ISLAM MURNI

ISLAM MURNI ISLAM YANG MURNI ADALAH ISLAM YANG DIBAWA OLEH NABI DAN PARA SAHABATNYA. KAMI MENERIMA JASA UMRAH DAN HAJI SESUAI SUNNAH.

JAGO NAHWU SHARAF, PEMAHAMAN DAN PENGAMALAN MENYIMPANG Sebagian ulama, menjadikan surah An Nas ayat 1-3 untuk membagi ta...
07/09/2026

JAGO NAHWU SHARAF, PEMAHAMAN DAN PENGAMALAN MENYIMPANG

Sebagian ulama, menjadikan surah An Nas ayat 1-3 untuk membagi tauhid menjadi dua (rububiyah dan uluhiyah) dan ada juga yang membagi menjadi tiga (uluhiyah, rububiyah dan asma wa sifat).

Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. إِلَهِ النَّاسِ

Katakanlah, Aku berlidung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,

"هذه ثلاث صفات من صفات الرب عز وجل : الربوبية ، والملك ، والإلهية ؛ فهو رب كل شيء ومليكه وإلهه ، فجميع الأشياء مخلوقة له ، مملوكة عبيد له ، فأمر المستعيذ أن يتعوذ بالمتصف بهذه الصفات"

Ketiga ayat yang pertama merupakan sebagian dari sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala yaitu sifat RUBUBIYAH, sifat Al-Mulk (Raja), dan sifat ULUHIYYAH. Dia adalah Rabb segala sesuatu, Yang memilikinya dan Ilah (Yang disembah) oleh semuanya. Maka segala sesuatu adalah makhluk yang diciptakan-Nya dan milik-Nya serta menjadi hamba-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Disebutkan dalam muqaddimah kitab
Munāqasyah Da'wa Bid'iyyah Taqsim At Tauhid,

"وفي سورة الناس: {قُل أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ} [الناس: 1] توحيد الربوبية، وقوله: {إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ} [الناس: 3] توحيد الألوهية"

Dan di dalam Surah An-Nas: {Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhannya manusia'} [An-Nas: 1] merupakan Tauhid RUBUBIYYAH, dan firman-Nya: {Sesembahan manusia} [An-Nas: 3] merupakan Tauhid ULUHIYYAH.

Berkata Asy-Syinqithi rahimahullah :

دل استقراء القرآن العظيم على أن توحيد الله ينقسم إلى ثلاثة أقسام: الأول: توحيده في ربوبيته... الثاني: توحيده جل وعلا في عبوديته... النوع الثالث: توحيده جل وعلا في أسمائه وصفاته."

Berdasarkan penelitian dan penelaahan (istiqra') terhadap Al-Qur'an Al-'Azhim, terbukti bahwa tauhid kepada Allah terbagi menjadi tiga bagian: Pertama, mentauhidkan-Nya dalam hal RUBUBIYAH. Kedua, mentauhidkan-Nya 'Azza wa Jalla dalam hal ULUHIYAH. Ketiga, mentauhidkan-Nya 'Azza wa Jalla dalam hal NAMA-NAMA dan SIFAT-SIFAT-NYA. (Al-Mausu‘ah Al-‘Aqidah – situs Ad-Durar As-Saniyyah).

Di dialog bang Wafi dan ustadz Thoyib, bang Wafi bertanya masalah nahwu sharafnya surah an nas ayat 1-3, seakan-akan hanya golongannya yang lebih paham nahwu sharaf. Apalagi dengan merendahkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah, yang mungkin dikira tidak tahu dan tidak paham nahwu dan sharaf.

Begitulah prilaku orang rendahan. Merendahkan orang lain supaya dirinya yang rendah dan hina bisa terangkat. Padahal rendah tetaplah rendah dan namanya pun akhirnya tenggelam sebagaimana orang-orang yang memusuhi dakwah Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan ulama ahlussunnah lainnya.

Sebenarnya hal ini pernah terjadi juga di zaman Imam Malik rahimahullah, yang direndahkan oleh ahlul nahwu, bahwa bacaan kitabnya Imam Malik rahimahullah keliru.

حضر رجل من الأشراف عليه ثوب حرير قال: فتكلم مالك بكلام لحن فيه قال: فقال: الشريف: ما كان لأبوي هذا درهمان ينفقان عليه ويعلمانه النحو قال: فسمع مالك كلام الشريف فقال: لأن تعرف ما يحل لك لبسه مما يحرم عليك خير لك من ضرب عبد الله زيدا وضرب زيد عبد الله.

"Seorang dari kalangan terpandang dan berpakaian dari sutera, melewati majelis Imam Malik -rahimahullah-, lalu ia dapati sang imam melakukan kesalahan dalam tata bahasa Arab, maka ia pun berkata: “Kenapa kedua orang tuanya tidak mengeluarkan dua dirham saja supaya ia belajar nahwu?”

Berkata Imam Malik rahimahullah,

لان تعرف ما يحل لك لبسه مما يحرم عليك خير لك من ضرب عبدالله زيدا، وضرب زيد عبدالله.

