Cakra Vidya

Cakra Vidya Merangkai dan Mewujudkan Impian Sahabat penulis mewujudkan impian untuk mencetak buku sendiri. Juga peluang bagi siapapun yang ingin mempunyai self publishing.

10/09/2017

Spesifikasi dan biaya cetak buku untuk oplah 100 exp, 350 halaman.

Spesifikasi:
• Oplah cetak: 100 exp
• Jumlah halaman: 350 halaman
• Ukuran: A5
• Kertas isi: HVS/book paper
• Kertas cover: 260 gsm photo paper/art paper kualitas terbaik
• Warna isi: BW/hitam putih
• Warna cover: Full colour sparasi
• Jenis cover: Soft cover
• Finishing: Laminasi glossy/doff
• Wrapping (pembungkus): Plastik shrink terbaik
• Setting/layouting
• Design cover
• Pengurusan ISBN
• Lama pengerjaan: 3 hari kerja (dihitung setelah naskah siap cetak)

Biaya Cetak: Rp.2.850.000

Sistem:
• Pengiriman naskah
• Setting awal untuk memastikan jumlah halaman
• Penghitungan final biaya cetak
• Transfer pembayaran biaya cetak
• Pengiriman file hasil setting untuk di acc (via email)
• Proses editing akhir
• Proses cetak dan finishing
• Pengiriman buku

01/09/2017

Cetak buku 100 exp, isi 100-200 halaman, sudah plus design cover, sudah plus lay out, dan pengurusan ISBN (selektif), hanya Rp.2.000.000 mau?

Mencari aplikasi toko online yg berkualitas degan harga tidak melambung tinggi? Ini solusinya.Aplikasi android untuk mem...
22/08/2017

Mencari aplikasi toko online yg berkualitas degan harga tidak melambung tinggi? Ini solusinya.

Aplikasi android untuk membangun Bisnis Online Shop lebih TERSISTEM.

Dengan menggunakan Aplikasi Mobile Shop, dapatkan berbagai kemudahan dalam mengelola bisnis online shop.
Nikmati berbagai fitur di dalamnya seperti manajemen pelanggan, sistem order otomatis, push notification, print out, laporan laba rugi, terintegrasi dengan website dan lain-lain.

Pemesanan:
>> http://goo.gl/ycLJiq

18/08/2017

Anak-anak muda zaman sekarang, lebih sibuk mana, berprestasi dan menjadi kaya sedari muda atau galau-galauan tentang pacar?

Yakin saja ketika kamu sudah punya banyak penghasilan, in shaa Allah wajahnya tambah ganteng dan cantik. Kalau jodoh? In shaa Allah juga makin mudah dapat jodoh yang shalih, ganteng atau cantik, dan kaya (pengusaha/pedagang/pebisnis).

Yuk jadilah kaya sedari muda agar banyak orang yang bisa kita bantu.

17/08/2017

Seorang penulis bisa menjadi kaya, bukan sekedar kaya hati, wawasan dan pengalaman, tapi sejahtera dari segi materi atau finansial. Menerbitkan karya/buku sendiri adalah satu-satunya jalan pintas untuk semua itu.

01/08/2017

Ketika seseorang menunjukkan, menawarkan, atau memberi peluang kepadamu, apakah seperti berikut ini jawaban cepat yang kamu ucapkan?

✋ Aku nggak ngerti
✋ Aku nggak bakat
✋ Aku nggak bakat
✋ Aku nggak bisa
✋ Aku nggak minat
✋ Aku nggak ada waktu
✋ Aku nggak yakin
✋ Aku nggak percaya

Pokoknya semua "nggak". Tapi ternyata setiap hari selalu ada saja keluhanmu, keluhmu: nggak ada duit, nggak ada kerjaan, nggak punya pulsa atau kuota, ingin ini itu tapi nggak keturutan, melambungkan cita setinggi langit tapi tak bisa meraih, dan yang parahnya ingin sukses. Hello? Masih sadar kan?

Cobalah lembutkan hati dan berpikir positif seperti ini:

👍 Aku minat
👍 Aku mau
👍 Aku coba
👍 Aku bisa
👍 Aku yakin
👍 Aku percaya
👍 Aku pejuang

Bismillah...

Mulailah perubahan yang baik pada dirimu. In shaa Allah yang datang dan didapatkan juga baik.

