DC STORY

DC STORY Ini adalah media yang berisi tentang sejarah DC Story adalah media berisi tentang berita dan sejarah

Pernahkah Anda membayangkan apa yang ada di dalam pikiran seorang pemuda, ketika ia memutuskan bahwa hidup sebagai praju...
11/06/2026

Pernahkah Anda membayangkan apa yang ada di dalam pikiran seorang pemuda, ketika ia memutuskan bahwa hidup sebagai prajurit biasa-biasa saja tidaklah cukup?

Ini adalah kisah tentang Agus Hernoto. Pria kelahiran Malang, 1 Agustus 1930, yang memilih jalan sunyi, keras, namun mematikan demi tegaknya ibu pertiwi.

Langkah kaki militernya dimulai dari debu-debu latihan PETA (Pembela Tanah Air). Di masa-masa kritis perang kemerdekaan, ia melebur bersama Brigade 4 Malang Divisi I Brawijaya.

Dari satu pertempuran ke pertempuran lain, dari pangkat Prajurit Dua di Kepanjen hingga memegang tongkat Sersan di bagian angkutan Gombong, Agus terus menempa dirinya.

Namun, takdir menuntunnya lebih jauh. Di bawah komando Mayor Andi Mattalata, Agus dikirim ke belantara Ambon dan Seram untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Di sana, di bawah desingan peluru, insting tempurnya makin tajam.

Tapi bagi Agus, semua itu belum cukup. Ada bisikan di hatinya yang menuntut tantangan lebih besar.

Pada akhir tahun 1955, Agus mengambil keputusan nekat. Dia keluar dari kenyamanan batalionnya dan memilih bergabung dengan RPKAD (sekarang Kopassus) di Batujajar, Cimahi.

Alasannya sederhana namun menggetarkan. Ia tidak ingin menjadi tentara biasa!

Di Batujajar, ia tidak sekadar berlatih. Selama 7 bulan penuh, ia digembleng langsung oleh sang legenda perintis Korps Baret Merah, Rokus Bernardus Visser alias Mohammad Idjon Djanbi.

Hasil didikan keras itu langsung diuji di medan laga saat ia diterjunkan menumpas gerakan DI/TII di Jawa Barat.

Kehebatan Agus mencuri perhatian negara. Pemerintah mencium bakatnya untuk misi yang jauh lebih besar dan rahasia.

Bersama sahabat karibnya, Kapten Benny Moerdani, serta jajaran perwira terpilih lainnya, Agus diterbangkan ke jantung kekuatan militer dunia: US Special Warfare School di Fort Bragg, Amerika Serikat.

Di sana, mereka digembleng di pusat latihan pasukan lintas udara dan dilatih secara khusus dalam Special Forces di Fort Banning.

Untuk apa pemerintah mengirim mereka jauh-jauh ke Amerika? Negara menginginkan sebuah pasukan khusus yang super efektif.

Pasukan yang mampu menyusup, bertahan hidup, dan bertempur sendirian di belakang garis pertahanan musuh dalam jumlah personel yang sangat sedikit, namun memiliki daya hancur yang luar biasa.

Semua latihan di luar batas kemampuan manusia normal itu bermuara pada satu misi suci yang kala itu tengah membakar dada setiap anak bangsa. Mempersiapkan operasi rahasia untuk merebut kembali Irian Barat ke pangkuan NKRI!

Kisah Agus Hernoto adalah bukti nyata, bahwa pahlawan besar lahir dari keputusan berani untuk keluar dari zona nyaman. Ia menolak menjadi biasa-biasa saja, demi memastikan bendera Merah Putih tetap berkibar dengan gagah.

05/12/2025

Jakarta, 1989. Sejarah baru bulutangkis lahir, dan kita, Indonesia, adalah tuan rumahnya! Ini adalah Piala Sudirman yang pertama. Final mempertemukan kita dengan sang rival kuat, Korea Selatan.

Skor sudah 2-0 untuk Korea. Stadion Senayan tegang. Semua mata tertuju pada partai penentuan: Tunggal Putri. Susi Susanti melawan Lee Young Suk. Jika Susi kalah, gelar juara melayang. Jika Susi menang, harapan kita masih ada!