“Engkau tahu mana baju yang halal dan mana yang haram kau pakai, itu lebih baik bagimu daripada membedakan antara “Abdullah memukul Zaid” dan “Zaid memukul Abdullah." Sumbernya: https://ketabonline.com/ar/books/102677/read?part=1&page=85&index=4270183

Abdul Wafi dan semisalnya karena modal nahwu sharafnya dan menyibukkan diri dengan memperdalam-dalamnya mengantarkan diri mereka menjadi orang yang sombong. Akan tetapi pemahaman dan amalannya keliru.

Contoh soal, tentang Allah Ta'ala di atas langit beristiwa di atas Arasy, Allah Ta’ala turun ke langit bumi, wajah Allah dan dari sifat-sifat Allah lainnya, pemahaman mereka menyimpang. Begitu p**a pengamalan sunnah membiarkan jenggot, justru mereka mencukur jenggotnya sampai klimis, celana atau kainnya isbal (di bawah mata kaki), shalat lima waktu di rumah, bukan berjamaah di masjid bagi laki-laki dewasa dan lain sebagainya dari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Berkata Qasim bin Mukhaymirah rahimahullah,

تعلم النحو أوله شغل وآخره بغي

"Belajar Nahwu itu, awalnya adalah kesibukan dan akhirannya adalah kesombongan."

Berkata Malik bin Dinar rahimahullah

تلقى الرجل وما يلحن حرفا وعمله لحن كله

“Engkau jumpai ada orang yang satu huruf pun ia tidak keliru dalam berbahasa, namun amalannya keliru seluruhnya!”

Berkata Ibrahim Bin Adham rahimahullah,

أعربنا في الكلام فما نُلحن، ولحنا في الأعمال فما نُعْرِب

"Kami sangat teliti dalam berbicara dan kami tidak pernah keliru, tapi kami salah dalam beramal (tidak beramal) serta tidak mengintrospeksi diri."

Sebagian orang yang zuhud berkata

لم نؤت من جهل ولكننا
نستر وجه العلم بالجهل
نكره أن نلحن في قولنا
ولا نبالي اللحن في الفعل

“Bukan kebodohan yang mendatangi kami,
Tetapi kamilah yang menyelubungi wajah ilmu dengan kebodohan,
Kami benci keliru dalam berucap,
Tetapi kami tidak memperdulikan kekeliruan dalam beramal. Sumber: https://ketabonline.com/ar/books/102677/read?part=1&page=85&index=4270183 atau https://al-maktaba.org/book/31616/62207

AFM

Copas dari berbagai sumber

07/09/2026

Jika anda ahli tempe, jangan berbicara soal tahu. Jika anda ahli bahasa jangan bicara soal atom.

Barang siapa bicara di luar kapasitasnya akan nampak kenyelenehannya.

𝗖𝗘𝗣𝗔𝗧𝗟𝗔𝗛 𝗞𝗔𝗟𝗜𝗔𝗡 𝗕𝗘𝗥𝗧𝗔𝗨𝗕𝗔𝗧 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗠𝗘𝗡𝗨𝗗𝗨𝗛 𝗦𝗬𝗔𝗜𝗞𝗛 𝗔𝗟-𝗔𝗟𝗕𝗔𝗡𝗜 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗞𝗔𝗙𝗜𝗥𝗞𝗔𝗡 𝗜𝗠𝗔𝗠 𝗔𝗟-𝗕𝗨𝗞𝗛𝗔𝗥𝗜Lihatlah perkataan Syaikh Al-Albani:...
07/09/2026

𝗖𝗘𝗣𝗔𝗧𝗟𝗔𝗛 𝗞𝗔𝗟𝗜𝗔𝗡 𝗕𝗘𝗥𝗧𝗔𝗨𝗕𝗔𝗧 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗠𝗘𝗡𝗨𝗗𝗨𝗛 𝗦𝗬𝗔𝗜𝗞𝗛 𝗔𝗟-𝗔𝗟𝗕𝗔𝗡𝗜 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗞𝗔𝗙𝗜𝗥𝗞𝗔𝗡 𝗜𝗠𝗔𝗠 𝗔𝗟-𝗕𝗨𝗞𝗛𝗔𝗥𝗜

Lihatlah perkataan Syaikh Al-Albani:

وَهُوَ إِمَامٌ فِي الْحَدِيثِ وَفِي الصِّفَاتِ، وَهُوَ سَلَفِيُّ الْعَقِيدَةِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ

"Beliau (Imam al-Bukhari) adalah seorang 𝗶𝗺𝗮𝗺 dalam bidang hadits dan dalam masalah 𝘀𝗶𝗳𝗮𝘁-𝘀𝗶𝗳𝗮𝘁 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗹𝗶𝗮𝘂 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗺𝗮𝗻𝗵𝗮𝗷 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗳 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗮𝗾𝗶𝗱𝗮𝗵𝗻𝘆𝗮, Segala puji bagi Allah.”

📘(( Fataawa Al-Albani, hlm 523))

Kok bisanya ada yang mengatakan Syaikh Al-Albani mengkafirkan Imam al-Bukhari?? Ngga paham sok sok berbicara.

INGATLAH adzab 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗱𝘂𝗵 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝘂𝗸𝗺𝗶𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮𝗻𝘆𝗮 !!

