Sahabat Kisah

Sahabat Kisah Bukhari)

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kecelakaan, kemiskinan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun keduka-citaan bahkan tertusuk duri sekalipun, niscaya Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan apa yang menimpanya itu.” (HR.

Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok teladan dalam banyak aspek kehidupan, termasuk dalam hal rumah tangga. Selama hidupnya, bel...
14/01/2026

Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok teladan dalam banyak aspek kehidupan, termasuk dalam hal rumah tangga. Selama hidupnya, beliau memiliki sebelas istri, masing-masing dengan peran dan kontribusi yang signifikan dalam sejarah Islam. Artikel ini akan membahas tentang ke-11 istri Nabi Muhammad ﷺ, sifat-sifat mereka, dan bagaimana Nabi ﷺ memperlakukan mereka dengan cara yang mulia dan penuh kasih.

11 Istri Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam

1. Khadijah binti Khuwalid: Pilar Pertama Islam

Khadijah binti Khuwalid adalah istri pertama Nabi Muhammad ﷺ dan seorang pengusaha sukses di Makkah. Dia dikenal dengan julukan "Tahira," yang berarti suci, karena sifatnya yang mulia dan integritasnya yang tinggi. Khadijah adalah orang pertama yang memeluk Islam setelah menerima wahyu dari Allah, dan perannya sebagai pendukung setia Nabi sangat krusial dalam perjuangan dakwah awal.

“Sungguh, Allah Ta'ala telah memberikan kepada Khadijah, wanita yang sangat mulia, berbagai keutamaan, hingga ia menjadi contoh teladan bagi semua wanita Muslim.” (HR Bukhari dan Muslim)

2. Saudah binti Zam'ah: Perlindungan dan Kasih Sayang

Saudah binti Zam'ah adalah istri kedua Nabi Muhammad ﷺ. Setelah ditinggal suaminya yang gugur dalam pertempuran, Saudah, yang sudah berusia 55 tahun, menikah dengan Nabi untuk mendapatkan perlindungan dan dukungan. Pernikahan ini menunjukkan kepedulian Nabi terhadap janda dan anak-anaknya.

3. Aisyah binti Abu Bakar RA: Cendekiawan Muslimah

Aisyah RA adalah istri muda Nabi Muhammad ﷺ yang terkenal akan kecerdasan dan pemahaman mendalam tentang agama. Rasulullah ﷺ bahkan menyebutnya memiliki keutamaan yang luar biasa dibandingkan wanita lainnya.

“Keutamaan Aisyah atas wanita lainnya bagaikan keutamaan tharid (roti yang dibubuhkan dan dimasukkan ke dalam kuah) atas makanan-makanan lainnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

4. Hafshah binti Umar RA: Penjaga Mushaf Al-Qur'an

Hafshah binti Umar adalah putri dari Umar bin Al-Khattab dan Zainab binti Mazh'un, lahir lima tahun sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diangkat menjadi rasul. Setelah suaminya, Khunais bin Hudzafah, wafat akibat luka dari Perang Badar, Hafshah menikah dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pada tahun 3 Hijriah dengan mahar 400 dirham. Dikenal karena kecerdasannya, Hafshah belajar menulis langsung dari Asy-Syifa' binti Abdillah al-Adawiyah, dan berperan penting dalam menjaga mushaf Al-Qur'an yang menjadi rujukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan.

5. Zainab binti Khuzaimah: Ibu Orang-Orang Miskin

Zainab binti Khuzaimah menikah dengan Nabi Muhammad ﷺ setelah menjadi janda dari Abdullah bin Jahsy al-Asadi. Meskipun hidupnya singkat setelah pernikahan, Zainab dikenal karena kemurahan hatinya dan julukan “ibu orang-orang miskin” yang mencerminkan kebaikan dan kepeduliannya terhadap yang membutuhkan.

6. Ummu Salamah: Janda yang Dihormati

Ummu Salamah, nama asli Hindun binti Abu Umayyah, adalah janda dari Abu Salamah yang gugur dalam Perang Uhud. Setelah kehilangan suaminya, Nabi Muhammad ﷺ menikahinya untuk memberikan dukungan dan menghormati pengorbanan suaminya di jalan Allah SWT.

7. Zainab binti Jahsy: Sosok Dermawan

Zainab binti Jahsy dikenal karena kedermawanannya dan keterlibatannya dalam kegiatan sosial. Sebagai istri keenam Nabi, ia berperan aktif dalam berbagai aktivitas kemanusiaan dan dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap sesama.

8. Juwairiyah: Membangun Hubungan Antar-Suku

Juwairiyah adalah istri kedelapan Nabi Muhammad ﷺ. Pernikahan ini tidak hanya memperkuat hubungan pribadi, tetapi juga menguatkan hubungan antara umat Islam dengan suku Bani al-Musthaliq.

9. Shafiyah binti Uyai: Mualaf yang Cerdas

Shafiyah binti Uyai, istri kesembilan Nabi, adalah seorang mualaf dari suku Bani Nadhir. Shafiyah dikenal karena kecerdasannya dan semangatnya dalam mempelajari ilmu pengetahuan.