Pertarungan itu epik, berlangsung hingga tiga game! Tapi, mari kita flashback ke Game Kedua. Susi tertinggal sangat jauh: 2-10!

Bayangkan, hanya SATU POIN lagi bagi Lee Young Suk untuk memastikan kemenangan Korea dan merebut gelar juara di hadapan publik kita sendiri! Suasana down menyelimuti.

Namun, di momen mustahil itu, Susi menunjukkan semangat tak menyerah yang luar biasa. Perlahan, satu demi satu poin dia raih. Pukulan demi pukulan yang penuh daya juang. Susi melakukan comeback yang ajaib! Ia membalikkan keadaan menjadi 12-10!

Seluruh stadion meledak! Harapan kembali membara!

Air Mata di Game Penentuan

Kemenangan dramatis Susi di game kedua ternyata memicu insiden yang mengguncang tim Korea.

Saat jeda, pelatih Korea marah besar! Frustasi melihat gelar yang sudah di depan mata lepas, ia kabarnya sampai melampiaskan amarahnya pada Lee Young Suk, bahkan dikabarkan menamparnya di ruang ganti.

Memasuki Game Ketiga, Lee Young Suk masuk lapangan dengan hati hancur, masih menangis.

Susi, yang terkenal dengan fair play dan keanggunannya, mengakui momen itu: "Saya memanfaatkan lawan yang berlinang air mata pada gim ketiga. Saya juga tak tahu kenapa, tapi kabarnya ada sesuatu yang terjadi dengan dia dengan manajernya."

Game penentuan itu berakhir dengan skor tak terbayangkan: 11-0 untuk Susi!

Susi melanjutkan: "Saya menyelesaikan gim ketiga dengan 11-0. Padahal, saya biasanya tak pernah mengalahkan lawan tanpa memberi dia poin. Kali ini berbeda karena saya tak ingin memberi dia kesempatan untuk membalikkan keadaan."

Kemenangan Susi ini memang membuat Indonesia selamat, dan insiden di kubu Korea itu dikabarkan membuat pemain lain kesal, bahkan memutuskan bermain seadanya sebagai bentuk protes di sisa pertandingan.

Kisah comeback 2-10 menjadi 12-10 ini bukan sekadar skor. Ini adalah bukti kekuatan mental Susi Susanti, yang mengubah match point lawan menjadi titik balik bagi Indonesia, dan pemicu insiden dramatis di balik layar yang mengubah jalannya sejarah!

03/12/2025

Di era keemasan bulutangkis Indonesia tahun 1980-an, namanya terukir sebagai salah satu yang terkuat. Mungil, gesit, dan memiliki pukulan yang mematikan di tiga nomor, tunggal, ganda, dan campuran.

Dia adalah Ivana Lie, mutiara Bandung yang bersinar di kancah dunia. Namun, di balik sorotan lampu dan gemerlap medali, ada sebuah luka tersembunyi yang ia bawa setiap kali menginjakkan kaki di podium: status kewarganegaraan.

Ivana Lie, yang lahir dengan nama Lie Ing Hoa, adalah keturunan Tionghoa. Di masa itu, bagi warga keturunan, proses mendapatkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) adalah sebuah labirin birokrasi yang panjang, rumit, dan menyakitkan.

Bayangkan. Anda adalah atlet kebanggaan bangsa. Anda berlatih gila-gilaan, bahkan lebih keras dari rekan-rekan setim, tiga kali sehari, memeras keringat hingga tetes terakhir demi melihat Merah Putih berkibar.

Anda memenangkan medali emas SEA Games, menjuarai Indonesia Open, dan mengalahkan "Tembok Besar" Tiongkok. Setiap kemenangan Anda adalah teriakan kebanggaan bagi 150 juta penduduk Indonesia.

Namun, saat rekan-rekan setimnya bepergian dengan Paspor yang gagah, Ivana Lie harus puas hanya membawa SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor), selembar kertas layaknya surat jalan yang hanya berlaku sekali pakai.

“Selama lima tahun bolak-balik ke luar negeri membela Indonesia, saya menggunakan selembar kertas seperti surat jalan pengganti paspor yang menyatakan bahwa saya adalah warga negara Indonesia,” kenang Ivana.