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

"Barangsiapa menuduh seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak ada padanya, maka Allah akan 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗶 𝗹𝘂𝗺𝗽𝘂𝗿 𝗻𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗻𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸 𝗻𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮 sampai ia mengeluarkan apa yang pernah dia katakan (dengan bertaubat dan meminta maaf)."

📘 (HR. Abu Dawud nomor : 3597)

*Makna radghah al-khabaal :

والأقرب أن يراد بالخبال العصارة، والردغة الطين الحاصل باختلاط العصارة بالتراب.

"Pendapat yang paling mendekati ialah yang dimaksud dengan 'Khabal' cairan yang keluar dari penduduk neraka [berupa nanah maupun darah penghuni neraka]. Sedangkan Radghah ialah lumpur yang berasal dari tercampurnya cairan penduduk neraka tadi dengan tanah." ('Aunul Ma'bud, X/5).

ADA HADITS-HADITS PALSU DI DALAM SHAHIH AL-BUKHARI?!
(​Pembelaan Syaikh Al-Albani terhadap Shahih Al-Bukhari, Rahimahumallah)

Dibalik gencarnya propaganda segelintir aswaja dengan memotong -secara licik- ucapan Al-Albani demi membuat narasi keji untuk memprovokasi kemarahan massa muqallidnya:

"Al-Albani pernah mengeluarkan fatwa yang isinya secara tidak langsung telah mengkafirkan Imam al-Bukhari",
-selesai kutipan-

maka inilah realita nyata bahwa Al-Albani yang mereka tuduh mengkafirkan Imam Bukhari tersebut justru berdiri tegak menjadi benteng pembela dari serangan musuh-musuh sunnah terhadap kitab Shahih Al-Bukhari.

✅ Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah:

​Sekarang kita kembali kepada apa yang Anda sebutkan dalam pertanyaan tadi, yaitu klaim sebagian orang bahwa di dalam Shahih Al-Bukhari terdapat hadits-hadits maudhu' (palsu).

​Sebenarnya, masalah ini membutuhkan ketelitian yang sangat mendalam. Mari kita bertanya: Apakah yang dimaksud dengan hadits maudhu' dalam ilmu hadits?

​Hadits maudhu' dalam ilmu hadits adalah: hadits yang diriwayatkan oleh seorang pendusta atau pemalsu hadits (wadhdha'). Ini jika ditinjau dari sisi sanad (rantai periwayatan). Sedangkan jika ditinjau dari sisi matan (teks hadits): ia adalah sesuatu yang bertentangan dengan nash (dalil pasti) dalam Kitabullah (Al-Qur'an) atau hadits Rasulullah ﷺ.

​Secara pribadi, saya tidak berpendapat bahwa ada hadits maudhu' di dalam Shahih Al-Bukhari dengan pengertian (sanad) ini.

​Akan tetapi, hal ini bukan berarti—dan di sini saya harap Anda benar-benar memperhatikan perkataan saya dengan baik, agar kita tidak terjerumus ke dalam sikap berlebih-lebihan (ifrath) ataupun meremehkan (tafrith)—sebagaimana firman Allah:

​﴿وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا﴾

"Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian umat yang pertengahan (adil dan pilihan)." (QS. Al-Baqarah: 143)

📢​Saya tidak berpendapat bahwa di dalam Shahih Al-Bukhari terdapat hadits maudhu', baik secara umum maupun khusus berdasarkan definisi ilmu hadits (yaitu adanya perawi pendusta atau pemalsu). Ini mustahil dan tidak ada. Sebab, Imam Al-Bukhari adalah seorang imam yang sangat langka kepakarannya dalam hal pengetahuan tentang para perawi dan kritik terhadap sanad.

📢​Demikian p**a, saya tidak berpendapat bahwa di dalamnya terdapat hadits maudhu' dengan pengertian yang kedua, yaitu dari sisi matan.

​Namun, hal ini tidak berarti bahwa Shahih Al-Bukhari adalah sinw (صِنْو) bagi Al-Qur'an. Pengertian sinw adalah: sesuatu yang sebanding atau sama persis dengannya. Al-Qur'an Al-Karim adalah wahyu dari Allah yang diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ.

​Adapun Shahih Al-Bukhari, ia pada dasarnya adalah karya manusia. Karya seorang ulama yang lurus, salah satu ulama besar kaum Muslimin, dan imam besar ahli hadits. Akan tetapi, beliau bukanlah orang yang ma'shum (terjaga dari kesalahan). Sangat mungkin terjadi kesalahan padanya. Saya ulangi, sangat mungkin terjadi kesalahan padanya. Terlebih lagi, naskah-naskah kuno yang meriwayatkan Shahih Al-Bukhari memiliki sedikit perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat dilihat pada beberapa cetakan Utsmaniyah Turki versi lama, di mana pada bagian catatan pinggirnya disebutkan perbedaan antara satu naskah dengan naskah lainnya.

​Namun, saya ingin menyampaikan hal yang lebih dari itu. Bisa saja Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari seorang sahabat, namun terjadi kekeliruan dari salah seorang perawinya yang terletak pada matan (redaksi/teks) hadits tersebut. Kekeliruan pada matannya ini tidak lantas membuat keseluruhan hadits itu menjadi maudhu' (palsu). Asal matan hadits tersebut tetaplah shahih.

