Ibu Peri

Ibu Peri Siap menemani Hari Ceriamu😘
(1)

09/01/2026

Biarlah mengalir,
Kita tak punya Kendali

09/01/2026

Semakin kesini semakin terserah

 Ali menoleh pada Bilal yang menghampirinya di meja makan. Anak itu sudah siap dengan seragam sekolahnya."Kamu sudah sia...
09/01/2026



Ali menoleh pada Bilal yang menghampirinya di meja makan. Anak itu sudah siap dengan seragam sekolahnya.

"Kamu sudah siap sekolah?"

Bilal mengangguk pelan.

"Kita berangkat setelah sarapan. Ayo, duduk dan makanlah yang banyak."

Bilal mengikuti perintah Ali. Anak itu makan dengan isi kepala riuh. Ingatannya kembali tertarik pada masa-masa di mana dirinya masih bersama keluarganya. Bilal belum terbiasa jauh dari mereka. Bilal rindu, hatinya tak bisa berdusta.

Seusai sarapan, Ali mengantar Bilal ke sekolah baru. Sekolah terbaik yang Ali carikan untuk Bilal.

Pria itu mengaku sebagai orang tua Bilal saat mendaftarkan Bilal sekolah tersebut.

"Belajarlah yang rajin, Bilal." Ali mengelus kepala Bilal, tersenyum.

Bilal mengangguk, lalu mencium tangan Ali dengan takzim.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, Ali akan bertemu Bilal dan hidupnya berubah dengan drastis.

Pria itu menatap Bilal yang berjalan memasuki halaman sekolah, sebelumnya akhirnya berbalik badan dan pergi.

Waktu seperti melesat cepat. Sebulan berlalu, kehidupan Ali dan Bilal berjalan normal. Ali menulis banyak hal, menyusun rencana untuk menyiapkan masa depan Bilal.

Pria itu sedang di luar kota ketika mendapatkan sebuah pesan dari nomor asing.

[Ali, anak buah J***t akan menuju ke rumahmu sebentar lagi.]

Jantung Ali berdegam seketika. Pria itu segera memasukkan ponsel ke dalam saku celana, berlari ke luar, meninggalkan villa tempat dirinya menginap selama dua hari.

Mobil yang dikendarai Ali melaju cepat. Dia tidak menyangka J***t akan menemukan tempat persembunyiannya. Ali sempat lengah, sempat merasa posisinya sudah aman.

Berkali-kali Ali menghubungi nomor Bi Rahma. Namun sialnya, nomor wanita itu sedang tidak aktif.

Pukul satu dini hari, pasti Bi Rahma sudah tidur. Ali memukul setir, rahangnya mengeras. Pria itu menambah kecepatan.

Perjalanan yang seharusnya ditempuh tiga jam, hanya perlu satu jam bagi Ali. Pria itu berlari masuk, lalu mendobrak kamar Bilal.

Anak itu terbangun karena terkejut. Bilal mengucek mata.

"Om?"

Ponsel Ali bergetar. Sebuah pesan kembali masuk, dari nomor asing yang tadi, yang entah siapa.

[Di mana kamu? Mereka di depan, mengepung rumahmu.]

Degup jantung Ali berpacu cepat, berlomba dengan napas yang memburu.

Ali segera menggend**g tubuh Bilal dan membawanya ke dapur.

"Om, ada apa?" Bilal yang tersadar ada hal yang tidak beres, bertanya. Wajahnya menyirat rasa takut yang teramat sangat.

Sampai dapur, Ali menurunkan Bilal. Menarik karpet di lantai, lalu memencet sesuatu di lantai. Pintu berbentuk kubus di lantai terbuka.

"Masuk, Bilal. Jangan keluar apa pun yang terjadi!"

Dengan wajah bertanya-tanya, Bilal menatap Ali.

"Cepat, Bilal!"

Menuruti perintah Ali, Bilal segera masuk, menuruni tangga pendek. Pandangan Bilal mengedar di ruangan berpenerang remang itu. Ruangan 2x2 meter itu penuh dengan senjata.

Ali menarik karpet kembali. Dia akan berlari ke kamar Bi Rahma dan memasukkannya ke dalam ruangan senjata bawah tanah bersama Bilal. Namun, pergerakannya terlambat.

