Drakor

Drakor Bismillahirrahmanirrahim��
𝒌𝒐𝒏𝒕𝒆𝒏 𝒓𝒆𝒏𝒅𝒐𝒎

Nyesek banget bacanya...uang yang dikumpulin dari hasil jualan gelang disekolah diam2 diambil ayahnya untuk beli rokok😭
03/05/2026

Nyesek banget bacanya...uang yang dikumpulin dari hasil jualan gelang disekolah diam2 diambil ayahnya untuk beli rokok😭

17/04/2026


15/04/2026





SUAMIKU BERSELINGKUH KETIKA AKU SEDANG HAMIL 2 BULAN! DAN AKU PURA PURA TIDAK TAU AGAR RUMAH TANGGA KAMI BAIK2 SAJA!!^^N...
15/04/2026

SUAMIKU BERSELINGKUH KETIKA AKU SEDANG HAMIL 2 BULAN! DAN AKU PURA PURA TIDAK TAU AGAR RUMAH TANGGA KAMI BAIK2 SAJA!!

^^
Namaku Zhafira..

Malam itu hujan deras mengguyur kota, seolah

langit ikut menangis bersamaku. Aku baru saja

selesai shift malam di Rumah Sakit Harapan

Sejahtera ketika tanganku gemetar memegang

test pack kecil di ruang dokter jaga. Dua garis

merah samar muncul dengan jelas. Janin dua

bulan. Anak yang sudah lama aku dan Darren

impikan sejak kami menikah tiga tahun lalu.

Hati ini berbunga-bunga. Aku membayangkan

wajah Darren yang akan penuh kejutan dan

kebahagiaan saat mendengar kabar ini. Dengan

senyum yang tak bisa kusembunyikan, aku pulang

lebih awal. Bahkan sempat mampir membeli

sebungkus es krim kesukaannya sebagai pembuka

cerita manis.

Tapi begitu membuka pintu apartemen, dunia yang kukenal runtuh dalam keheningan yang mencekam.

Di sofa ruang tamu, Darren sedang berpelukan erat dengan Maura—dokter residen bedah yang selama ini selalu tersenyum manis setiap kali bertemu denganku di koridor rumah sakit. Tangan Maura berada di dada suamiku, sementara Darren membisikkan kata-kata lembut yang seharusnya hanya untukku.

Aku berdiri membeku di ambang pintu. Rasa sakit

itu datang begitu tajam, seperti sayatan pisau

bedah tanpa bius. Pengkhianatan ganda yang

menyakitkan: suami yang kucintai dan rekan kerja

yang kuanggap teman. Tapi aku tidak menangis.

Tidak di depan mereka. Sebagai dokter bedah

saraf, aku sudah terlatih menyembunyikan emosi

di ruang operasi yang paling tegang sekalipun.

Malam itu, aku menggunakan kemampuan yang

sama.

Tanpa sepatah kata pun, aku berbalik, masuk ke kamar, dan mulai mengemasi pakaian serta dokumen-dokumen pentingku dengan tangan yang dingin. Darren dan Maura baru menyadari kehadiranku ketika pintu kamar tertutup pelan. Saat Darren berlari menyusul dengan wajah pucat, aku sudah berdiri di depan lift dengan koper di tangan.

“Zhafira… tunggu! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan!” serunya panik, suaranya bergetar.
Aku menatap suamiku untuk terakhir kali malam itu. Mataku dingin dan tenang. “Aku tahu persis seperti apa ini, Darren.”

Aku pergi membawa dua rahasia besar: janin yang tumbuh diam-diam di rahimku, dan luka pengkhianatan yang mengoyak hatiku. Di dalam taksi yang membawaku ke hotel, aku mengusap perutku pelan dan berbisik lembut, “Kita akan baik-baik saja, Nak. Mama tidak akan biarkan kamu lahir di tengah kebohongan dan pengkhianatan.”

Saat itu juga aku memutuskan dengan tegas: Darren tidak boleh tahu tentang kehamilan ini. Belum. Mungkin tidak akan pernah.
Delapan bulan kemudian, aku kembali ke kota yang sama, tapi aku sudah bukan Zhafira yang dulu.

Aku kembali bukan sebagai istri yang ditinggalkan atau wanita yang patah hati, melainkan sebagai dr. Zhafira Prameswari — Kepala Divisi Bedah Saraf baru di Rumah Sakit Harapan Sejahtera. Jabatan yang dulu sering Darren impikan untuk dirinya sendiri, kini menjadi milikku berkat kerja kerasku selama cuti hamil dan pelatihan spesialis di kota lain.

