05/09/2026
DI ANTARA TANDA-TANDA
KEJAHILAN SESEORANG
مَنْ رَأَيْتَهُ مُجِيْبًا عَنْ كُلَّ ما سُئِلَ، وَمُعَبِّرًا عَنْ كُلِّ مَا شَهِدَ، وَذاكِرًا كُلًّ ما عَلِمَ، فَاسْتَدِلَّ بِذٰلِكَ عَلَى وُجُودِ جَهْلِهِ
"Jika engkau melihat seseorang selalu menjawab segala apa yang ditanyakan kepadanya, mengungkapkan segala apa yang disaksikannya, dan menyebut segala apa yang diketahuinya, maka ketahuilah bahwa itu tanda-tanda kejahilan pada dirinya."
🔰Kitab Syarh Hikam, juz 1 hal. 59
Pernyataan tersebut adalah mutiara hikmah dari Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam kitab sufi terkenal, Al-Hikam.
Kalimat ini berarti bahwa keinginan untuk selalu tampil tahu dan berbicara tentang segala hal justru menunjukkan rendahnya kedalaman ilmu dan kebijaksanaan seseorang.
Beliau membagi tanda kebodohan tersebut ke dalam tiga perilaku utama:
1) Selalu menjawab semua pertanyaan;
Orang yang merasa gengsi atau malu untuk mengatakan "saya tidak tahu", ia memaksakan diri menjawab apa pun meski tidak menguasainya, demi terlihat pintar atau menutupi kelemahannya. Padahal, para ulama besar justru sering mengucapkan "laa adrii" (saya tidak tahu) untuk hal yang bukan kapasitasnya.
2) Mengungkapkan semua yang disaksikan;
Seseorang yang menceritakan setiap hal yang dilihat atau dialaminya tanpa filter. Padahal idak semua pengalaman, kejadian, atau rahasia layak diumbar ke publik atau dipahami oleh sembarang orang.
3) Menyebutkan semua yang diketahuinya;
Memuntahkan seluruh informasi dan ilmu yang ia miliki kepada siapa saja tanpa peduli kondisi dan kesiapan pendengarnya. Hal ini sering kali didorong oleh sifat riya' (pamer) atau kesombongan agar diakui hebat oleh orang lain.
Sementara orang yang benar-benar berilmu ('arif) justru memiliki kehati-hatian yang tinggi, berbicara sesuai takaran dan paham kapan harus diam.
Wallahu 'alam bish-showab...