Langkah Ali terhenti di depan pintu pembatas. Seorang pria bertubuh kekar keluar dari kamar Bi Rahma. Wanita itu disandra.

Bahkan Ali tak sempat menarik pistol dari pinggangnya.

"Apa kabar, Ali?" Pria itu tertawa. Beberapa orang J***t lainnya masuk. Termasuk Keike dan Yudi.

"Angkat tangan, atau kutembak kepala wanita ini."

Tak bisa berbuat banyak, Ali mengangkat tangan. Otaknya berpikir keras mencari ide, sebelum akhirnya sebuah ledakan menggema.

Tubuh Ali limbung. Pria itu tersungkur seketika dengan darah segar menetes dari perutnya. Ali menekan luka di perutnya sambil menahan sakit, sebelum akhirnya dua orang J***t meringkusnya.

"Cari anak itu!"

Orang-orang J***t bergerak menyisir setiap sudut ruangan.

Di bawah sana, Bilal meringkuk takut di sudut ruangan. Letupan senjata api menggema beberapa kali. Suara teriakan dan benda jatuh sayup-sayup terdengar.

Hingga beberapa menit kemudian, suara-suara itu hilang. Bilal masih meringkuk dengan rasa takut mengungkung.

Anak itu tak keluar hingga berjam-jam. Rasa kantuknya nyaris melelapkannya ketika pintu di atasnya tiba-tiba terbuka.

Mata Bilal membelalak tatkala melihat seorang pria asing di atas sana tersenyum tipis ke arahnya.

"Bilal, keluarlah, Nak."

Bersambung

Bab ini cuplikan. Baca bab selanjutnya di aplikasi KBM
Judul: BILAL, ANAK YANG DIANGGAP BEBAN
Penulis: Rum

Mas Arhan terkekeh pelan. “Mana bisa aku lupain istri yang luar biasa seperti kamu. Mas juga bukan nggak rindu sama kamu...
09/01/2026

Mas Arhan terkekeh pelan. “Mana bisa aku lupain istri yang luar biasa seperti kamu. Mas juga bukan nggak rindu sama kamu Dek. Tapi Mas harus patuh aturan militer, Sayang. Baru sekarang dikasih waktu hubungi keluarga. Itu pun cuma lima belas menit.”

Lima belas menit. Akhirnya aku tahu kenapa rasanya seperti menunggu selamanya. Dan entah kenapa, mendengar itu membuat dadaku nyeri lagi. Bukan sedih tapi rindu yang menumpuk tanpa jalan keluar.

“Mas sekarang di mana?” tanyaku pelan.

Mas Arhan mengangkat ponselnya, memindahkan kamera. Ruangannya kecil sekali. Ada ranjang besi sempit hanya untuk satu orang. Ada tas ransel besar di pojok. Mas Arhan kembali menatapku.

“Beginilah tempat Mas, Sayang.”

Aku tersenyum, meski mataku masih basah. Sederhana sekali. Bagiku, tempatnya tidak nyaman. Tidak hangat. Dan dia tidur di sana setiap malam. Jauh dari rumah. Jauh dariku. Jauh dari bayinya. Tiba-tiba rasa sayangku tumbuh dua kali lipat dalam satu detik.

Aku menggigit bibir bawahku agar tidak menangis lagi. Aku menatapnya dengan senyum tulus. “Mas… aku bangga sama Mas.”

Mas Arhan tersenyum, senyum yang membuatku ingin menyentuh layarnya. Dan dalam hati, aku berdoa pada Allah agar Allah melindungi suamiku di tempat jauh itu. Lindungi hatinya, dan lindungi hatiku yang selalu menunggunya.

Mas Arhan masih memegang ponselnya, menatapku dari balik layar yang kecil itu. Cahaya redup ruangan asing di belakangnya membuat wajahnya terlihat semakin jauh, dan entah kenapa, semakin aku menatapnya, semakin aku merasa dadaku sesak oleh rindu.

Tiba-tiba Mas Arhan mendekatkan wajahnya ke kamera. “Sayang… sana miringin kamera sedikit.”

Aku mengerutkan kening pelan. “Buat apa, Mas?”

Mas Arhan tersenyum. “Mas mau lihat adik bayi. Kangen banget.”

