26/02/2026
TERPAKSA LDM, 8 BULAN HAMIL… SAMPAI HARUS SC DAN URUS ANAK SENDIRI
Di usia kandungan 8 bulan, aku harus menjalani LDM.
Katanya demi pekerjaan. Demi masa depan.
Aku mengerti… walau hati sebenarnya ingin ditemani.
Tidak ada istri yang ingin LDM saat hamil besar.
Apalagi saat usia kandungan sudah 8 bulan… perut makin berat, kaki sering bengkak, tidur pun tak pernah nyenyak.
Hamil besar tanpa suami itu rasanya bukan cuma capek fisik.
Tapi juga capek hati.
Periksa sendiri.
Menahan pegal sendiri.
Menunggu hari lahiran dengan rasa takut yang dipendam sendiri.
Masuk bulan terakhir kehamilan, dokter bilang satu kalimat yang bikin kakiku lemas…
“Harus SC.”
Aku diam.
Bukan karena tidak siap melahirkan.
Tapi karena harus menghadapi meja operasi tanpa genggaman suami di sampingku.
Hari itu aku masuk ruang operasi dengan hati campur aduk.
Takut. Cemas. Tapi harus kuat.
Saat tangis bayi pertama kali terdengar, air mataku langsung jatuh.
Bukan cuma karena bahagia…
Tapi karena akhirnya perjuangan panjang itu terbayar.
Kupikir selesai sampai di situ.
Ternyata ujian belum selesai.
Beberapa hari setelah melahirkan, payudaraku bengkak, panas, dan sakit luar biasa.
Demam tinggi, badan menggigil.
Dokter bilang aku terkena mastitis
Baru saja selesai jahitan operasi, sekarang harus berjuang dimeja operasi lagi dengan jarak 2 bulan pasca SC.
Menangis diam-diam menahan sakit dan harus meninggalkan bayiku yang masih 2 bulan utk ranap dirumah sakit. Dan dari detik itu lah bayiku akhrnya harus full sufor hingga detik ini🥹
Di saat ibu lain ada suami yang bantu gantikan popok atau sekadar pegang tangan,
aku belajar jadi kuat sendirian.
Tapi dari semua itu aku sadar…
Perempuan, terutama ibu, ternyata jauh lebih kuat dari yang ia kira.
LDM saat hamil tua.
Melahirkan dengan SC.
Lalu melawan mastitis sambil tetap menyusui.
Semua dijalani… demi satu kata: Anak.
Untuk ibu yang sedang berjuang sendirian,
kamu luar biasa.
Kamu tidak lemah.
Kamu sedang ditempa jadi lebih kuat 🤍