17/07/2017
STOCKHOLM SYNDROME : SI MASOKIS DALAM RELASI KUASA
Opini oleh Claudia Destianira
Pernah merasa terjebak dalam suatu keadaan tidak menyenangkan, atau bahkan merugikan, dan merasa buntu, tidak dapat ‘lari’ ke mana-mana karena merasa tidak punya pilihan lain? Anak dan perempuan yang teraniaya, kekerasan dalam hubungan keluarga hingga romansa, tawanan perang, hingga relasi intimidatif: korban menyadari bahwa keadaan tersebut adalah suatu hal buruk, namun menerimanya sebagai realitas hidup dan memilih bertahan. Fenomena ini disebut Stockholm Syndrome.
Aneh? Tidak masuk akal? Dalam standpointsosial tentu aneh dan tidak masuk akal. Namun, bagi standpoint psikologi, hal ini masuk akal! Lebih parah lagi, sindrom ini dapat ditemui dimana-mana dan akrab dengan kehidupan sehari-hari, di mana kita cenderung menaruh atensi hingga afeksi berlebih atas sesuatu yang belum tentu baik atau bahkan buruk untuk kita, yang berujung pada tendensi menyalahkan kondisi. Analisis deduktif melalui pendekatan psikososial dapat digunakan dalam menganalisis fenomena stockholm syndrome.
Baca selengkapnya di laman http://www.dipanpers.com/2017/06/27/stockholm-syndrome-si-masokis-dalam-relasi-kuasa/
DIPAN PERS,
Media Alternatif dan Progresif
Look to the stars Let hope burn in your eyes And we’ll love And we’ll hate And we’ll die All to no avail (Muse, Stockholm Syndrome) Pernah mer…