Ujung mataku panas lagi. Permintaan sederhana itu terasa menusuk hati yang sudah rapuh. Pelan-pelan aku memiringkan kamera ponselku, menurunkan angle-nya sehingga perutku yang membesar terlihat. Mas Arhan memandang layar ponselnya dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca. Ia mengembuskan napas pelan. Sangat pelan. Seperti sedang menahan sesuatu yang besar di dadanya.

“Nak....Ayah kangen kamu…” bisiknya, bukan padaku, tapi pada bayi kami.

Tanganku bergetar. Rasanya ingin menangis, tapi aku menggigit bibirku agar tetap kuat. Mas Arhan menatap perutku lama, seolah ia bisa menyentuhnya melalui layar. “Maaf ayah nggak bisa ada di sana. Maaf ayah nggak bisa belai kamu setiap malam.”

Aku kembali mengangkat ponsel dan menatapnya. “Mas… jangan bilang begitu. Kamu nggak salah sama sekali.”

Mas Arhan menggeleng pelan. Tapi aku bisa melihat rahangnya mengencang. Ia sedang menahan emosinya. “Adek bayi makin besar ya. Bentar lagi dia akan keluar lihat dunia.”

Aku hanya mengangguk sembari tersenyum kepada suamiku.

“Dek… kamu capek nggak? Kamu sakit nggak? Ada kontraksi nggak selama Mas nggak ada?”

Perhatiannya selalu seperti ini. Selalu membuatku merasa aku dijaga meski dia jauh. Aku menggeleng pelan. “Aku baik-baik aja, Mas. Bayinya juga sehat.”

Mas Arhan tersenyum tapi kali ini senyumnya tidak sepenuhnya utuh. Ada getaran di sana. Seperti ada duka kecil yang ia sembunyikan. Lalu ia menghela napas, menutup mata sebentar.

“Sha…”

Hanya memanggil namaku. Tapi dari cara suaranya pecah di ujung, aku tahu ia sedang melawan sesuatu.

“Hmm?” jawabku pelan.

Ia menatapku lagi, tatapan yang dalam, yang penuh rindu, yang membuatku ingin masuk ke layar itu dan memeluknya seketika.

“Mas kangen kamu.”

Hanya tiga kata. Tiga kata yang menghantam dada dengan keras. Aku langsung menutup mulutku. Air mataku turun perlahan, tanpa suara. Mas Arhan menggeleng, cepat-cepat menegakkan wajahnya.

“Jangan nangis lagi, Sayang… jangan…”

Dia memintaku jangan menangis tapi matanya sendiri berair, bahkan ia memalingkan wajah sebentar. Aku tahu dia sedang menahan air mata. Dia tidak ingin aku lihat. Beberapa detik kemudian ia kembali menatapku, memaksa senyum tipis.

“Mas di sini kuat karena kamu. Karena kamu nunggu di rumah.”

Aku mengusap pipiku. “Aku selalu nunggu Mas.”

“Terima kasih sayang. Kamu istri yang paling kuat yang pernah Mas lihat.”

Hatiku luruh. Aku menggeleng. “Aku kuat karena Mas. Karena Mas selalu buat aku merasa nggak sendirian.”

Mas Arhan menunduk sedikit, menutup wajahnya dengan tangan. Suaranya terdengar pelan sekali. “Ya Allah… jagalah istri dan anakku.”

**☺️masih ada nih cuplikannya untuk kalian. Judulnya ini ya. KAPTEN ARHAN (Ketika Calon Istriku Direbut Juniorku)
Penulis Dewi Mutia.
Tamat di KBM

"Air Mata Ibu"*Ibu itu duduk sendirian di ruang tamu, matanya merah dan basah karena tangis. Dia memegang foto anak pere...
09/01/2026

"Air Mata Ibu"*

Ibu itu duduk sendirian di ruang tamu, matanya merah dan basah karena tangis. Dia memegang foto anak perempuannya, Ria, yang sudah lama tidak pulang ke rumah. Foto itu diambil saat Ria masih kecil, senyumannya manis dan mata berbinar.

Ibu itu, bernama Ibu Siti, adalah seorang ibu yang sangat mencintai anak-anaknya. Dia telah mengorbankan segalanya untuk membesarkan Ria dan adiknya, Arman. Tapi sekarang, Ria sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri.