​Saya akan memberikan sebuah contoh dari jenis ini; sebuah hadits yang panjang dalam Shahih Al-Bukhari.

​Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ meriwayatkan dari Rabb kita ﷻ bahwa Dia menciptakan Surga beserta para penghuninya, dan menciptakan Neraka Jahannam beserta para penghuninya. Ketika para penghuni Surga memasukinya, ternyata masih tersisa ruang yang sangat luas. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang shahih:

​فَأَمَّا الْجَنَّةُ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا، وَإِنَّهُ يُنْشِئُ لِلنَّارِ مَنْ يَشَاءُ... (وفي الرواية الصحيحة: يُنْشِئُ لِلْجَنَّةِ خَلْقًا آخَرَ)

"Maka Allah menciptakan makhluk lain untuknya (Surga), lalu Dia menempatkan mereka di dalamnya dengan karunia dan rahmat-Nya."

​Akan tetapi, dalam salah satu jalur riwayat di Shahih Al-Bukhari, terdapat lafaz yang terbalik. Sebagai ganti kata "Surga" (Al-Jannah), yang tertulis adalah "Neraka" (An-Naar/Jahannam). Ini jelas sebuah kesalahan riwayat.¹

⚠️​Para ulama pensyarah (pemberi penjelasan) hadits telah memperingatkan tentang hal ini. Di garis depan adalah Amirul Mukminin di bidang hadits, yaitu Al-Hafizh Ahmad bin Hajar Al-'Asqalani (Ibnu Hajar), yang menegaskan bahwa lafaz tersebut adalah wahm (kekeliruan) dari sebagian perawi.

​Oleh karena itu, saya tidak terlalu berani (gegabah) untuk mengatakan secara mutlak: "Segala sesuatu yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari adalah pasti shahih." Sebab, pernyataan sapu jagat semacam ini seolah mencakup jaminan kesahihan hingga pada setiap lafaz atau hurufnya. Ini tentu tidak benar. Pernyataan mutlak seperti ini tidak sah diterapkan kecuali hanya pada Al-Qur'an Al-Karim, yang Allah ﷻ sifatkan dengan hak:

​﴿لَّا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ﴾

"Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur'an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji." (QS. Fussilat: 42)

​Meski demikian, adanya sedikit kesalahan atau kekeliruan pada sebagian matan dalam Shahih Al-Bukhari sama sekali tidak membenarkan seorang Muslim untuk membuka pintu keraguan terhadap keabsahan Shahih Al-Bukhari secara keseluruhan. Justru sebaliknyalah yang benar.

​Saya berikan perumpamaan untuk hal ini. Bayangkan seorang saudagar kaya memiliki ribuan koin dinar emas murni. Bisa saja, di antara ribuan koin dinar itu terselip satu keping dinar yang palsu atau cacat. Apakah lantas ia akan membuang dan menolak seluruh hartanya tersebut?

"Ah, barangkali semuanya palsu!"
Tentu tidak. Melakukan hal itu adalah sebuah kebodohan yang nyata terhadap nilai dinar-dinar emas tersebut, padahal itu sekadar urusan materi.

​__
(1) Keterangan Takhrij Hadits (pen.):
Hadits yang disinggung Syaikh Al-Albani adalah riwayat tentang perdebatan Surga dan Neraka. Dalam Shahih Al-Bukhari (Kitab At-Tauhid, No. 7384), terdapat kekeliruan redaksi dari perawi yang berbunyi:

فَأَمَّا النَّارُ فَيُنْشِئُ اللَّهُ لَهَا خَلْقًا

"Adapun Neraka, maka Allah menciptakan makhluk baru untuknya..."

Padahal redaksi yang benar dan sesuai dengan keadilan Allah—sebagaimana riwayat-riwayat shahih lainnya dalam Bukhari dan Muslim—adalah:

وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَيُنْشِئُ اللَّهُ لَهَا خَلْقًا

"Adapun Surga, maka Allah menciptakan makhluk baru untuknya..."
https://sunnah.com/bukhari:7384

Maka, bagaimana mungkin kita berlaku demikian terhadap hadits-hadits Rasulullah ﷺ, padahal Al-Qur'an Al-Karim tidak mungkin bisa dipahami dan ditafsirkan kecuali melaluinya?

​Jika kita memahami prinsip ini dengan baik, maka konsekuensinya adalah: tidak boleh bagi sembarang orang—betapapun beragamnya latar belakang keilmuan mereka—untuk mengkritik atau menghukumi hadits, kecuali orang tersebut memang Ahli Ilmu dalam bidang hadits, baik secara Riwayah (sanad) maupun Dirayah (pemahaman matan). Merekalah orang-orang yang memiliki kapasitas untuk menemukan atau mengoreksi kekeliruan dalam riwayat Al-Bukhari, seperti contoh yang baru saja saya sebutkan.