“Sedih ya… Merasa bahwa walaupun saya lahir di sini, saya berbudaya, berbahasa, semuanya, merasa sebagai bangsa Indonesia dan sudah membuktikan juga dengan saya bertanding membawa nama Indonesia, tapi sampai lima tahun keluar masuk begitu… Susah sekali mendapat kewarganegaraan itu. Sebenarnya lebih kepada, kita secara manusia perlu pengakuan ya. Dan yang membuat saya merasa sedih ya karena tidak ada pengakuan pada saat itu,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Itu adalah ironi pahit. Di luar negeri, ia adalah duta bangsa, sang pahlawan yang membuat lagu kebangsaan berkumandang. Tetapi di mata hukum, ia terasa tidak diakui sebagai WNI seutuhnya.

Ketika Kemenangan pun Tak Cukup

Rasa sakit itu memuncak bukan hanya saat berangkat, tetapi juga saat bertanding. Ivana ingat betul, ketika menang, orang-orang tidak peduli dengan status kewarganegaraannya.

Tetapi, ketika ia kalah, terutama jika melawan pemain dari Tiongkok, ada saja suara-suara sumbang yang mengaitkan kekalahannya dengan statusnya yang WNA. Seolah-olah, pengorbanan dan cinta matinya kepada Indonesia diragukan hanya karena selembar dokumen.

Perjuangan Ivana sempat tertahan. Pada tahun 1976, ia bahkan batal berangkat ke Kejuaraan Junior Asia karena masalah kewarganegaraan ini.

Air mata tumpah tak terbendung. Keinginan untuk mengenakan jaket kontingen Indonesia dan membawa nama bangsa harus pupus sementara. Ia merasa statusnya adalah "sebuah duri dalam daging" di tengah karier yang menanjak.

Negara lain, seperti Singapura, dengan senang hati datang menawarkan kewarganegaraan. Mereka melihat talenta emas yang siap dipetik.

Namun, cinta mati Ivana Lie hanya untuk Indonesia. Ia menolak tawaran tersebut mentah-mentah. Baginya, Indonesia adalah rumah, satu-satunya tempat ia ingin berdiri dan berjuang.

Pukulan Penentu dari Sang Presiden

Bertahun-tahun berlalu dengan status yang terombang-ambing, Ivana Lie terus berprestasi. Kemenangan demi kemenangan yang ia raih bagaikan teriakan hati yang lantang, menuntut pengakuan dari negara.

Ivana akhirnya bisa bersua Presiden Soeharto saat tim Uber Cup 1981 diterima di Istana Negara. Dalam dialog dengan Presiden Soeharto, Ivana menyampaikan bahwa saat itu statusnya masih warga negara asing.

“’Enggak punya KTP, Pak’, saya bilang begitu.

“Lho, kok enggak punya KTP?” tanya presiden sambil tertawa, sebagaimana ditirukan Ivana.

“Iya Pak, karena KTP-nya enggak bisa keluar karena saya enggak punya warga negara.”

“Nanti coba diini (diurus),” kata presiden memerintahnya.

Ivana menurutinya. “Karena saya ngomongnya sama presiden, kira-kira enam bulan kemudian saya terima (SBKRI) tahun 1982,” ujar Ivana.

Berkat uluran tangan langsung dari Presiden Soeharto saat itu, Ivana Lie resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) penuh.

Ketika SBKRI itu keluar, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Ia akhirnya tidak lagi merasa seperti anak tiri.

"Begitu SBKRI keluar perasaannya benar-benar lega karena sekian lama saya merasa seakan tidak diakui sebagai warga negara," ungkapnya.

Perjuangan Ivana Lie adalah narasi abadi tentang nasionalisme yang diukur bukan dari darah atau surat-surat, melainkan dari keringat, pengorbanan, dan cinta tak bersyarat di lapangan.

Ia membuktikan bahwa seorang pahlawan sejati akan terus bertarung, bukan hanya melawan musuh di seberang net, tetapi juga melawan ketidakadilan di negerinya sendiri, hingga akhirnya pengakuan itu datang, membersihkan luka dan mengukuhkan ia sebagai Srikandi Indonesia sejati.

