Ya Gitu Deh

Ya Gitu Deh Konten Seputar:
✅ Hiburan
✅ Berita
✅ Motivasi
✅ Tips dan Trick
✅ Resep
✅ Kesehatan

Dari no 1 sampe 12 mana yang kalian pilih?
01/07/2026

Dari no 1 sampe 12 mana yang kalian pilih?

Kami mengajak masyarakat membantu mencari Taufik Hidayat, terduga pelaku penganiayaan berat terhadap YTT. Selama bertahu...
22/06/2026

Kami mengajak masyarakat membantu mencari Taufik Hidayat, terduga pelaku penganiayaan berat terhadap YTT.

Selama bertahun-tahun, korban diduga mengalami penyiksaan hingga menderita luka permanen dan kehilangan penglihatannya.

Saat ini pelaku diduga melarikan diri setelah meninggalkan korban dalam kondisi kritis.

Kami berharap siapa pun yang mengetahui keberadaan yang bersangkutan segera melaporkannya kepada pihak kepolisian atau aparat berwenang terdekat.

Mari bersama mengawal kasus ini hingga tuntas. Sebarkan informasi ini seluas-luasnya agar pelaku dapat segera ditemukan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.




Sc detik

🥴🥴
22/06/2026

🥴🥴

20/06/2026

Oo.. Karena ini toh rupanya
Ya Gitu Deh 🤷‍♂️

😱😱😱Ngeriii... Ketika keserakahan dan hasutan setan sudah tidak tertahankan.. Sebongkah tanah seluas 90 meter persegi di ...
20/06/2026

😱😱😱Ngeriii... Ketika keserakahan dan hasutan setan sudah tidak tertahankan..

Sebongkah tanah seluas 90 meter persegi di Desa Pasinggangan, Banyumas, seharusnya menjadi ruang perlindungan yang aman bagi sebuah keluarga. Namun, ilusi kepemilikan dan keserakahan mengubah dinding bata tersebut menjadi altar pengorbanan sedarah. Ini adalah catatan kelam tentang bagaimana ego material mampu membusukkan ikatan persaudaraan hingga ke akar-akarnya.

BENIH KESERAKAHAN DI KARANGGANDUL (PRA-2014)

Konflik ini berpusat di Grumbul Karanggandul, melibatkan sebidang tanah dan rumah utama milik Ibu Misem dan mendiang suaminya. Di rumah itu, Ibu Misem tinggal bersama tiga anak laki-lakinya Supratno, Sugiono, dan Heri Setyawan serta satu cucu perempuannya, Vivin (putri Supratno).

Gesekan bermula dari Saminah, anak kedua Ibu Misem, yang tinggal di rumah berdampingan dengan rumah utama. Meski sudah pisah rumah, Saminah memiliki tendensi dominan untuk menguasai aset keluarga secara sepihak. Ia kerap mengambil uang simpanan, menjual hasil kebun tanpa izin, dan mengklaim bahwa ia memiliki hak penuh atas tanah peninggalan tersebut.

Tindakan semena-mena ini memicu perlawanan keras, terutama dari Sugiono dan Heri yang bertindak sebagai pelindung aset ibu mereka. Pertengkaran, caci maki, dan ancaman menjadi friksi harian yang tak terhindarkan, sementara Ibu Misem yang sepuh dan sakit-sakitan hanya bisa terdiam di tengah keluarga yang telah kehilangan kasih sayang.

MANIPULASI DAN RENCANA ALGOJO (AWAL OKTOBER 2014)

Menjelang Oktober 2014, pertengkaran mencapai titik didih. Saminah merasa terpojok dan menyadari bahwa selama ketiga saudara laki-lakinya masih hidup, ia tidak akan pernah bisa menguasai tanah tersebut.

Dalam rasa dendamnya, Saminah merancang sebuah manipulasi psikologis yang keji. Ia mencuci otak ketiga anak kandungnya: Irfan Firmansyah, Achmad Saputra (Putra), dan Sania Roulita. Dengan memutarbalikkan fakta dan air mata, Saminah menanamkan doktrin, "Kalau tidak kita yang membunuh, kita yang akan dibunuh." Narasi ini sukses menyulut emosi Irfan dan Putra yang saat itu berusia pertengahan 20-an, mengubah niat pembunuhan di kepala mereka menjadi dalih 'bela pati demi ibu'.