10. Ummu Habibah binti Abu Sofyan: Kelembutan dan Keteguhan

Ummu Habibah binti Abu Sofyan adalah istri kesepuluh Nabi Muhammad ﷺ. suaminya sebelumnya murtad, Ummu Habibah tetap teguh dalam keimanannya dan dikenal karena kelembutan dan kesopanannya.

11. Maimunah binti Harits: Ibu Kaum Mukminin

Maimunah binti Harits adalah istri kesebelas Nabi Muhammad ﷺ dan termasuk dalam golongan ummahatul mukminin, yaitu ibu dari kaum mukminin. Ia memiliki peran penting dalam kehidupan Rasulullah SAW dan masyarakat Muslim pada umumnya.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki dua sahaya wanita: Maria Al-Qibtiyah, ibu dari putra beliau yang bernama Ibrahim, dan Raihanah binti Zaid, seorang budak yang dihibahkan oleh Zainab binti Jahsy.




Di akhir zaman, akan muncul seorang lelaki dari Ahlul Bait yang Allah teguhkan agama dengannya. Sebagaimana yang terdapa...
14/01/2026

Di akhir zaman, akan muncul seorang lelaki dari Ahlul Bait yang Allah teguhkan agama dengannya. Sebagaimana yang terdapat dalam hadis yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المهدي منا أهل البيت، يصلحه الله في ليلة

“Al-Mahdi itu dari kami, Ahlul Bait. Allah akan memperbaikinya dalam satu malam.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah Allah menerima tobatnya, memberinya taufik, mengilhaminya, dan menunjukinya, setelah sebelumnya ia tidak demikian.”

Al-Mahdi akan memimpin selama tujuh tahun, memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan ketidakadilan. Umat akan merasakan nikmat pada masa pemerintahannya, kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Bumi akan mengeluarkan tumbuhannya, langit akan menurunkan hujannya, dan harta akan diberikan tanpa hitungan. Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Aku sampaikan kabar gembira kepada kalian tentang al-Mahdi. Ia akan diutus pada saat manusia berada dalam perselisihan dan gempa (kekacauan). Lalu ia memenuhi bumi dengan keadilan dan keseimbangan, sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan ketidakadilan. Penduduk langit dan penduduk bumi akan rida kepadanya. Ia akan membagi-bagikan harta secara adil.”

Seorang laki-laki bertanya, “Apa maksudnya membagi dengan adil?”

Beliau shallalllahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sama rata di antara manusia.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan,

“Allah akan memenuhi hati umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kekayaan, dan keadilan pemerintahannya meliputi mereka, hingga seorang penyeru menyerukan, “Siapa yang masih membutuhkan harta?” Maka tidak ada seorang pun yang berdiri kecuali seorang lelaki. Lalu ia berkata, “Pergilah kepada bendahara (penjaga harta), katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya al-Mahdi memerintahkanmu agar memberiku harta.'” Maka bendahara itu berkata, “Ambillah!” Lalu ia mengambil hingga penuh di pangkuannya. Namun setelah keluar, ia menyesal dan berkata, “Aku adalah manusia yang paling tamak dari umat Muhammad. Bukankah cukup bagiku apa yang telah mencukupi mereka?” Lalu ia ingin mengembalikan harta itu, tetapi tidak diterima darinya. Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya kami tidak akan mengambil kembali sesuatu yang telah kami berikan.” Ia pun hidup dalam masa kekuasaan al-Mahdi selama tujuh atau delapan atau sembilan tahun. Setelah itu, tidak ada lagi kebaikan dalam kehidupan.” Atau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kemudian tidak ada lagi kebaikan dalam hidup setelah itu.” (HR. Ahmad)

Dalam hal ini terdapat dalil bahwa setelah wafatnya al-Mahdi, akan muncul kejahatan dan fitnah-fitnah besar.

Al-Mahdi ini memiliki nama yang sama dengan nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan nama ayahnya sama dengan nama ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga namanya adalah Muhammad atau Ahmad bin Abdullah. Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تذهبُ أوَّلًا تنقضي الدنيا حتّى يملك العرب رجلٌ من أهل بيتي، يواطىء اسمُه اسمي

“Tidak akan lenyap (atau tidak akan berakhir) dunia ini hingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang lelaki dari Ahlul Baitku, yang namanya sesuai dengan namaku.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Dalam satu riwayat disebutkan,

يواطىءُ اسمُه اسمي واسم أبيه اسم أبي

“Namanya sesuai dengan namaku, dan nama ayahnya sesuai dengan nama ayahku.” (HR. Abu Daud)

Al-Mahdi berasal dari keturunan Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dari keturunan Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المهدي من عترتي، من ولد فاطمة

“Al-Mahdi adalah dari keturunanku, dari anak cucu Fathimah.” (HR. Abu Daud dan Sunan Ibnu Majah)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang al-Mahdi bahwa dia adalah Muhammad bin Abdullah Al-‘Alawi, Al-Fathimi, Al-Hasani.

Sifat-sifatnya yang disebutkan adalah dahinya lebar dan hidungnya mancung. Dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المهدي منِّي أجلى الجبهة، أقنى الأنف، يملأ الأرض قسطًا وعدلًا كما مُلِئت ظلمًا وجورًا، يملك سبع سنين

“Al-Mahdi berasal dari keturunanku. Dahinya lebar, hidungnya mancung. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan keseimbangan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan ketidakadilan. Ia akan memimpin selama tujuh tahun.” (HR. Abu Daud dan Al-Hakim)





14/01/2026

Siapakah dia?