Siapa yang tak kenal dengan Susi Susanti? Legenda bulu tangkis ini sudah mempersembahkan berbagai macam prestasi yang me...
25/11/2025

Siapa yang tak kenal dengan Susi Susanti? Legenda bulu tangkis ini sudah mempersembahkan berbagai macam prestasi yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Tapi semua itu sempat tak ada gunanya sama sekali. Susi Susanti mengalami kesulitan ketika harus berhadapan dengan birokrasi yang bobrok, hanya untuk mengurus surat pengakuan bahwa dia adalah warga negara Indonesia (WNI). Sebuah ironi bukan?

Para zaman Orde Baru, Pemerintah mengeluarkan aturan mengenai pemberlakuan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI) bagi etnis Tionghoa yang tinggal di Indonesia.

Aturan itu menyebutkan bahwa setiap warga keturunan yang berusia 17 tahun diwajibkan untuk memiliki SKBRI.

Dokumen tersebut sangat penting bagi masyarakat etnis Tionghoa, sebab SKBRI menjadi syarat wajib untuk mengurus administrasi kependudukan, seperti kartu tanda penduduk (KTP), akta pernikahan, akta kelahiran, serta dokumen lainnya.

Dianggap sebagai warga negara kelas 2, tidak membuat Susi patah arang. Toh dia memutuskan tetap setia terhadap NKRI. Buktinya istri Alan Budikusuma ini menolak tawaran untuk menjadi atlet di negara lain dengan jaminan hidup lebih baik.

“Sebelum Olimpiade (1992), tawaran ke luar negeri banyak dengan jaminan yang besar, tetapi saya merasa orang Indonesia, cinta indonesia. Keindonesiaan itu dibeli berapa pun tidak mungkin saya jual. Saya lahir dan hidup di sini, masa saya jual keindonesiaan saya dengan uang,” ujar Susi.

Di tahun 1988, Susi mengurus SKBRI. Tapi tidak juga keluar. Padahal dia sudah berjuang mati-matian untuk Indonesia lewat bulu tangkis.

Di tahun 1990, dia meraih gelar All England pertamanya lalu diikuti dengan menjadi Juara Dunia saat usianya masih 19 tahun.

Puncak prestasinya yang membuat harum Indonesia adalah ketika Susi meraih emas Olimpiade tahun 1992 bersama kekasihnya, Alan Budikusuma, yang sekarang sudah menjadi suami.

Susi menjadi satu-satunya tunggal putri Indonesia yang berhasil menjadi juara All England. Selama kariernya, Susi menjadi juara All England sebanyak empat kali, yakni tahun 1990, 1991,1993, dan 1994.

Namanya tercatat di Guinness Book of World Records sebagai pebulu tangkis wanita yang menjuarai All England empat kali berturut-turut.

Namun apa yang sudah ia ukir atas nama Merah Putih itu terasa sia-sia tatkala mengalami hambatan ketika mengurus pernikahannya dengan Alan di tahun 1996 hanya gara-gara belum mengantongi SKBRI.

"Dan, ternyata kalau di Indonesia itu 'kan banyak yang istilahnya birokrasi. Harusnya yang mudah, malah dipersulit, ujung-ujungnya sebetulnya dari oknum-oknum yang ingin mencari keuntunganlah," ujarnya.

"Pastinya saya kesal, sedih juga pasti. Karena 'kan setiap saya berjuang, tidak ada di belakang saya nama Indonesia SBKRI," lanjutnya.

Persoalan ini lalu ramai diberitakan media massa. Setelah viral, barulah pihak pemerintah mengeluarkan SKBRI Susi dan Alan dalam hitungan minggu saja.

"Padahal, dari pertama kali saya mengajukan, saya hampir tujuh tahun menunggu. Biasalah, dibilang administrasi kurang, UUD [Ujung-ujungnya duit] lagi 'kan akhirnya," ujar Susi.

Sebagai tentara, Sudirman menyebarkan semangat jihad ke pasukan dan rakyat.Ada satu hadis Nabi Muhammad SAW yang selalu ...
23/11/2025

Sebagai tentara, Sudirman menyebarkan semangat jihad ke pasukan dan rakyat.

Ada satu hadis Nabi Muhammad SAW yang selalu dikutip Sudirman dalam menggelorakan semangat jihad.

