Hijrotuna

Hijrotuna Berzikir,berfikir dan beramal shalih Media penegak keshalihan diri,keluarga dan ummat sesuai manhaj salafus sholih.

Instagram@hijrotunaMasjidil Haram tahun 1885.    1.Luas Masjidil Haram pada zaman Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sa...
22/08/2015

Instagram@hijrotuna
Masjidil Haram tahun 1885.

1.Luas Masjidil Haram pada zaman Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sallam diperkirakan sekitar 1400-2000m2.
2.Pada tahun 17 H/638 M Khalifah Umar bin Khothob membeli rumah di sekitar Masjidil Haram lalu meluaskan area masjid dg tambahan luas 840m2,membangun tembok di area masjid,membuatkan beberapa pintu dan memasang lampu.
3.Perluasan kedua terjadi pada tahun 26 H, pada masa Khalifah Utsman bin Affan.Beliau membuatkan koridor masjid agar orang dapat berteduh.Perluasan masa ini sekitar 2040 m2.
4.Perluasan ketiga pada masa Abdullah bin Zubair.Beliau melakukan pemugaran Ka'bah sehingga sesuai dg pondasi awal sebagaimana keinginan Rosulullah agar sesuai dengan pondasi yg dibangun Nabi Ibrohim dan Nabi Isma'il.Perluasan masa ini diatas 4000m2.
Perluasan Masjidil Haram terus dilakukan oleh para pemimpin penguasa Makkah pada masa berikutnya.Masjidil Haram kini luasnya melebihi 656.000m2 dengan perencanaan pembangunan hingga 2021 M.

Sejarah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dapat dilihat di musium Haromain yg terletak di daerah Ummul Joud, sekitar 10 KM dari Masjidil Haram.

Literatur tentang Makkah dan Masjidil Haram diantaranya ; Kitab Murujudz Dzahan lil Mas' udi, Tahshilul Marom Fi Akhbaril Baitil Harom, At Tarikhul Qowim Limakkah, Al Iqduts Tsamin Fi Tarikh Al Baladil Amin, Akhbaru Makkah fi Qodimid Dahri Wa Haditsih dll.

Ilustrasi Masjidil Harom pada zaman dahulu.Berupa areal kecil dengan ka'bah di tengahnya.Tanpa dinding yang mengelilingi...
22/08/2015

Ilustrasi Masjidil Harom pada zaman dahulu.
Berupa areal kecil dengan ka'bah di tengahnya.Tanpa dinding yang mengelilinginya.
Rumah penduduk yang berada di sekitarnya lah yg seolah menjadi dindingnya.Di sela-sela antar rumah terdapat jalan menuju ka'bah yg dinamai sesuai nama kabilah arab ketika itu.

Instagram@hijrotuna

11/08/2015
27/06/2015

Sekedar mengimani bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya,belum mencukupi syarat bagi seseorang disebut sebagai mukmin karena orang kafir pun mengakui bahwa Allah lah yang menciptakan langit dan bumi serta mengaturnya. (Lihat Surat Al Ankabut : 61,63, Luqman : 25, Az Zumar : 38, Az Zukhruf : 9,87)
Seseorang beriman ketika dia mengakui, mengimani sepenuh hati bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang menciptakan dan mengatur segala yang ada (tauhid Rububiyyah), ia beribadah HANYA kepada Allah (tauhid Uluhiyyah), mengimani nama dan shifat Allah yang suci dari segala hal yang tidak layak disandangkan kepada Allah (tauhid Asma was shifat) dia juga mengimani bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rosulullah yang terahir diutus Allah. Serta menjadikan Islam sebagai satu-satunya pedoman hidup. Keimanan tersebut ia ikrarkan dengan lisannya, diyakini dengan hatinya dan diamalkan dalam kehidupannya.
Maroji’ :
Al Qoulus Sadid Fi Maqoshidit Tauhid, Aqwalut Tabi’in Fi Masa’ilit Tauhid wal Iman, At Tauhidu Awwalan Ya Du’atal Islam, Kaifa Nafhamut Tauhid, Isytiqoqu Asmaillah, Al Jawabul Mufid Fi Hukmi Jahilit Tauhid.I’anatut Tauhid Syarh Kitab Tauhid.

