Jangkar Muda

Jangkar Muda komunitas kepemudaan

26/02/2026

Sambora, Mempawah (Kalbar), detikborneo com – Polemik dugaan penghilangan simbol dan salam adat Dayak di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) memicu kemarahan tokoh adat. Video yang viral di akun TikTok memperlihatkan tulisan Salam Dayak “Adil Ka Talino, Bacuramin Ka Saruga, Basengat Ka Jubata” yang sebelumnya terpampang di taman area IKN kini telah hilang dan diganti dengan tulisan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Pergantian tersebut menuai protes keras dari sejumlah tokoh Dayak. Mereka menilai penghilangan salam adat itu sebagai bentuk pengabaian terhadap identitas dan kearifan lokal masyarakat Dayak sebagai pemilik tanah adat di wilayah pembangunan IKN.

Tak hanya soal simbol, kekecewaan juga muncul terkait janji pembangunan kawasan Dayak Center seluas 10 hektare yang sebelumnya disebut akan difasilitasi pihak otorita IKN pada masa kepemimpinan Joko Widodo. Hingga kini, janji tersebut dinilai belum terealisasi.

Selain itu, sorotan juga mengarah pada perlakuan terhadap Dr. Andersius Namsi yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN). Ia disebut sempat diminta bergabung sebagai Tenaga Ahli Bidang Sosial Budaya dengan Surat Keputusan No 11 Tahun 2023 yang berlambang burung Garuda yang ditanda tanggani oleh Achmad Jaka Santos Adiwijaya Selaku Sekrearis Otorita IKN, namun selama lebih dari satu tahun disebut tidak menerima gaji maupun kejelasan hak-haknya.

Agustinus atau yang akrab disapa Pangalongok Jilah (Bang PJ), saat ditemui di kediamannya di Desa Sambora, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, menyampaikan kekecewaan mendalam.

“Kalian dulu saat hendak membangun IKN di tanah Dayak membujuk kami dengan janji. Katanya di semua perkantoran akan ada logo dan simbol Dayak, Salam Dayak terpampang di pintu-pintu utama, serta dibangun Dayak Center. Sekarang tulisan Salam Dayak yang sudah ada sejak era Presiden Jokowi justru dibuang dan diganti. Jangan sampai habis manis sepah dibuang. Ini tanah Dayak, janji itu wajib dipenuhi,” tegasnya.

Bang PJ menilai, penghormatan terhadap budaya lokal bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk pengakuan atas sejarah dan hak masyarakat adat. Ia mendesak pihak otorita IKN untuk memberikan klarifikasi resmi sekaligus menepati komitmen yang pernah disampaikan kepada para tokoh adat Dayak.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak otorita Ibu Kota Nusantara belum memberikan keterangan resmi terkait polemik tersebut. (Bajare007)

26/02/2026

Babi dilarang dikonsumsi dalam agama Islam. Bahkan, menyentuhnya saja termasuk najis besar. Meski begitu, sejarah mencatat bahwa ribuan tahun lalu, babi bukan hewan asing di Timur Tengah. Bagaimana mulanya hingga babi kini dilarang di Tanah Arab?

Tim peneliti dari Kiel University, Jerman, dalam riset "Insights Into Early Pig Domestication Provided by Ancient DNA Analysis" (2017) menyebut, justru di sanalah, tepatnya di kawasan Mesopotamia, babi pertama kali dijinakkan atau domestikasi pada 8.500 Sebelum Masehi (SM). Baru setelah itu babi-babi dibawa ke Eropa untuk dikembangbiakkan.

Akibat pertama kali dijinakkan di Timur Tengah, babi juga menjadi bahan makanan. Catatan arkeologi dari tahun 5.000-2.000 SM mengungkap masyarakat Timur Tengah memelihara babi sebagai sumber makanan.

Mereka merawat babi selama berbulan-bulan sebelum akhirnya dipotong untuk dijadikan sumber protein utama yang lezat dan bergizi. Posisi babi sebagai sumber makanan menyaingi popularitas hewan ternak lain. Namun, kebiasaan mengonsumsi babi berubah sekitar tahun 1.000 SM. Sejak saat itu, pemeliharaan dan konsumsi babi terus menurun drastis.