Ummu Mutiah termasuk dalam golongan perempuan yang dijamin masuk surga setelah Ummul Mukminin. Kesetiaan kepada sang sua...
14/01/2026

Ummu Mutiah termasuk dalam golongan perempuan yang dijamin masuk surga setelah Ummul Mukminin. Kesetiaan kepada sang suami menjadikan Mutiah memperoleh balasan terbaik di akhirat.
Mutiah disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai calon penghuni surga. Sang putri, Fatimah Az-Zahra kemudian merasa penasaran atas amalan apa yang dilakukan Mutiah sampai ia dijaminkan surganya Allah SWT.

Dikutip dari buku Ia Hidup Kembali Setelah Mati 100 Tahun: Kisah-Kisah Haru yang Mempertebal Iman oleh Ust. Ahmad Zacky El-Syafa,
kisah cemburunya Fatimah Az-Zahra kepada Mutiah ini karena Fatimah ingin tahu kebiasaan beribadahnya.

Suatu hari, Fatimah az-Zahra datang menemui Rasulullah SAW dan menanyakan tentang sosok perempuan yang menjadi calon penghuni surga. Melihat kedatangan Fatimah, Rasulullah pun menyambutnya dengan gembira.

"Ada apakah gerangan putriku sehingga datang menemuiku?" tanya Rasulullah SAW.

"Wahai ayahanda, siapakah calon penghuni surga?" tanya Fatimah.

Sambil tersenyum, Rasulullah menjawab, "Calon penghuni surga itu adalah Mutiah."

Mendengar jawaban Rasulullah itu, Fatimah pun sedih. Namun, Rasulullah segera menghiburnya dan mengabarkan bahwa putrinya itu akan selalu bersamanya di surga nanti. Mendengar hal itu, bergembiralah Fatimah. Namun, ia penasaran dengan jawaban Rasulullah SAW, tentang Mutiah yang akan menjadi calon penghuni surga.

Gerangan apakah yang membuat Mutiah layak mendapatkan balasan kehormatan itu.

Suatu hari, Fatimah bersama Hasan kecil, putranya, datang berkunjung ke rumah Mutiah. Dari balik pintu, Fatimah memberi salam dan dijawab oleh Mutiah. Lalu, Mutiah bertanya, "Siapakah itu?" Fatimah menjawab: "Saya, Fatimah bersama anak saya, Hasan."

Mendengar hal itu, Mutiah pun senang. "Alangkah senangnya menerima kedatangan putri dari seorang yang mulia," jawab Mutiah. "Tapi mohon maaf, bisakah engkau datang besok karena saya belum dapat izin dari suami saya untuk menerima Hasan," tambah Mutiah.

Dengan heran, Fatimah pun bertanya, "Bukankah Hasan anak kecil?"

"lya, tapi ia laki-laki dan saya belum dapat izin dari suami," kata Mutiah.

Atas hal itu, Fatimah pun memakluminya dan berjanji akan datang besok pagi.

Keesokan harinya, Fatimah datang lagi ke rumah Mutiah. Kali ini, ia bersama Hasan dan Husein. Namun, jawaban yang sama disampaikan Mutiah karena ia hanya mendapatkan izin untuk menerima Fatimah dan Hasan, tapi tidak untuk Husein.

Lalu, Fatimah kembali pulang ke rumahnya dan berjanji akan datang lagi besok.

Esok harinya, Fatimah datang lagi bersama Hasan dan Husein. Setelah memberi salam dan menyampaikan kedatangannya bersama kedua anaknya, Mutiah pun menyambutnya dengan penuh gembira. Mutiah lantas menyampaikan permohonan maaf atas sikapnya dua hari terakhir yang menolak kedatangan Fatimah ke rumahnya disebabkan belum adanya izin dari sang suami.

Atas hal ini, Fatimah pun memakluminya. Selama di rumah Mutiah, Fatimah tak menemukan suatu ibadah yang menunjukkan Mutiah layak mendapat kehormatan sebagai calon penghuni surga.

Fatimah kemudian melihat sebuah cambuk di atas meja. la pun menanyakan hal itu kepada Mutiah.
"Cambuk itu selalu aku letakkan di sisi suamiku," ujar Mutiah. "Apakah suamimu s**a memukulmu?" tanya Fatimah.

Mutiah menjawab bahwa suaminya adalah seseorang yang sangat sayang kepada dirinya. Lalu, Fatimah bertanya lagi, mengapa cambuk itu diberikan kepada suamimu?

"Saya memberikan cambuk itu padanya agar apabila dia melihat sesuatu yang salah dan kurang dari pelayanan yang kuberikan, ia bisa memukulku. Alhamdulillah, selama ini suamiku belum pernah mempergunakannya untuk mencambuk diriku," jawab Mutiah.

Fatimah pun kagum akan kesetiaan dan kehormatan yang senantiasa dijaga oleh Mutiah bila suaminya sedang tidak berada di rumah. Atas perbuatannya itu, Fatimah dapat mengambil kesimpulan bahwa pantaslah Mutiah mendapat predikat calon penghuni surga.





