11/06/2026
Jika sebuah tempat dipenuhi burung, ikan, sumber air, dan kehidupan, apakah itu benar-benar bisa disebut ‘lahan tidur’?
Belakangan ini, lahan rawa kerap digambarkan sebagai kawasan yang tidak produktif dan perlu diubah menjadi area pertanian berskala besar. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, misalnya, menyampaikan bahwa kawasan rawa di Merauke memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sawah dengan frekuensi panen hingga tiga kali dalam setahun.
Di tengah rencana tersebut, proyek pangan berskala besar di Merauke juga melibatkan Jhonlin Group yang dimiliki Andi Syamsuddin Arsyad, pengusaha yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Menteri Pertanian sebagai sepupu.
Namun pertanyaan mendasarnya adalah: apakah rawa benar-benar merupakan lahan yang tidak menghasilkan apa-apa?
Bagi alam, rawa justru merupakan salah satu ekosistem yang paling aktif bekerja setiap hari.
Sebagai bagian dari ekosistem lahan basah bersama gambut dan mangrove, rawa menjalankan banyak fungsi penting yang sering tidak terlihat secara langsung. Kawasan ini menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar, menjaga keseimbangan tata air, membantu meredam banjir saat musim hujan, mengurangi dampak kekeringan saat musim kemarau, serta menjadi habitat bagi beragam satwa liar dan sumber penghidupan masyarakat adat.
Persoalannya muncul ketika nilai sebuah bentang alam hanya diukur dari seberapa banyak komoditas yang dapat diproduksi darinya.
Cara pandang seperti ini cenderung mengabaikan jasa ekologis yang nilainya sangat besar, meskipun tidak selalu tercatat dalam laporan ekonomi. Padahal ketika fungsi-fungsi tersebut hilang akibat perubahan bentang alam, dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh lingkungan maupun manusia.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar apakah rawa dapat ditanami.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: manfaat terbesar akan dinikmati oleh siapa, dan biaya ekologis apa yang harus ditanggung ketika kawasan yang selama ini menopang kehidupan diubah menjadi pusat produksi berskala besar?
Kebutuhan akan ketahanan pangan memang nyata dan penting. Namun upaya mencapainya perlu mempertimbangkan keseimbangan antara produksi, kelestarian lingkungan, dan hak masyarakat yang hidup di wilayah tersebut.
Sebab bagi alam, rawa bukanlah lahan yang sedang “tidur”.
Rawa adalah ekosistem yang hidup, bekerja setiap hari, dan menopang kehidupan jauh sebelum manusia menghitung nilainya dalam ton hasil panen.
Artikel disadur dari Greenpeace Indonesia, penjalasan video di komentar…