Sentuhan Hati Nurani

Sentuhan Hati Nurani Cinta bukanlah tentang mencari seseorang yang sempurna, tapi tentang menerima kekurangan ....
r 19

Fanspage ini adalah tempat untuk berbagi inspirasi, motivasi, dan pemikiran positif tentang cinta. Kami percaya bahwa cinta adalah kekuatan yang mampu mengubah hidup seseorang dan membawa kebahagiaan sejati. Di sini, kami akan membahas berbagai topik seputar cinta, seperti cara mencintai diri sendiri dengan lebih baik, cara memperbaiki hubungan dengan pasangan, bagaimana mengatasi perasaan cemburu

, dan banyak lagi. Kami ingin menciptakan lingkungan yang positif dan mendukung bagi para pengunjung kami. Oleh karena itu, kami akan berusaha untuk menghadirkan konten yang inspiratif dan bermanfaat, serta memberikan dukungan dan motivasi bagi setiap pengunjung kami. Kami mengundang Anda untuk bergabung dengan komunitas kami di fanspage ini dan berbagi pengalaman serta pemikiran positif tentang cinta. Bersama-sama, kita bisa memperkuat cinta dalam hidup kita dan memberikan dampak positif pada lingkungan di sekitar kita.

bukan tentang aku atau kamu, tapi kita…
20/04/2026

bukan tentang aku atau kamu, tapi kita…

Bibit Cemburu Tumbuh…  Wulan semalaman gak bisa tidur….. Selengkapnya….Foto Deni sama Bu Mira muter terus di kepala. Pad...
19/04/2026

Bibit Cemburu Tumbuh… Wulan semalaman gak bisa tidur….. Selengkapnya….
Foto Deni sama Bu Mira muter terus di kepala. Padahal ini rencana mereka berdua. Padahal dia sendiri sekarang lagi PDKT sama Pak Arman. Tapi tetep aja, hatinya gak enak. Pagi-pagi dia diem, masak mie instan buat Deni tanpa ngomong. Deni ngerasa ada yang aneh, tapi pura-pura bego. Fokus ke misi.

Deni ketemu Bu Mira di butik. Nemenin belanja, dipuji-puji, dikasih hadiah jam tangan mahal. “Buat ganti kemeja kamu yang kena kopi kemarin,” kata Bu Mira. Deni nolak halus, tapi dalem hati seneng. Ini tanda target mulai masuk perangkap. Dia mainkan peran cowok polos tapi perhatian. Bu Mira yang udah lama gak dapet perhatian dari suami, langsung klepek-klepek.

Wulan juga gak kalah. Makan siang sama Pak Arman di restoran mahal. Wulan dandan simpel tapi elegan, ngomongnya pinter, ngalir. Pak Arman cerita soal capeknya nikah sama Bu Mira yang boros dan s**a ngatur. Wulan jadi pendengar yang baik, sesekali nyentuh tangan Pak Arman, “Bapak hebat banget udah kuat sejauh ini.” Pak Arman jadi ngerasa dimengerti.

Masalah muncul pas malem. Giliran laporan. Deni cerita dapet jam, Wulan cerita dapet transfer “uang bensin” 5 juta dari Pak Arman. Bukannya seneng, mereka malah jadi adu argumen. “Kamu kayaknya nikmatin banget ya diperhatiin Bu Mira?” sindir Wulan. Deni bales, “Lah kamu juga, senyum-senyum dapet duit dari laki orang.” Kontrakan kecil itu jadi panas.

Mereka diem-dieman. Rencana yang tadinya buat masa depan bareng, sekarang malah jadi bumerang. Sandiwara ini pelan-pelan ngikis kepercayaan mereka sendiri. Deni takut Wulan beneran jatuh cinta sama Pak Arman yang tajir dan mapan. Wulan takut Deni milih Bu Mira yang anggun dan gak banyak nuntut.

Di tengah perang dingin, HP Deni bunyi. Voice note dari Bu Mira, suaranya manja: “Den, besok bisa temenin aku ke D**o? Suamiku ke Singapura 3 hari.” Di waktu yang sama, Pak Arman nge-chat Wulan: “Hotel saya kosong besok malem, mau bahas bisnis sambil wine?”

Tawaran udah di depan mata. Mereka bakal lanjut sesuai rencana, atau berhenti karena cemburu?