“Insyaflah, barangsiapa mati, padahal sewaktu hidupnya belum pernah turut berperang melawan ketidakadilan, bahkan hatinya tidak berhasrat untuk perang, maka matilah ia di atas cabang kemunafikan”

Itulah hadis nabi yang sering dikutip Sudirman dan disebarkan dalam selebaran ke rakyat.

Kepada para prajuritnya, Sudirman menanamkan sikap hidup mulia atau mati syahid.

Sudirman sering menyampaikan ayat-ayat jihad di dalam Alquran seperti Surat Al Shaff ayat 10 dan 11 dan Surat Al Baqarah ayat 154.

Dalam setiap memimpin peperangan, Sudirman selalu meneriakkan takbir. Ketika perang gerilya, Jenderal Sudirman tak pernah meninggalkan salat walau dalam keadaan sakit.

Ia juga menjaga puasa senin kamis dan selalu menyempatkan salat malam.

Di setiap kampung yang disinggahi, Sudirman menggelar pengajian dengan warga setempat. Sudirman juga menggalang kekuatan para santri di pondok-pondok pesantren untuk ikut berjuang.

Seperti yang terjadi dalam pertempur4n Ambarawa. Sudirman bekerja sama dengan pondok pesantren asuhan Kiai Siraj. Pondok pesantren itu lalu mengirim para santrinya ikut berjihad dalam pertempuran Ambarawa.

Bukti lainnya terjadi di tahun 1946. Sudirman mengunjungi Laskar Hisbullah-Sabilillah Surakarta. Ketika itu Laskar Hisbullah-Sabilillah sedang mempersiapkan diri ke medan perang di alas tuo dan Bugen.

Berlangsung pertemuan di rumah KH Adnan di Tegalsari, Surakarta. Kehadiran Panglima Sudirman menambah semangat juang anggota laskar.

Jenderal Sudirman diminta memberi sambutan untuk menyemangati laskar yang akan berperang.

Sudirman mengawali sambutannya dengan membaca Alquran surat As-Shaf ayat 10-12 yang diterjemahkannya sendiri.

“hai orang-orang beriman, maukah kamu Aku tunjukkn suatu perniagaan yang akan menyelamatkanmu dari siksa yang pedih. Yaitu, kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwamu”

Kata sambutan Jenderal Sudirman ini mampu menggelorakan semangat juang Laskar Hisbullah-Sabilillah.

Presiden Sukarno melantik Sudirman menjadi Panglima Tentara Keamanan Rakyat atau TKR pada 18 Desember 1945.Banyak kisah ...
23/11/2025

Presiden Sukarno melantik Sudirman menjadi Panglima Tentara Keamanan Rakyat atau TKR pada 18 Desember 1945.

Banyak kisah peperangan yang dipimpin Jenderal Sudirman. Salah satu yang monumental adalah saat ia memimpin perang gerilya melawan Belanda.

Jenderal Sudirman memimpin perang gerilya dalam keadaan sakit parah. Ia menderita sakit TBC akut. Hanya satu paru-parunya yang berfungsi.

Jenderal Sudirman harus ditandu para prajuritnya keluar masuk hutan melawan Belanda. Nah yang jarang orang tahu adalah sisi religiusitas seorang Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Ternyata Jenderal Sudirman ini orang rajin beribadah.

Sudirman lahir di Desa Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, pada 24 Januari 1916. Ayahnya adalah seorang mandor tebu di pabrik gula Kalibagor, Banyumas. Ibunya merupakan keturunan wedana di Rembang.

Sejak kecil, Sudirman sudah lekat dengan kehidupan yang agamis. Ia terbiasa menghadiri pengajian di desanya. Selepas magrib, Sudirman membawa obor menuju surau untuk mengaji.

Sudirman punya sifat pendiam. Ini membuatnya tidak menarik dalam pergaulan.

Di tahun 1935, Sudirman menempuh pendidikan di sekolah guru Muhammadiyah. Namun ia tidak menamatkan pendidikannya di sekolah ini.

Saat masih menimba ilmu di Sekolah Guru Muhammadiyah, ada tiga guru yang mempengaruhi pembentukan karakternya.

Tiga guru itu ialah Raden Sumoyo, Raden Muhammad Kholil, dan Tirtosupono.