Ria pergi dari rumah karena perbedaan pendapat dengan Ibu Siti. Ria ingin menjadi seorang artis, tapi Ibu Siti ingin dia menjadi dokter. Mereka berdua tidak bisa mencapai kesepakatan, dan Ria memutuskan untuk pergi dari rumah.

Ibu Siti merasa kehilangan, merasa tidak berguna. Dia hanya ingin Ria kembali, ingin mendengar suaranya lagi, ingin melihat senyumannya lagi. Tapi Ria tidak pernah kembali.

Hari-hari Ibu Siti menjadi sangat sunyi. Dia tidak bisa tidur, tidak bisa makan. Dia hanya bisa menangis dan berharap bahwa Ria akan kembali.

Suatu hari, Ibu Siti menerima surat dari Ria. Dia membukanya dengan hati yang berdebar. Ria menulis bahwa dia sedang sakit, bahwa dia ingin Ibu Siti datang ke rumah sakit.

Ibu Siti langsung pergi ke rumah sakit, hatinya penuh dengan kecemasan. Saat dia tiba, dia melihat Ria terbaring di tempat tidur, matanya terpejam.

"Ria, Nak..." Ibu Siti berbisik, suaranya bergetar.

Ria membuka matanya, senyumannya lemah. "Ibu... aku minta maaf..."

Ibu Siti menangis, air matanya mengalir deras. "Aku yang minta maaf, Nak. Aku tidak seharusnya memaksakan kehendakku."

Ria menggenggam tangan Ibu Siti, suaranya lemah. "Aku cinta kamu, Ibu..."

Ibu Siti menangis, dia memeluk Ria erat-erat. "Aku juga cinta kamu, Nak. Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."

Tapi itu semua terlambat. Ria meninggal beberapa saat kemudian, meninggalkan Ibu Siti sendirian dengan kesedihan dan penyesalan.

Ibu Siti menangis, dia berdoa agar Ria bisa tenang di surga. Dia berjanji akan selalu mengingat Ria dan mencintainya sel sel hidupnya.

08/01/2026

Anak atau istri?

08/01/2026

Pilih Harta atau Suami

“Bermimpilah merebut semua hartaku. Kalian pikir aku tidak tahu? Kalianlah yang membunuh kedua orang tuaku demi warisank...
08/01/2026

“Bermimpilah merebut semua hartaku. Kalian pikir aku tidak tahu? Kalianlah yang membunuh kedua orang tuaku demi warisanku. Sekarang, kalian membiarkan putra kalian berselingkuh dariku agar harta itu bisa kalian kuasai? Kalian pikir aku akan pergi? Tidak. Kalianlah yang harus pergi—dan mendekam di penjara!”

Enam tahun aku hidup bersama keluarga yang kusebut pelindung—sampai malam itu sebuah map basah mengungkap bahwa tangan yang membelai kepalaku adalah tangan yang membunuh orang tuaku sendiri.
---

Spoiler bab 12

Hari ini, aku bukan istri yang tersakiti.
Hari ini, aku adalah pemilik yang sedang membersihkan rumahnya dari hama.

Suasana lobi hotel terasa tegang begitu aku melangkah masuk. Kabar tentang kedatanganku kemarin dan pengusiran Rian dari ruang rapat sepertinya sudah menyebar ke seluruh departemen. Para staf yang biasanya santai, kini berdiri tegak, menunduk takut saat aku lewat.

Aku langsung menuju lift eksekutif, menekan tombol lantai 12.
Divisi Keuangan.

Begitu pintu lift terbuka, keheningan mencekam menyambutku. Aku berjalan lurus menuju sarang General Manager Finance, Pak Rudi.

Dulu, dia adalah orang kepercayaan Papa. Namun, loyalitasnya ternyata semurah itu.

Mataku tidak mungkin salah saat membedah lampiran audit yang kupelajari semalam suntuk. Tanda tangan Pak Rudi tertera jelas di setiap persetujuan pengeluaran dana fiktif.

Sejak Rian naik takhta lima tahun lalu, ternyata Pak Rudi berbalik punggung dan menjadi kaki tangan keluarga Prasetya, memals**an angka-angka perusahaan hanya agar Rian bisa berfoya-foya dengan uang warisanku.