​Penemuan kekeliruan kecil semacam itu tidaklah mengurangi apalagi merendahkan kedudukan Imam Al-Bukhari sebagai seorang imam yang sangat kritis dan selektif. Sebagaimana disebutkan oleh para ahli sejarah yang menulis biografi beliau: Kitab ini, yang berisi sekitar enam ribu hadits (tanpa pengulangan), beliau seleksi secara ketat dari sekitar ratusan ribu hadits shahih yang dihafalnya. Imam inilah yang memilih dan menyaring hadits-hadits tersebut untuk dimasukkan ke dalam kitabnya yang mulia, Al-Jami' Al-Musnad Ash-Shahih.

​Maka, tidak diragukan lagi bahwa seluruh imam kaum Muslimin—yang saya maksud tentu saja adalah para imam Ahlus Sunnah, bukan Ahlul Bid'ah seperti Syiah Rafidhah dan semisalnya—telah bersepakat secara ijma' bahwa:

☀️👈​Kitab yang paling shahih di muka bumi setelah Kitabullah ﷻ hanyalah Shahih Al-Bukhari.

​Apabila kelak ditemukan di dalamnya sedikit kekeliruan, maka ketahuilah bahwa itu merupakan bagian dari tabiat kemanusiaan (yang tidak luput dari sifat lupa/salah).
​سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

(Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu).
​Penanya: Semoga Allah senantiasa memberkahi Anda, wahai guru kami.

Syaikh: Dan semoga Allah memberkahi kalian semua.

Url artikel:
https://al-fatawa.com/fatwa/26224/دفاع-الشيخ-الالباني-عن-صحيح-البخاري-الالباني

Catatan:
Pembahasan Syaikh Al-Albani rahimahullah terkait kekeliruan/keterbalikan matan bisa didengarkan pada link berikut:

https://www.al-albany.com/audios/content/12390/بيان-أن-حديث-quot-وأما-الجنة-فينشئ-الله-لها-خلقا-يسكنهم-إياها-quotانقلب-على-بعض-الرواة-فقال-quot-وأما-النار-quot-وكذالك-حديث-السبعة-الذين-يظلهم-الله-تحت-ظله-انقلب-على-بعض-الرواة-فقال-quot-ورجل-تصدق-بشماله-حتى-لا-تعلم-يمينه-ما-أنفقت-شماله-quot

🚦🔥BENARKAH AL-ALBANI MENGKAFIRKAN IMAM BUKHARI???

Polemik:

كل شيء هالك إلا وجهه اى إلا ملكه

"Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah," (al-Qashash: 88)

(maksud illa wajhah, adalah illa mulkahu (kecuali kerajaan-Nya)

___
BERDALIL AYAT DAN HADITS NABI ﷺ, AL-BUKHARI MENETAPKAN SIFAT WAJAH BAGI ALLAH TANPA TAKWIL

https://islamicurdubooks.com/hadith/hadith-.php?bookid=1&hadith_number=7406

Teks yang dipermasalahkan:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ: إِلَّا مُلْكَهُ

✅Tetapi di tempat lain dalam kitab yang sama:

Dalam Ṣhaḥiḥ al-Bukhari, Kitab at-Tauḥid, Imam Al-Bukhari membuat bab:

بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ}

“Bab: Firman Allah Ta‘ala: ‘Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya.’”

Kemudian langsung di bawahnya beliau meriwayatkan hadits Jabir:

قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: أَعُوذُ بِوَجْهِكَ

“Nabi ﷺ bersabda: Aku berlindung dengan Wajah-Mu.”

Hadits ini diulang dalam konteks ayat tersebut: ketika disebutkan azab dari atas dan dari bawah, Nabi ﷺ menjawab: أعوذ بوجهك

Bukan:
takwil ayat ⬅️ إلا ملكه

Artinya, sang penulis yang sama (Al-Bukhari) menggunakan ayat tersebut sebagai judul dalam Kitab Tauhid dan langsung mengiringinya dengan hadits yang menyebut “Wajah-Mu” (bukan kerajaan-Nya)

✅ Bukti Teks Utuh Pernyataan Syaikh al-Albani Rahimahullah (Dari Sumber Resmi) Sebelum Dipotong Dan Diviralkan [teks yang disebarkan kami tandai dengan kalimat yang diapit gambar 2 gunting ✂️teks✂️] Dengan Narasi:

"Al-Albani pernah mengeluarkan fatwa yang isinya secara tidak langsung telah mengkafirkan Imam al-Bukhari", -selesai kutipan-