Raden Sumoyo adalah seorang nasionalis sekuler. Kholil berpandangan nasionalis Islam. Tirtosupono adalah lulusan Akademi Militer Breda di Belanda.

Dari tiga guru itulah terbentuk karakter Sudirman yang Islami, nasionalis dan militansi militer. Dalam hal agama, Sudirman dianggap fanatik. Tak heran ia mendapat julukan Kaji atau Si Haji.

Sudirman memilih Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaannya. Ia juga sempat menjadi guru di Muhammadiyah Cilacap.

Dalam mengajar, Sudirman sering menyisipkan ajaran agama dan nasionalisme. Selain menjadi guru, Sudirman juga adalah seorang ustaz.

Dia sering berkeliling memberi ceramah dan pengajian dari Cilacap hingga Banyumas. Namanya populer sebagai seorang dai di kalangan masyarakat.

Dalam ceramahnya, Sudirman lebih menekankan aspek tauhid dan kesadaran beragama juga berbangsa. Kelak ketika menjadi Panglima Besar, Sudirman masih ikut pengajian.

Rasulullah SAW adalah idola Sudirman. Ia meneladani kehidupan Rasulullah SAW yang sederhana dan bersahaja.

Jika ada yang jamaah pengajian yang memberi perlakuan khusus, Sudirman menolak dengan halus.

Sebagai seorang ustaz, Sudirman paham betul hukum mempertahankan tanah air dari penjajahan kaum kafir. Baginya, berjuang melawan Belanda adalah jihad melawan kaum k4fir.

Hal itulah yang membuat Sudirman ikut berjuang membela tanah air dari penjajahan Belanda dengan menjadi tentara.

Pergerakan pasukan ini dimulai dari apel pagi 30 September 1965 Batalyon I Resimen Cakrabirawa. Semua prajurit termasuk ...
22/11/2025

Pergerakan pasukan ini dimulai dari apel pagi 30 September 1965 Batalyon I Resimen Cakrabirawa. Semua prajurit termasuk prajurit yang sedang tidak bertugas diminta ikut pada apel siang.

Siang hari kembali digelar apel dengan menyandang persenjataan lengkap. Malam pukul 20.00, Komandan Kompi A Batalyon I Resimen Cakrabirawa Kapten Soewarno memeriksa pasukan.

Para prajurit yang ikut apel dilarang meninggalkan asrama sebelum pukul 22.00. Tengah malam pukul 00.30, kembali digelar apel siaga. Mereka diperintahkan ke Lubang Buaya.

Di Lubang Buaya, pasukan mendapat arahan bahwa mereka akan melaksanakan operasi kilat bersifat rahasia. Pukul 01.55, diumumkan bahwa hari itu adalah hari H pelaksanaan operasi.

Pasukan Pasopati diberikan briefing. Mereka diberi gambaran mengenai misi yang akan dilakukan.

Misinya adalah menyingkirkan para Jenderal yang melawan Sukarno. Jadi misi mereka adalah menyelematkan Presiden Sukarno dari gangguan para jenderal pimpinan Ahmad Yani.

Pasukan Pasopati dibagi tiga kelompok. Kelompok pertama dan kedua bertugas mengamankan sekitar area rumah para jenderal. Kelompok ini menutup jalan dan berjaga di sekitar pekarangan rumah.

Kelompok pertama dan kedua ini dibantu kelompok sipil Pemuda Rakyat yang pro komunis. Kelompok ketiga bertugas masuk ke dalam rumah para jenderal dan melakukan penculikan.

Komandan Pasukan Pasopati Letnan Satu Dul Arif memerintahkan pasukannya membawa para jenderal hidup atau mati ke Lubang Buaya.

Instruksi inilah yang membuat pasukan m3mbunuh Ahmad Yani, DI Panjaitan dan MT Haryono di tempat. Ini dikarenakan ketiga jenderal ini melakukan perlawanan saat penangkapan.

Setelah berhasil menculik para jenderal, pasukan Bimasakti mengambil alih RRI dan Gedung Pusat Telekomunikasi.

DI RRI, Pasukan G30S menyiarkan pengumuman adanya penumpasan terhadap Dewan Jenderal sebagai cara menyelematkan Presiden Sukarno dari kudeta para jenderal.