13/01/2026

Wafatnya Ali bin Abi Thalib

Selain Hukaim bin Jabalah, Al-Asytar An-Nakha’i, Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Abu Hudzaifah, nama Ibnu Saba’ ...
13/01/2026

Selain Hukaim bin Jabalah, Al-Asytar An-Nakha’i, Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Abu Hudzaifah, nama Ibnu Saba’ adalah tokoh paling kontroversial dalam sejarah Islam. Ia dan kaumnya dikenal menyulut gerakan pemberontakan terhadap Khalifah Utsman, yang dengan pemikirannya bola api fitnah terus bergulir ke masa Khalifah Ali dan Khalifah Hasan.

Tapi bagaimanakah akhir hidup Yahudi ini? Riwayat populer menerangkan bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib menghukumnya dengan membakar ia dan kroni-kroninya yang lantas diprotes sepupu Ali, Abdullah bin Abbas sang penerjemah Al-Qur’an. Abdullah menyatakan “jika aku menjadi kamu, aku tak akan melakukan hal itu” ini sebagai teguran hukuman mati dalam Islam tidak boleh dengan membakar. Membakar adalah hak Rabbul Izzah.

Tapi dinukil dari Ibnu Taimiyah kitab Sharim Al-Maslul jilid 3, dan Abu Abdullah Adz-Dzahabi dalam Shidu An-Naba, bahwa Khalifah Ali mengasingkan Ibnu Saba ke Madain Kisra, di selatan Baghdad. Besar kemungkinannya hal ini dilakukan setelah Ali membakar orang-orang yang menuhankan dirinya, yang hembusan pemikiran tersebut berasal dari Ibnu Saba serta kroni-kroninya. Ibnu Saba’ berakhir hidupnya dalam keterasingan hingga matinya.

Jarir bin Qais pergi ke Madain setelah peristiwa terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh Ibnu Muljam. Ternyata di Madain Jarir bertemu Ibnu Saba’. Jarir mengabarkan bahwa Ali telah wafat terbunuh namun Ibnu Saba’ malah mengingkari kematian Ali.

Sebenarnya Khalifah Ali hendak menjatuhkan hukuman mati bagi Ibnu Saba’ namun ada yang berkata pada Ali “Jangan sampai dia (Ibnu Saba’) tinggal di negeri yang di dalamnya ada aku”, sebagai ungkapan ketidaks**aannya terhadap figur Ibnu Saba’ yang doyan mengumbar fitnah dan makar. Maka Ali mengasingkannya ke Madain. Sebab lain bahwa di pas**an Ali ada yang loyal dengan Ibnu Saba’.

Saat terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan komplotan pembunuh Dzunurain tersebut ada yang masuk ke barisan Ali bin Abi Thalib, tentu pendataan pas**an di kala itu tidak seperti di abad-abad selanjutnya, maka meski diketahui komplotan Ibnu Saba’ yang jua komplotan pembunuh Utsman, namun tidak diketahui pasti siapa individu-individunya. Sedangkan ajaran Islam mengharamkan asal menuduh tanpa bukti.

Terkait tidak memungkinkannya menghukum mati Ibnu Saba’, Ali berujar “Siapakah yang dapat memaklumiku terkait orang yahudi ini (Ibnu Saba’) yang mendustakan Allah dan RasulNya. Jika bukan karena dia telah keluar menemui sekelompok orang yang mengumumkan permintaan suaka kepadaku sebagaimana aku diseru terhadap darah penduduk Nahrawan (melawan Khawarij), niscaya aku buat di antara mereka jadi timbunan” hal ini disebutkan dalam kitab Syaikh Dr. Khalid Kabir Allal Kemelut di Masa Utsman yang mengutip kitab Ash-Sharim Al-Maslul Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah jilid 3.




Sosok sahabat nabi yang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum RA. Beliau merupakan seorang penyandang tunanetra sejak ke...
13/01/2026

Sosok sahabat nabi yang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum RA. Beliau merupakan seorang penyandang tunanetra sejak kecil.
Mengutip buku Kisah Menakjubkan dalam Al-Qur'an susunan Ridwan Abqary, kekurangannya itu tidak menjadikan Abdullah untuk beriman kepada Allah SWT. Ia termasuk satu dari sekumpulan orang yang pertama kali memeluk Islam.

Sosok Abdullah dikenal sebagai muslim yang taat. Dirinya tidak pernah absen menghadiri ceramah yang disampaikan Rasulullah SAW. Bahkan, Abdullah juga menghafal ayat suci Al-Qur'an yang diajarkan sang rasul.

Menurut buku Sosok Para Sahabat Nabi karya Dr Abdurrahman Raf'at al-Basya yang diterjemahkan Abdulkadir Mahdamy, Abdullah bin Ummi Maktum memiliki ikatan keluarga dengan Nabi Muhammad SAW. Ia adalah putra dari bibi istri Rasulullah SAW, Khadijah binti Khuwalid dari pihak ibu.

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Qais bin Zaidah. Penamaan Abdullah bin Ummi Maktum menjadi sebutan karena dirinya terlahir dalam keadaan tunanetra.

