27/03/2025
**Lautan, Takdir, dan Air Mata**
Lautan itu saksi bisu,
tempat impian berlayar dan harapan bertaut,
namun juga tempat takdir menuliskan kisah pilu,
menggulung cinta, menelan rindu tanpa kata selamat tinggal.
Malam itu, ombak tak sekadar menghempas,
ia mencabut lima nyawa dari genggaman dunia,
tulang punggung keluarga, cahaya rumah,
pergi tanpa isyarat, meninggalkan duka yang tak bertepi.
Di antara mereka, ada nama yang tak asing,
**Bapak Raymundus Fernandes**, pemimpin, sahabat, ayah, suami,
sosok yang hidupnya penuh pengabdian,
kini berlayar menuju keabadian.
Seorang ayah, seorang suami,
bekerja dengan peluh, berjuang dengan hati,
membangun masa depan dengan cinta,
namun lautan menginginkannya lebih cepat dari rencana.
Tangis pecah di bibir pantai,
air mata jatuh lebih deras dari hujan,
memanggil nama yang tak lagi menjawab,
meratapi bayangan yang kini hanya tinggal kenangan.
Namun, di balik pilu, ada rahasia Ilahi,
tiga jiwa masih bernafas, masih diberi waktu,
karena takdir-Nya bukan hanya tentang kehilangan,
tetapi juga tentang harapan yang masih tersisa.
**Kepada keluarga yang ditinggalkan,**
kesedihan ini bukan akhir segalanya,
karena cinta tak pernah benar-benar pergi,
ia tetap hidup dalam doa, dalam kenangan yang abadi.
**Percayalah, mereka tidak hilang,**
mereka hanya pulang lebih dulu,
menunggu di tempat yang lebih tenang,
di sisi-Nya, dalam damai yang kekal.
**Tetaplah kuat, tetaplah berdiri,**
karena di balik air mata ada cahaya,
dan di setiap perpisahan, selalu ada janji,
bahwa suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi.
Selamat jalan bapak,sosok inspirasi bagi semua yang putus harapan akan pendidikan kisinya membuat kita untuk terus berjuang untuk menyampai cita2, meskipun kita terbatas oleh ekonomi, Masyarakat TTU harus belajar dari kisahnya sebab tak ada yang mustahil bila kita tekun.
Itu nilai yang akan selalu dikutip bagi seorang ayah atau ibu ketika menasehati buah hatinya disitu namau selalu di kenang....
RIP bapak Raymundus➕