26/04/2018
Nemu coretan lama. ๐ Foto ini diambil sewaktu baru punya halo balita. Kurang lebih 2 tahun yang lalu, sewaktu anak saya baru berumur 2 tahun. Sampe sekarang bukunya masih awet.
Halo Balita itu arisan buku pertama saya. Jaman itu baru tahu ada arisan buku, baru tahu p**a kalo ada buku paketan yang harganya sukses bikin suami bilang "HA?". Suami lho, bukan saya ๐. Karena saya pecinta buku, jadi saya gak merasa heran buku boardbook sebanyak itu, yang jumlahnya 26 BUKU, harganya sampai jutaan. Ya iyalah, board book itu harganya di kisaran 35rb sampai ratusan ribu, tergantung kualitas, jadi ya sesuai.
Sebagai pecinta buku yang telah merasakan manfaat membaca, tentu saya ingin menularkan kecintaan saya terhadap buku kepada anak saya. Kenapa akhirnya memutuskan membeli buku paket Halo Balita (dengan cara arisan)? Karena saya belum menemukan buku yang pas untuk saya dan balita saya pada waktu itu.
Ada buku retail yang kontennya bagus, tapi tipis, mudah sobek, padahal saya inginnya buku2 itu bertahan lama supaya bisa dipakai adik2nya juga (Biasalah emak2 hemat ๐). Ada yang boardbook, tapi kontennya gak menarik. Menemukan buku balita yang isinya bermutu, menarik, ilustrasinya apik, awet, dan bernafaskan islami ternyata tidak mudah. Sampai saya bertemu Halo Balita.
Memang HB itu buku untuk anak. Tapi, saya juga ikut belajar banyak hal. Saya jadi paham bahwa pada masa balita itu nilai2 yang paling penting untuk kita tanamkan adalah spiritual, moral, dan kemandirian. Makanya jilid di Halo Balita dibagi menjadi 3 TEMA, yaitu SPIRITUAL, VALUE, dan SELF HELP. Melalui kisah-kisah Sali dan Saliha yang lekat dengan kehidupan sehari-hari, saya diajarkan bagaimana caranya menanamkan TAUHID, CINTA RASUL, dan NILAI-NILAI KEISLAMAN dengan cara yang menyenangkan, mudah dicerna anak, dan nyata di keseharian. Sali dan Saliha mengajarkan saya bahwa anak2 belajar melalui contoh dan ketauladanan orang tuanya, bahwa, mereka mungkin anak-anak, tapi mereka bisa mandiri dan bertanggungjawab bila diberi kesempatan. Ibu dan Ayah menuntun saya untuk menjadi orang tua yang lebih baik, betapa kelembutan tutur kata dan perbuatan akan lebih melekat di sanubari anak daripada perintah dan hukuman.
Bagi saya, Halo Balita adalah LIVING BOOK. Buku yang meninggalkan after taste yang mendalam, menginspirasi, dan memotivasi.
~amelia