Sekolah Kewajaran Bersikap

Sekolah Kewajaran Bersikap Sekolah Teladan Kewajaran Bersikap adalah sekolah tanpa ruang dan waktu, didukung oleh swadaya berup

Universitas Kehidupan zonder ruang dan waktu, sehingga pembelajaran bisa dilangsungkan di manapun dan kapanpun, juga oleh siapapun untuk suatu kebajikan dan kebijaksanaan. Di dalam SKB terdapat beberapa fakultas, antara lain: 1) Fakultas Ilmu Peradaban, 2) Fakultas Pengembangan dan Penerapan Imajinasi, 3) Faktultas Penguasaan Ilmu Praktis, 4) Fakultas Lintas Mazhab, 5) Fakultas Melintas Batas. Di

lengkapi dengan Bengkel Catur 24 Jam, Taman Bacaan Raden Dewi Sartika, Masyarakat Pecinta Alam Linggabuana, mushola berikut tempat wudlu dan toiletnya.

28/03/2025

*PEMBERITAHUAN*

Berdasarkan syarat dan ketentuan yang disahkan panitia LCP Piala Kebangsaan 2025, pengiriman karya yang dinilai oleh Dewan Juri untuk kategori Juara dan 80 Finalis, adalah yang dikirim ke Google Form. Sedangkan yang dikirim ke grup PPP di FB, akan dinilai untuk puisi terfavorit.

Pengiriman puisi ke G-form maupun PPP di FB, telah ditutup per *25 Maret 2025 pukul 23.59 WIB.*

Panitia sedang melakukan cross check data yang masuk ke Gform, dan update data terakhir akan kami umumkan pada tanggal *2 April 2025*

Demikian, harap dipahami, dan untuk pengumuman pemenang, akan diberitahukan kemudian.

Terima kasih.

Assalamu'alaikum, Salam Sejahtera para peserta LCP 2025, Tautan di bawah ini berisi daftar nama peserta yang berhasil me...
18/03/2025

Assalamu'alaikum,
Salam Sejahtera para peserta LCP 2025,

Tautan di bawah ini berisi daftar nama peserta yang berhasil mengirim karya puisinya melalui Google Form. Silakan cek n ricek, dan apabila ada nama yang belum tercantum, segera hubungi:

085222370167 (Erni Wardhani)

DAFTAR NAMA PESERTA LCP 2025 GIMIN ARTEKJURSI_NEGARA INI MILIK SIAPA YESI WENINGSARI_RUGINYA PAGAR LAUT UNTUK KAMI OUI BIN SAL_SAJAK YANG MENGGILA _CINTA MENGGIGIT LAUTAN MENDUA NURUL FITRI_AKU ADALAH PAGAR LAUT S. HERIANTO_KEHILANGAN ASIN FILESKI FARIDA TANJUNG_OMBAK YANG TERPASUNG_LAUT YANG KE...

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, kami menyelenggarakan seminar dengan tema *Semarak Sumpah Pemuda*! Narasum...
26/10/2022

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, kami menyelenggarakan seminar dengan tema *Semarak Sumpah Pemuda*!
Narasumber: Nur Indah Yusari, S.Pd., M.Hum.

Acaranya akan dilaksanakan pada:
Hari: Senin, 31 Oktober 2022
Pukul: 13.00 wib s.d. selesai
Tempat: Hotel Akasia, Jalan Kramat Raya, Senen- Jakarta Pusat.
Tiket: Rp150.000,00

Fasilitas:
1. Sertifikat
2. Dinner n Coffee break
3. 1 eksemplar buku
*Door prize berupa logam mulia dan hadiah menarik lainnya.*

transfer ke:
*MANDIRI*
1560013879145
a/n *Dwi Okta Maulia Jumiar*

Setelah transfer, langsung klik link pendaftaran:

https://bit.ly/semaraksumpahpemuda94

Note:
Undangan untuk sekolah, kami buatkan.

Kalau sudah selesai, jangan lupa konfirmasi ke saya, ya.

*Puisi Introspektif Pada Retrospeksi ke-70* Aanalisis Puisi oleh Doddi Ahmad FaujiSAYA menerima lagi puisi dari A. Slame...
22/10/2022

*Puisi Introspektif Pada Retrospeksi ke-70*

Aanalisis Puisi oleh Doddi Ahmad Fauji

SAYA menerima lagi puisi dari A. Slamet Widodo, dengan judul ‘BALADA LELAKI UMUR 70’. Puisi ini cukup Panjang, mencapai 1.418 kata/diksi. Membacanya, saya serasa tengah mengingat kembali lorong Genesis yang berada di The Hermitage Museum, Kota St. Petersburg, nun di Rusia sana. Disebut lorong Genesis, ini istilah dari saya, karena pada lorong yang menghadap Sungey Neva itu, terdapat lukisan tentang perjalanan hidup manusia, dari lahir hingga wafat. Saya pernah melihat Lorong tersebut pada 2004, didampingi Henny Sujai yang merelakan diri menjadi guide. Puisi A. Slamet Widodo memang tidak memerinci dari awal lahir sang penyair, hingga el-maut menjemput. Namun, puisi Slamet dan lukisan Genesis, membuat saya terjeda untuk merengungi jalan hidup yang sudah saya ‘cukcruk’ hingga saat ini. Pada larik ke-79 dan larik ke-80, bunyinya: jatuh bangun lagi, jatuh bangkit lagi.