Tanpa mengetuk, aku membuka pintu ruangannya.

Pak Rudi sedang sibuk memasukkan berkas-berkas ke dalam mesin penghancur kertas dengan panik. Dia tersentak kaget saat melihatku, wajahnya pucat pasi seperti maling yang tertangkap basah.

“Bu... Bu Rania?” gagapnya. “Saya... saya sedang bersih-bersih dokumen lama.”

Aku berjalan pelan mengelilingi mejanya, menatap tumpukan kertas yang belum sempat dia musnahkan.

“Bersih-bersih dokumen lama?” tanyaku dengan nada rendah namun tajam. “Atau menghilangkan barang bukti penggelapan dana, Pak Rudi?”

Keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipis pria paruh baya itu.
“Bu, ini salah paham. Saya hanya menjalankan perintah Pak Rian sebagai Direktur Utama. Saya tidak punya pilihan.”

“Anda selalu punya pilihan, Pak,” potongku dingin. “Pilihan untuk jujur pada pemilik perusahaan, atau bersekongkol dengan pencuri.”

Aku melempar sebuah amplop cokelat ke atas mejanya.

“Itu surat pemecatan Anda. Tidak hormat. Tanpa pesangon.”

Pak Rudi membelalak.
“Ibu tidak bisa melakukan ini! Saya sudah mengabdi dua puluh tahun di sini! Saya akan lapor ke Pak Hadi!”

“Silakan lapor,” jawabku santai. “Dan sampaikan juga pada beliau, tim audit forensik dari Vexia Corp sedang bekerja di lantai bawah. Jika ditemukan selisih satu rupiah saja yang masuk ke rekening pribadi Bapak, saya pastikan Bapak menghabiskan masa tua di penjara.”

Kaki Pak Rudi lemas. Dia merosot kembali ke kursinya.

“Kemas barang Anda sekarang. Satpam akan mengawal Anda sampai keluar gedung.”

Aku berbalik, meninggalkan ruangan itu dengan perasaan lega yang luar biasa.
Satu hama sudah pergi. Masih banyak lagi yang harus kubersihkan.

---

Siang harinya, aku duduk di ruangan kerjaku, ruangan lama Papa yang sudah enam tahun tidak kutempati. Debu tipis melapisi meja mahoni besar itu. Rian rupanya jarang menggunakan ruangan ini, dia lebih s**a berkutat di luar bersama "klien spesial"-nya.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

Aku membukanya. Tidak ada teks.
Hanya sebuah foto.

Foto mobil Papa dan Mama yang hancur di dasar jurang enam tahun lalu. Kondisinya ringsek parah, nyaris tak berbentuk.

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Darahku mendidih.

Pesan kedua masuk. Kali ini ada tulisannya:

“Sayang sekali kalau sejarah harus terulang. Hati-hati di jalan.”

Nomor itu memang asing, tidak terdaftar di kontakku. Namun, aku tidak butuh nama untuk mengenali siapa iblis di balik pesan ini.

Gaya bahasanya yang seolah-olah perhatian, terselubung nasihat bijak namun mematikan.

Hanya ada satu orang yang bisa bersandiwara sekeji ini.

Hadi.
Orang tua itu.

bersambung...

baca selengkapnya di KBMAPP
judul: murka sang pewaris
penulis: vanya marceline

Bab 7Judul: Bayi yang gagal ditukarHana cukup terkejut saat melihat suaminya pulang dengan membawa serta selingkuhannya ...
08/01/2026

Bab 7

Judul: Bayi yang gagal ditukar

Hana cukup terkejut saat melihat suaminya pulang dengan membawa serta selingkuhannya yang menggend**g bayi.

“Loh, kamu ngapain pulang dengan membawa Ayu, Mas?” Tanya Hana seraya menunjuk ke arah Ayu.

“Iya, dek. Katanya Ayu mau numpang tinggal dirumah kita untuk sementara,” jawab Araf dengan entengnya. Posisi mereka berdiri dengan berdampingan.

“Kok kamu nggak izin dulu sama aku,” protes Hana.

