01/05/2015
TAGHOFUL
Barangkali kita pernah mendengar tentang Hatim Al Ashamm (Hatim si tuli). Nama lengkap beliau Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan bin Yusuf Al Balkhi, seorang ulama besar yang berasal dari Provinsi Balkh Afganistan, beliau murid sahabat Rosulullah, terkenal shalih, zuhud dan pandai memberi nasihat sehingga digelari Luqmannya ummat ini, wafat di Bagdad pada tahun 237 H.
Mengapa ia dijuluki al ashomm, si tuli padahal pendengarannya normal dan ia tentu bukan seorang tuli ? Kisah ini jawabannya. Suatu hari seorang wanita pernah datang kepada Hatim. Ia bermaksud menanyakan sesuatu kepadanya. Namun ditengah ia mengutarakan pertanyaan, wanita itu tiba-tiba buang angin (kentut) sehingga membuatnya ia sangat malu. Hatim tahu apa yang berada di balik perasaan tamunya. Dia tidak ingin tamunya bertambah malu karena pendengarannya. Karena itu mencoba menutupinya dengan mengatakan, ‘keraskan suaramu’. Ia berkata demikian karena berpura-pura tuli. Akibatnya, wanita itu senang dan tidak salah tingkah. Ia mengira Hatim tidak mendengarnya.
Sejak itu, selama wanita itu masih hidup, hampir lima belas tahun, Hatim berpura-pura memiliki pendengaran yang kurang normal. Sehingga tak ada seorangpun bercerita pada wanita tadi bahwa Hatim tidak tuli. Sesudah wanita tersebut meninggal dunia, barulah Hatim menjawab dengan mudah kepada siapapun yang bertanya kepadanya. Tapi, karena sudah terbiasa dengan perkataan itu, dia selalu berkata kepada setiap orang yang bertanya kepadanya, “Bicaralah dengan keras!” itulah sebabnya dia dipanggil Hatim Al Ashamm (Hatim si tuli). (Thobaqotul Aulia : 1 / 29)
Apa yang bisa kita teladani dari tindakan Hatim Al Ashamm dalam hal ini? Para ulama banyak menyebutnya dengan istilah ”adaab taghaaful” artinya etika berpura-pura tidak tahu terhadap kekeliruan dan kesalahan yang tidak sengaja dilakukan. Berpura – pura tidak tahu atas hal yang memalukan bagi orang lain. Sikap mentolerir keterpelesetan orang lain. Sikap membuka ruang memaklumi kesalahan yang tidak direncanakan, apalagi ditutup-tutupi. Tentu bukan kesalahan fatal yang berakibat buruk pada masyarakat luas.
Sikap taghaaful ini, ternyata banyak sekali dipegang oleh para shalihiin terdahulu. Bahkan ketika Fudhail bin Iyadh ditanya tentang etika taghaaful, ia mengatakan beberapa patah kata saja.“Ash shaf-hu ‘an atsaraatil ikhwaan”, katanya. “Memberi toleransi terhadap kekeliruan yang tidak disengaja oleh saudara”. Itu artinya. Siapa di antara kita yang tidak pernah terpeleset salah? Selama kita berinteraksi dengan orang lain, kita pasti pernah melakukan salah, disengaja maupun tidak. Di sinilah inti perkataan Fudhail, tokoh tabi’in yang begitu dikenal sebagai ahli ibadah, bahwa kita masing-masing kita memang dianjurkan memiliki ruang toleransi terhadap kesalahan yang bisa dilakukan oleh siapapun termasuk diri kita sendiri.
Seseorang yang tanpa sengaja keliru mengucapkan suatu kata, terlebih itu istilah asing, kadang mengundang olok – olok. Diluruskan memang, tanpa melepas perolokan yang tentu mempermalukan padahal tentu dapat diingatkan dengan cara lebih baik. Atau tanpa sengaja merusak sedikit properti milik orang lain, menggunakan pakaian yang nampaknya menurut kita tidak selaras (bukan tidak pantas), gagal membawakan oleh – oleh yang dijanjikan karena keadaan keuangan memaksa janji itu dibatalkan dan aneka contoh lain. Kesalahan yang tentunya tidak fatal. Kesalahan yang tentu bukan merupakan kekeliruan yang direncanakan dan berulang dilakukan. Kesalahan yang sangat mungkin terjadi dalam situasi tertentu dan bahkan tidak disengaja. Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, ”Terimalah alasan-alasan orang yang datang kepadamu dengan meminta maaf dan menyampaikan alasan. Baik saat itu motif dalam perkataannya benar, atau dia berbohong. Karena sebenarnya engkau tidak tahu sesuatu yang tidak lahir (ghaib). ” Dalam hidup ini, seharusnya, kita memang harus taghaaful dari kesalahan tidak disengaja dan kecil yang terjadi dari orang lain. Lupakan saja perasaan kita yang muncul ketika itu terjadi. Karena sebenarnya, syaitan lah yang selalu membangkitkan ingatan dan memancing emosi Kita.