Setidaknya ada empat pengumuman yang dikeluarkan G30S lewat RRI.

John Roosa menyimpulkan setidaknya ada empat operasi yang terjadi di Jakarta pada pagi hari 1 Oktober 1965.

Yaitu merebut stasiun RRI guna menyiarkan pengumuman penumpasan Dewan Jenderal, menduduk Lapangan Merdeka termasuk gedung telekomunikasi, melakukan penculikan dan membunuh enam jenderal juga satu letnan, mengirim tiga perwira ke istana Merdeka untuk menemui Presiden Soekarno.

Namun aksi G30S itu dapat dipatahkan hanya dalam hitungan jam oleh Suharto dan pasukannya. Para tokoh yang terlibat pun langsung melarikan diri dari pangkalan Udara Halim.

Selengkapnya baca di komentar

Menurut Petrik Matanasi dalam bukunya Prajurit-prajurit di Kiri Jalan, pasukan TNI itu dibagi dalam tiga kelompok. Yaitu...
21/11/2025

Menurut Petrik Matanasi dalam bukunya Prajurit-prajurit di Kiri Jalan, pasukan TNI itu dibagi dalam tiga kelompok. Yaitu kelompok Pasopati, Bimasakti dan Pringgodani.

Kelompok Pasopati bertugas dalam penculikan dan pembunuhan terhadap para jenderal. Kelompok Pasopati dipimpin Letnan Satu Dul Arif dari Cakrabiwara.

Kelompok Pasopati terdiri dari Cakrabirawa, Batalyon 454, Batalyon 530. Pasukan khusus Angkatan Udara yaitu Pasukan Gerak Tjepat (PGT) batal ikut dalam kelompok Pasopati.

Kelompok Bimasakti bertugas beraksi di Jakarta. Mereka ditempatkan di Medan Merdeka dekat Monumen Nasional (Monas).

Kelompok ini terdiri dari pasukan Raiders Batalyon 454 dan Batalyon 530. Pasukan Batalyon 454 berada di utara Medan Merdeka dan Batalyon 530 berada di selatan Medan Merdeka.

Pasukan ini ditugaskan mengambil alih RRI dan dan Gedung Pusat Telekomunikasi yang berada di Jalan Merdeka Barat. Pengambilalihan ini dipimpin Kapten Suradi dari Batalyon I Cakrabirawa.

Yang menjadi catatan, kelompok ini tidak berada di sisi timur Medan Merdeka dimana disitu ada Markas Kostrad.

Kelompok ketiga adalah Pringgodani. Pasukan ini ditempatkan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Tugasnya adalah mempertahankan pangkalan Udara Halim sebagai basis utama G30S. Tugas lainnya adalah mengamankan Presiden Soekarno yang berada di Halim di saat G30S terjadi.

Selain pasukan TNI, G30S juga melibatkan elemen sipil pro komunis yang dilatih di Lubang Buaya.

Dengan komposisi pasukan itu, John Roosa melihat jumlah pasukan yang dilibatkan dalam G30S sangat sedikit dibandingkan jumlah keseluruhan pasukan yang ada di Jakarta.

Kodam Jaya memiliki 60 ribu prajurit. Jumlah ini lebih banyak 30 kali lipat dari pasukan yang terlibat dalam G30S.

Belum lagi ditambah pasukan yang ditempatkan di dekat Jakarta seperti Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) di Batujajar dan Kodam Siliwangi di Jawa Barat.

Kolonel Latief yang berposisi sebagai Komandan Brigade Kodam Jaya memiliki 2 ribu prajurit. Namun ia hanya mampu mengerahkan dua peleton dalam G30S.

Tentu dengan jumlah pasukan yang relatif kecil ini tidak mampu membuat takut pasukan lawan untuk menyerang.

Keberadaan pasukan G30S yang tidak menyebar membuatnya seperti tidak serius dalam melancarkan kudeta.

Jika bertujuan kudeta, John Roosa berpendapat seharusnya pasukan G30S mengepung atau menduduki markas Kodam Jaya dan Kostrad dan menempatkan detasemen-detasemen di dekat pemusatan barak militer utama.

Pasukan G30S juga semestinya membangun pos-pos pemeriksaan di jalan-jalan menuju Jakarta untuk menghalangi masuknya pasukan dari luar. Namun itu semua tidak dilakukan pasukan G30S.

