28/01/2026
Guru Bakhiet # bag.1
Nama lengkapnya ialah Muhammad Bakhiet, “Muhammad” artinya dipuji, “Bakhiet” artinya sangat beruntung. Muhammad Bakhiet (adap**a yang menulisnya Bachiet). Guru Bakhiet lahir di Telaga Air Mata (Kampung Arab) Barabai (Kabupaten Hulu Sungai Tengah) pada tanggal 1 Januari 1966. Ayahnya bernama (Tuan Guru) Ahmad Mughni dan ibunya bernama Hj. Zainab.
Ia memiliki 7 saudara, 1 laki-laki dan 6 perempuan. Nama saudara perempuan dan saudara laki-lakinya adalah Hj. Zahrah, Hj. Bulkis, Hj. Khamsah, Hj. Jum’ah, Hj. Syarifah, H. Abdussalam dan Siti Aminah. Ia dan adiknya, H. Abdussalam menjadi ulama seperti ayah mereka.
Ayah Guru Bakhiet yaitu Syeikh Ahmad Mughni, merasa senang memberi nama anak cucu dengan nama-nama ulama besar, misalnya Abdul Wahhab Sya’rani (nama seorang ulama sufi), Wajhuddin (gelar bagi ulama paling ‘alim di dunia di masanya Sayyid Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih), Abdussalam (nama seorang wali quthub dan guru bagi Imam Syadzili dan Imam al-Badawi). Alasan tersebut yang menjadikan ayah Guru Bakhiet memberikan nama Muhammad Bakhiet, yang mana diambil dari nama seorang ulama besar di Mesir.
Guru Bakhiet dilahirkan dan dibesarkan dari kedua orang tua yang sangat taat beragama lagi shaleh dan shalehah.
Ibunda Guru Bakhiet bernama Hj. Zainab binti Usman, sedangkan ayahanda Guru Bakhiet adalah seorang ulama besar yang sangat masyhur di zamannya, yang sangat ‘alim, ‘abid, dan wara’, serta zuhud, yaitu Fadhilatusy Syeikh Ahmad Mughni bin Syeikh Isma’il bin Syeikh Muhammad Thahir bin Syeikh Syihabuddin. Syeikh Syihabuddin ini menurut sumber-sumber yang dipercaya adalah putera dari Maulana Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari pengarang kitab Sabilal Muhtadin yang banyak diajarkan di berbagai wilayah dan penjuru Asia Tenggara.
Adanya darah ulama yang secara berkesinambungan mengalir dalam darah leluhur hingga diri Guru Bakhiet, maka tidaklah mengherankan jika ia kemudian menjadi salah satu ulama Banjar kontemporer terkemuka dan berpengaruh di Kalimantan Selatan. Guru Bakhiet mewarisi bakat keulamaan dari ayah, kakek, dan leluhurnya. Apalagi kemudian pendidikan yang diperolehnya dari sejumlah ulama termasuk ayahnya sendiri semakin membentuk bakat keulamaannya.
Sebagaimana pepatah mengatakan bahwa buah gugur tak jauh dari pohonnya, maka demikian p**a dengan Guru Bakhiet yang sangat cerdas dan tumbuh di bawah asuhan dan bimbingan langsung kedua orang tuanya, nilai-nilai luhur tumbuh dengan sendirinya dalam diri pribadi beliau, pelajaran demi pelajaran pun mudah diserap oleh Guru Bakhiet.