10/10/2025
Beberapa planet raksasa seperti Uranus dan Neptunus diyakini mengalami hujan berlian. Fenomena ini terjadi karena kondisi ekstrem di dalam planet — tekanan jutaan kali lebih besar dari Bumi dan suhu ribuan derajat Celsius — memecah gas metana (CH₄) yang kaya karbon di atmosfer mereka.
Dalam kondisi ini, karbon dari metana terlepas dan terkondensasi menjadi berlian padat. Berlian tersebut kemudian jatuh ke lapisan dalam planet seperti hujan. Karena massa jenisnya tinggi, berlian terus tenggelam ke bawah, dan kemungkinan mencair lagi di dekat inti planet.
Fenomena ini belum bisa diamati secara langsung, tapi eksperimen di laboratorium dengan laser berenergi tinggi telah berhasil menciptakan mikroberlian dari senyawa karbon-hidrogen dalam kondisi serupa. Ini memperkuat teori bahwa hujan berlian benar-benar terjadi di planet raksasa es.
Berlian yang terbentuk bisa berukuran kecil (mikroskopis), tapi jika prosesnya berlangsung lama dan stabil, bisa saja terbentuk berlian besar dalam jumlah sangat banyak — bahkan mencapai jutaan karat per tahun.
Selain Uranus dan Neptunus, planet-planet luar tata surya yang kaya karbon, disebut planet karbon, juga diperkirakan bisa mengalami hujan berlian.
Fenomena ini memberi wawasan penting tentang komposisi dan dinamika internal planet, serta membuka kemungkinan eksplorasi sumber daya di luar Bumi, walaupun masih sangat jauh dari real
, , , , , ,