Lanjutannya ada di update selanjutnya ya…

Deni sama Wulan itu pasangan udah nikah 3 tahun. Hidup pas-pasan, ngontrak di Bandung pinggiran. Tiap malem mereka ngobr...
19/04/2026

Deni sama Wulan itu pasangan udah nikah 3 tahun. Hidup pas-pasan, ngontrak di Bandung pinggiran. Tiap malem mereka ngobrolin mimpi yang sama: pengen kaya, pengen hidup enak, gak mau lagi ngitung receh buat makan. Dari obrolan iseng, lama-lama jadi rencana beneran. Mereka sadar, kalau kerja jujur, kayaknya 20 tahun lagi juga belum tentu kebeli rumah.

Akhirnya muncul ide gila. Mereka mau “main sandiwara”. Sasarannya pasangan tajir: Pak Arman sama Bu Mira, bos properti yang rumahnya kayak istana. Sering wara-wiri di mall, arisan, acara amal. Deni sama Wulan udah ngintilin medsosnya berbulan-bulan. Udah hafal jadwal, hobi, bahkan makanan kes**aan. Tinggal nunggu momen buat masuk ke hidup mereka.

Aturannya jelas: Deni sama Wulan harus pura-pura gak kenal. Ketemu di jalan pun harus cuek. Deni tugasnya deketin Bu Mira yang kesepian karena Pak Arman sibuk kerja. Wulan kebagian Pak Arman yang s**a cewek pinter ngomong. Mereka latihan akting tiap malem. Belajar gaya bicara orang kaya, belajar golf, belajar wine, padahal di rumah minumnya teh tubruk.

Hari pertama dimulai di mall Paris Van Java. Deni “gak sengaja” numpahin kopi ke gaun Bu Mira. Sori-sorian, ganti rugi, ngobrol. Bu Mira luluh karena Deni keliatan tulus dan sopan. Di sisi lain, Wulan “gak sengaja” kepentok Pak Arman di toko buku. Ngobrolin saham, ngobrolin bisnis. Pak Arman kaget, ada cewek muda cakep tapi nyambung diajak ngomong duit.

Malamnya, Deni sama Wulan ketemu di kontrakan. Laporan hasil hari pertama. Ketawa-tawa bareng, tapi juga deg-degan. “Ini baru mulai, Lan. Jangan sampe baper beneran ya,” kata Deni. Wulan ngangguk, tapi matanya nyimpen sesuatu. Rencana jalan, tapi perasaan manusia siapa yang tau.

Deni dapet WA dari Bu Mira: “Makasih ya buat hari ini. Besok bisa temenin saya milih kado buat suami?” Deni senyum licik. Di HP lain, Wulan juga dapet chat dari Pak Arman: “Besok sempet makan siang? Ada deal yang mau saya omongin.” Mereka saling pandang. Pion udah jalan.

Tapi pas mau tidur, Wulan gak sengaja buka galeri HP Deni. Ada foto selfie Deni sama Bu Mira di mobil, keliatan deket banget. Dada Wulan tiba-tiba panas. Ini kan cuma akting, tapi kenapa sakit? Cliffhanger: Apa Wulan bakal cemburu beneran dan ngerusak rencana mereka sendiri?

lanjutannya ada di update berikutnya ya…

Nilai diri yang menentukan keselamatan diri, hati nurani tidak pernah salah…
18/04/2026

Nilai diri yang menentukan keselamatan diri, hati nurani tidak pernah salah…

08/04/2026

Apa Jadinya Jika Rumah Kaca Kita Dilempari Batu Oleh Egomu dan Izin Keluargamu


tags:
sindiran untuk suami egois
kata2 untuk suami egois
curahan hati istri untuk suami egois
kata kata untuk suami egois dan keras kepala
kata kata islami untuk suami egois
kata bijak untuk suami egois
kata mutiara untuk suami egois
doa untuk suami egois
suami egois dan pemarah
kata bijak untuk suami yang egois
kata bijak islami untuk suami yang egois
caption untuk suami yang egois
cara untuk menghadapi suami yang egois
ceramah untuk suami yang egois
cara membuat suami egois kapok
cara mengatasi suami egois dan keras kepala
cara mengatasi suami egois mau menang sendiri
sindiran untuk suami egois dan keras kepala
kata kata untuk suami yang egois dan keras kepala
mengatasi suami egois dan pemarah
doa untuk melembutkan hati suami yang egois
wirid untuk meluluhkan hati suami yang keras dan egois
sindiran halus untuk suami yang egois
ego suami terhadap istri
jenuh menghadapi suami egois
quote untuk suami yang egois
kata kata kecewa untuk suami yang egois

07/04/2026

Mengapa Kapal Kita Tenggelam Saat Kamu Membiarkan Keluargamu Memegang Kemudi


tags:
kata kata untuk suami egois dan keras kepala, kata kata untuk menyadarkan suami egois, kata mutiara sindiran untuk suami egois, kata bijak istri untuk suami egois, kata bijak islami untuk suami yang egois, kata kata sindiran untuk suami egois, kata kata egois dalam rumah tangga, nasehat untuk suami yang egois, kata untuk suami yang egois.

kata kata suami tidak menghargai istri, ketika suami tidak menghargai istri, quotes suami tidak menghargai istri, ceramah suami tidak menghargai istri, suami tidak menghargai perasaan istri, cara menghadapi suami yang tidak bisa menghargai istri, kata sindiran buat suami yang tidak menghargai istri.

