21/06/2025
MEWAHNYA KATA MAAF DI MULUT SEORANG MENTERI
Di negeri ini, meminta maaf adalah kemewahan. Barangkali itulah mengapa klarifikasi Fadli Zon terasa begitu menyakitkan. Dalam 11 cuitan yang katanya menjelaskan duduk perkara ucapannya soal pemerkosaan massal 1998, tak satu pun memuat kata "maaf". Tak satu pun menunjukkan empati pada luka sejarah yang belum juga sembuh.
Baskara Putra, musisi yang dikenal sebagai Hindia, menulisnya dengan tepat: โ11 tweet dan enggak ada satu pun permintaan maaf... Bantahannya ngawur dan sangat mengecilkan trauma kelompokโ (, X). Hindia memang bicara tentang Fadli, tapi sesungguhnya juga tentang watak banyak pejabat kita hari iniโyang lebih memilih โklarifikasiโ daripada "introspeksi", lebih sibuk menyalahkan tafsir publik daripada mengoreksi niat sendiri.
Padahal, jika bangsa ini ingin belajar menjadi dewasa, maka pelajaran pertama adalah: mengakui salah dan meminta maaf.
Bukan demi citra, tapi demi rasa.
Bukan demi menyelamatkan karier, tapi demi menghormati ingatan kolektif.
Bukan demi menghindari kritik, tapi demi menjaga kemanusiaan.
Ketika pejabat publik tidak bisa memberikan teladan "sekecil" itu, maka yang mereka wariskan pada generasi berikutnya bukan hanya arogansi, tapi juga ketumpulan hati. Mereka menjadikan โklarifikasiโ sebagai alat kekuasaan, bukan tangga kerendahan hati.
Dan jika itu terus berlangsung, tak usah heran bila bangsa ini tumbuh tanpa keberanian moral. Sebab, bagaimana mungkin masyarakat belajar bertanggung jawab, jika pemimpinnya pun tak mampu mengatakan satu kata sederhana: maaf?
Mungkin, seperti kata seorang filsuf jalanan:
"๐๐ช ๐ฏ๐ฆ๐จ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฎ๐ข๐ข๐ง ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ณ๐ข๐ฌ๐บ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ช๐ญโ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฐ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฏ-๐ฌ๐ฐ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ขโ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ."
By: HT