هل صحيح أن الإمام البخاري وقع في التأويل في تفسير قوله تعالى

السائل : زاد الله من فضلك يا شيخ لي تقريبا عدة أسئلة ولكن قبل أن أبدأ أقول أنا بالأمس قد ذكرت مسألة أو غفلت عن ذكر هذه المسألة وهي عندما قلت أن الإمام البخاري ترجم في صحيحه عن معنى قوله تعالى: (( كل شيء هالك إلا وجهه )) قال: إلا ملكه صراحة أنا نقلت هذا الكلام عن كتاب اسمه دراسة تحليلة عن لعقيدة ابن حجر كتبه أحمد عصام الكاتب وكنت معتقدا أن هذا الرجل إن شاء الله نقله صحيح ولا زلت أقول يمكن أن يكون نقله صحيحا و لكن أريد أن أقرأ عليه كلامه في هذا الكتاب فهو يقول: " .. قد تقدم ترجمة البخاري لسورة القصص (( كل شيء هالك وجهه )) إلا ملكه , ويقال إلا ما أريد به وجه الله وقوله إلا ملكه قال: الحافظ في رواية النسفي وقال معمر فذكره ومعمر هذا هو أبو عبيدة بن المثنى وهذا كلامه في كتابه مجاز القرآن لكن بلفظ إلا هو ... " فأنا طبعا رجعت إلى الفتح نفسه فلم أجد ترجمة للبخاري بهذا الشيء و رجعت إلى صحيح البخاري دون الفتح أيضا لم أجد هذا الكلام للإمام البخاري ، ولكنه هنا كأنه يشير إلى أن هذا الشيء موجود برواية النسفي عن الإمام البخاري فما أعرف جوابكم ؟

الشيخ : جوابي قدم سلفا !

السائل : أمس .

الشيخ : آه.

السائل : أنا طبعا أردت أن أبين هذا مخافة أن أقع في كلام على الإمام البخاري ... .

الشيخ : جزاك الله خيرا أنت سمعت مني الشك في أن يقول البخاري هذه الكلمة لأنه إيش ( ويبقى وجه ربك ذي الجلال والإكرام ) أي ملكه يا أخي ✂️هذا ما يقوله مسلم ومؤمن✂️ وقلت أيضا إن كان هذا موجود فقد يكون في بعض النسخ فإذا الجواب قدم سلفا وأنت جزاك الله خيرا الآن بهذ الكلام الذي ذكرته أن ليس في البخاري مثل هذا التأويل الذي هو عين التعطيل تفضل .

سائل آخر : شيخنا على هذه كأنه موجود في الفتح نحوا من هذه العبارة ، وأنا أذكر أني مرة راجعت هذه العبارة في استدلال أحدهم فكأني وجدت مثل نوع هذا الاستدلال يعني موجود وهو في بعض النسخ لكن أنا قلت له: لا يوجد إلا الله وإلا مخلوقات الله عز وجل ما فيه غير هيك فإذا كان كل شيء هالك إلا وجهه أي إلا ملكه إذا ما هو الشيء الهالك ؟!

الشيخ : هذا يا أخي ما يحتاج إلى تدليل يعني على بطلانه لكن المهم أننا ننزه الإمام البخاري أن يؤول هذه الآية وهو إمام في الحديث وفي الصفات وهو سلفي العقيدة والحمد لله. غيره .

Url bukti ||
https://www.al-albany.com/audios/content/11781/هل-صحيح-أن-الإمام-البخاري-وقع-في-التأويل-في-تفسير-قوله-تعالى-كل-شيء-هالك-إلا-وجهه-ففسر-الوجه-بالملك

⛓THE MISSING LINK: MEMBEDAH FITNAH KEJI, MELETAKKAN KEMBALI PERNYATAAN AL-ALBANI (Anotasi No. 2⃣) PADA KONTEKS ASLI PASCA DIKEBIRI DEMI NARASI PROVOKASI "AL-ALBANI KAFIRKAN IMAM BUKHARI"

Sekian jilid karya-karya Al-Albani yang didedikasikan untuk berkhidmat dalam memuliakan karya-karya Imam Al-Bukhari¹.

Namun pada akhirnya pembencinya hanya mampu menghadapi beliau dengan cara-cara licik penuh tipu daya dan kebohongan, mencampakkan hiasan rasa malu dan memilih berbuat lacur lagi khianat dengan memotong ucapan beliau secara brutal dan keji. Maka biarlah ucapan utuh Al-Albani sebagai saksi betapa jahat dan kotornya mereka ini.

Judul:
Apakah benar bahwa Imam Al-Bukhari terjatuh dalam takwil ketika menafsirkan firman Allah Ta‘ala: “Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya”, lalu beliau menafsirkan “wajah” dengan “kerajaan/kekuasaan-Nya”?

🎙(Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

💿​Penanya:
Semoga Allah menambahkan karunia-Nya kepadamu, wahai Syaikh. Saya memiliki beberapa pertanyaan. Namun sebelum memulainya, saya ingin menyampaikan: kemarin saya telah menyebutkan suatu persoalan—atau mungkin saya terlewat menyebutkannya—ketika saya mengatakan bahwa Imam Al-Bukhari membuat bab dalam Shahih-nya mengenai makna firman Allah Ta‘ala:

​«كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ» قال إلا ملكه

“Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya.”
Beliau mengatakan: “kecuali kerajaan/kekuasaan-Nya.”

​Terus terang, saya menukil perkataan ini dari sebuah kitab berjudul Dirāsah Taḥlīliyyah ‘an ‘Aqīdah Ibn Ḥajar (Kajian Analitis tentang Akidah Ibnu Hajar), yang ditulis oleh Ahmad ‘Iṣām Al-Kātib. Saya berbaik sangka bahwa penulis ini—insya Allah—menukilnya dengan benar. Dan saya masih beranggapan, bisa jadi penukilannya memang benar. Akan tetapi, saya ingin membacakan kepada Anda perkataan beliau dalam kitab ini.

