23/07/2026
Ada luka yang dapat dijahit oleh waktu.
Ada p**a luka yang terus hidup, meski puluhan tahun telah berlalu.
Luka seperti itulah yang kami lihat dalam kisah seorang perempuan berinisial YH (39). Luka yang tidak meninggalkan bekas di kulit, tidak terlihat oleh mata, tetapi diam-diam menggerogoti seluruh hidupnya.
Sebuah luka yang lahir bukan dari pukulan, melainkan dari kata-kata. Dari satu panggilan yang mungkin terdengar biasa bagi pelakunya, tetapi menjadi mimpi buruk yang tak pernah benar-benar berakhir bagi korbannya.
Bagi sebagian orang, ejekan hanyalah candaan. Kalimat yang dianggap lucu. Hiburan sesaat. Bahan tertawaan di sudut gang, di halaman sekolah, atau di depan teman-teman.
Namun tidak bagi YH.
Baginya, satu ejekan telah mengubah seluruh jalan hidupnya.
Bayangkan seorang anak perempuan yang setiap pagi berangkat ke sekolah bukan dengan semangat mengejar cita-cita, melainkan dengan rasa takut. Takut bertemu teman-temannya. Takut mendengar suara yang memanggil dengan julukan yang ia benci. Takut menjadi bahan tertawaan.
Hari demi hari, rasa takut itu tumbuh lebih besar daripada keberaniannya untuk belajar.
Sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk menimba ilmu berubah menjadi ruang yang penuh ancaman.
Tak ada lagi pelajaran yang mampu ia dengarkan dengan tenang. Tak ada lagi mimpi yang berani ia gantungkan. Yang ada hanyalah keinginan agar hari segera berakhir.
Sampai akhirnya ia memilih berhenti.
Masih duduk di bangku sekolah dasar.
Bukan karena malas.
Bukan karena bodoh.
Bukan p**a karena keluarganya tidak ingin menyekolahkannya.
Ia berhenti karena jiwanya tidak lagi sanggup menanggung beban yang setiap hari dipikulnya sendirian.
Hari itu mungkin tampak biasa bagi orang lain.
Namun sesungguhnya, pada hari itulah masa depan seorang anak mulai dirampas sedikit demi sedikit.
Kini, hampir tiga dekade berlalu.
Anak kecil itu telah menjadi seorang ibu.
Ia memiliki seorang anak yang seharusnya menjadi alasan untuk kembali tersenyum.
Namun luka masa kecil ternyata tidak mengenal usia.
Trauma tidak mengenal kalender.
Trauma tidak pernah benar-benar tahu kapan harus selesai.
Menurut keluarganya, YH hingga kini masih belum mampu membaca dan menulis.
Bukan karena ia tidak ingin belajar.
Melainkan karena kesempatan itu telah terenggut ketika seharusnya ia masih duduk di ruang kelas, belajar mengeja huruf demi huruf, mengenal angka demi angka.
Apa yang hilang dari dirinya bukan sekadar ijazah.
Yang hilang adalah kesempatan.
Kepercayaan diri.
Mimpi.
Dan masa depan yang mungkin akan sangat berbeda apabila saat itu ada satu saja orang yang berani berkata, "Sudah, jangan ejek dia lagi."
Yang lebih menyayat hati, ejekan itu ternyata belum berhenti.
Puluhan tahun kemudian, suara yang sama masih terdengar.
Masih ada orang yang memanggilnya dengan julukan yang menjadi sumber traumanya.
Seolah-olah waktu tidak pernah berjalan.
Seolah-olah penderitaan seseorang hanyalah hiburan yang boleh diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Yang paling memilukan, kali ini peristiwa itu terjadi di depan anak kandungnya sendiri.
Bayangkan seorang ibu yang sedang menggandeng tangan anaknya sep**ang dari warung.
Seharusnya itu menjadi perjalanan sederhana yang penuh kehangatan.
Namun dalam hitungan detik, perjalanan itu berubah menjadi kenangan yang mungkin akan terus diingat oleh anaknya.
Ibunya dipermalukan.
Ibunya diejek.
Ibunya kembali menjadi korban.
Dan anak kecil itu menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
Betapa berat beban yang harus dipikul seorang ibu ketika dirinya tidak hanya menahan tangis, tetapi juga harus menjaga hati anaknya agar tidak ikut terluka.
Yang lebih membuat dada sesak bukan hanya perilaku pelaku.
Melainkan sikap orang-orang yang berada di sekitarnya.
Menurut penuturan keluarga, cukup banyak warga yang menyaksikan kejadian itu.
Namun tidak ada yang menegur.
Tidak ada yang menghentikan.
