam diri pekerja immaterial. Jika pekerja pabrik hanya bekerja sesuai dengan komando atau tugasnya saja, pekerja immaterial justru dituntut menjadi subjek yang aktif, yang mempunyai inisiatif dan inovasi. Di dalam pabrik, kapitalis mengumpulkan para pekerja untuk berkerjasama dan berkomunikasi untuk menghasilkan barang jadi. Namun pekerja immaterial kini harus aktif berkerjasama dan berkomunikasi satu-sama lain tanpa dikumpulkan terlebih dahulu oleh kapitalis. Pekerja immaterial diharuskan berkecapakan di bidang-bidang komunikasi, manajemen dan kreativitas. Pekerja immaterial juga harus bisa mencari informasi sendiri, dan kemudian membangun relasi sendiri untuk menghasilkan ‘produk’ sendiri."


http://the-protester.com/mengenal-pekerja-immaterial/

Melihat Lepasnya Timor Leste dari Pangkuan RI sebagai Perlawanan Kelas: Sebuah Perspektif Perang Total vs Perdamaian Tot...
01/05/2015

Melihat Lepasnya Timor Leste dari Pangkuan RI sebagai Perlawanan Kelas: Sebuah Perspektif Perang Total vs Perdamaian Total

Indonesia vs Timor Timur

Berdirinya negara Timor Leste pada 31 Agustus 1999, menandai berakhirnya upaya Indonesia dalam mengakuisisi Timor Timur menjadi salah satu provinsinya. Kemerdekaan ini dapat dikatakan sebagai fenomena yang kompleks karena melibatkan berbagai kekuatan politik di dunia, karena merupakan implikasi dari berakhirnya Perang Dingin, dan jatuhnya pemerintahan 32 tahun Presiden Soeharto.

Cc : Semmy Tyar Armandha Hizkia Yosie Polimpung Priska Sabrina Luvita Surjaatmadja Niken Anjar Wulan Pras Prasojo Andre Barahamin Aditya Fernando Gede Indra Pramana

01/05/2015

Menyulut Api pada Sumbu yang Baru: KAA dan Refleksi atas Pengorganisasian Perlawanan Rakyat dalam Dinamika Kapitalisme Global Kontemporer (3)

Bahkan, tidak jarang p**a dalam kondisi yang seperti ini justru masyarakat sendiri yang meminta pemerintah di negaranya untuk memfasilitasi dan meningkatkan kapasitas mereka guna mendapatkan kompetensi yang memadai dalam menjadi pemasok rantai nilai global.

01/05/2015

Menyulut Api pada Sumbu yang Baru: KAA dan Refleksi atas Pengorganisasian Perlawanan Rakyat dalam Dinamika Kapitalisme Global Kontemporer (2)

Perusahaan transnasional besar meraup keuntungan dengan cara memangsa kelemahan dan kondisi ekonomi yang berlangsung di berbagai wilayah secara global. Sementara, perusahaan-perusahaan yang tersebar di wilayah-wilayah dengan kondisi dan kapasitas yang lebih rendah, meraup keuntungan dengan cara memangsa lagi perusahaan yang lebih kecil atau yang berada di wilayah lain dengan tingkat biaya produksi yang lebih rendah. Pada lapis terbawah dari rantai predasi ini, tetap adalah buruh dan sumber daya alam.

http://the-protester.com/menyulut-api-pada-sumbu-yang-baru-kaa-dan-refleksi-atas-pengorganisasian-perlawanan-rakyat-dalam-dinamika-kapitalisme-global-kontemporer-2/

Menyulut Api pada Sumbu yang Baru: KAA dan Refleksi atas Pengorganisasian Perlawanan Rakyat dalam Dinamika Kapitalisme G...
01/05/2015

Menyulut Api pada Sumbu yang Baru: KAA dan Refleksi atas Pengorganisasian Perlawanan Rakyat dalam Dinamika Kapitalisme Global Kontemporer (1)

Setelah sejenak berkobar, nyala api itu tampak akan segera redup kembali. Sekalipun redup, api semangat perlawanan dari Selatan ini memang terbukti tak kunjung padam dan terus menyala hingga hari ini.

Meskipun kobarannya tidak dapat menandingi gelora pada saat ia disulut 60 puluh tahun silam, nyala api semangat dalam peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) 2015 tampak ditandai oleh beberapa dinamika yang jika direfleksikan secara serius, menyiratkan urgensi bagi gerakan rakyat untuk menyulut sumbu api perlawanan yang baru.

Cc ; Roy Murtadho Aditya Fernando Andre Barahamin Abdul Kodir Addakhil Johan Avie Muhammad Azka Fahriza Priska Sabrina Luvita Surjaatmadja Niken Anjar Wulan Regit Ageng Sulistyo Hizkia Yosie Polimpung Yogi Ishabib Anggraeni Dwi Widhiasih Moh Didit Saleh Windu Jusuf Gede Indra Pramana Geger Riyanto Ken Kumbara Berto Tukan Fazar Ramdhana Sargani

Ing Ati Negoro Badhe Tak Uyuhi Gelut ing ati, sak lingganeAmbaring negoro sengakmukok ningali selangkanganneMagak andhap...
01/05/2015

Ing Ati Negoro Badhe Tak Uyuhi



Gelut ing ati, sak linggane

Ambaring negoro sengak

mukok ningali selangkanganne

Magak andhaping trisno



Rindu marang argono

Natap-natap gedek’e urip

menawi ono sing luwih gagah

saking mripat lanang kenceng jejeg

urip natap-natap gedek

Tak ampirake pahang wonten latar

sawise padu ijen-ijen

Alon-alon, tak enteni

Ing ati, negoro badhe tak uyuhi..

http://the-protester.com/kump**an-puisi-redo-nomadore/

Fotografer Davy Linggar menggelar pameran tunggal pertama di sebuah kantor kosong. Potret 17 seniman menggunakan kamera ...
01/05/2015

Fotografer Davy Linggar menggelar pameran tunggal pertama di sebuah kantor kosong. Potret 17 seniman menggunakan kamera analog jadi kemasannya.

Davy irit bicara. Ketika bicarapun suaranya sangat pelan. Di tengah-tengah pembicaraan, kerap kali ia membutuhkan jeda beberapa detik untuk mencari kata tepat yang mewakili isi kepalanya. Tetapi malam itu ia bicara lebih banyak pun tersenyum lebih banyak. Pameran tunggal pertamanya berhasil terwujud. Empat tahun lamanya ia merancang konsep pameran ini. “Pameran sempat tertunda karena anak kedua saya lahir,” ujarnya diselingi tawa malu.

http://the-protester.com/davy-meretas-hiperealitas-foto/

Address

Bandar Surabaya

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when The-Protester posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share