Di gendonganku, ada Aira — bayi perempuan kecil berusia dua bulan dengan mata yang mirip sekali dengan ayahnya. Aira lahir prematur setelah perjuangan panjang yang kulalui sendirian. Aku merawatnya dengan penuh cinta, air mata yang tak pernah kutunjukkan di depan orang lain, dan tekad baja yang tumbuh dari luka yang pernah mengoyakku.

Hari pertama aku masuk kerja, seluruh rumah sakit gempar. Berita kepulanganku dan promosi jabatanku menyebar cepat. Saat aku berjalan di koridor dengan jas dokter putih dan name tag yang berkilau, aku merasakan banyak pandangan tertuju padaku. Termasuk pandangan Darren.

Ia terkejut luar biasa. Aku bisa melihatnya dari cara ia membeku di ujung koridor. Maura, yang kini jarang terlihat bersamanya, hanya bisa menunduk malu ketika aku melewatinya dengan anggun dan profesional.

Sore harinya, Darren memberanikan diri mendatangi ruanganku. Ia berdiri di depan meja kerjaku dengan wajah pucat dan mata penuh penyesalan mendalam.

“Zhafira… aku tahu aku salah besar. Aku menyesal dengan segenap hatiku. Maura sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi denganku sejak malam itu. Aku ingin menjelaskan semuanya. Aku ingin anak kita. Aku… aku ingin kamu kembali,” katanya dengan suara bergetar.

Aku mengangkat pandanganku dari berkas pasien. Senyum tipis terbentuk di bibirku, tapi mataku tetap dingin seperti ruang operasi yang steril.
“Kamu menginginkan anakku, Darren?” tanyaku pelan, suaraku tenang namun tajam. “Baiklah. Tapi sebelum itu, rasakan dulu apa yang aku rasakan selama delapan bulan terakhir. Sendirian. Hamil. Dikhianati. Berusaha tetap kuat demi anak yang belum lahir, sementara kamu hidup seperti biasa di sini.”

Aku mengeluarkan sebuah map tebal dari laci meja dan menyerahkannya kepadanya dengan tangan mantap.

Di dalam map itu terdapat surat gugatan cerai yang sudah lengkap dan siap diajukan, beserta dokumen hak asuh yang menyatakan bahwa Darren belum memiliki hak apa pun atas Aira hingga ia bisa membuktikan dirinya sebagai ayah yang bertanggung jawab dan layak.

Darren terdiam lama, tangannya gemetar memegang map tersebut. Aku bisa melihat penyesalan yang dalam di matanya. Baru saat itu ia benar-benar menyadari bahwa pengkhianatannya bukan hanya menghancurkan pernikahan kami, tapi juga telah membangunkan seorang wanita yang jauh lebih kuat, lebih tegas, dan lebih berbahaya dari yang pernah ia kenal.
Aku berdiri, menggendong Aira yang tertidur pulas di kereta bayi di sudut ruangan, lalu berjalan mendekati pintu.

“Waktu akan menjawab semuanya, Darren,” kataku sebelum keluar. “Tapi ingat satu hal yang aku pelajari dari dunia medis: racun terbaik adalah yang bekerja perlahan, tanpa terasa, sampai semuanya terlambat.”

Aku melangkah pergi menyusuri koridor rumah sakit yang panjang itu dengan kepala tegak. Langkahku mantap. Tidak ada lagi air mata yang tersisa di hatiku. Hanya tekad untuk melindungi Aira dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Sementara itu, Darren berdiri sendirian di ruangan yang sunyi, mulai merasakan sakit yang dulu pernah ia berikan kepadaku — perlahan, tapi pasti.
Aku tahu perjalanan ini belum selesai. Tapi untuk pertama kalinya setelah delapan bulan, aku merasa kuat. Aku bukan lagi istri yang dikhianati. Aku adalah ibu. Aku adalah dokter. Dan aku adalah Zhafira yang bangkit kembali.

Beberapa minggu berlalu sejak pertemuan itu. Setiap hari di rumah sakit, aku fokus pada pasien-pasienku. Operasi demi operasi kulalui dengan tangan yang mantap, meski kadang bayangan malam itu masih muncul di benakku. Aira menjadi kekuatanku. Setiap pulang kerja, aku buru-buru ke apartemen kecilku,

menggendongnya, dan mendengar tawa kecilnya yang membuat semua luka terasa lebih ringan.
Darren mulai berubah, atau setidaknya berusaha. Ia tidak lagi mendekatiku dengan kata-kata memohon kembali. Ia hanya bekerja lebih keras, mengikuti prosedur dengan disiplin, dan kadang terlihat lelah di ruang istirahat. Suatu pagi, aku melihatnya di taman rumah sakit, duduk sendirian sambil memegang buku tentang pengasuhan anak. Ia tidak tahu aku mengamatinya dari kejauhan.