Meski buta sejak lahir, semangat Abdullah tidak pernah padam ketika mempelajari Islam. Padahal, kala itu kaum muslimin mengalami banyak penindasan di Makkah.

Rasulullah SAW pada masa tersebut sibuk berdiplomasi. Hal tersebut dilakukan untuk menarik tokoh-tokoh terkemuka Quraisy agar memeluk Islam.

Pada saat yang bersamaan, ada momen yang berkaitan dengan Abdullah bin Ummi Maktum yang mana menyebabkan Rasulullah SAW menerima teguran dari Allah SWT. Teguran tersebut termaktub dalam surah Abasa ayat 1-11,

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum). Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan diri nya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal, tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pelajaran), sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan." (QS 'Abasa: 1-11)

Ketika ayat-ayat tersebut turun, Abdullah bin Ummi Maktum datang kepada Rasulullah SAW yang sedang sibuk berdiplomasi. Dirinya yang tidak dapat melihat dan tidak paham akan kegiatan yang dikerjakan Nabi SAW meminta Rasulullah mengajari apa yang Allah SWT ajarkan kepada dirinya.

Merasa terganggu, Nabi Muhammad SAW memalingkan wajahnya dengan ekspresi masam. Beliau kembali mengarahkan fokusnya pada orang-orang Quraisy.

Setelahnya, turunlah surah 'Abasa ayat 1-11. Pada Tafsir Ar Rahmah susunan Dr KH Rachmat Morado Sugiarto, saat itu Rasulullah SAW tidak bermaksud memalingkan wajah dari Abdullah Ummi Maktum, ia hanya menunda pembicaraan dengannya. Ini dimaksudkan agar obrolannya dengan kaum Quraisy tidak terganggu.

Usai turunnya firman Allah SWT itu, Rasulullah SAW lebih menghormati Abdullah bin Ummi Maktum. Tiap Abdullah bin Ummi Maktum datang dan duduk di sisi Nabi SAW, ia langsung menanyakan keperluan dan merespons segala pertanyaannya.

Abdullah bin Ummi Maktum syahid di medan jihad Perang Qadisiyah (tahun 14 H), di mana sahabat tuna netra ini memegang panji Islam dengan gagah berani, gugur mulia sambil memeluk bendera, membuktikan imannya yang tak pernah padam meski penglihatannya terbatas, sebagai sosok muazin Rasulullah yang tetap ingin berjuang di jalan Allah.




Kisah berikut ini mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam menghakimi orang lain. Waktu itu, Nabi Muhammad SAW su...
12/01/2026

Kisah berikut ini mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam menghakimi orang lain. Waktu itu, Nabi Muhammad SAW sudah berhijrah dari Makkah ke Madinah, yang dahulunya bernama Yastrib. Akan tetapi, kaum musyrikin Quraisy masih saja terus merongrong ketenteraman Muslimin.

Apalagi sesudah kekalahan orang-orang kafir dalam Perang Badar pada tahun kedua hijriyah. Mereka menaruh dendam kesumat pada Rasulullah SAW dan para sahabat. Kira-kira satu tahun kemudian, kesempatan untuk melampiaskan kebencian itu akhirnya tiba.

Perang Uhud menjadi salah satu bukti nyata provokasi orang-orang musyrik yang tidak pernah ridha akan syiar Islam. Dalam pertempuran tersebut, pas**an Muslimin berjumlah sekitar 700 orang. Rasulullah SAW memimpin langsung mereka, baik selama penyusunan strategi maupun di medan jihad. Sementara itu, kaum musyrikin yang berangkat dari Makkah berjumlah lebih banyak. Tidak kurang dari 3.000 orang.

“Kalah” jumlah tak berarti surutnya semangat jihad Muslimin. Bahkan, tekad para sahabat Nabi SAW semakin kuat untuk melawan musuh-musuh Allah. Mati syahid pun menjadi sebuah kerinduan. Melindungi Rasulullah SAW menjadi sebuah dorongan hati yang teramat kuat.

Di antara penduduk Madinah yang berangkat ke medan pertempuran ialah seorang lelaki bernama Qotzman. Ia ikut dalam kubu Muslimin.

Tentara Quraisy berkemah di selatan Bukit Uhud. Abu Sufyan mengelompokkan mereka menjadi infantri di bagian tengah dan dua sayap kavaleri di samping. Sayap kanan dipimpin Khalid bin Walid (waktu itu belum memeluk Islam). Adapun sayap kiri dikomandoi Ikrimah bin Abu Jahal (baru masuk Islam ketika Pembebasan Makkah). Tiap kelompok itu terdiri atas 100 orang pas**an. Abu Sufyan juga menempatkan 100 pemanah di barisan terdepan. Bendera dan panji-panji kebesaran Quraisy dibawa Talha bin Abu Talha.

Hari yang dinanti pun tiba. Sejak semula, pertempuran berlangsung sengit. Namun, atas izin Allah SWT, pas**an Muslimin mulai dapat menguasai keadaan. Bahkan, kemenangan sudah terasa jelas berada di pelupuk mata.

Balatentara musuh pontang-panting berlarian dari medan perang. Para sahabat Nabi SAW pun berucap syukur. Sebagian Mukminin mengumpulkan harta benda yang ditinggalkan para musuh Allah di atas tanah.

