30/10/2025
Kyai Abdul Hamid bin Abdullah Umar - Pasuruan merasa tak nyaman dengan kemasyhurannya.
Suatu ketika, KH. Abdul Hamid pernah berkata:
"Saya ingin sekali seperti Kyai Syarwani Abdan. Dia itu alim tapi mastur (tertutup) tidak masyhur (terkenal)", dawuh Romo KH. Abdul Hamid bin Abdullah Umar.
"Kalau saya ini sudah terlanjur masyhur, jadi saya ini sering kerepotan karena harus menemui banyak orang. Menjadi orang masyhur itu tidaklah mudah, bebannya itu berat. Kalau Kiai Syarwani itu enak. Jadinya tidak banyak didatangi orang." Sambung beliau.
• Sumber Kisah:
Kisah ini diceritakan oleh Muhammad Baihaqi, putra Haji Muhdor Maksum (Ampel Surabaya). Haji Muhdor Maksum adalah tuan rumah tempat pertemuan bersejarah tersebut sekaligus juru potret foto istimewa di atas.
Ikuti terus Kisah Karamah Wali-Wali Allah untuk mendapatkan kisah inspiratif dan pelajaran hati dari para kekasih Allah berikutnya
Kisah KH. Abdul Hamid bin Abdullah Umar - Pasuruan ini memberikan beberapa hikmah yang dapat kita ambil, antara lain:
Kerendahan hati.
KH. Abdul Hamid merasa tidak nyaman dengan kemasyhurannya dan menginginkan untuk menjadi seperti Kyai Syarwani Abdan yang alim tapi tidak masyhur, menunjukkan kerendahan hati dan kesadaran akan beban kemasyhuran.
Beban kemasyhuran.
Kisah ini menunjukkan bahwa menjadi orang masyhur tidaklah mudah dan memiliki beban yang berat, seperti harus menemui banyak orang dan menghadapi berbagai permintaan.
Pentingnya niat dan tujuan.
KH. Abdul Hamid menginginkan untuk menjadi seperti Kyai Syarwani Abdan yang lebih fokus pada amalan dan ibadah daripada mencari kemasyhuran, menunjukkan pentingnya niat dan tujuan yang benar dalam hidup.
Kesadaran akan kelebihan dan kekurangan.
KH. Abdul Hamid menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya, serta menginginkan untuk menjadi lebih baik dengan mengikuti contoh Kyai Syarwani Abdan.
Dengan mengambil hikmah dari kisah ini, kita dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya kerendahan hati, niat yang benar, dan kesadaran akan kelebihan dan kekurangan diri sendiri.