26/06/2015

Luangkan waktu untuk mengkaji dua kalimat syahadat karena :
“Sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat (asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rosulullah) tanpa mengetahui maknanya dan tidak beramal dengan segala konsekwensinya (menjauhi thogut,kekufuran dan kemusyrikan) tidaklah menjadikan pengucapnya sebagai mukmin,demikian berdasarkan ijma (kesepakatan seluruh ulama Islam).”
Al Mufhim Lil Qurthubi I/204,Taisirul Azizil hamid Jilid I/176, Fathul Majid I/35, As Showa’iqul Mursalah I/223,Injahu hajatis Sail Fi Ahammil Masail I/13,Syarh Kasyfus Syubuhat Lil Utsaimin : 43,Tafsir An Nisaburi I/143.

22/06/2015
TAK ADA GUNA BERSANDAR KEPADA SELAIN ALLAH“Wahai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan...
17/05/2015

TAK ADA GUNA BERSANDAR KEPADA SELAIN ALLAH

“Wahai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah (dalam ibadahmu) sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walau mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal (keagungan) Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”
[Al-Hajj: 73-74]

01/05/2015

TAGHOFUL
Barangkali kita pernah mendengar tentang Hatim Al Ashamm (Hatim si tuli). Nama lengkap beliau Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan bin Yusuf Al Balkhi, seorang ulama besar yang berasal dari Provinsi Balkh Afganistan, beliau murid sahabat Rosulullah, terkenal shalih, zuhud dan pandai memberi nasihat sehingga digelari Luqmannya ummat ini, wafat di Bagdad pada tahun 237 H.
Mengapa ia dijuluki al ashomm, si tuli padahal pendengarannya normal dan ia tentu bukan seorang tuli ? Kisah ini jawabannya. Suatu hari seorang wanita pernah datang kepada Hatim. Ia bermaksud menanyakan sesuatu kepadanya. Namun ditengah ia mengutarakan pertanyaan, wanita itu tiba-tiba buang angin (kentut) sehingga membuatnya ia sangat malu. Hatim tahu apa yang berada di balik perasaan tamunya. Dia tidak ingin tamunya bertambah malu karena pendengarannya. Karena itu mencoba menutupinya dengan mengatakan, ‘keraskan suaramu’. Ia berkata demikian karena berpura-pura tuli. Akibatnya, wanita itu senang dan tidak salah tingkah. Ia mengira Hatim tidak mendengarnya.
Sejak itu, selama wanita itu masih hidup, hampir lima belas tahun, Hatim berpura-pura memiliki pendengaran yang kurang normal. Sehingga tak ada seorangpun bercerita pada wanita tadi bahwa Hatim tidak tuli. Sesudah wanita tersebut meninggal dunia, barulah Hatim menjawab dengan mudah kepada siapapun yang bertanya kepadanya. Tapi, karena sudah terbiasa dengan perkataan itu, dia selalu berkata kepada setiap orang yang bertanya kepadanya, “Bicaralah dengan keras!” itulah sebabnya dia dipanggil Hatim Al Ashamm (Hatim si tuli). (Thobaqotul Aulia : 1 / 29)
Apa yang bisa kita teladani dari tindakan Hatim Al Ashamm dalam hal ini? Para ulama banyak menyebutnya dengan istilah ”adaab taghaaful” artinya etika berpura-pura tidak tahu terhadap kekeliruan dan kesalahan yang tidak sengaja dilakukan. Berpura – pura tidak tahu atas hal yang memalukan bagi orang lain. Sikap mentolerir keterpelesetan orang lain. Sikap membuka ruang memaklumi kesalahan yang tidak direncanakan, apalagi ditutup-tutupi. Tentu bukan kesalahan fatal yang berakibat buruk pada masyarakat luas.
Sikap taghaaful ini, ternyata banyak sekali dipegang oleh para shalihiin terdahulu. Bahkan ketika Fudhail bin Iyadh ditanya tentang etika taghaaful, ia mengatakan beberapa patah kata saja.“Ash shaf-hu ‘an atsaraatil ikhwaan”, katanya. “Memberi toleransi terhadap kekeliruan yang tidak disengaja oleh saudara”. Itu artinya. Siapa di antara kita yang tidak pernah terpeleset salah? Selama kita berinteraksi dengan orang lain, kita pasti pernah melakukan salah, disengaja maupun tidak. Di sinilah inti perkataan Fudhail, tokoh tabi’in yang begitu dikenal sebagai ahli ibadah, bahwa kita masing-masing kita memang dianjurkan memiliki ruang toleransi terhadap kesalahan yang bisa dilakukan oleh siapapun termasuk diri kita sendiri.
Seseorang yang tanpa sengaja keliru mengucapkan suatu kata, terlebih itu istilah asing, kadang mengundang olok – olok. Diluruskan memang, tanpa melepas perolokan yang tentu mempermalukan padahal tentu dapat diingatkan dengan cara lebih baik. Atau tanpa sengaja merusak sedikit properti milik orang lain, menggunakan pakaian yang nampaknya menurut kita tidak selaras (bukan tidak pantas), gagal membawakan oleh – oleh yang dijanjikan karena keadaan keuangan memaksa janji itu dibatalkan dan aneka contoh lain. Kesalahan yang tentunya tidak fatal. Kesalahan yang tentu bukan merupakan kekeliruan yang direncanakan dan berulang dilakukan. Kesalahan yang sangat mungkin terjadi dalam situasi tertentu dan bahkan tidak disengaja. Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, ”Terimalah alasan-alasan orang yang datang kepadamu dengan meminta maaf dan menyampaikan alasan. Baik saat itu motif dalam perkataannya benar, atau dia berbohong. Karena sebenarnya engkau tidak tahu sesuatu yang tidak lahir (ghaib). ” Dalam hidup ini, seharusnya, kita memang harus taghaaful dari kesalahan tidak disengaja dan kecil yang terjadi dari orang lain. Lupakan saja perasaan kita yang muncul ketika itu terjadi. Karena sebenarnya, syaitan lah yang selalu membangkitkan ingatan dan memancing emosi Kita.