Belum juga Araf menimpali perkataan dari istrinya, Ayu sudah menyahut dengan cepat. “Maafkan aku, Hana. Aku bingung mau kemana lagi, aku nggak bisa tinggal sendirian di kontrakan. Apalagi dengan kondisiku yang habis melahirkan, aku boleh ya numpang sementara untuk tinggal disini,” ujar Ayu dengan memasang wajah sedihnya.

Mungkin kalau dulu Hana bisa tertipu dengan wajah polos sahabatnya itu yang sengaja menjual kesedihannya untuk menggaet suaminya. Tapi untuk sekarang sudah nggak lagi, yang ada Hana malah merasa mau muntah melihat tingkah laku Ayu.

“Iya, tapi gimana ya,” Hana tampak berpikir mempertimbangkan permintaan dari Ayu. “ kalau Kamu nggak mau sendirian, kenapa nggak pulang kampung saja, Yu. Disana ada suami kamu dan keluarga kamu yang akan menjagamu.” Hana menolak Ayu dengan cara halus.

“Mana mungkin aku pulang kampung dengan kondisi begini Han. Apalagi aku ada tanggungan pekerjaan,” alasannya.

“Loh, kamu habis melahirkan pasti dapat cuti dari kantor d**g. Suruh saja suami kamu buat jemput, masa iya suami kamu sebagai Ayahnya anak kamu nggak ingin melihat anaknya sendiri,” ujar Hana yang membuat Ayu gelagapan, dia bingung mau jawab apa.

“Hana, kok kamu bilang begitu sih sama sahabat kamu sendiri. Biasanya kamu dengan senang hati loh menerima Ayu buat menginap disini, apalagi kondisi dia habis melahirkan begini,” bela Araf dengan cepat saat melihat Ayu dipojokkan sama Hana.

“Maaf, Yu. Bukan maksud aku nggak ngebolehin kamu buat numpang tinggal disini. Kamu lihatlah kondisiku yang baru melahirkan secara sesar, aku juga butuh bantuan jadi aku nggak bisa jika masih harus melayani kamu.

Kamu kalau numpang disinikan s**a nggak tau kerjaan. Apa-apa harus aku yang melayani, jadi aku merasa jadi babu di rumahku sendiri,” ujar Hana seraya menyindir Ayu biar dia jadi orang itu tau diri.

Ayu langsung mengepalkan tangannya saat mendengar Hana bilang jika dirinya numpang tinggal di rumahnya. “Kenapa aku malah dikatain numpang tinggal disini sih, Mas Araf kan juga suamiku jadi rumah ini juga rumahku d**g,” gumamnya dalam hati yang memang nggak tau diri.

“Hana, kok kamu bilang ke Ayu mau numpang dirumah ini sih. Dia itu sahabat kamu loh kok bisanya kamu ngatain teman kamu sendiri numpang disini,” Araf nggak terima wanita yang dicintainya di katain mau numpang dirumahnya sendiri.

“Loh, memang dia mau numpang tinggal disini kan Mas. Apa aku salah bicara.” Hana pura-pura bodoh padahal Hana sengaja memakai kata menumpang biar Ayu itu sadar diri. Sungguh sangat menyesal rasanya Hana selama ini sudah sangat baik sama Ayu yang pada kenyataannya malah menusuknya dari belakang. Ibarat kata dia sudah memelihara ular dengan baik, malah dirinya di patok ular itu sendiri.

“Ya sudah, kalau memang kamu nggak mengizinkan aku buat tinggal disini. Aku nggak masalah kok, maaf ya jika selama ini aku selalu merepotkanmu,” itu jurus terakhir yang Ayu lakukan, dengan begitu Ayu sangat yakin jika Araf akan memilihnya yang terlihat tersakiti oleh Hana.

Dengan cepat Araf langsung menahan Ayu yang hendak pergi. “Jangan, kamu tinggal disinilah. Aku yakin Hana nggak berniat untuk menolakmu kok, mungkin dia bilang begitu karena efek habis melahirkan. Biasalah namanya menjadi Ibu baru, apalagi dia itu habis melahirkan Caesar, beda sama kamu Yu.”

Sedetik kemudian, Hana malah punya ide yang brilian. “Aha, apa aku biarkan wanita murahan ini buat tinggal disini aja ya, dengan begitu aku bisa lebih mudah mendapatkan bukti perselingkuhan mereka berdua. Dengan begitu aku akan lebih mudah jika ingin bercerai dengan Mas Araf,” batin Hana dalam hati.

