26/09/2025
Cahaya dari Tepi Langit
Suara klakson kendaraan yang ramai di Jakarta mendadak terasa jauh ketika Rizky membuka surel berisi balasan dari lembaga kemanusiaan. Nama-nama lain yang terpampang di sana adalah orang-orang hebat, para profesional dari berbagai bidang. Hatinya berdebar, antara haru dan cemas. Mimpinya untuk bisa menjejakkan kaki di tanah Palestina, bukan sebagai turis, tapi sebagai bagian dari misi kemanusiaan, akan segera terwujud.
Perjalanan itu dimulai dengan suasana cemas yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Setiap detail perjalanan, setiap prosedur yang ketat, mengingatkannya bahwa ia sedang menuju sebuah wilayah konflik. Namun, ketakutan itu perlahan pudar, tergantikan oleh ketakutan yang lainβketakutan tidak bisa berbuat apa-apa di tengah penderitaan yang ia tahu sedang menanti.
Sesampainya di perbatasan, pemandangan yang menyambutnya adalah sesuatu yang hanya pernah ia lihat di berita. Puing-puing bangunan, wajah-wajah letih yang berjejer, dan tatapan mata yang menyimpan kisah duka begitu dalam. Rizky bekerja di sebuah klinik darurat, membantu para tenaga medis lokal yang telah bekerja tiada henti.
Suatu sore, ia bertemu seorang anak laki-laki bernama Omar. Usianya sekitar tujuh tahun. Sebagian besar waktunya dihabiskan dengan duduk di sudut, memeluk sebuah buku yang lusuh. Saat Rizky mencoba mengajaknya bicara, Omar hanya menggeleng, matanya kosong. Para tenaga medis mengatakan Omar kehilangan seluruh keluarganya dalam sebuah serangan. Trauma membuatnya kehilangan suaranya.
Rizky tidak menyerah. Setiap hari, ia akan menghampiri Omar dan membacakan buku anak-anak yang ia bawa dari Indonesia. Omar tidak pernah merespons, namun ia selalu berada di sana, mendengarkan. Rizky menceritakan dongeng tentang kura-kura yang memenangkan perlombaan, tentang petualangan nelayan yang menemukan harta karun di lautan biru yang luas. Perlahan, sebuah keajaiban kecil terjadi.
Suatu hari, saat Rizky selesai membaca, Omar meraih tangannya. "Bunga," bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.
"Bunga apa, Omar?" tanya Rizky, terkejut.
Omar menunjuk sebuah gambar di buku, gambar bunga matahari. "Dulu, ibu punya banyak bunga matahari. Ayah s**a menyiramnya," lanjutnya, suaranya masih parau, namun jelas.
Mata Rizky berkaca-kaca. Ia menyadari, misinya bukanlah sekadar memberikan obat atau makanan. Misinya adalah mengembalikan harapan, bahkan dalam bentuk yang paling kecil sekalipun. Bantuan logistik memang penting, tetapi dukungan moral jauh lebih berharga.
Sebelum kepulangannya, Rizky berpamitan kepada Omar. Anak itu memberikan sebuah gambar bunga matahari yang ia gambar dengan pensil warna yang Rizky berikan. "Nanti, kalau sudah aman, aku mau tanam bunga matahari lagi," kata Omar dengan senyum tipis di wajahnya.
Saat Rizky kembali ke Jakarta, suara bising kota kembali menyambutnya. Namun, kini ada sesuatu yang berbeda. Ia membawa pulang bukan hanya cerita, tetapi juga sebuah pelajaran berharga. Ia menyadari, di tengah kehancuran, masih ada benih harapan yang bisa tumbuh. Dan terkadang, benih itu hanya membutuhkan sedikit cahaya, yang bisa datang dari mana saja, bahkan dari tepi langit yang jauh.