Setidaknya ada dua pendapat berbeda soal peralihan konsumsi masyarakat Jazirah Arab dari babi ke hewan ternak lain.

1. Ancaman Ekologi

Pendapat ini diutarakan Antropolog Marvin Harris dalam Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir (2019) yang mengaitkan babi terhadap keutuhan ekosistem alami dan budaya Timur Tengah.

Menurutnya, babi adalah hewan yang banyak menyita sumber daya dibanding manusia dan hewan ternak lain. Seekor babi membutuhkan 6.000 liter air untuk berkembangbiak. Angka ini baru satu ekor babi. Jika dalam 1 peternakan ada 100 babi, maka semuanya membutuhkan 600.000 liter air.

Kita tahu di Timur Tengah mayoritas wilayahnya adalah gurun yang kering kerontang. Tentu, ratusan ribu liter air tersebut akan lebih bermanfaat jika digunakan manusia untuk menjalani kehidupan. Alhasil, masyarakat Arab lebih mengalihkan air untuk kehidupan sendiri dibanding buat kebutuhan peternakan babi.

"Babi mungkin enak, tetapi memberi makan binatang itu dan menjaganya tetap sejuk akan terlalu banyak menyita sumber daya," ungkap Marvin Harris.

Selain itu, babi juga pemilih dalam makanan. Dia tak bisa memakan rumput. Untuk mengejar bobot berat, babi harus diberi makan kacang-kacangan, buah-buahan, hingga gandum. Masalahnya, seluruh makanan tersebut juga dikonsumsi manusia. Praktis, manusia di Arab lebih memilih mengalihkan kacang hingga gandum untuk konsumsi pribadi dibanding memberinya buat babi.

Atas alasan ini Marvin Harris mengaitkan pelarangan babi disebabkan oleh alasan ekologi

2. Kemunculan Ayam

Pendapat ini diutarakan Sejarawan Richard W. Redding dalam "The Pig and the Chicken in the Middle East" (2015). Richard tak mengamini pendapat Harris sepenuhnya, tetapi dia membenarkan bahwa babi adalah hewan yang membutuhkan cukup banyak air untuk bertahan hidup.

Kebutuhan besar ini menjadi halangan terhadap budaya hidup berpindah-pindah alias nomaden masyarakat Arab. Saat berpindah tempat, babi tak cocok untuk ikut berpergian karena butuh banyak air untuk bertahan hidup. Dia harus hidup di tempat yang terlalu kering dan dialiri air dengan mudah. Masalahnya masyarakat terkadang tak pergi ke tempat seperti itu.

Bagi Richard, menghilangnya babi dari meja makan orang Arab bukan semata-mata faktor ekologi, melainkan berkat kemunculan ayam.

Mayoritas rumah tangga Arab menilai ayam punya perawatan lebih mudah. Ayam hanya butuh 3.500 liter air untuk bisa dapat 1 Kg daging. Lalu, ayam juga dianggap sebagai sumber protein ideal. Ukurannya yang kecil membuatnya bisa langsung disantap sampai habis.

Tentu, berbeda dengan babi yang memiliki sisa dan cenderung dibuang sebab saat itu tak ada sistem pengawetan makanan. Belum lagi, ayam juga menghasilkan produk sekunder, yakni telur. Telur ini juga menjadi salah satu sumber protein rumah tangga.

Atas dasar ini, dengan pilihan menghidupi ayam atau babi, manusia praktis memilih ayam sebagai hewan ternak.

"Dalam keadaan seperti ini, ayam jadi sumber protein utama. [...] Hal ini membuat babi menjadi tidak diperlukan lagi," tulis Richard.

Sejak saat itu, babi perlahan tak jadi hewan ternak. Konsumsi hewan bertubuh gempal itu di kalangan penduduk Arab juga menurun. Meskipun tak 100% hilang sebab masih ada warga Timur Tengah menjadikan babi bahan makanan.


24/02/2026
12/09/2025

Ceria

Hut RI 17 agustus 2025
12/09/2025

Hut RI 17 agustus 2025

Address

Jln. Soreang Banjaran
Bandung
40238

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jangkar Muda posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share