Rasulullah SAW sudah menugaskan sekelompok pas**an agar tetap berjaga-jaga di atas bukit walaupun Muslimin yang bertempur di lembah tampak sudah bisa mengusir musuh. Namun, mereka justru melalaikan tugasnya. Alhasil, kelompok yang dipimpin Khalid bin Walid berhasil menyerang balik Muslimin dari atas bukit.

Barisan sempat porak poranda. Bahkan, Nabi SAW mengalami luka-luka pada wajah beliau. Tak sedikit sahabat yang gugur.

Ketika pertempuran benar-benar usai, nyatalah bahwa Muslimin menderita kekalahan. Sementara, kaum musyrikin kembali ke Makkah dengan rasa puas. Dendam yang tertanam dalam diri mereka sejak Perang Badar telah terlampiaskan.

"Tidak seorang pun di antara kita yang dapat menandingi kehebatan Qotzman," kata salah seorang sahabat. Sebab, Qotzman ditemukan ikut gugur di medan Perang Uhud. Di sekujur jasadnya ada banyak luka-luka dan bekas darah.

Mendengar perkataan itu, Nabi Muhammad SAW menjawab, "Sungguh, dia itu adalah golongan penduduk neraka."

Para sahabat menjadi heran. Bagaimana mungkin seseorang yang telah berjuang dengan begitu gagah berani di medan pertempuran justru akhirnya dimasukkan Allah SWT dalam neraka?

Rasulullah SAW lalu menjelaskan, "Semasa Qotzman dan Aktsam keluar ke medan perang bersama-sama, Qotzman telah mengalami luka parah akibat ditikam musuh. Badannya dipenuhi dengan darah. Qotzman mengambil pedangnya, kemudian mata pedang itu dihadapkan ke dadanya. Ia benamkan pedang itu ke dalam dadanya."

Qotzman ternyata mati bukan karena dibunuh musuh, melainkan bunuh diri. Menurut Nabi SAW, warga Madinah itu bunuh diri karena tidak tahan menanggung kesakitan akibat dari luka yang dialaminya.

Nabi SAW juga mengungkapkan, sebenarnya sejak awal niat yang muncul dalam hati Qotzman sudah keliru. Sebab, lanjut beliau shalallahu 'alaihi wasallam, Qotzman sebelum berangkat telah berkata, "Demi Allah aku berperang bukan karena agama, tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan Madinah agar tidak dihancurkan kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku."

Maka dari itu, Rasulullah SAW mengingatkan para sahabatnya agar berhati-hati dalam memberikan penilaian. Belum tentu perbuatan yang tampak di mata orang-orang seperti amalan mulia benar-benar tulus. Bisa jadi justru sebenarnya tidak baik.

“Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli Surga menurut pandangan manusia, padahal sebenarnya ia penduduk Neraka.” (HR. Muslim no. 112)




12/01/2026

Cicit Rasulullah

Pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah berlangsung pada bulan Dzulhijjah tahun kedua Hijriyah. Kisah cinta keduany...
12/01/2026

Pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah berlangsung pada bulan Dzulhijjah tahun kedua Hijriyah. Kisah cinta keduanya hingga kini dikenang dan menjadi inspirasi banyak orang.
Sosok Ali bin Abi Thalib merupakan salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Ia juga termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama kali memeluk Islam.

Ketika berusia 6 tahun, Ali pernah menjadi anak asuh Rasulullah SAW dan Siti Khadijah. Beliau bersama sang istri membimbing Ali di rumahnya dan mengasuhnya dengan penuh kasih layaknya anak sendiri.

Dikisahkan dalam buku Perempuan-Perempuan Surga oleh Imron Mustofa, tatkala Fatimah lahir, Ali bin Abi Thalib menghabiskan masa kanak-kanaknya bersama putri Rasulullah SAW dan Siti Khadijah di rumah yang menjadi tempat tinggalnya.

Ali bin Abi Thalib telah mengetahui kemuliaan Fatimah sejak kecil. Ia sering memperhatikan Fatimah hingga diam-diam mengaguminya. Meskipun demikian, Ali bin Abi Thalib tetap berusaha menjaga hati dan pandangannya. Bahkan, Fatimah pun tidak tahu bahwa Ali menyimpan rasa yang luar biasa untuknya.

Ketika keduanya beranjak dewasa, Ali bin Abi Thalib berniat menghadap Rasulullah SAW untuk melamar sang putri yang selama ini dikaguminya. Akan tetapi, terbesit sedikit keraguan di dalam hatinya sebab menyadari ia hanyalah pemuda miskin dan tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada Fatimah.

Di tengah kembimbangannya, terdengar kabar bahwa Abu Bakar RA sudah lebih dulu mengajukan lamaran kepada Rasulullah SAW untuk Fatimah. Kemudian disusul dengan Umar bin Khattab RA yang juga datang untuk melamar putri beliau.

Sungguh berat perasaannya mengetahui Abu Bakar dan Umar yang terlihat lebih pantas mendampingi Fatimah. Namun, sungguh tidak ada yang mengetahui rencana Allah SWT.Di tengah perasaannya yang sempat layu, tak disangka lamaran Abu Bakar dan Umar bin Khattab ditolak secara halus oleh Rasulullah SAW.