Persiapan dilakukan dengan sangat dingin. Saminah mengisolasi Ibu Misem dengan memindahkannya ke rumahnya berdalih perawatan, memastikan rumah utama kosong tanpa saksi. Irfan dan Putra kemudian menyiapkan senjata yang tidak memancing suara bising: sebatang p**a besi padat sepanjang 70 cm dan sebuah tabung gas elpiji 3 kg. Mereka memetakan jadwal kepulangan para korban untuk melakukan taktik penyergapan (ambush) satu per satu.

JAGAL DI BALIK PINTU (9 OKTOBER 2014)

Hari eksekusi tiba. Irfan dan Putra bersembunyi di dalam rumah utama yang kosong, menunggu paman-pamannya pulang.

Sekitar pukul 14.00 WIB, Sugiono menjadi korban pertama. Begitu ia keluar dari kamar mandi, Irfan menghantam kepalanya dari belakang menggunakan p**a besi dengan sekuat tenaga. Saat Sugiono tersungkur, Putra memastikannya tewas dengan hantaman tabung gas 3 kg. Jenazahnya diseret ke dalam kamar, dan lantai segera dipel.

Dua jam kemudian, pukul 16.00 WIB, Supratno pulang dari bekerja. Begitu melangkah masuk, ia disergap dan dieksekusi dengan metode yang persis sama, lalu ditumpuk bersama Sugiono. Setengah jam berselang (16.30 WIB), Heri Setyawan pulang dan kembali meregang nyawa di tangan kedua keponakannya tersebut.

Mendekati petang (17.30 WIB), kepulangan Vivin Dwi Loveana menjadi malapetaka. Mahasiswi ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan sengketa warisan. Namun, demi menghilangkan saksi mata yang pasti akan mencari ayah dan paman-pamannya, Irfan dan Putra memutuskan untuk ikut menghabisi nyawa sepupu mereka sendiri. Keempat jenazah kemudian diamankan di dalam kamar, menunggu malam tiba.

MENANAM DOSA DI BAWAH ILALANG (MALAM HARI & 2014-2019)

Malam harinya, Irfan dan Putra menggali tanah di kebun belakang secara terburu-buru. Lubang yang dihasilkan sangat sempit, hanya berukuran 1,5 x 1,2 meter dengan kedalaman kurang dari setengah meter. Untuk memasukkan keempat kerabatnya, mereka mengikat dan menekuk tubuh para korban, menumpuknya secara paksa, lalu menutupinya dengan tanah, sampah, dan daun kering untuk kamuflase.

Setelah pembunuhan, motif ekonomi sekunder dieksekusi. Sania Roulita bertugas menjual dua unit sepeda motor, laptop Vivin, dan telepon seluler korban. "Uang darah" belasan juta rupiah itu digunakan Saminah untuk melunasi utang pribadi, membeli televisi, dan foya-foya.

Untuk menutupi hilangnya empat anggota keluarga, Saminah merajut skenario kebohongan selama lima tahun (2014-2019). Ia menyebarkan narasi kepada warga dan Ibu Misem bahwa mereka semua pergi merantau dan memutus kontak karena muak dengan konflik. Lebih keji lagi, Saminah memfitnah Vivin kabur karena hamil di luar nikah untuk menghentikan pencarian warga.

Di sisi lain, Saminah melarang keras siapa pun pergi ke kebun belakang, membiarkan ilalang tumbuh setinggi leher. Ia dengan dingin menyaksikan siksaan psikologis Ibu Misem yang setiap menjelang Lebaran selalu membersihkan kamar dan memasak lebih banyak, berharap anak-anaknya pulang tanpa menyadari bahwa darah dagingnya tertumpuk hancur di balik ilalang halamannya sendiri.

