03/10/2026
Mengapa nama Syekh Abdul Qadir al-Jailani begitu masyhur di kalangan Nahdlatul Ulama?
Banyak yang mengenal nama beliau dari pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, majelis zikir, haul, dan tradisi pesantren.
Namun, siapa sebenarnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dan mengapa namanya begitu dihormati?
Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah seorang ulama besar yang hidup pada sekitar abad ke11 hingga ke12 Masehi.
Beliau lahir di wilayah Jilan, kawasan selatan Laut Kaspia, sekitar tahun seribu tujuh puluh tujuh Masehi, kemudian menuntut ilmu ke Baghdad. Di sana beliau mendalami berbagai cabang ilmu agama, termasuk fikih, hadis, tafsir, akidah, dan tasawuf.
Beliau kemudian dikenal sebagai seorang pendakwah dan guru yang sangat berpengaruh di Baghdad.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga dikenal sebagai tokoh yang menjadi nama bagi Tarekat Qadiriyah, salah satu tarekat yang kemudian berkembang luas di berbagai wilayah dunia Islam.
Kajian akademik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyebut Qadiriyah memiliki posisi penting dalam sejarah spiritualitas Islam dan kemudian berkembang ke berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Lalu, apa hubungannya dengan kalangan Nahdlatul Ulama?
Salah satu jawabannya adalah tradisi manaqib dan kecintaan kepada para ulama serta wali Allah.
Di lingkungan NU dan pesantren, membaca manaqib tidak sekadar menceritakan kehidupan seorang tokoh. Manaqib juga menjadi sarana untuk mengenang keteladanan, kezuhudan, keilmuan, dan akhlak para ulama.
NU Online mencatat bahwa bagi warga NU, membaca manaqib dan mengamalkan ijazah Qadiriyah menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kecintaan kepada para wali dan mengambil pelajaran dari kesalehan mereka. Bahkan pada resepsi satu abad NU tahun dua ribu dua puluh tiga, ribuan jamaah mengikuti kegiatan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan menerima ijazah manaqib Qadiriyah.
Karena itulah, nama Syekh Abdul Qadir al-Jailani sangat akrab di dunia pesantren dan majelis-majelis keagamaan yang berafiliasi dengan tradisi NU.
Tetapi ada satu hal yang perlu dipahami.
Kemasyhuran beliau bukan hanya karena kisah-kisah karamah yang berkembang dalam literatur manaqib.
Sumber sejarah juga mencatat bahwa beliau merupakan seorang ulama yang mengajar dan berdakwah di Baghdad. Beliau dikenal sebagai ahli fikih dan pendakwah, sekaligus tokoh tasawuf.
Karya-karya yang dinisbatkan kepadanya antara lain Futuh al-Ghaib dan Al-Ghunya li Talibi Thariq al-Haqq.
Sementara itu, berbagai kisah luar biasa tentang beliau banyak berkembang dalam tradisi hagiografi atau manaqib.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani wafat di Baghdad pada abad kedua belas Masehi. Namun, lebih dari delapan abad setelah wafatnya, namanya masih disebut dalam majelis ilmu, zikir, haul, dan pembacaan manaqib di berbagai negeri Muslim.
Inilah salah satu alasan mengapa nama beliau begitu kuat dalam tradisi keislaman Nusantara, termasuk di kalangan Nahdlatul Ulama.
Bukan karena beliau pendiri NU—jelas bukan.
Beliau hidup berabad-abad sebelum Nahdlatul Ulama berdiri.
Tetapi karena warisan keilmuan, tasawuf, Tarekat Qadiriyah, dan tradisi penghormatan terhadap ulama serta wali membuat nama Syekh Abdul Qadir al-Jailani terus hidup dalam tradisi pesantren dan masyarakat Muslim Nusantara.
Dari Baghdad, namanya menembus zaman. Dari tradisi ilmu dan tasawuf, namanya sampai ke Nusantara. Dan hingga hari ini, manaqib beliau masih dibaca sebagai bentuk penghormatan sekaligus usaha mengambil teladan dari kehidupan seorang ulama besar.