10/06/2026
Di sela aktivitasnya sebagai guru di SLB Banyuwangi, Nurul Imam merintis usaha kopi bernama Asyifa Coffee di kediamannya, Perumahan Villa Ijen, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. Di tempat sederhana itu, Imam meracik kopi dengan cara yang tak biasa.
Pria 38 tahun tersebut merupakan penyandang tunanetra. Namun keterbatasan penglihatan tidak menghalanginya menjalankan usaha kopi rumahan. Dengan mengandalkan ingatan, perabaan, dan aroma, Imam mengenali setiap jenis kopi yang ia gunakan. Mulai dari robusta, arabika, hingga excelsa.
"Hafal dari wadah dan kalau dibuka aromanya beda," ujar Imam sambil menunjukkan berbagai toples kopi di rumahnya, Senin (18/5/2026).
Rutinitas meracik kopi dilakukannya sendiri. Ia menggiling biji kopi, menakar bubuk, hingga menyeduh menggunakan mesin espresso. Untuk memastikan takaran tetap pas, Imam memakai ukuran yang sudah dihafalnya.
"Takaran satu sendok kopi sekitar 10 gram. Sedangkan untuk espresso biasanya menggunakan 18 gram yang ditakar melalui portafilter," katanya sembari menunjukkan alat yang ia gunakan.
Bahkan ketika gas kompor habis, ia bisa langsung mengetahuinya dari perubahan aroma saat proses pemanggangan atau penyeduhan berlangsung.
Usaha kopi itu dirintis sekitar dua tahun terakhir. Awalnya hanya iseng setelah aktivitas bermusiknya berhenti saat pandemi Covid-19.
Dari situ ia mulai tertarik belajar kopi secara otodidak. Imam mengaku banyak belajar dari temannya, salah satunya Novian, pemilik usaha kopi Mobile Osing.
Kini, selain menjual kopi seduh, Imam juga memasarkan kopi kemasan melalui media sosial. Semua akun dan administrasi usahanya ia kelola sendiri.
"Kemasan bisa beli di TikTok Asyifa Coffe, di profil ada nomor saya. Adminnya akun saya sendiri," ujarnya.
Asyifa Coffee sementara beroperasi dari rumah dan sesekali mengikuti berbagai event di Banyuwangi. Salah satunya saat mengikuti event "Senja di AWT (Agro Wisata Tamansuruh)", Senin lalu (4/5/2026). Dalam tiga hari berjualan, omzetnya mencapai sekitar Rp2 juta.
"Hari pertama, kedua bagus signifikan. Sampai hari ketiga omzet sekitar Rp2 juta," katanya.
Meski menjalankan usaha kopi, keseharian Imam tetap diisi mengajar di SLB Banyuwangi sebagai guru Pendidikan Agama Islam. Ia kini tercatat sebagai guru PPPK penuh waktu sejak 2025.
Di sela aktivitas mengajar, Imam juga mulai mengenalkan dunia kopi kepada para siswa di sekolahnya. Ia membuka kelas kopi sederhana agar siswa berkebutuhan khusus memiliki keterampilan tambahan.
"Setelah membuat usaha, saya membuka kelas coffee di SLB," ujarnya.
Imam mengalami gangguan penglihatan sejak lahir. Ia sempat masih mengenali beberapa warna, namun penglihatannya hilang total pada 2016.
Meski begitu, Imam memilih tetap aktif dan produktif. Baginya, usaha kopi bukan sekadar mencari penghasilan tambahan, tetapi juga cara untuk mengisi hari-hari dan membangun relasi.
"Paling tidak kalau saya nantinya sudah pensiun jadi guru tidak gabut di rumah, ada kesibukan. Relasi saya bangun dari sekarang," katanya. (*)