CANGKULAN YANG MENYINGKAP TABIR (24 AGUSTUS 2019)

Lima tahun kebohongan sempurna itu akhirnya runtuh oleh inisiatif sederhana. Pada pagi 24 Agustus 2019, Ibu Misem yang risih melihat ilalang tinggi di belakang rumah, meminta tolong tetangganya, Rasminah, untuk membersihkan kebun.

Saat mencangkul untuk meratakan tanah, mata cangkul Rasminah membentur tengkorak manusia. Penemuan mengerikan itu langsung dilaporkan ke pihak kepolisian. Hari-hari berikutnya, Tim Forensik Polda Jateng melakukan ekskavasi dan mengangkat empat kerangka manusia dari lubang sempit tersebut.

Bukti lilitan tali, retakan presisi akibat hantaman benda tumpul pada tengkorak, serta sisa pakaian terakhir yang menempel pada tulang, membuat alibi keluarga Saminah hancur berkeping-keping. Interogasi yang mencecar keterangan berbelit mereka akhirnya berujung pada pengakuan dosa. Rahasia kelam setengah dekade itu resmi terbongkar.

KEADILAN DAN AKHIR SEBUAH PENANTIAN (MEI 2020 & EPILOG)

Proses hukum berjalan cepat. Pada persidangan virtual pertengahan Mei 2020 di Pengadilan Negeri Banyumas, Majelis Hakim membacakan vonis tegas. Hakim menilai tidak ada ruang pemaaf bagi ketiadaan belas kasihan, eksploitasi anak oleh ibu kandung, dan manipulasi kejam selama lima tahun.

Irfan Firmansyah dan Achmad Saputra (Putra) divonis penjara seumur hidup atas perannya sebagai eksekutor berdarah dingin. Saminah, sebagai otak utama kejahatan, dijatuhi hukuman maksimal 20 tahun penjara. Sementara Sania Roulita divonis 1 tahun 6 bulan penjara karena terbukti menjadi penadah barang hasil pembunuhan.

Epilog tragedi ini bermuara pada kepiluan Ibu Misem. Syok hebat mengetahui anak perempuannya membunuh saudara-saudaranya sendiri membuat kondisi kesehatannya menurun drastis. Setelah mendapatkan pendampingan psikologis panjang, Ibu Misem menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 2021, menyusul anak-anaknya yang telah tiada.

Kasus Pasinggangan ini berdiri sebagai monumen sunyi yang menyayat nurani. Pada akhirnya, sebidang tanah dan rumah yang dikejar Saminah mati-matian sama sekali tidak bisa ia nikmati. Hukum alam menempatkannya di ruang tahanan sempit, membuktikan bahwa ketika materi diletakkan di atas kemanusiaan, manusia tidak hanya kehilangan harta itu sendiri, tetapi kehilangan seluruh kewarasannya.

Ya Gitu Deh 🤷‍♂️
19/06/2026

Ya Gitu Deh 🤷‍♂️

😜
18/05/2026

😜

VIRAL ... Bayi Perempuan yang dibuang orangtuanya dalam kardus dan ditemukan warga di teras rumahRT 02/RW 06 - Kelurahan...
21/04/2026

VIRAL ... Bayi Perempuan yang dibuang orangtuanya dalam kardus dan ditemukan warga di teras rumah
RT 02/RW 06 -
Kelurahan Kebun Agung -
Kec. Kaliwates - Kab Jember

Ada surat yang berisi dentitas bayi yang diberi nama
Clara elleira
Serta permintaan untuk merawat bayinya, kelak jika sudah besar ibunya berjanji untuk mencarinya kembali

Akhir2 ini banyak berita membuang anak
kenapa yah
apa gak kasihan kah
gak habis pikir yah orang tuanya 🤦‍♂

Lah Ngapain pake nulis surat segala intinya orang tuanya tidak bertanggung jawab 😫😫

Terus pake bilang nnti ibunya mau cari kembali kalau anak itu sudah besar 🫤🫤🫤

🤷‍♂️




Address

Bandung
40287

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ya Gitu Deh posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share