Tidak ada yang berkata, "Sudah, itu tidak baik."
Mereka hanya melihat.
Lalu membiarkan.
Kadang-kadang, diam ternyata bisa melukai sama dalamnya dengan kata-kata.
Ketika masyarakat memilih menjadi penonton, pelaku merasa memperoleh pembenaran.
Korban merasa sendirian.
Dan perlahan, perundungan berubah menjadi sesuatu yang dianggap lumrah.
Padahal tidak ada satu pun bentuk penghinaan yang pantas dinormalisasi.
Yang juga patut menjadi renungan bersama adalah lunturnya adab dan sopan santun di tengah sebagian generasi muda.
Keluarga korban mengaku sangat terpukul ketika remaja yang diduga melakukan perundungan justru tidak menunjukkan penyesalan setelah dinasihati. Sebaliknya, ia disebut membalas dengan sikap menantang.
Apabila benar demikian, persoalan ini bukan lagi sekadar tentang satu korban dan satu pelaku.
Ini adalah peringatan bahwa pendidikan karakter tidak boleh kalah oleh derasnya perkembangan teknologi.
Anak-anak hari ini hidup di zaman yang serba modern. Mereka mampu mengoperasikan gawai sejak usia dini, mengenal media sosial lebih cepat daripada mengenal makna empati, dan begitu mudah mengakses informasi dari seluruh dunia.
Namun kemajuan teknologi tidak akan pernah berarti apabila tidak diiringi dengan kemajuan akhlak.
Sebab ukuran kemajuan sebuah generasi bukan ditentukan oleh kecanggihannya menggunakan teknologi, melainkan oleh kemampuannya menghormati sesama manusia.
Menghormati orang yang lebih tua.
Menjaga lisan.
Mengendalikan emosi.
Menghargai perbedaan.
Dan memahami bahwa setiap manusia memiliki martabat yang tidak boleh direndahkan.
Kami juga percaya bahwa tanggung jawab menghentikan bullying tidak boleh dibebankan hanya kepada korban.
Orang tua harus mengajarkan adab sejak anak belajar berbicara.
Sekolah harus menjadi tempat paling aman bagi setiap peserta didik.
Tokoh masyarakat harus berani menegur ketika melihat perilaku yang menyimpang.
Tetangga tidak boleh memilih diam ketika melihat seseorang dipermalukan.
Dan aparat penegak hukum harus hadir apabila tindakan tersebut telah memenuhi unsur pelanggaran hukum.
Sebab membangun lingkungan yang sehat bukan hanya soal membangun jalan, rumah, atau fasilitas umum.
Tetapi juga membangun hati manusia agar tetap memiliki empati.
Kisah YH seharusnya membuat kita bertanya kepada diri sendiri.
Berapa banyak orang yang hari ini masih memikul luka akibat ejekan yang pernah kita anggap sebagai candaan?
Berapa banyak anak yang kehilangan kepercayaan dirinya hanya karena setiap hari dipermalukan?
Berapa banyak mimpi yang mati sebelum sempat tumbuh karena tidak ada seorang pun yang berani membela?
Mungkin pelaku sudah lupa dengan setiap kata yang pernah diucapkannya.
Namun korban mengingatnya setiap kali hendak tidur.
Setiap kali berjalan di lingkungan tempat tinggalnya.
Setiap kali mendengar suara yang mengingatkannya pada masa lalu.
Dan setiap kali air matanya kembali jatuh tanpa mampu ia jelaskan kepada siapa pun.
Bullying tidak selalu membunuh tubuh seseorang.
Tetapi ia dapat membunuh keberanian.
Membunuh harapan.
Membunuh cita-cita.
Bahkan perlahan membunuh masa depan.
Karena itu, berhentilah menganggap ejekan sebagai hiburan.
Jangan wariskan budaya mempermalukan orang lain kepada anak-anak kita.
Ajarkan mereka bahwa manusia tidak dinilai dari kekurangan yang dimilikinya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan sesama.
Sebab pada akhirnya, sebuah masyarakat tidak akan dikenang karena banyaknya gedung yang dibangun.
Melainkan karena besarnya kepedulian mereka terhadap orang-orang yang paling lemah di tengah lingkungannya.
Dan semoga, tidak ada lagi anak yang kehilangan masa depan hanya karena satu kata yang dianggap sebagai candaan.
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan opini redaksi yang disusun berdasarkan kisah yang disampaikan keluarga korban. Opini ini tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan kesalahan pihak tertentu atas suatu peristiwa, melainkan sebagai refleksi mengenai dampak perundungan dan pentingnya membangun budaya saling menghormati, berempati, serta melindungi korban bullying.