“Baiklah, aku akan mengizinkan kamu buat numpang tinggal disini, tapi ada syaratnya,” ujar Hana.

“Loh, kok pake syarat segala sih dek,” protes Araf yang sudah mulai melunak. Terlihat sekali dari cara memanggilnya. Jika Araf sudah memanggil nama saja itu artinya Araf sedang kesal dengan istrinya.

“Ya memang harus ada syaratnya, biar di kemudian hari kita tidak terlibat keributan.”

“Ya sudah, nggak papa. Memangnya syaratnya apa Han?” Tanya Ayu.

“Kamu kalau mau numpang tinggal dirumah ini, harus tahu diri ya, Yu. Jangan seperti sebelum-sebelumnya yang hanya leha-leha dan tinggal makan gratis. Seenggaknya kamu harus bisa mengurus diri kamu dan juga anak kamu sendiri. Dan karena kamu juga ikutan tinggal disini kalau bisa kamu bantulah aku buat membereskan rumah,” jawab Hana, karena setiap kali Ayu menginap dirumah dia yang selalu repot melayaninya.

Hana bener-bener merasa sangat bodoh, karena sudah dipermainkan oleh orang-orang yang dia saýangi.

“Ta … tapi, kenapa kamu sekarang menyuruhku begitu Han. Padahal biasanya nggak loh,” Ayu terlihat sangat keberatan.

“Iya, Sayang. Biasanya kamu senang banget kalau Ayu mau menginap dirumah kita? Nggak pakai acara begini,” Tanya Araf.

“Itu dulu, nggak untuk sekarang. Kamu lihatkan kalau aku sekarang itu sudah punya anak, aku juga habis lahiran dengan operasi sesar, aku tidak mau kamu suruh buat melayanimu, aku bukan babu di rumah ini. Seharusnya kamu cukup tahu dirilah,” jawab Hana Dengan begitu tegas.

Tentu saja Ayu langsung protes ke suaminya dengan menyenggol lengan Araf untuk meminta pembelaan, karena Ayu maunya hidup enak.

“Tapi Ayu juga habis melahirkan loh mana mungkin dia bisa membantumu untuk membersihkan rumah.”

Hana langsung tertawa dalam hati dengan miris. Bisa-bisanya suaminya itu mengkhawatirkan wanita lain padahal dirinya yang merupakan istrinya sahnya juga baru melahirkan.

“Kok kamu kesannya seperti memanjakan Ayu dan sangat mengkhawatirkannya Mas. Padahal aku juga baru saja melahirkan anak kamu loh, secara caesar lagi.

Apa maksudnya kalau aku nggak masalah begitu melakukan semua tugas itu sendirian. Seharusnya Ayu juga bisa d**g membantuku. Dia Itu sahabatku, aku sudah membantunya masa iya dia nggak mau bantu aku yang hanya masalah receh.”

Skak mat

Baca selanjutnya ke KBM APP
Judul: Bayi yang gagal ditukar
By: Bulan jingga

“Siti masuk ke dalam saja duluan. Abang ada perlu sedikit.” Bang A***n buru-buru mengangkat ponselnya yang berdering.Aku...
08/01/2026

“Siti masuk ke dalam saja duluan. Abang ada perlu sedikit.” Bang A***n buru-buru mengangkat ponselnya yang berdering.

Aku lantas masuk ke sebuah butik megah yang memajang brand-brand ternama. Mungkin karena penampilanku yang terlalu sederhana, tidak ada seorang pelayan pun yang datang menghampiri, juga menyapaku. Mereka malah sibuk mengerubungi dan melayani salah satu pelanggan dengan tampilan yang terlihat berkelas.

Aku tidak tersinggvng sama sekali. Aku malah senang dan merasa bebas. Kadang berbelanja sambil diawasi justru membuatku tak nyaman.

Gaun-gaun mewah yang terpajang itu kusentuh satu demi satu. Kainnya sangat halus dan terasa nyaman di kulit. Modelnya juga sangat elegan.

“Mbak yang di situ, bisa keluar, nggak?”