Dalam sebuah kudeta militer, seharusnya pasukan G30S melibatkan kendaraan tempur seperti tank. Nyatanya pasukan yang ada di G30S adalah pasukan infanteri.

Mereka juga tidak dilengkapi dengan persenjataan anti tank untuk menangkal adanya serangan dari pasukan anti G30S.

Faktanya pasukan anti G30S lah yang menguasai tank-tank. Ia terlihat ketika G30 S sudah diumumkan ke publik.

Panglima Kodam Jaya langsung memerintahkan beberapa pasukan tank berpatroli di jalan raya. Dalam hitungan jam saja, pasukan Kodam Jaya sudah berhasil menguasai Jakarta lewat pasukan tank bajanya.

Melihat jumlah pasukan yang kecil, penyebaran pasukan yang tidak berpengaruh, dan tidak adanya tank membuat John Roosa berkesimpulan bahwa G30S dirancang bukan untuk sebuah kudeta.

John Roosa beranggapan bahwa G30S adalah semacam pemberontakan perwira muda terhadap perwira senior.

John Roosa, dalam bukunya Dalih Pembunuh4n Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, memberi gambaran mengenai ju...
21/11/2025

John Roosa, dalam bukunya Dalih Pembunuh4n Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, memberi gambaran mengenai jumlah pasukan TNI yang terlibat G30S.

Menurut John Roosa, tidak ada jumlah pasti mengenai pasukan TNI yang terlibat langsung dalam G30S.

Namun dari beberapa data yang didapat ia membuat gambaran kasar mengenai kekuatan pasukan militer di peristiwa G30S.

Yang jelas pasukan yang terlibat dalam G30S adalah satu kompi pasukan kawal presiden Cakrabirawa di bawah pimpinan Letkol Untung, dua peleton dari Garnisun Angkatan Darat Jakarta di bawah pimpinan Kolonel Latief dan satu batalyon pasukan Angkatan Udara di bawah pimpinan Mayor Soejono.

Selain itu ada juga lima kompi pasukan Raiders dari Batalyon 454 Kodam Diponegoro dan dan lima kompi dari Batalyon 530 Kodam Brawijaya.

Pasukan Raiders Batalyon 454 dan 530 tiba di Jakarta beberapa hari sebelum peristiwa G30S.

Mereka berada di jakarta dalam rangka untuk ikut memperingati Hari ABRI pada 5 Oktober 1965 atas perintah Komandan Kostrad Mayjen Suharto.

Batalyon 454 sangat mudah digerakkan karena Letkol Untung pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon 454.

Data yang didapat John Roosa menyebut bahwa ada sekitar 2.130 prajurit TNI yang terlibat dalam G30S.

Rinciannya dua peleton dari Brigade I Jakarta berjumlah 60 orang, satu kompi Batalyon Cakrabirawa berjumlah 60 orang, lima kompi Batalyon 454 Diponegoro berjumlah 500 orang, lima kompi Batalyon 530 Brawijaya berjumlah 500 orang, satu Batalyon Angkatan Udara berjumlah 1.000 personel dan prajurit perorangan berjumlah 50 orang.

Selengkapnya baca di komentar

Pada 23 Februari 1966, barikade massa menyemut di pelataran parkir gedung Bappenas, Jakarta. Lalu datang sebuah panser. ...
20/11/2025

Pada 23 Februari 1966, barikade massa menyemut di pelataran parkir gedung Bappenas, Jakarta. Lalu datang sebuah panser. Dari panser, turun lelaki cepak bertubuh tegap menggigil ketakutan.

Kepalanya menunduk. Letkol Untung takut menatap ratusan orang yang menghujaninya dengan hujatan.

Untung sempat gamang ketika akan menembus barikade massa dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Saat berjalan memasuki gedung, Untung terus mendapat cemoohan dan hujatan dari massa.

Hari itu Untung menjalani sidang di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Setelah melalui sejumlah persidangan, Mahmilub menyatakan Untung bersalah melakukan kejahatan makar.

Untung dijatuhi hukuman m4ti. Tak lama berselang, Untung dieksekusi oleh regu temb4k.

Address

Bandar
35129

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when DC STORY posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category