30/05/2026
Keberadaan masyarakat suku Jawa di Desa Trimulyo, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, merupakan hasil langsung dari program transmigrasi.Kabupaten Pesawaran sendiri memegang peranan yang sangat penting dalam sejarah perpindahan penduduk di Indonesia:
1. Bagian dari Sejarah "Kolonisasi" Hindia BelandaSebelum istilah "transmigrasi" digunakan pada masa kemerdekaan, program ini awalnya bernama Kolonisasi yang dicetuskan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Pionir Pertama: Pada bulan November 1905, wilayah Bagelen di Gedong Tataan (sekarang berada di Kabupaten Pesawaran yang sama dengan Tegineneng) resmi menjadi lokasi transmigrasi pertama di Indonesia (bahkan disebut-sebut tertua di dunia).Rombongan awal dipindahkan dari daerah Kedu dan Banyumas, Jawa Tengah, untuk membuka lahan perkebunan dan pertanian di Lampung.
2. Gelombang Transmigrasi ke Tegineneng Setelah keberhasilan di Gedong Tataan, gelombang perpindahan masyarakat dari Pulau Jawa terus meluas ke wilayah sekitarnya pada dekade-dekade berikutnya, termasuk ke wilayah Kecamatan Tegineneng.
Para transmigran babat alas (membuka hutan) untuk dijadikan area pemukiman dan lahan pertanian pangan.Karena mayoritas berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta, mereka menamai pemukiman baru mereka dengan nama-nama desa asal mereka sebagai obat rindu kampung halaman, salah satunya adalah Trimulyo.
3. Sukses Berpindah GenerasiHingga saat ini, warga suku Jawa yang Anda temui di Desa Trimulyo umumnya merupakan generasi ketiga atau keempat dari para pahlawan transmigran terdahulu. Meskipun mereka lahir dan besar di Lampung, ikatan budaya, adat istiadat, dan bahasa Jawa tetap terjaga dengan sangat kokoh di desa tersebut.