Dulce et Utile, Dua Fungsi yang Harus Ada dalam Setiap Karya SastraFungsi dulce berarti menghibur. Bisa dibilang, ini ha...
30/07/2017

Dulce et Utile, Dua Fungsi yang Harus Ada dalam Setiap Karya Sastra

Fungsi dulce berarti menghibur. Bisa dibilang, ini hal yang pokok tentang karya sastra. Kebanyakan orang membaca sebuah karya sastra dalam rangka hiburan. Maka menjadi suatu keharusan bagi penulis karya sastra untuk membuat karyanya menghibur pembaca. Kepuasan pembaca akan hiburan dapat terpenuhi dengan membaca karya sastra.

Fungsi kedua adalah utile, dimana sebuah karya sastra dapat memberikan manfaat bagi pembacanya. Karya sastra sebagai salah satu media penyampaian pesan, ide atau gagasan tentunya memiliki fungsi ini. Penulis dapat menyampaikan apa yang menjadi idenya lewat tulisan. Dan tentunya hal ini harus dilakukan. Penulis harus memiliki maksud dalam karya sastra yang ditulisnya. Bila ini terwujud, maka sebuah karya sastra telah memiliki dan menjalankan fungsinya. Pembaca akan merasakan manfaat sebuah karya sastra dengan memahami ide yang disampaikan penulisnya.

Bagaimana karya sastra yang tidak memiliki dua fungsi tadi? Apakah tetap dikatakan karya sastra? Tentu saja ya, namun tidak dapat dikatakan karya sastra yang baik. Karya sastra yang tidak menghibur kemungkinan besar tidak akan dilirik untuk dibaca. Karya sastra yang tidak memberi manfaat kepada pembacanya adalah karya sastra yang bohong. Karena bisa dipertanyakan, sebenarnya adakah yang akan disampaikan kepada pembaca?

Sedikit tambahan dan penguat wawasan tentang "Karya Sastra" bisa dibaca di link berikut ini (jangan malas membaca bila mengaku diri orang sastra, penyair, pujangga, penulis, dan penikmat sastra), iqra':

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/1132

Pujangga besar Yunani, Horatius dalam bukunya Ars Poetica (dalam Teeuw, 1984:183) menyatakan bahwa tujuan penyair menulis sajak adalah memberi nikmat dan berguna (dulce et utile). Sesuatu yang memberi nikmat atau kenikmatan berarti sesuatu itu dapat memberi hiburan, menyenangkan, menenteramkan, dan…

28/07/2017

Sukses Dunia Akhirat

Konsep bisnis berorientasi akhirat, dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama saat kita berusaha. Yaitu, bukan mengejar cita-cita duniawi yang pendek, seperti punya mobil, punya rumah, perusahaan besar, dan seterusnya. Ini cita-cita yang terlalu pendek. Kita naikkan cita-cita kita ke akhirat.

Jika selama ini, kita diajarkan sejak kecil untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit, maka sekalian saja naikkan cita-cita kita ke akhirat. Kenapa tidak?

Toh dengan bercita-cita akhirat, maka Allah Ta'ala akan membantu memudahkan urusan kita, akhirat dapat dan dunia pasti dapat. Sedangkan kalau cita-cita hanya dunia, maka khawatirnya kita hanya mendapat dunia, dan di akhirat kita menjadi orang yang rugi besar.

Allah Ta'ala berfirman,
"Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat."
(QS. Asy-Syura: 20)

"Bagaimana contoh bekerja dengan orientasi akhirat?"

Jawabannya banyak sekali: bekerja karena ingin menikah, karena ingin menafkahi keluarga, ingin membantu keluarga yang tidak mampu, ingin berhaji, ingin banyak bersedekah seperti si fulan, ingin membangun 100 rumah sakit Islam, ingin menyantuni satu juta anak yatim, dan seterusnya.

Ada kisah menarik di zaman tabiut tabi'in. Seorang ulama besar bernama Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama ahli hadits sekaligus seorang pedagang yang berhasil. Beliau rahimahullah ditanya oleh Fudhail bin Iyadh, "Engkau selalu mengajari kami untuk zuhud terhadap dunia, tetapi aku lihat engkau sibuk berdagang di pasar-pasar."

