24/01/2026
Dahulu, rindu itu sederhana. Cukup dengan menunggu langkah kaki di depan pintu, atau mendengar deru motor yang pulang saat senja, maka tuntaslah segala resah. Namun kini, rindu telah berubah menjadi perjalanan paling jauh yang pernah kutempuh. Ia adalah perjalanan dari hati yang sesak menuju langit yang tinggi, di mana engkau kini berteduh.
Setiap kali namamu melintas di benakku, dadaku terasa seperti ruang kosong yang memantulkan gema masa lalu. Aku merindukan hal-hal kecil yang dulu kuanggap biasa: aroma kopimu di pagi hari, suara tawamu yang menenangkan badai di kepalaku, hingga caramu memanggil namaku yang membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
Kini, aku belajar mencintaimu dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi bisa menyentuh jemarimu atau menyandarkan lelahku di bahumu. Sebagai gantinya, aku menyentuhmu melalui sujudku. Aku memelukmu melalui bait-bait doa yang kupanjatkan di sepertiga malam.
Al-Fatihah adalah surat cinta terbaik yang bisa kukirimkan sekarang.
Di setiap ayatnya, kusisipkan segala kenangan yang kita bangun bersama. Pada kalimat "Iyyaka naβbudu wa iyyaka nastaβin", aku mengadu kepada Tuhan betapa beratnya melangkah tanpamu, namun aku memohon kekuatan agar bisa tetap tegar menjaga amanah yang kau tinggalkan.
Mencintaimu kini berarti belajar melepaskan genggaman fisik demi sebuah pertemuan yang lebih abadi kelak. Meski air mata seringkali jatuh tanpa permisi, aku percaya bahwa doa adalah jembatan yang tak akan pernah putus. Rinduku mungkin tak lagi bisa kau dengar lewat telinga, tapi aku yakin ia sampai ke ruhmu melalui rahmat-Nya.
Istirahatlah dengan tenang di sana, wahai belahan jiwaku. Di sini, aku akan terus merawat rindu ini dengan sabar, hingga tiba saatnya Tuhan menyatukan kita kembali di tempat di mana tidak ada lagi perpisahan.