Di tengah perasaan yang bergejolak, salah seorang teman Ali dari kalangan Anshar berkata, "Mengapa kamu tak mencoba melamar Fatimah? Aku punya firasat, kamulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi."

Ali bin Abi Thalib menyadari, secara ekonomi tidak ada yang menjanjikan pada dirinya. Ia hanya memiliki satu set baju besi beserta persediaan tepung untuk makanannya. Namun, ia ingin mencoba menjemput cintanya kepada Fatimah

Melansir dari buku Ali bin Abi Thalib RA karya Abdul Syukur al-Azizi, Ali bin Abi Thalib akhirnya memberanikan diri menghadap Rasulullah SAW dan menyampaikan keinginannya untuk menikahi Fatimah RA.

Setibanya di rumah Rasulullah SAW, Ali duduk di samping beliau dan tertunduk diam. Nabi SAW lalu bertanya, "Wahai putra Abu Thalib, apa yang kamu inginkan?"

Dengan suara bergetar dan tubuh berkeringat, Ali menjawabnya, "Ya Rasulullah, aku hendak meminang Fatimah."

Setelah mengatakan perasaannya, seluruh beban yang selama ini menghimpit perasaannya terasa lega. Rasulullah SAW tidak terkejut mendengar pernyataan Ali, sebab beliau mengetahui Ali mencintai putrinya.

Sebagai ayah yang bijaksana, Rasulullah SAW menanyakan dahulu kepada putri tercinta atas ketersediaannya menerima lamaran tersebut. Setelah Fatimah menyetujui lamaran Ali, Rasulullah SAW bertanya, "Wahai Ali, apakah kamu memiliki sesuatu yang bisa dijadikan mas kawin?"

Kala itu, Ali bin Abi Thalib merasa malu karena dirinya tidak memiliki apapun. Terlebih sejak kecil ia dihidupi oleh Rasulullah SAW.

Ali kemudian menjawab, "Demi Allah, Anda sendiri mengetahui keadaanku. Tidak ada sesuatu tentang diriku yang tidak Anda ketahui. Aku tidak memiliki apapun selain sebuah baju besi, sebilah pedang, dan seekor unta."

Mendengar jawaban Ali, Rasulullah SAW berkata, "Tentang pedangmu, kamu tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah SWT, dan untamu kamu perlukan untuk mengambil air bagi keluargamu serta untuk perjalanan jauh.

Karena itu, aku akan menikahkanmu dengan mas kawin sebuah baju besi. Wahai Ali, kamu wajib bergembira karena Allah SWT sebenarnya sudah lebih dulu menikahkan kamu di langit sebelum aku menikahkanmu di bumi ini."

Pernikahan Ali dan Fatimah dengan Mahar Baju Besi
Pada akhirnya, Ali bin Abi Thalib menikah dengan Fatimah berbekal baju besi yang dijualnya seharga 400 dirham. Ia menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah SAW sebagai mahar pernikahannya.

Setelah itu, Rasulullah SAW membagi uang tersebut menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk wewangian, dan satu bagian lagi dikembalikan kepada Ali untuk membiayai jamuan makan bagi para tamu yang menghadiri pernikahan.

Nabi SAW menikahkan putrinya dengan Ali bin Abi Thalib seraya membacakan ijab kabul, "Wahai Ali, sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku menikahimu dengan Fatimah. Sungguh, aku telah menikahkanmu dengannya dengan mas kawin 400 dirham."

Lantas Ali menjawabnya, "Aku ridha dan puas hati, wahai Rasulullah."

Selesai mengucapkan akad, Ali bin Abi Thalib langsung sujud syukur kepada Allah SWT. Pernikahannya dengan Fatimah melahirkan dua orang putra dan dua orang putri. Kedua putranya bernama Hasan dan Husein, sementara kedua putrinya bernama Zainab dan Ummu Kultsum.





Muslimah yang lahir 27 tahun sebelum hijrah itu adalah putri Khalifah Abu Bakar RA. Mujahidah yang usianya lebih tua 10 ...
11/01/2026

Muslimah yang lahir 27 tahun sebelum hijrah itu adalah putri Khalifah Abu Bakar RA. Mujahidah yang usianya lebih tua 10 tahun dibandingkan Aisyah RA itu dikenal sebagai seorang yang dermawan.

Asma adalah saudari istri Rasulullah, Aisyah RA, namun berbeda ibu. Ia adalah saudara kandung Abdullah bin Abu Bakar. Putri Abu Bakar itu termasuk salah satu wanita di Kota Makkah yang pertama masuk Islam. Setelah 17 sahabat mengucap dua kalimat syahadat, Asma pun kemudian membaiat Rasulullah SAW.

Pengabdian dan pengorbanan Asma membela agama Allah SWT begitu besar. Tak heran jika ia digelari ''Dzatun Nithaqaini'' (wanita yang memiliki dua selendang). Alkisah, ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersiap-siap untuk hijrah di malam hari, dengan penuh kecintaan terhadap Islam dan Rasul-nya, ia menyobek selendangnya menjadi dua helai,

Helai pertama digunakannya untuk menutupi tempat makan atau bekal Rasulullah SAW dan sisanya untuk menutupi kepalanya. Ketika terjadi peperangan antara kaum Muslimin dan penduduk Syam, mereka mengolok-olok putra Asma bernama Abdulah Ibnu Zubair dengan julukan "Dzatun Nithaqaini".