Jatuh bangun dalam kehidupan banyak dialami manusia, termasuk saya. Meskipun Slamet Widodo tidak menceritakan kisah jatuh bangun dirinya atau seseorang, namun teks tersebut mengajak saya untuk melakukan introspeksi yang mendalam. Secara saintis, hidup ini seperti tengah mengubah energi, di mana energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan, manusia hanya bisa mengubah atau mengkonversi energi, di mana sudut datang adalah pantulan dari sudut pergi. Secera saintis, mengubah energi ini setara dengan hukum kausalitas, sebab – akibat, sunnatullah, sifat tanah, hukum pantul atau karma. Barang siapa menanam biji tomat jangan berharap panen anggur, atau siapa menyemey angin bersiaplah menuai badey.
Selanjutnya:

Aksara Esai  Puisi Introspektif Pada Retrospeksi ke-70 Oktober 22, 2022Oktober 22, 2022 AhmadFauji 0 Komentar 70 tahun, Slamet Widodo Aanalisis Puisi oleh Doddi Ahmad Fauji Saya menerima lagi puisi dari A. Slamet Widodo, dengan judul ‘BALADA LELAKI UMUR 70’. Puisi ini cukup Panjang, mencapai 1...

28/07/2020

Queensa Stefani Mapaung bawakan lagu Isyana Saraswati "Bila Memang Harus Berpisah" dan lagu Cakra Khan "Kekasih Bayangan".

24/07/2020

Pada Suatu Hari Nanti SDD ada Dua versi Berbeda Isi.
Versi pertama dimuat dalam antologi Dukamu Abadi (1969)
Versi kedua dimuat dalam antologi Perahu Kertas (1983)

Termuat dalam antologi Dukamu Abadi (1969):

Begini: kita mesti berpisah. Sebab/ sudah terlampau lama bercinta, sebab anak-anak kita telah mengusir ibu-bapanya/ dan sebab tak ada rumah lagi/ yang masih terbuka/

Mula-mula air mata, yang cepat mendingin/ kita pun pergi seperti apa kata kitab-kitab itu/ sehabis makan malam/ siapa yang mengantarkan kita?/ hati kita sendiri, lebih unggul dari derita/ lebih unggul dari putus asa/ lebih unggul dari sepi;

ditanamnya pohon jeruk/ di pekarangan bekas rumah kita, dicoretkannya/ kapur penolak bala di tiap ambang pintu/ lalu kita tusuk sendiri dua belah mata kita/ agar tak terlihat lagi adegan-adegan cinta/ agar tak sakit hati mengenangkannya/

Kita tinggalkan kota ini, ketika menyeberang sungai/ terasa waktu masih mengalir/ di luar diri kita. Awas, jangan menoleh/ tak ada yang memerlukan kita lagi/ tak ada yang memanggil kembali;/ perkara kita tak hanya sampai di sini. Mari...
***

Termuat dalam Perahu Kertas (1983)

Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap ku siasati
Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya ku cari.

Antologi karya SDD

1. “Duka-Mu Abadi”, Bandung (1969)
2. “Mata Pisau” (1974)
3. “Perahu Kertas” (1983)
4. “Sihir Hujan” (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
5. “Hujan Bulan Juni” (1994)
6. “Black Magic Rain” (translated by Harry G Aveling)
7. “Arloji” (1998)
8. “Ayat-ayat Api” (2000)
9. “Mata Jendela” (2002)
10. “Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?” (2002)

24/07/2020

Dinyanyikan oleh Stefani Novi Mapaung dengan petikan gitar sendiri

*Pada Suatu Hari Nanti.* Begini: kita mesti berpisah. Sebab/ sudah terlampau lama bercinta, sebab anak-anak kita telah m...
19/07/2020

*Pada Suatu Hari Nanti.*

Begini: kita mesti berpisah. Sebab/ sudah terlampau lama bercinta, sebab anak-anak kita telah mengusir ibu-bapanya/ dan sebab tak ada rumah lagi/ yang masih terbuka/