Teguran ke ras dari arah belakang membuatku menoleh. Rupanya yang berbicara adalah pelanggan yang tadi ramai dikelilingi pelayan toko.

“Mbak, keluar aja deh! Situ mervsak pemandangan!” usirnya sambil mengibaskan tangan. Perempuan pongah itu lantas menoleh ke arah pelayan di sebelahnya. “Kamu gimana sih, masa modelan g3mbel begitu dibiarin masuk!”

Aku menunduk melihat penampilanku lalu kembali menoleh ke arah perempuan tadi. “Memangnya kenapa dengan penampilan saya? Lagian, enggak ada tuh tulisan yang boleh masuk hanya orang k4ya!”

“Ya tahu diri, d**g! Kayak gitu sih enggak perlu ditulis segala. Lagian, orang enggak mampu beli kayak kamu tuh ngapain masuk sini? Bikin ko tor aja!” Dengan angkvh perempuan itu lantas mende sak salah satu pelayan untuk lekas mengvsirku keluar.

“Maaf, ya, Mbak ...,” ucap si pelayan padaku dengan nada sungkan.

“Enggak apa, Mbak. Saya bisa belanja di toko lain,” sahutku yang ogah ribvt.

Namun, belum sampai aku keluar pintu, Bang A***n gopoh menyusul masuk, lalu menatap heran pada dua orang penjaga toko yang menggiringku keluar.

“Ada apa ini?”

“Maaf, Pak, kami sedang melayani pelanggan prioritas dan beliau meminta toko diste rilkan dari pelanggan lain,” kata salah satu pegawai.

“Jadi, kalian ngvsir istri saya, begitu?”

Kulihat Bang A***n mengeluarkan selembar kartu dan menyerahkannya pada pegawai bersanggvl tinggi di depannya. Saat membaca deretan huruf di sana, wajah pegawai tadi sontak berubah pvcat dan tampak gvgup.

“Ma-mafkan kami, Pak. Kami tidak tahu kalau ....”

“Saya mau istri saya belanja dengan tenang. Tutup toko ini dan jangan biarkan orang lain masuk selama istri saya memilih semua kebutuhannya! Dan orang yang tadi ngvsir istri saya, kalian vsir balik!”

Tak lama, seorang lelaki berwajah manis mendekat. Mungkin dia orang yang disegani di sini. Sebab, tiga pegawai tadi memberikan hormat dengan sedikit membvngkuk.

“Ada masalah apa?” tanyanya.

Sebelum dijawab, dia dan Bang A***n saling lihat, lalu keduanya tersenyum dan berjabat tangan erat.

“A***n,” katanya, “kamu ke mana aja?”

“Biasalah, sibuk. Kamu kok di sini?”

“Kebetulan mampir buat liat-liat keadaan toko.”

Mereka saling kenal rupanya. Bang A***n kemudian mengenalkan temannya, yang merupakan pemilik toko ini.

“Aku minta maaf atas kesalahpahamannya, ya? Ayo, Mbak, silakan pilih barang-barangnya,” ucap kenalan Bang A***n ramah. Dia gegas memerintahkan pegawainya untuk menutup toko sementara agar aku leluasa memilih.

“Tolong kalian ingat-ingat wajah istri saya ini. Jika nanti dia datang lagi, meskipun sendirian dan tanpa saya, kalian layani dengan baik. Semua pesanannya akan saya ba yar.” Bang A***n mengarahkan semua pegawai toko.

Seorang pelayan toko pun diberi arahan untuk membantuku memilih pakaian, sementara Bang A***n pamit karena ingin ngobrol dengan teman lamanya.

“Aneh rasanya kalau tokonya sampai ditutup cuma karena saya belanja di sini,” cvrhatku pada si pelayan.

“Kalau Pak A***n mau, satu mall ini juga bisa dia tutup, Bu!” celetuknya sambil terkekeh.

“Kok bisa?”

“Loh, Ibu enggak tahu kalau mal ini punya Pak A***n?”

***
Baca lanjutannya di KBM
Penulis: Kalishgan
Judul: Menantu dari Kampung

07/01/2026

Nasib atau takdir

07/01/2026

Bagaimana cara membersihkan Perut yang Kotor ya bun

Address

Banjarnegara
53474

Telephone

+81228963595

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ibu Peri posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share