Aku merasa campur aduk. Bagian dari diriku masih marah, masih ingin melihatnya merasakan sakit yang sama. Tapi bagian lain — bagian yang pernah mencintainya — bertanya-tanya apakah racun ini sudah cukup, atau apakah aku masih perlu melanjutkannya.

Suatu sore, saat aku sedang memeriksa rekam medis di ruanganku, Darren mengetuk pintu dengan sopan. Ia membawa sebuah amplop kecil.
“Aku tidak memaksa apa pun, Zhafira,” katanya pelan. “Ini hasil tes DNA yang aku lakukan sendiri. Aku hanya ingin tahu… dan jika boleh, aku ingin bertemu Aira sebagai ayah, bukan sebagai suami yang dulu menyakitimu. Aku siap menunggu, berapa lama pun.”

Aku menerima amplop itu tanpa membukanya. Mataku menatapnya lama. “Kamu bilang siap menunggu? Baiklah. Tapi ketahuilah, Darren, aku sudah belajar bahwa menunggu bukan berarti mendapatkan. Aku akan memikirkan apa yang terbaik untuk Aira. Bukan untukmu. Bukan untukku.”

Ia mengangguk, lalu pergi dengan langkah berat.
Malam itu, sambil mengayun Aira yang tertidur di pelukanku, aku berbisik pada diriku sendiri, “Aku tidak akan membiarkan masa lalu menghancurkan masa depanmu, Sayang. Tapi aku juga tidak akan lupa apa yang pernah terjadi.”

Racun itu masih bekerja perlahan di hatinya.
Dan di hatiku, luka mulai berubah menjadi kekuatan.

Entah kapan racun ini akan berhenti — atau apakah aku yang akan memilih untuk menghentikannya.

Lanjut? Cek di komentar👇👇

13/04/2026

There are no repeat in life














10/04/2026

Aku diremehkan keluarga, dijebak, berkali-kali bersabar, akhirnya balas dendam!

“Satu bungkus kecap bisa buat makan saya satu bulan, kadang bisa sampai dua bulan..” Lirih Mbah Sukiman, lansia sebatang...
10/04/2026

“Satu bungkus kecap bisa buat makan saya satu bulan, kadang bisa sampai dua bulan..” Lirih Mbah Sukiman, lansia sebatang kara.
Hanya Mampu Makan Nasi Pakai Kecap, Mbah Sukiman Diupah Setahun Sekali
Demi bisa makan nasi pakai kecap, Mbah 81 tahun ini jadi pengurus ternak tetangganya. Setiap hari ia harus mencari rumput,membersihkan kotoran sapi, dan juga memberi makan sapi setiap sore dan pagi.
Dengan kondisi tubuh yang sudah bungkuk, mbah harus kuat membawa tumpukan rumput yang ia ambil dari kebun. Bahkan seringkali mbah terjatuh karena tersandung dan tidak kuat menahan beban yang ia bawa.
Meski punggung, pinggang, dan kakinya terasa nyeri, mbah tidak bisa berhenti jika ingin bisa perut kosongnya terisi makanan.
Mbah Sukiman jarang sekali memegang uang. Sebagai pengurus ternak, beliau baru dibayar jika ada sapi yang terjual. Biasanya mbah dibayar setahun sekali.
Dalam setahun paling uang yang beliau dapat hanya satu juta rupiah, itu berarti jatah makan mbah perharinya tak lebih dari Rp3.000/hari!
“Kalo sapinya laku dijual biasanya saya dapat 1 juta selama satu tahun merawat sapi kadang juga dapat 500 Ribu nang” , Cerita Mbah Sukiman
Mbah masih memaksakan diri untuk bekerja hampir 8 jam sehari. Tubuhnya yang sudah sangat bungkuk masih terus mencari rumput, dan membersihkan kandang sapi.
Dengan uang 3 ribu, tidak heran kalau mbah cerita, ia hanya makan nasi dengan kecap. Sebenarnya, untuk beli kecap dan nasi pun 3 ribu masih sangat kurang.

08/04/2026

Gadis kaya yang tampak lemah lembut, ternyata adalah yang paling kejam!

07/04/2026

06/04/2026

[ Full Sub Indo ]
Setelah Ilmunya Dihancurkan, Pemuda Gagah Ini Bangkit Balas Dendam. Tiap Kali Berlatih Ilmunya Berkembang Pesat, Menjadi Jenius Beladiri 💪

゚viralシ

Address

Banyuasin
30972

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Drakor posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share