27/04/2015

SEKUAT RINDU,HAJAT DAN FIKIRAN
Setelah berzikir setiap malam,pemuda itu mengadu dg wajah kecewa : "Guru,harus berapa ribu kali saya berdoa agar bermimpi Rosulullah ?" Sang Guru tersenyum tenang, "Makanlah..." Ujar sang guru sambil menyodorkan makanan kering yg asin."Habiskan !!!" Pinta beliau tegas. Tak ada keberanian sang pemuda itu utk menolak.
Ketika makanan asin itu habis,dg tegas sang guru melarang pemuda itu minum walau pun hanya seteguk. Haus tak tertahan pun dialami hingga malam datang, tak terfikir apa alasan sang guru melarangnya minum...Yg ia fikirkan bagaimana ia dpt memenuhi hajatnya akan air, setetes pun pasti berharga bagi tenggorokannya yg kering tercekik haus.
Kantuk datang mengatarkan tidur sang pemuda yg kehausan bukan kepalang itu. Ia tak sempat melantunkan formula zikir yg biasanya ribuan kali ia ulang agar dapat bersua Rosulullah.
Ketika pagi datang,sang guru bertanya lembut : "Apa tadi malam kau bermimpi bertemu Rosulullah ?"
"Tidak guru...Saya malah mimpi minum yg banyak dg air yg sangat segar !" Jawab sang pemuda setengah protes dg larangan minum itu.
"Nah...demikianlah nak,kerinduan, hajat dan fikiranmu yg kuat akan air itu menGhadirkan mimpi minum...Cobalah ananda kuatkan hajat dan fikiran kepada Rosulullah, beliau pasti menemuimu."
Fahamlah pemuda itu kini...."Semoga Rosulullah menemuiku segera,aku ingin mengadu..." gumamnya.
(Catatan Kawan 4 Mei 2011)

25/04/2015

Seseorang mengadu kepada seorang alim tentang orang tuanya yang tak pernah mengurusnya sejak kecil,haruskah tetap berbakti kepada mereka ?
"Harus !!!" Jawab sang alim tegas, "Melalui orang tuamulah kamu menjadi manusia,makhluq paling sempurna di dunia ini. Tanpa mereka mungkin Kamu hanya menjadi kotoran yang dihinakan.Balaslah kebaikan mereka selama Kamu menjadi manusia."
Sebuah jawaban yang menyadarkan.Ya Allah,ampuni kelalaian Kami kepada orang tua Kami.Ampuni dan rahmatilah mereka.Allahumma Amin.

Address

Bandar
35214

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Hijrotuna posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Hijrotuna:

Share