Seusai pertempuran, Abdullah menanyakan julukan itu kepada sang bunda. Asma pun membenarkan julukan yang diberikan kepadanya itu, ''Demi Allah, itu adalah benar." Begitulah pengorbanan dan kecintaan Asma untuk agama dan Rasul yang mengajarkan pada jalan kebaikan.

Asma memang dikenal sebagai pribadi yang sangat Islami. Ia bahkan merelakan ayahnya menyumbangkan seluruh hartanya demi tegaknya agama Allah SWT. Pada saat hijrah, Abu Bakar membawa seluruh hartanya yang berjumlah sekitar 5.000 hingga 6.000 dinar. Lalu kakeknya yang buta, Abu Quhafah datang kepada Asma. Abu Quhafah berkata :"Demi Allah, sungguh aku mendengar bahwa Abu Bakar telah meninggalkanmu pergi dengan membawa seluruh hartanya?''

Mendengar pertanyaan itu, Asma berkata, '''Sekali-kali tidak, wahai, Kakek! Sesungguhnya, Beliau telah menyisakan buat kami harta yang banyak.'' Kemudian Asma mengambil batu-batu dan meletakkannya di lubang angin, tempat ayahnya pernah meletakkan uang itu. Kemudian dia menutupinya dengan selembar baju.

Setelah itu Asma memegang tangan kakeknya dan berkata: "Letakkan tangan Kakek di atas uang ini." Sang kakek pun merasa lega. "Kalau memang dia telah meninggalkan harta untukmu, maka dia telah berbuat baik. Ini sudah cukup bagi kalian." Kemuliaan akhlak Asma itu telah menenangkan rasa gundah di hati sang kakek.

Padahal, yang sebenarnya Abu bakat tidak meninggalkan sekeping dinar pun bagi keluarganya. Namun, Asma mengikhlaskannya. Ia tak menuntut harta dari sang ayah. Bahkan, ketika Zubair bin Awwam meminangnya, Asma tak menuntut apa-apa.

Ia menerima Zubair yang tak memiliki apapun, kecuali seekor kuda. Dengan penuh keikhlasan, Asma memberi makan kudanya dan mencukupi kebutuhan serta melatihnya. Ia menumbuk biji kurma untuk makanan kuda, memberinya air minum dan membuat adonan roti.

Suatu ketika Zubair bersikap keras terhadapnya, lalu Asma datang kepada ayahnya dan mengadu. Abu Bakar pun berkata, '"Wahai anakku, sabarlah! Sesungguhnya apabila seorang istri bersuami seorang yang saleh, kemudian suaminya meninggal dunia, sedang isterinya tidak menikah lagi, maka keduanya akan berkumpul di surga."

Asma pun sempat datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya, "Wahai, Rasulullah, tak ada sesuatu yang berharga di rumah saya kecuali kuda yang dibawa Zubair. Bolehkah saya memberikan sebagian pendapatan saya kepadanya?''

Nabi SAW menjawab :"Berikanlah sesuai kemampuanmu dan janganlah bakhil, sehingga orang lain akan bakhil terhadapmu." Asma adalah Muslimah yang sangat dermawan. Para sahabat mengakuinya. Dari Abdullah bin Zubair berkata, "Tidaklah kulihat dua orang wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma."

Kedermawanan mereka berbeda. Aisyah s**a mengumpulkan sesuatu dan setelah banyak lalu dibagikannya. Sedangkan Asma tidak menyimpan sesuatu untuk besoknya. Asma adalah seorang wanita yang dermawan dan pemurah. Saat menderita sakit, Asma lalu membebaskan semua hamba sahayanya.

Asma juga merupakan Muslimah pejuang yang tangguh. Ia sempat ikut dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Zubair dan menunjukkan keberaniannya. Umar bin Khattab RA sangat menghormati Asma. Ketika menjadi khalifah, ia memberi tunjangan untuk Asma sebanyak 1.000 dirham.

Asma pun meriwayatkan 58 hadis dari Nabi SAW. Selain itu, ia juga dikenal sebagai wanita penyair dan pemberani yang mempunyai logika dan bayan. Ia tetap melakukan syiar Islam di usianya yang sudah lanjut. Suatu saat puteranya, Abdullah, datang menemui ibunya, Asma yang buta dan sudah berusia 100 tahun.

Abdullah berkata kepada ibunya, "Wahai, Ibu, bagaimana pendapatmu mengenai orang yang telah meninggalkan aku, begitu juga keluargaku." Asma berkata :"Jangan biarkan anak-anak kecil bani Umayyah mempermainkanmu. Hiduplah secara mulia dan matilah secara mulia. Demi Allah, sungguh aku berharap kamu mengakhiri kehidupan ini dengan baik." Sungguh Asma adalah teladan bagi para Muslimah.




Address

Jln. GBA 2 Blok G5 No. 11, RT. 6/RW. 9, Cipagalo, Bojongsoang
Bojongsoang
40287

Telephone

+62895603798117

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sahabat Kisah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sahabat Kisah:

Share