Mula-mula air mata, yang cepat mendingin/ kita pun pergi seperti apa kata kitab-kitab itu/ sehabis makan malam/ siapa yang mengantarkan kita?/ hati kita sendiri, lebih unggul dari derita/ lebih unggul dari putus asa/ lebih unggul dari sepi;

ditanamnya pohon jeruk/ di pekarangan bekas rumah kita, dicoretkannya/ kapur penolak bala di tiap ambang pintu/ lalu kita tusuk sendiri dua belah mata kita/ agar tak terlihat lagi adegan-adegan cinta/ agar tak sakit hati mengenangkannya/

Kita tinggalkan kota ini, ketika menyeberang sungai/ terasa waktun masih mengalir/ di luar diri kita. Awas, jangan menoleh/ tak ada yang memerlukan kita lagi/ tak ada yang memanggil kembali;/ perkara kita tak hanya sampai di sini. Mari...

Ternyata saya bangun pukul 11-an hari ini. Android mati. Saya ketahui waktu, setelah mengisi batrey, menyalakan HP yang mati. Begitu nyala, dan membuka beragam sosmed, segera yang terbaca, di berbagai grup WA, ucapan innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Penyair kita, Si Mata Pisau itu, telah mangkat sekira dua jam sebelum WA saya aktif kembali. Saya langsung mengingat hari lahir beliau, kisaran tahun 1940-an, dan sekarang tahun 2020. Usia 80 tahun, termasuk jarang orang Indonesia berusia 80-an. Tentu lebih jarang lagi, bila memasuki usia di atas itu. Beberapa sastrawan yang saya anggap seperti ayah, kini memasuki ambang 80-an.

Saya ingat, Pramoedya wafat di usia 81, Barli Sasmitawinata mangkat di usia 80, Sitor Situmorang pada kisarn 80 juga, bahkan WS Rendra mangkat pada usia 76, sedang ayah kandung saya wafat pada usia 69.

Segera yang teringat dari Sapardi adalah puisi Perpisahan, puisi yang sering saya bacakan dalam berbagai acara pelantikan mahasiswa baru di kawasan-kawasan dingin macam Ranca Upas, Gunung Puntang, Parompong, Cikole, dll.

Di hadapan api unggun, seluruh Maru dan panitia berhimpun mengelilingi api unggun, kala itu, dengan menenteng sebilah kayu yang sudah kena api, saya membacakan puisi berjuluk *Pada Suatu Hari Nanti* itu sambil berputar mengelilingi api unggun. Kawan saya, Wan Anwar, juga membaca puisi Sapardi, namun ia biasanya memilih puisi lain, yang bunyinya itu kira-kira: Kau yang matakan rambutnya ikal…..
Kau yang mangatakan rambutnya, matanya…..

Rata-rata hadirin terpesona, dan bertanya, puisi siapa, siapa Sapardi Djoko Damono itu. Kala itu, tahun 1990-an nama-nama penyair Indonesia belum begitu dikenal karena keterbatasan media massa untuk mewartakannya. Yang paling tahu, bahkan termasuk di mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Chariril Anwar-lah, Taufik Ismail, Rendra.

Saya termasuk beruntung aktif di organisasi, sehingga dalam Lomba Baca Puisi Piala Rendra yang kali perdana digelar tahun 1989, saya mengenal beberapa nama penyair lewat antologi puisi yang akan dibacakan oleh para peserta. Dari antologi itu kemudian terbaca nama-nama penyair Indonesia seperti Hartojo Andang Djaja, Geonawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, termasuk di deretan terakhir ada nama Eka Budianta.

Ketidaktahuan nama-nama penyair Indonesia yang berjasa itu, adalah karena dunia pendidikan sedari SD hingga tingkat menengah, kurang memberi kesempatan untuk memperkenalkan para sastrawan Indonesia. Kala itu, dunia pendidikan memang sedang bangga dengan jurusan teknologi. Bisa masuk ITB adalah primadona.

Ya kala itu, masuk IPS adalah siswa apkiran. Jurusan IPA adalah primadona. Apalagi masuk SMEA, dianggap siswa kelas ketiga. Adalah Romo YB Mangunwijaya yang menyadarkan saya, bahwa kehidupan ini, justru dikuasai oleh ilmu-ilmu sosial. Jika Anda ingin menjadi pengusaha sukses, Anda kuliah seharusnya tidak di ITB, tapi di jurusan manajemen perusahaan. Seluruh jurusan ekonomi dan manajemen, adanya di IPS, dan bukan di IPA atau ITB.

Penyair yang berjasa dalam mengenalkan sekian penyair lagi, adalah kiyai Linus Suryadi AG, yang menyusun buku Tonggak 1 hingga empat, terbitan Gramedia. Lewat buku ini, kami berkenalan dengan penyair lawas para pendahulu, hingga penyair termuda kala itu: Nirwan Dewanto. Ketika kami tingkat dua, dan mulai menguasai Himpunan Mahasiswa sebagai pengurus inti, Wan Anwar jadi Ketua Hima dan saya jadi Pemimpin Redaksi Majalah Parantesis yang terbit setahun sekali, kami mengagendakan untuk mewawancarai Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, dan Afrizal Malna.