26/03/2026

Berhenti menunggu validasi. Mulai hargai dirimu sendiri dengan melangkah lebih tegak ditemani tas wanita elegan korean style favoritmu.

Ada luka yang tidak berdarah, tapi baunya busuk… seperti sesuatu yang mati perlahan di dalam dada.Malam itu, aku masih d...
26/03/2026

Ada luka yang tidak berdarah, tapi baunya busuk… seperti sesuatu yang mati perlahan di dalam dada.

Malam itu, aku masih duduk di kursi yang sama. Tempat di mana dulu kau bersimpuh, menggenggam tanganku, berjanji akan menjagaku seumur hidup. Hujan turun tipis, seperti sengaja menutupi suara retak yang mulai terdengar dari dalam diriku.

Kau selalu tahu bagaimana terlihat tulus. Tatapanmu lembut, caramu menyebut namaku seperti doa yang diulang-ulang. Aku mengira aku dipilih karena cinta. Karena hati. Karena takdir.

Ternyata, aku hanya angka yang menunggu untuk dihitung.

Awalnya kecil. Pertanyaan tentang aset keluarga. Candaan soal masa depan. Lalu berubah jadi perhatian yang terlalu rapi—terlalu tepat waktu, terlalu sempurna. Seperti seseorang yang sedang memainkan peran, bukan merasakan.

Sampai hari itu.

Aku berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, mendengar namaku disebut… bukan dengan cinta, tapi dengan hitungan.

“Kalau semua sudah balik nama, kita aman.”

Kalimat itu jatuh seperti palu, menghantam sesuatu yang selama ini aku lindungi mati-matian. Dadaku kosong. Bukan karena kehilangan, tapi karena semuanya tiba-tiba terasa palsu.

Aku ingin marah. Ingin berteriak. Tapi yang muncul justru tawa kecil—aneh, pahit, hampir tidak terdengar.

Bagaimana bisa aku, yang selalu merasa cukup, ternyata hanya alat yang dibungkus perasaan?

Di titik itu, egoku mulai bicara. Mungkin aku terlalu mudah percaya. Terlalu ingin dicintai. Atau mungkin… aku hanya tidak pernah benar-benar melihat siapa yang berdiri di depanku.

Kau tidak berubah.

Aku yang terlambat mengerti.

Dan di sanalah twist-nya terasa kejam—bukan kau yang menghancurkanku sepenuhnya. Aku ikut membangunnya. Aku yang menutup mata saat tanda-tanda itu berteriak.

Cinta itu seperti rumah yang kubangun dari kaca. Indah, transparan, memantulkan cahaya… tapi rapuh. Dan kau? Kau hanya menunggu waktu yang tepat untuk melempar batu pertama.

Lucunya, semua orang di luar terlihat tahu. Tatapan mereka, bisikan kecil yang dulu kuanggap iri. Sekarang terasa seperti potongan puzzle yang akhirnya menyatu.

Seolah aku satu-satunya yang tidak diundang dalam kebenaran itu.

Tapi sesuatu berubah malam ini.

Aku tidak lagi merasa hancur.

Aku merasa… kosong yang anehnya tenang.

Seperti laut setelah badai—masih menyimpan sisa amarah, tapi permukaannya mulai diam.

Aku berdiri, berjalan pelan ke arah cermin. Menatap seseorang yang dulu kuanggap lemah.

Sekarang, aku melihat seseorang yang akhirnya sadar.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak bertanya kenapa ini terjadi.

Aku bertanya… kenapa aku membiarkannya.

Langkah kakimu terdengar di belakangku. Pelan. Hati-hati. Seperti biasa—terukur.

Aku tersenyum tipis.

Karena kali ini, aku tidak akan menjadi peran dalam rencanamu lagi.

Tapi sebelum aku berbalik dan mengatakan semuanya…

aku ingin tahu satu hal—

sejak kapan sebenarnya kamu mulai berpura-pura mencintaiku?

Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini semua hanya perasaan berlebihan. Bahwa mungkin aku hanya terlalu sensitif, terlalu...
24/03/2026

Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini semua hanya perasaan berlebihan. Bahwa mungkin aku hanya terlalu sensitif, terlalu banyak berpikir tentang hal-hal kecil yang seharusnya tidak penting.

Bukankah hubungan memang akan berubah seiring waktu? Bukankah tidak semua hari harus penuh perhatian dan kehangatan?

Aku mengulang-ulang logika itu di kepalaku, mencoba menenangkan sesuatu yang sebenarnya sudah mulai retak dari dalam. Tapi semakin aku mencoba mengerti, semakin muncul pertanyaan yang tidak bisa aku jawab.

Kenapa sekarang terasa sepi, padahal dia masih ada di rumah yang sama? Kenapa aku merasa sendirian… padahal kami tidak pernah benar-benar berpisah?

Atau… mungkin selama ini aku memang sendirian, hanya saja baru sadar sekarang?

Kalau kamu di posisi dia… kamu bakal diam, atau mulai nanya?

Jawab di komentar, dan lanjutannya sudah aku sambung di posting berikutnya.

Dulu, dia selalu menoleh saat aku bangun. Tidak selalu dengan kata-kata besar, kadang hanya senyum kecil atau sapaan sed...
24/03/2026

Dulu, dia selalu menoleh saat aku bangun. Tidak selalu dengan kata-kata besar, kadang hanya senyum kecil atau sapaan sederhana yang bahkan sering aku anggap remeh. Hal-hal kecil yang ternyata…

diam-diam menyatukan semuanya. Tapi pagi itu, dia tidak menoleh sama sekali. Bahkan tidak ada usaha untuk sekadar memastikan aku ada di sana. Aku berdiri cukup dekat, cukup untuk terlihat, cukup untuk disadari… tapi seolah-olah aku transparan.

Aku mencoba berpikir positif, mungkin dia hanya fokus, mungkin pikirannya sedang penuh. Tapi semakin aku mencari alasan, semakin terasa jelas… ini bukan tentang pagi ini saja. Ini tentang sesuatu yang sudah berubah, pelan-pelan, tanpa suara, tanpa peringatan.

Dan yang paling menakutkan… aku tidak tahu kapan perubahan itu dimulai.

Menurut kamu… ini cuma perasaan dia aja, atau memang ada yang berubah ya..
Tulis pendapat kamu, lalu cek komentar… aku taruh lanjutannya di sana.

Pagi itu terlihat biasa saja, terlalu biasa malah.Cahaya matahari masuk pelan dari jendela dapur, hangat, seolah tidak a...
23/03/2026

Pagi itu terlihat biasa saja, terlalu biasa malah.

Cahaya matahari masuk pelan dari jendela dapur, hangat, seolah tidak ada yang pernah berubah dari hidup kami. Dia berdiri di sana, menuang kopi seperti ritual yang sudah dilakukan ratusan kali, dengan gerakan yang sama, tenang, tanpa terburu-buru. Aku memperhatikannya cukup lama, lebih lama dari biasanya, seolah sedang mencoba memastikan sesuatu yang bahkan aku sendiri belum mengerti.

Dulu, pemandangan seperti ini selalu membuatku merasa tenang. Tapi pagi itu… ada sesuatu yang terasa kosong, seperti ada bagian kecil dari kebahagiaan yang diam-diam hilang tanpa permisi. Dan anehnya, aku baru menyadarinya sekarang, di saat semuanya terlihat baik-baik saja.

Atau… mungkin sebenarnya semuanya sudah tidak baik-baik saja sejak lama?

Kalau kamu pernah ngerasa “semuanya terlihat normal… tapi hati bilang ada yang salah”, maka perlu gak yah aku lanjutin ceritanya... lihat komentar dulu deh, kalo lanjut aku sematkan di komen lanjutan ceritanya..

22/03/2026

Hanya karena aku telat bangun pagi...

Tag:
kata-kata sindiran halus untuk suami yang egois,
kata kata sindiran buat suami yang egois,
kata sindiran untuk suami yang egois,
kata kata sindiran buat orang egois,
kata sindiran halus untuk suami,
kata kata sindiran halus tapi menyakitkan untuk suami,
kata kata bijak untuk istri yang egois,
kata kata sindiran buat suami yang tidak peka,
kata2 sindiran buat suami yang kurang perhatian,
kata kata sindiran buat bos yang egois,
sindiran buat suami yang egois,
kata sindiran buat pacar yang egois,
kata kata sindiran buat cowok yg egois,
kata2 sindiran buat suami egois,
kata kata nyindir suami yang egois

Address

Bandung

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sentuhan Hati Nurani posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share