24/03/2026
Di sebuah kota di Iran, seorang remaja bernama Arman berdiri di atap rumahnya. Malam itu tidak seperti biasanya. Langit yang biasanya penuh bintang kini dipenuhi cahaya merah dan suara ledakan.
“Perang sudah dimulai…” bisik ayahnya dengan wajah tegang.
Semua bermula ketika ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel semakin memanas. Serangan datang tiba-tiba. Pesawat-pesawat tempur melintas cepat di langit, menjatuhkan bom ke berbagai tempat penting.
Arman memeluk adiknya yang ketakutan. Suara sirene berbunyi tanpa henti.
“Apa kita akan baik-baik saja?” tanya adiknya dengan suara gemetar.
Arman tidak menjawab. Ia hanya menatap langit yang kini seperti neraka.
Keesokan harinya, kota mereka berubah. Banyak bangunan hancur. Jalanan yang dulu ramai kini sunyi dan penuh debu. Orang-orang berlarian mencari tempat aman.
Di kejauhan, terdengar kabar bahwa Iran membalas serangan dengan rudal. Perang tidak lagi hanya terjadi di satu tempat—semuanya terasa semakin besar dan menakutkan.
Namun di tengah semua itu, ayah Arman berkata,
“Yang terpenting sekarang bukan siapa yang menang… tapi bagaimana kita tetap hidup dan saling menjaga.”
Malam itu, mereka berkumpul di ruang kecil, hanya ditemani lilin. Di luar, suara ledakan masih terdengar. Tapi di dalam, ada harapan kecil yang tetap menyala.
Arman menutup matanya dan berdoa, berharap suatu hari nanti langit akan kembali tenang.