Tiga hari di Jakarta, lebih karena terseok-seok mencari alamat dan menemui calon para narasumber itu. Kami bertemu Afrizal Malna di Teater Arena TIM, dan sehabis pertunjukan teater dari mas Budi Otong, aku menenteng Walkman, siap mewawancari Afrizal Malna. Nah, apa yang terjadi.

Pertanyaan pertama tentang kondisi pendidikan sastra di Indonesia, dijawab dengan telak oleh Afrizal Malna. “Bung ke sampah itu pertanyaan. Tak berguna pendidian sastra!”

Jleb, langsung ciut nyali untuk meneruskan wawancara, dan dalam pada itu, saya memang Pemred, tapi belum berpengalaman mewawancarai orang. Saya diam… menunggu reaksi Afrizal Malna yang berkepala sudah plontos itu.

“Eh, kamu bicara kesusastraan kontemporer d**g, dari masa ke masa,” katanya.

Suatu harapan bahwa Afrizal mau bicara lagi. Tapia pa daya, saya pelanga-pelengo dengan kesusastraan kontemporer itu. Duh Ma, tingkat dua kala itu, hanya bisa pelenga-pelengo.

Relasi dengan Afrizal Malna tidak berlanjut, meninggalkan kesan bahwa kami orang kampong yang tidak tahu apa-apa.

Siang hari, kami sampai di kantor Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ya, kami akan melakukan wawancara dengan SDD. Nah, lain ladang lain belalang, lain kepala lain p**a rambutnya. Sapardi selalu rapi rambutnya, sedang Afrizal tak punya rambut, jadi terasa tak punya ras-rasan kala itu.

Sapardi menjawabi pertanyaan kami dengan sabar, dan kami mendapatkan tandatangan Beliau pada buku Mata Pisau dan buku Dukamu Abadi, dua antologi puisi beliau yang kami beli sebelumnya di perpustakaan UI. Dua buku itu, sangat sulit dicari di tempat lain. Nah, dengan punya dua buku itulah, kami selalu teriak-teriak di gedung Pentagon lantai III, di kawasan Ledeng yang berkabut, melawan sunyi dengan meneriakkan puisi.

Saya melihat Pak Sapardi itu seperti sapi. Matanya teduh, senyumnya renyah, dan tidak seladak-seluduk. Kami pun mengundangnya untuk menjadi pemateri di kampus kami, IKIP Bandung. Beliau setuju, dan siap hadir.

Yang lucu, kami selalu aktivis kampus, kadang bangun masih dengan kurang awas. Calon peserta sudah pada kumpul di depan Gedung Olahraga yang berada di samping PKM. Kami masih ngurus yang lain. Panitia yang bertugas di gedung, memang bukan para senior. Urusan peralatan dan perlengkapan memang jatah junior. Ada yang mengkondisikan rumah untuk menyambut tamu agung. Sekian mahasiswa kami kerahkan dari kelas, memindahkan kuliah dari kelas ke Gedung Olahraga. Entah kenapa, kala itu, sekian dosen seperti baik dan nurut kepada kami.

Beberapa kali kami pindahkan perkuliahan dari kelas ke dalam seminar. Acara akan dibuka pukul 08.00, dan pagi itu, mahasiswa yang kami kerahkan dari kelas, sudah pada berkumpul di gedung tempat seminar. Kala itu, kisaran 07.30-an. Lalu datanglah lelaki tinggi berbadan jenjang mengenakan pet, dan bertanya ke para mahasiswa yang sudah berkerumun di depan gedung. Di manakah tempat acara seminar pendidikan sastra, yang kala itu judulnya cukup mentereng dan meneror: Perkara Kemunduran Pengajaran Sastra Indonesia.

Yang ditanya malah balik nanya. Bapak calon peserta?

Padahal yang ditanya itu Pak Sapardi, yang akan menjadi pembicara utama.

Sebuah Obituari

Oleh Doddi Ahmad Fauji
Ketua Umum Partey Penulis Puisi
Dekan Fakultas Sastra Maya
Sekolah Teladan Kewajaran Bersikap

14/07/2020

Dalam 5 tahun ke depan, prediksi ini akan makin terbukti. Daur ulang sampah, akan jadi mata pencaharian primadona, dan daur ulang gagasan, akan jadi sumber inspirasi dalam berkesenian.

Address

Bandung
40233

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sekolah Kewajaran Bersikap posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sekolah Kewajaran Bersikap:

Shortcuts

Share

Category