​Ia mengatakan:

"Telah disebutkan sebelumnya judul bab Al-Bukhari untuk Surah Al-Qashash: ‘Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya, (yaitu) kecuali kerajaan/kekuasaan-Nya.’
Dan dikatakan (p**a): ‘kecuali apa yang dimaksud dengannya Wajah Allah.’

🅾Adapun perkataannya, ‘kecuali kerajaan-Nya’, Al-Hafizh (Ibnu Hajar) berkata:

في رواية النسفي وقال معمر فذكره ومعمر هذا هو أبو عبيدة ابن المثنى وهذا كلامه في كتابه مجاز القرآن لكن بلفظ إلا هو ... "

‘Dalam riwayat An-Nasafi: dan Ma‘mar berkata, lalu ia menyebutkannya. Dan Ma‘mar ini adalah Abu ‘Ubaidah Ibnul-Mutsanna. Ini adalah perkataannya dalam kitabnya Majāz Al-Qur’ān, tetapi dengan lafaz ‘kecuali Dia’...’"

​Jadi, tentu saja saya langsung merujuk kepada Fathul Bari, tetapi saya tidak menemukan judul bab Al-Bukhari mengenai hal ini. Saya juga merujuk kembali kepada Shahih Al-Bukhari (tanpa Fathul Bari sekalipun), dan saya tetap tidak menemukan perkataan ini dari Imam Al-Bukhari. Akan tetapi, di sini penulis seakan-akan mengisyaratkan bahwa hal ini terdapat dalam riwayat An-Nasafi dari Imam Al-Bukhari. Lantas, bagaimana jawaban Anda mengenai hal ini?

📀Syaikh:
Jawabanku sudah diberikan sebelumnya!

💿​Penanya:
Kemarin.

📀​Syaikh:
Ah (Iya).

💿​Penanya:
Saya tentu ingin memperjelas hal ini karena khawatir saya terjatuh dalam perkataan yang tidak semestinya terhadap Imam Al-Bukhari...

📀​Syaikh:
Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.

1⃣ Engkau telah mendengar keraguanku mengenai kemungkinan Al-Bukhari mengucapkan perkataan ini, karena:

«وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ»

“Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27).

Apakah (masuk akal jika ditafsirkan menjadi) “kerajaan/kekuasaan-Nya” (yang kekal, pen.), wahai Saudaraku?

2⃣🔥 Ini bukanlah perkataan yang (pantas) diucapkan oleh seorang muslim dan mukmin.

3⃣ Dan aku juga telah katakan: seandainya hal ini memang ada, maka bisa jadi hanya terdapat dalam sebagian naskah.

4⃣ Jadi, jawabannya telah diberikan sebelumnya. Dan engkau—semoga Allah membalasmu dengan kebaikan—sekarang melalui perkataan yang engkau sebutkan ini, telah menjelaskan bahwa Al-Bukhari terbebas dari takwil semacam ini, yang pada hakikatnya adalah ta‘thil (penolakan sifat Allah).
Silakan.

https://t.me/Ulama_Perang_Sabil_Aceh/318

💿​Penanya lain:
Sepertinya hal itu memang terdapat dalam Al-Fath, kurang lebih dengan ungkapan seperti ini. Saya ingat suatu kali saya pernah meneliti ungkapan ini dalam argumentasi salah seorang dari mereka, dan sepertinya saya menemukan bentuk argumentasi semacam ini. Maksud saya, hal itu memang ada dan terdapat dalam sebagian naskah.

5⃣ Namun saya katakan kepadanya: “Tidak ada (apa pun) selain Allah dan makhluk-makhluk Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada yang lain dari itu.

Jika firman Allah:

كل شيء هالك إلا وجهه أي إلا ملكه

‘Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya’ berarti ‘kecuali kerajaan-Nya’,

lalu apa yang dimaksud dengan sesuatu yang akan binasa itu?!”

📀​Syaikh:
Hal ini, wahai Saudaraku, tidak butuh pembuktian lagi untuk menjelaskan kebatilannya.

6⃣ Namun yang terpenting adalah kita membersihkan Imam Al-Bukhari dari anggapan bahwa beliau menakwil ayat ini. Beliau adalah seorang imam dalam bidang hadits dan dalam masalah sifat-sifat Allah, dan beliau—alhamdulillah—berakidah Salafi, sebagaimana para imam selain beliau.

Sumber:
https://www.al-albany.com/audios/content/11781/هل-صحيح-أن-الإمام-البخاري-وقع-في-التأويل-في-تفسير-قوله-تعالى-كل-شيء-هالك-إلا-وجهه-ففسر-الوجه-بالملك

___
🔖 Catatan kaki (pen.)

(1) Bukti khidmat pemuliaan Al-Albani yang tinggi terhadap karya-karya Al-Bukhari, rahimahumallah:

•Mukhtashar Shahih Al-Bukhari (4 Jilid)
Karya ini merupakan ringkasan dari Shahih Al-Bukhari yang membuang pengulangan sanad dan matan untuk memudahkan pembaca. Syaikh Al-Albani tidak hanya meringkas, tetapi juga memberikan ta'liq (catatan kaki ilmiah) yang sangat berharga terkait variasi naskah (seperti naskah Al-Firabri vs An-Nasafi), penjelasan lafaz asing (gharib), dan faedah fikih dari penamaan bab oleh Imam Bukhari.