Abdullah bin al-Mubarak menjawab bahwa dia bersemangat berdagang karena ingin menanggung nafkah ulama-ulama ahli hadits, agar para ulama tersebut tetap fokus mengajar ilmu hadits dan tidak sibuk bekerja. Alasannya, kalau mereka sibuk bekerja, mereka tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk mengajarkan hadits. (Kisah itu disebutkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala', pada biografi Abdullah bin al-Mubarak)

Lihatlah betapa indahnya cita-cita ini, dan betapa Allah Ta'ala membuktikan janjinya. Beliau rahimahullah justru sukses dalam berdagang, menjadi pengusaha kaya, namun tetap zuhud terhadap dunia, yaitu tidak meletakkan dunia di hatinya. Dunia hanya sarana, bukan tujuan. Beliau mengerti hakikat kehidupan dunia yang fana, dunia hanya wasilah untuk kebahagiaan akhirat.

Contoh motivasi lain adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (yang artinya), "Wajib atas setiap muslim untuk bersedekah." Dikatakan kepada beliau, "Bagaimana bila ia tidak mampu?" Beliau menjawab, "Ia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan (dengannya ia dapat) bersedekah." (Muttafaqun 'alaih)

Lihatlah, betapa motivasi untuk bekerja hanya karena ingin bersedekah, karena sedekah itu wajib. Sehingga, setelah para sahabat mendengar hadits ini, mereka langsung pergi ke pasar-pasar mencari kerja, meskipun sekadar menjadi kuli angkat barang di punggungnya, hanya untuk mendapatkan upah dan dengan upah itu mereka dapat bersedekah.

Banyak dalil yang menerangkan janji-janji Allah Ta'ala kepada orang-orang yang berorientasi akhirat, bahwa orang yang berorientasi akhirat akan sukses dunia dan akhiratnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, 'Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dadamu dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia).'" (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Barangsiapa yang menjadikan kegelisahan, kegundahan, cita-cita, dan tujuannya hanya satu, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi semua keinginannya. Barangsiapa yang keinginan dan cita-citanya bercerai-berai kepada keadaan-keadaan dunia, materi duniawi, yang dipikirkan hanya itu saja, maka Allah tidak akan peduli di lembah mana dia binasa." (HR. Ibnu Majah; sanadnya hasan)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, dan dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja." (HR. At-Tirmidzi dan lain-lain; hadits shahih)

Masihkah kita ragu dengan janji-janji Allah Ta'ala di atas? Apakah itu cuma dongeng di siang bolong? Siapakah yang paling mampu menepati janjinya? Sungguh sayang, banyak dari kita yang masih ragu dengan janji-janji Allah Ta'ala, dan ikut yakin dengan pameo ini, "Zaman ini zaman edan, kalau tidak ikut arus, bagaimana kita bisa dapat rezeki?", atau "Yang haram saja susah, apalagi yang halal." Maka, jadilah suap-menyuap menjadi keseharian kita, tanpa ada lagi beban, tanpa merasa berdosa, berdusta saat jual-beli menjadi hal yang wajar, dan seterusnya.

Bagaimana mungkin karunia Allah Ta'ala, berupa rezeki, dapat diraih dengan maksiat? Mungkin rezeki itu akan didapat, tetapi rezeki itu tidak akan memiliki berkah. Justru, rezeki tersebut akan membawa petaka, istri dibawa lari orang, anak berzina, kita sendiri terkena penyakit stroke dan merana seorang diri di rumah sakit jiwa. Akhir yang buruk, yang tidak satu pun dari kita menginginkannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu datangnya terlambat, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram." (HR. Abdur Razaq, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)

"Sesungguhnya, Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu, hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencarianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya." (HR. Abu Dzar dan al-Hakim)

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah nafkah dengan cara yang baik, karena sesungguhnya seseorang sekali-kali tidak akan meninggal dunia sebelum rezekinya disempurnakan, sekalipun rezekinya terlambat (datang) kepadanya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram." (Hadits shahih, Shahih Ibnu Majah no.1743 dan Ibnu Majah II: 725 no.214)

Pesan yang jelas terlihat dari hadits-hadits di atas adalah kita diperintahkan untuk berusaha, bersungguh-sungguh, bekerja, memperbaiki mata pencarian, meninggalkan yang haram, dan kita diperintahkan untuk bertakwa. Rezeki yang ada di langit (dari Allah) bukan dicari dengan cara maksiat kepada-Nya. Namun, kita diperintahkan untuk bersungguh-sungguh bekerja, memperbaiki cara mencari rezeki, dan bertakwa.

