22/06/2026
Sabtu malam (20/6) di jalur Solo-Tawangmangu menjadi malam kelam yang tak akan pernah dilupakan oleh keluarga almarhum Pak Hadi Sukat (60) warga Karangpandan, Karanganyar.
Saat Pak Hadi berjuang melawan kondisi kritisnya yang memburuk sejak dini hari, jalanan di luar justru sedang dikuasai oleh ratusan peserta konvoi pengesahan anggota baru perguruan silat. Suara kembang api dan raungan knalpot brong menutup sirine ambulans yang sedang berpacu dengan maut.
Agung, seorang relawan ambulans Karangpandan, menceritakan betapa sulitnya malam itu. Ambulans harus berjuang keras membelah lautan manusia yang memadati jalan. Mobil ambulans sempat stuck (berhenti total) saat menjemput, dan kembali tersendat saat mengevakuasi korban ke Puskesmas.
Hasilnya? Fatal. Pak Hadi meninggal dunia sebelum sempat disentuh oleh dokter medis di Puskesmas. Denyut nadinya sudah hilang.
Keluarga korban kini hanya bisa melepaskan almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya di Pemakaman Nongko 2 dengan rasa sesak.
Tangis sang anak, Dwi Purnamasari (36), pecah. Beliau sangat menyayangkan kurangnya pengaturan lalu lintas dari pihak berwajib di tengah situasi darurat seperti ini. "Harusnya jangan sampai mengganggu pengguna jalan, sangat disayangkan sekali..." ujarnya.
Sang anak menyoroti kinerja aparat yang dinilai kurang siap mengantisipasi kemacetan total akibat acara tahunan ini.
Sc: Diolah dari Tribun Solo
Foto suasana rumah duka
Setiap kali ada konvoi, ambulans kerap jadi korban yang tersingkirkan. Padahal, satu detik di dalam ambulans adalah penentu antara hidup dan mati seseorang.
Sobat Netizen, aksi konvoi atau perayaan tahunan tentu punya makna bagi kelompoknya. Tapi, apakah ego kelompok harus dibayar dengan nyawa orang lain? Di mana fungsi pengawalan dan prioritas untuk kendaraan darurat?
Mari kirim doa terbaik untuk almarhum Pak Hadi Sukat dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.