•​Shahih Al-Adab Al-Mufrad (1 Jilid)
Karya ini memuat hadits-hadits dari kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari yang telah melewati proses takhrij dan seleksi ketat oleh Syaikh Al-Albani, dan dinilai memenuhi syarat keabsahan (shahih atau hasan).

•​Dha'if Al-Adab Al-Mufrad (1 Jilid)
Kitab ini merupakan pendamping kitab di atas. Syaikh Al-Albani mengumpulkan hadits-hadits dan riwayat dalam Al-Adab Al-Mufrad yang menurut penelitian beliau memiliki kelemahan pada sanadnya (dha'if atau maudhu'), lengkap dengan alasan pelemahannya secara ilmu Rijalul Hadits.

Lalu masih ada orang yang berakal sehat yang mau saja diberi makan narasi Al-Albani Mengkafirkan Imam Bukhari?!

https://t.me/bantahansyubhat
https://t.me/Ulama_Perang_Sabil_Aceh
FP Hadis Shahih

07/09/2026

Kita mengambil pelajaran, apakah mereka berubah setelah mendengar hujjah ketika berdialog??
Yg ada makin parah, dan fans2 nya pun makin brutal menyerang.
Salah satu contoh dulu debat ustadz firanda dan Ustadz idrus ramli .

Ustadz idrus ramli bukannya malu malah makin menjadi2 nyerang salafy, padahal pas debat, beliau mengakui tahlilan itu bidah .

Tp video yg banyak beredar, malah potongan video ust firanda keluar ruangan dan diframing sekan kabur dr debat .

Makanya buang2 waktu aja, kita sampaikan saja dibalik layar,,, gak perlu sok2 an berani debat. Ingat debat itu hukum asalnya terlarang kecuali ada maslahat.

07/09/2026

Di akhir zaman...
Semakin sedikit orang yang mau jujur...

نسأل الله السلامة

07/09/2026

Ustadz itu pendidik. Bila seorang ustadz berkata di depan khalayak, "Saya ini ustadz loh ya! Jangan sembarangan!" maka itu pendidik yang mendidik manusia jadi sombong seperti dirinya. Kalau dia bilang, "Saya ini ulama loh ya! Jangan macam-macam!" maka ini orang kampungan ngaku-ngaku jadi ulama.

Ingat...
Syaikh² & ulama² sering menyebut dirinya penuntut ilmu. Jangan ngaku-ngaku ulama, malu!

07/09/2026

Kalau Ustaz Adi Hidayat sekadar kata Syeikh Al-Albani bukan muhaddith, sebaliknya hanya pengkaji hadith, penafian itu tidak tepat tetapi bolehlah diterima jika dibaca dalam konteks membandingkan dengan para muhaddith zaman silam.

Cuma kalau Al-Albani dinafikan sebagai muhaddith sedangkan Habib Umar p**a diangkat sebagai ahli hadith, ini menggambarkan pengetahuan dan pengalaman yang cetek tentang peranan serta sumbangan kedua-dua Al-Albani dan Habib Umar dalam bidang keilmuan hadith.

Tetapi kalau diambil perkataan Syeikh Muqbil kononnya untuk membuktikan Syeikh Al-Albani sekadar pengkaji hadith dan bukannya ahli Hadith (muhaddith), satu perkataan sahaja untuk menggambarkan sikap ini... idiot.

Itulah, kalau sedikit bercakap, ada banyak kemungkinan antara tafsiran kontroversi, penilaian yang kurang segar, kesilapan, mahupun kebodohan...

Tetapi bila banyak bercakap, bimbang akan terserlah sudut kebodohan sehingga ternafi kemungkinan yang lain.

✍️ Salman Ali حفظه الله تعالى

07/09/2026

Ustadz Adi Hidayat bawa-bawa nama Syaikh Muqbil Rahimahullah untuk membela dirinya bahwa Syaikh Albani adalah Bahitsul Hadits bukan Muhaddits !! Tapi kok hanya dibaca tulisan Syaikh muqbil soal bahits tapi gak dibawakan juga perkataan syaikh Muqbil tentang pernyataan beliau tentang Syaikh Albani sebagai Muhaddits Abad ini...Jelas dalam banyak pernyataan syaikh Muqbil memuji syaikh Albani bahkan dengan jelas syaikh Muqbil rahimahullah menyatakan bahwa syaikh Albani adalah MUHADDITS ABAD INI !! sayang sekali UAH hanya mencukupkan pada bahits demi tetap membenarkan klaimnya.

06/09/2026

Setelah statement kontroversial viral, muncullah klarifikasi ngeles, Sudah kebiasaan. Jadi ga kaget 😁😅

Simak Dengan Baik
06/09/2026

Simak Dengan Baik

Sahabat Fillah, pernahkah kita merasa bingung dan khawatir ketika m...

Address

Bandung
40623

Telephone

+6281324151330

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ISLAM MURNI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to ISLAM MURNI:

Shortcuts

Share