"Untuk apa kita berusaha kalau rezeki sudah ditentukan?"

Jangankan kita, para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bertanya hal yang sama.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka." Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, "Kalau begitu, kami bersandar saja (tidak beramal), wahai Rasulullah?"

Maka, beliau pun menjawab, "Jangan demikian. Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan." Kemudian, beliau membaca firman Allah, "Adapun orang-orang yang mau berderma dan bertakwa, serta membenarkan al-husna (surga), maka kami siapkan baginya jalan yang mudah." (QS. al-Lail: 5-7). (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah nasihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita, untuk tidak bertopang dagu, serta supaya senantiasa bersemangat dalam beramal dan tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk bermaksiat dan bermalas-malasan. Kita pasti akan dimudahkan menuju takdir kita, selama kita mengikuti firman Allah Ta'ala dalam surat al-Lail ayat 5-7 tersebut.

Allah Ta'ala berfirman:
"Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97)

Lihatlah, bahwa jika kita ingin hidup bahagia dengan mendapatkan semua kebaikan (karena ayat tersebut tidak membatasi kebaikan apa, maka ulama menerangkan bahwa yang dimaksud adalah semua kebaikan, baik rezeki, kebahagiaan, ketenangan jiwa, dan lain-lain), maka caranya adalah dengan beramal shalih, dalam keadaan beriman.

Bagaimana kita bisa beriman dan beramal shalih? Pelajari al-Quran dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar. In shaa Allah akan selamat.

Wallahu a’alam...

(Pengusaha Muslim)

26/07/2017

Bismillah...

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberikan beberapa nasihat kepada Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, di antara nasihat tersebut adalah perkataan beliau:

"Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati." (HR. At-Tirmizi no.2227, Ibnu Majah no.4183, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' no.7435)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada hadits di atas melarang seseorang untuk banyak tertawa dan bukan melarang seseorang untuk tertawa. Tertawa yang banyak dan berlebih-lebihanlah yang dilarang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sebaik-baik perkara adalah yang sederhana dan pertengahan. Tatkala Islam mensyariatkan untuk banyak tersenyum, maka Islam juga melarang untuk banyak tertawa, karena segala sesuatu yang kebanyakan dan melampaui batas akan membuat hati menjadi mati. Sebagaimana banyak makan dan banyak tidur bisa mematikan hati dan melemahkan tubuh, maka demikian p**a banyak tertawa bisa mematikan hati dan melemahkan tubuh. Dan jika hati sudah mati maka hatinya tidak akan bisa terpengaruh dengan peringatan Al-Qur'an dan tidak akan mau menerima nasehat, wal 'iyadzu billah.

Adapun hukum banyak tertawa, maka lahirlah hadits Abu Hurairah di atas menunjukkan haramnya, karena hukum asal setiap larangan adalah haram. Apalagi disebutkan sebab larangan tersebut adalah karena bisa mematikan hati, dan sudah dimaklumi melakukan suatu amalan yang bisa mematikan hati adalah hal yang diharamkan.

Adapun tertawa sesekali atau ketika keadaan mengharuskan untuk tertawa, maka ini adalah hal yang diperbolehkan. Hanya saja, bukan termasuk tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam jika seorang itu tertawa sampai terbahak-bahak dan berketerusan dalam setiap interaksi. Karenanya tertawa terbahak-bahak dan berlebihan adalah hal yang dibenci walaupun tidak sampai dalam hukum haram, wallahu a'lam.

26/07/2017

Memberi kesempatan positif kepada orang lain itu adalah perbuatan mulia yang tidak dimiliki orang banyak.

25/07/2017

Merasa sudah berusaha dan belum ada hasil?

Usahakanlah sekali lagi, lagi dan lagi. Hingga 1000 kali, sampai benar-benar titik darah penghabisan.

Sukses itu tidak lewat jalan mudah!!
Sukses itu lewat jalan istimewa.

Address

Jalan Tambakan, Bojongkunci, Pameungpeuk
Bandung

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cakra Vidya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category