11/06/2026
Radio BINTANG TENGGARA 14.39
Pernikahan tak lagi sekadar urusan "ketemu jodoh, lalu naik pelaminan." Bagi Generasi Z (Gen Z), institusi sakral ini kini dipandang lewat lensa yang jauh lebih realistis, pragmatis, dan penuh kalkulasi. Tekanan ekonomi global, biaya hidup yang melambung tinggi, hingga pergeseran nilai personal membuat generasi muda ini memilih untuk menekan tombol pause dalam urusan rumah tangga.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah transformasi kultural dan ekonomi yang diprediksi akan membentuk struktur masyarakat di masa depan.
Faktor terbesar yang menahan laju Gen Z menuju pelaminan adalah tekanan ekonomi. Berdasarkan laporan global dari Deloitte, mayoritas Gen Z dan Milenial mengakui bahwa kecemasan finansial adalah bayang-bayang utama dalam hidup mereka.
Tingginya biaya hidup (cost of living) memaksa Gen Z untuk membuat prioritas yang ketat. Membeli rumah, membayar sewa, hingga mencukupi kebutuhan sehari-hari dinilai sudah menguras energi finansial, membuat keputusan untuk menikah menjadi sebuah kemewahan tersendiri.
Banyak dari mereka yang merasa enggan atau segan melangkah ke jenjang pernikahan sebelum fondasi ekonomi mereka benar-benar kokoh. Menikah tanpa persiapan finansial yang matang dianggap sebagai resep menuju stres berkepanjangan.
Jika generasi sebelumnya melihat pernikahan sebagai fase hidup yang "harus dilalui" setelah menginjak usia tertentu, Gen Z merombak total cara pandang tersebut. Mereka tidak lagi memandang pernikahan dengan romantisasi.
Gen Z menginginkan kepastian bahwa mereka dan pasangan sudah mandiri secara finansial sebelum mengikat janji. Selain itu mengembangkan diri, mencapai posisi karier tertentu, atau menyelesaikan pendidikan tinggi kini berada di urutan atas bucket list mereka. (Oki)
Baca selengkapnya:
https://www.bintangtenggara.net/news/3922787283/bukan-takut-berkomitmen-mengapa-gen-z-pilih-tunda-pelaminan-demi-stabilitas-finansial