10/08/2026
Nano Suratno, atau lebih dikenal dengan nama populernya adalah Nano S. Lahir di Tarogong, Garut-Jawa Barat pada 4 April 1944, Wafat di Bandung pada 29 September 2010. Ia adalah seorang maestro, komponis, dan musisi pop serta karawitan Sunda asal Tarogong, Garut, Jawa Barat. Ia terkenal karena memadukan musik tradisional Sunda (seperti degung) dengan unsur musik modern, serta menciptakan lagu legendaris berjudul "Kalangkang".
Sejak umur 5 tahun Nano sudah dibawa pindah ke Bandung oleh orangtuanya. Kedua orang-tuanya, Iyan S dan Nyi Nonoh termasuk keluarga pecinta seni, walaupun sehari-harinya sebagai wiraswasta. Di lingkungan keluarga, sejak kecil Nano dianggap memiliki kemampuan menyanyi yang diwarisi dari kakek dan buyutnya yang juga dalang wayang golek. Ketika masih di bangku SD, Ia sering diminta memperlihatkan kemahirannya dalam pertemuan keluarga.
Karena minatnya yang besar kepada musik karawitan dan dorongan kakaknya, setelah lulus SMP, Ia melanjutkan ke Konservatori Karawitan di Bandung pada tahun 1961. Setelah tamat, Ia mengajar di SMPN 1 Bandung pada tahun 1965-1970, kemudian pindah ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) (1970-1995) di mana Ia menjabat sebagai Ketua Jurusan Karawitan dan Wakil Kepala SMKI.
Beberapa tahun kemudian, Ia kuliah di Akademi Seni Tari Bandung dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Jurusan Karawitan Sunda, sampai selesai.
Sejak 1995 sampai pensiun (2000), Nano menjadi Kepala Taman Budaya Provinsi Jawa Barat .
Ia menghabiskan hidupnya di Bandung, tepatnya Gang H Ahmad, Jalan Muhammad Toha.
Nano memiliki istri bernama Dheniarsah dan dikaruniai 3 orang anak. Salah satu putrinya bernama Nantia Rena Dewi Munggaran.
Dalam meniti karirnya, Nano mulai menciptakan lagu sejak tahun 1963 sampai akhir hayatnya dengan kumpulan hampir duaratus album. Tahun 1964, Ia bergabung dengan kelompok Ganda Mekar pimpinan Mang Koko, tetapi beberapa tahun kemudian ia mendirikan kelompok sendiri yang diberi nama Gentra Madya (1972). Banyak menciptakan lagu karawitan Sunda, di awal masih memperlihatkan pengaruh gurunya, Mang Koko, tetapi kemudian mulai memperlihatkan karakternya sendiri.
Pada 1976, Ia menyusun buku kawih untuk bahan pelajaran di sekolah menengah dengan judul “Haleuang Tandang”.
Dalam pergelaran yang disebut prakpilingkung (keprak,kacapi,suling,angklung), Nano mempunyai komposisi Sunda dan Belanda sekaligus mengkritik berbagai ketidakberesan dalam masyarakat. Ia juga mentertawakan diri sendiri karena sering terjebak dalam situasi yang lucu.
Pada tahun 1979, Nano mengikuti Festival Komponis Muda Indonesia I yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dan membawakan komposisinya Sang Kuriang. Selanjutnya, Nano menggelar pertunjukan karawitan Gending Sangkuriang di Festival Komponis Muda yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki.
Selain itu, Nano membuat komposisi Umbul-Umbul yang ditayangkan pada televisi nasional dengan membawa 75 orang dan memainkan 15 ragam komposisi musik Sunda.
Selain bermusik, Nano juga dikenal sebagai penulis sajak dan cerita pendek berbahasa Sunda. Karyanya pernah di muat dalam majalah Mangle, Hanjuang, Cupumanik, Seni Budaya, Koran Sunda dan lainnya. Cerita pendeknya dikumpulkan dengan judul Nu Baralik Manggung (Yang pulang sehabis pertunjukan).
Pada 31 Maret 2006, Nano pernah menjadi salah satu Dewan Redaksi Harian Koran Sunda hingga penerbitan terakhir 29 September 2007.
Segudang prestasi Nano dapatkan sepanjang hidupnya. Pada tahun 1980, salah satu karyanya berjudul Karawitan Gending Sangkuriang disertakan di Festival Musik Internasional di Taiwan. Ini adalah prestasi luar biasa bagi Nano dalam membawa seni karawitan Sunda di kancah internasional.
Pada 1981 hingga 1982, Nano mendapat beasiswa dari The Japan Foundation untuk belajar selama setahun di Tokyo National University of Fine Arts and Music, Universitas Kesenian Tokyo, untuk mempelajari perbandingan tangga nada Sunda dan Jepang, terutama antara alam musik Kecapi dan Koto. Selain itu, Ia juga belajar meniup Sakuhachi dan memetik Shamisen, yang kemudian membuat kolaborasi alat-alat itu pada ciptaannya dan membuat beberapa lagu karawitan Sunda yang berbahasa Jepang, diantaranya Katakana Hiragana Uta, Ueno Koen dan D'enshano Uta.
Pada 1988, Ia diminta oleh kelompok kesenian Jepang Min on impresario, untuk mengadakan pertunjukan kesenian Sunda di berbagai kota seluruh Jepang selama 40 hari dengan 22 kali pertunjukan. Selain itu, Nano juga berkunjung ke Hongkong, Philipina, Belanda, Australia, Amerika Serikat, dan sebagainya untuk mengadakan pertunjukan.
Pada 1990, Ia diundang oleh departemen musik Universitas Santa Cruz untuk mengajar dan membuat pergelaran dalam Spring Performance.
Pada Oktober 1999, di Jepang, Ia memainkan lagu ciptaannya yang berjudul “Hiroshima“, yang dibuat khusus untuk memenuhi permintaan Wali Kota Hiroshima yang mengenalnya sebagai pencipta lagu.
Popularitasnya semakin menanjak setelah album-album rekaman kasetnya banyak diminati oleh masyarakat, diantaranya Kalangkang (Bayangan, 1989), lewat suara Nining Meida yang sekaligus mengorbitkan nama penyanyi itu, Kalangkang dalam versi pop Sunda yang dipopulerkan Detty Kurnia meraih penghargaan BASF Award (1989), dan setahun kemudian meraih penghargaan HDX Award yang terjual 2 juta kopi.
Tiga tahun kemudian Cinta Ketok Magic (1992), melalui suara penyanyi dangdut Evie Tamala meledak di pasaran sehingga mendapat HDX Award tingkat Nasional.
Meskipun lagu-lagu ciptaannya berjenis karawitan, tetapi dengan cepat memperoleh penggemar di seluruh Indonesia, bukan hanya dari kalangan orang Sunda saja, apalagi setelah lagu-lagu itu dijadikan pop Sunda.
Selain itu, Ia juga membuat lagu untuk Gending Karesmen bersama Wahyu Wibisana, Rahmatullah Ading Affandie, dan lainnya. Gending Karesmen ciptaannya antara lain Deugdeug Pati Jaya Perang, Raja Kecit, 1 Syawal di Alam Kubur, Perang, dan sebagainya.
Nano S meninggal dunia di RS Immanuel, Kota Bandung, pada 29 September 2010 akibat sakit yang memicu pembuluh darahnya pecah.